Bad Boy I Love You

Bad Boy I Love You
Hanya sebuah sandiwara



Entah bagaimana lagi, Prita malah menghubungi Davin untuk menjemputnya, karena dia sudah terasa sedikit mabuk.


"Dia bilang akan membunuhku, Al akan membunuhku Dav, mana boleh dia memperlakukanku seperti ini!" lirih Prita menceritakan apa yang di katakan oleh sahabat dari pria di hadapannya ini.


"Karena kau sangat keterlaluan, kenapa kau harus berbuat begitu, ini bukan lelucon, dia juga tidak sedang bersandiwara!!" balas Davin datar tapi nadanya terlihat kesal.


"Aku tahu dia tidak bersandiwara, karena aku selalu memperhatikan dia, makanya aku tahu. aku tidak pernah melihat ekspresi, dan pandangan matanya yang begitu lembut untuk seorang gadis." ujar Prita sambil terisak menjeda ucapannya.


"Ada kalanya dia memandang Yura dengan tatapan mata sedih, walaupun hanya sesaat, tapi hatiku sangat sakit, kalau bicara tentang Yura aku sangat emosi Dav, tangannya sudah mau di hancurkan, tapi dia hanya mencemaskan Alrick saja. sama sekali tidak peduli pada dirinya sendiri." lanjutnya.


"Sebenarnya mereka berdua sudah saling menyukai, hanya saja mereka belum tahu perasaan mereka masing-masing." balas Davin yang sudah melihatnya.


"Tapi dari semester pertama aku sudah menyukai Al, suka sekali, makanya aku terus menunggunya. aku merasa suatu hari nanti dia akan kembali padaku." ucap Prita.


Davin hanya tersenyum mendengarnya." Bahkan aku sejak SMA sudah menyukai Yura." seru Davin sambil tersenyum kecil.


Prita sungguh terkejut," Tidak adil." sahutnya pada Davin.


"Iya sungguh tidak adil, tapi bagaimana lagi, " membuat Prita berpikhir keras.


"Aku iri, aku sungguh iri padamu," ujar Prita menatap lekat Davin.


"Tapi aku lebih iri lagi padamu, kau lebih kuat dariku. aku tidak pernah punya keberanian bilang, kalau aku cemburu pada Al. karena aku tidak berani cemburu, jadi hanya bisa memilih menjadi temannya, menjadi bayangannya saja." terang Davin tanpa menatap Prita yang sedang menatap dirinya.


"Apa kita hanya bisa menjadi bayangan mereka saja.?" tanya Prita mulai mengerti.


"Atau menjadi musuh mereka,?" lanjut Davin sambil memikirkan kembali.


Prita kembali menatap Davin," Lalu kau mau apa sekarang?" tanya Prita menelisik senyum yang Davin tampilkan untuknya begitu sangat misterius.


...----------------...


Malam harinya Yura sedang mengerjakan tugasnya di dalam kamar, tak lama ia mendengar suara motor yang ia kenal seperti berhenti di halaman rumahnya, Yura pun begegas keluar rumah.


Setelah memastikan siapa yang datang ia langsung menerbitkan senyum manisnya pada orang yang berada di atas motor sportnya itu.


"Aku baru pulang kerja, hanya mampir sebentar ingin melihat keadaanmu saja." seru Al sambil melepas helm miliknya.


Membuat Yura langsung tersenyum dan menghampirinya, " Aku tidak akan membiarkan mereka berbuat begitu lagi padamu, bagaimanapun tidak akan kubiarkan aku akan membereskannya." lanjut Al menatap Yura lekat.


"Jangan menyalahkannya, karena dia sangat menyukaimu." bela Yura


"Tapi apa yang dia lakukan padamu, sudah keterlaluan, mana mungkin ada cinta." balas Al geram mengingat perbuatan Prita pagi tadi.


"Dan mantan pacarku pernah bilang, aku ini seperti benda yang terhormat dan mewah, membawaku keluar bisa menarik perhatian orang-orang." lanjut Al dengan percaya diri.


"Wanita itu sungguh sangat menyukaimu?" tanya Yura tidak percaya.


