
"Benar apa yang di katakannya?" tanya Al sedikit kesal, kenapa kekasihnya malah menyodorkan dirinya kembali pada wanita itu, sedangkan Yura hanya diam saja.
"Kau mau menghindar lagi? sungguh kau keterlaluan sekali Al, kau dulu jelas-jelas menyukaiku, tapi kau masih memikirkan perasaan Erick, menurut dia kau tidak pernah melihatku, kau tahu aku sangat berharap di hatimu hanya ada aku seorang, kau sama seperti Erick apa di hati kalian hanya ada kalian berdua?" desis Yu Jie begitu kecewa.
Yura dan Fhanie hanya diam saja mendengarkan Yu Jie mengeluarkan uneg-unegnya, sementara Al ikut terdiam menunduk.
"Walaupun semuanya sangat iri padaku karena aku menguasai kalian berdua, tapi tidak ada yang tahu kalau aku sebenarnya sangat kesepian, tidak ada dari kalian yang memperdulikan aku jadi,, akulah yang menyuruh Erick menghilang dari pandanganku." membuat semuanya terkesiap tak terkecuali Al yang kembali merasakan kepalanya kembali pening.
"Aku bilang padanya, kenapa kalian harus ada dua orang? kalau hanya ada satu dari kalian di sampingku, maka aku tidak perlu menderita, kalau salah satu dari kalian pergi jauh, alangkah bagusnya, tak lama besoknya dia benar-benar menghilang!" lanjut Yu Jie dengan mimik wajah kecewanya.
Membuat Al yang sedari tadi menunduk langsung mendongakkan kepalanya langsung menatap tajam pada Yu Jie, kenyataan macam apa ini yang barusan dia dengar?
Jadi Yu Jie yang telah membuat saudara kembarnya itu pergi jauh, bukan karena pendidikannya tapi karena wanita yang ada di hadapannya ini?
Sungguh wanita yang berhati samudra, sekalu berubah-ubah, begitu egois, tidak memikhirkan perasaan orang lain, hanya menuruti ego untuk kepentingan pribadinya sendiri.
"Erick sudah mewujudkan keinginanku, tidak di sangka kau malah semakin peduli padanya, apa Tuhan sedang menghukumku? menghukum semua ucapanku itu, membuat kalian berdua menghindariku? aku benci kalian semua.!" seru Yu Jie di akhir kalimat curahan hatinya lalu ia berlari pergi meninggalkan mereka yang masih diam mematung.
"Yu Jie kau mau kemana?" teriak Fhanie akan mengejar sahabatnya itu, tapi Al mencekal lengannya.
"Fhan, kau disini bersama Yura, biar aku yang akan mengejarnya." titah Al langsung berlari menyusul Yu Jie yang entah berlari kemana, sebab sudah menghilang dari pandangannya bak di telan bumi.
Al terus berlari mencari, menelusuri jalanan di dekat kampusnya, hingga potongan-potongan masa lalunya ikut berputar-putar kembali saat Erick menangkap basah dirinya dan Yu Jie sedang bercumbu di depan gudang belakang sekolah.
"Erick, kau salah paham, aku dan Yu Jie hanya main-main saja, kau tahu aku orang yang sembarangan bukan?" ujar Al mengejar Erick yang pergi begitu saja saa melihat mereka berdua tadi.
"Al, kenapa kau harus berbohong? aku tahu kau benar-benar menyukai Yu Jie, aku juga tahu Yu Jie lebih menyukaimu di bandingkan diriku dan aku tidak apa-apa, aku sama sekali tidak ingin mengikatmu." jawab Erick sambil tersenyum.
...----------------...
"Astaga, hari sudah hampir gelap dimana mereka? kenapa mereka belum juga kembali?" seru Fhanie gelisah berjalan mondar-mandir di depan gerbang kampus.
Sementara Yura terlihat lebih tenang, "Aku masih tidak percaya dengan ucapan kakak tiriku sendiri, membuat dua orang saudara kembar terpisah karena dirinya." seru Yura menatap ke arah jalan raya melihat kendaraan berlalu lalang.
Tiba-tiba dari arah samping Al berjalan dengan gontai mendekati mereka berdua."Al dimana Yu Jie?" tanya Fhanie panik, seperti yang terlihat sekarang Al pasti tidak menemukan keberadaan sahabatnya itu.