"Sungguh, makanya dia sangat menyukaiku, karena aku adalah benda berharga katanya. kapan kau pernah melihat benda berharga punya perasaan? aku hanya perlu berdekatan dengan banyak wanita, baru bisa merasakan kebahagiaan, hanya itu saja. orang bodoh sepertiku hanya ingin kebahagiaan yang sudah ada. dan aku tidak peduli dengan cinta dan rasa suka." terang Al panjang lebar, membuat Yura nampak sedikit kecewa.


"Bukan! kau bukan orang yang seperti itu. aku bisa merasakannya, kau orang yang butuh banyak cinta. mungkin jalan cinta sangat berat bagimu, makanya kau memilih menjadi berandalan dan menjalani hidupmu sendiri. dan kau terus berganti wanita untuk menutupi dirimu." jelas Yura yang memang dari kemarin-kemarin memperhatikan Al.


"Apa aku orang yang seperti itu? jadi lebih baik kau jauh-jauh dariku." pinta Al malah berjalan mendekat pada Yura.


"Aku juga sudah bilang pada diriku, juga mengajari diriku sendiri untuk menjauhimu sedari awal. takut disakiti olehmu, karena kau tidak mungkin menyukaiku." Yura menatap Al dengan lamat-lamat.


"Tapi semakin aku berpikhir seperti itu, tanpa kusadari aku semakin ingin dekat denganmu, akhirnya aku tidak bisa berpaling darimu." lanjutnya membuat Al juga menatapnya dalam.


Sedetik kemudian Al menarik tengkuk Yura kemudian men-stempel bibirnya di atas bibir Yura, tak lama Al melepasnya.


"Ini sudah lama aku pakai, belum pernah sebelumnya seperti ini." ucap Al sambil melepas jeratan rambut itu di bantu oleh Yura juga.


Setelah terlepas Al malah melepas gelangnya lalu memakaikan gelang itu di pergelangan Yura.


"Kenapa di lepas..itu gelang kesayanganmu 'kan?" tatap Yura heran.


"Memang benar, ini seperti pelindung untukku, tidak apa mungkin ini bisa melindungimu juga. masuklah, aku akan melihatmu sebentar." pinta Al.


Yura langsung berlari masuk kedalam rumah sambil terus tersenyum menatap gelang pemberian Al.


Sedangkan Al setelah sampai di kontrakannya, ia berbaring termenung di atas ranjang tidurnya sambil terus berpikhir yang telah terjadi akhir-akhir ini membuatnya sedikit pusinh, kemudian tak lama ia pun tertidur.


...----------------...


Keesokan harinya Yura datang lebih awal dan menunggu Al di dekat parkiran. tak lama Al datang dengan motor sportnya, melihat Yura disitu membuat Al bingung.


Lalu mereka saling lempar senyum sambil berjalan bersisian masuk ke dalam kelas.


Al semakin bingung harus menjelaskan bagaimana." emmm Yura." panggil Al kemudian.


"Soal semalam.__


"Oh, gelang ini." potong Yura sambil memegang gelang itu akan melepaskannya.


"Bukan, bukan, maksudku, kau tahu kan? di luar negeri sana ada kalanya ciuman itu hanya semacam sopan santun, cara menyapa, di antara sesama teman tidak berarti apa-apa, itu hanya semacam,__


"Sandiwara saja." potong Yura yang sedikit mengerti arah pembicaraan Al padanya.


"Oh, ya benar seperti itu, jadi hubungan kita seperti.__." jawab Al bingung merasa tidak enak hati.


"Ya aku mengerti, aku tidak keberatan." setelahnya Yura berjalan cepat, tanpa terasa air mata sudah berlinang di pipinya dan di usap kasar olehnya.


Al melihat itu semakin membuatnya bersalah, tanpa mereka sadari ada seseorang yang melihat dan mendengarkan obrolan mereka barusan.


Al juga berjalan menuju ke kelas, tiba-tiba saja Davin datang entah dari mana lalu berkata." Sebelum masuk kedalam kelas kita perlu bicara." setelahnya Davin pergi berjalan lebih dulu menuju atap gedung di ikuti Al dari belakang.


Buuugg...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


.


.


.


.


.


.tbc


Mohon dukungan dari semuanya yaa,, dengan cara beri like vote dan juga hadiah🌷🌷🌷🌷🌷


Terima kasih yang sudah mampir baca. love u all..