Al hanya menggeleng lemah, "Maaf aku tidak bisa mengejarnya, aku sudah mencari di suatu tempat, tapi tidak menemukannya." sesal Al merunduk.
"Apa dia tidak pulang ke rumah?" tanyanya pada Fhanie setelah baru terpikhirkan, siapa tahu saja Yu Jie pulang kerumahnya.
Tapi Fhanie juga menggelengkan kepalanya,"Kata Neneknya dia belum pulang. lalu dimana dia Al?" resah Fhanie begitu mengkhawatirkan sahabatnya itu.
"Rencananya tadi dia akan mengajakmu ke pantai_
Ucapan Fhanie langsung di potong oleh Al, " Ya pantai dia pasti kesana."
Seketika pikhiran Al langsung terbuka, tanpa berpikhir panjang ia langsung berlari ke arah perkiran untuk mengambil motornya dan bergegas pergi bahkan meninggalkan kekasihnya.
Entah pikhiran Al benar-benar sangat kalut, beruntung jalanan tidak terlalu padat, membuatnya bisa lebih cepat sampai ke tempat Yu Jie bearada.
Di perjalanan potongan-potongan masa lalunya pun terus saja berputar, tapi ia harus fokus untuk menyetir, hingga beberapa menit kemudian Al sudah sampai di tempat tujuannya yaitu pantai yang terakhir kali mereka datangi.
"Yu Jie," teriaknya terus berlari menyusuri pantai, lalu pandangannya jatuh di bibir pantai karena melihat ada seorang wanita duduk berjongkok dengan melipat kakinya di atas pasir.
"Al, tadinya aku sudah masuk ke dalam air, tapi saat tiba-tiba ada ombak besar aku sudah ketakutan sendiri dan kembali keluar aku takut sekali, aku tidak tahu kenapa aku berbicara begitu pada Erick dulu." lirihnya sambil merunduk.
Membuat Al langsung merangkulnya, "Bukan kau yang membuat Erick pergi, aku sudah mulai mengingatnya, itu semua karena dia tahu kami bukanlah anak kandung Ayah kamj." membuat Yu Jie tersentak kaget.
Tidak terkecuali dua orang yang berdiri di belakang mereka, siapa lagi kalau bukan Yura dan Fhanie yang memang langsung menyusul mereka berdua.
"Ya kami adalah anak haram Ibu dengan pria lain? Erick pergi karena tidak bisa menerima kenyataan ini. bukan karena kau, jadi berhenti menyalahkan dirimu sendiri." pinta Al menatap wajah Yu Jie yang sebab itu.
Akhirnya Al mengantarkan Yu Jie pulang kerumahnya, walaupun dengan terpaksa ia mengantarkan Yu Jie menaiki taksi.
Sementara Yura dan Fhanie mengikuti mereka dari belakang dengan menaiki motor Al, beruntung Fhanie sedikit tomboy jadi dia bisa mengendarai motor sport milik Al.
"Kau tidak masalah jika Al mengantar Yu Jie pulang bukan?" tanya Fhanie sedikit berteriak sebab suara motor yang lebih kencang di bandingkan suaranya.
Yura hanya mengangguk walaupun Fhanie tidak bisa melihat itu semua, sebab fokus menyetir.
"Gimana?"
"Yu Jie sudah tertidur di kamarnya mungkin dia terlalu lelah sedari tadi menangis terus." jawab Fhanie setelah keuar dari kamar Yu Jie.
"Baiklah kami permisi dulu Nek." pamit Al pada Nenek Yu Jie.
"Iya, Yura sering-sering datang kesini ya? walaupun Ayah kalian sudah tidak ada kalian itu tetap saudara." pinta sang Nenek pada Yura yang sedari tadi mengobrol.
Walaupun putri dan menantunya sudah meninggal tapi sang Nenek menyayangi Yura seperti cucu kandungnya sendiri.
Saat motor Al baru saja melaju meninggalkan kediaman Yu Jie, ada seseorang yang sedari tadi bersembunyi menampakkan dirinya dari balik tembok samping rumahnya itu.
"Ternyata semakin dewasa, kau semakin bertambah cantik Yura." gumam seseorang tersenyum licik.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
.
.
.
.
.
.
.
.tbc
Mohon dukungan dari semuanya yaa,, dengan cara beri like vote dan juga hadiah🌷🌷🌷🌷🌷
Terima kasih yang sudah mampir baca. love u all..