
Dua hari kemudian.
Pagi menjelang siang hari Yura mengunjungi Al ke kontrakannya, sebab Al bilang dia sudah berada di rumah.
" Al." panggil Yura begitu ia sampai dan langsung masuk ke dalam tanpa melihat dulu dimana Al berada sekarang.
Ia membawa beberapa makanan dan langsung meletakkannya ke atas meja makan yang berukuran kecil itu.
" Hay kau sudah datang." tanya Al sambil melilitkan handuk di pinggangnya.
" Astaga kenapa kau tidak bilang, kalau kau sedang mandi!" Yura berlari keluar kembali sambil menutup sebagian wajahnya dengan menggunakan satu tangannya.
Alrick hanya terkekeh melihat Yura yang sangat lucu itu, membuatnya gemas sendiri, dengan cepat ia pun memakai pakaian rumahnya celana pendek dan kaos tanpa lengan.
" Sudah masuklah," Yura pun masuk kembali dengan menghela napas leganya.
" Al kau tahu kemarin itu ada seorang Bapak-bapak yang datang ke Pameran dan dia bilang ingin membeli mahal lukisanku itu." seru Yura sambil duduk di bibir ranjang.
" Lalu?"
" Ya tentu saja aku bilang, aku tidak menjual lukisanku." jawab Yura datar.
" Kau bodoh sekali, dia sudah mau membeli lukisanmu dengan harga tinggi tapi kau_
Al memutar tubuhnya dan menatap Yura, " Kenapa kau menolak untuk menjualnya?" lanjut Al kembali.
" Karena pemilik lukisan ini adalah kau." jawab Yura sambil mengernyitkan keningnya menatap Al bingung.
" Bodoh, kau seharusnya melihat waktu dan tempat, sudahlah aku tidak peduli, lain kali kalau terjadi hal yang sama aku akan membantumu menawarkan harga yang bagus." seru Al begitu serius.
Sambil ia berjalan mendekat dan duduk di samping Yura.
" Apa menawarkan yang kau maksud adalah dengan mengancam?" goda Yura tertawa geli.
Al hanya menatap Yura datar tanpa ekspresi, karena dia sedikit kesal dengan tindakan yang Yura lakukan, yang tak seharusnya memikirkan dirinya.
" Dengar kuberitahu, orang itu sepertinya adalah orang yang baik, dia seperti seorang ksatria, aku tidak menyangka ada ksatria yang mau membeli lukisanku." terang Yura sambil tersenyum lebar menampilkan deretan giginya.
Tidak melihat raut wajah Al yang sudah seperti benang kusut, sambil melintir-lintir handuk kecil yang sedari tadi ia pegang, ia gunakan untuk mengeringkan rambutnya.
" Kenapa aku tidak menyadari jika kau lebih tertarik pria yang matang." celetuk Al tanpa menatap wajah Yura.
Yura langsung menatap Al cepat lalu terkekeh, " Begini saja, kau ajak pria itu keluar dan lakukan hubungan intim dengannya." lanjut Al sambil melangkah menjauh dari Yura.
" Apa kau bilang? kau sedang marah?' tanya Yura yang juga beranjak dari duduknya.
" Kenapa aku harus marah? lagi pula aku juga tidak punya jas, juga tidak pernah memakai parfum, bau di tubuhku hanya bau bensin." sahut Al merajuk.
" Jangan marah, kau cemburu ya? tapi aku tetap suka bau bensin di tubuhmu ini, " sahut Yura sambil memeluk Al dari belakang.
Al langsung memutar tubuhnya membuat mereka berdiri saling berhadapan, dan menatap kedalam bola mata Yura.
" Sungguh aku tidak berbohong." lanjut Yura kemudian.
Al langsung menyerbu bibir mungil Yura sedikit ganas, memang*tnya, menyesap rasa manis bibir yang membuatnya candu.
Lalu ciumannya turun ke leher jenjang Yura, memberi tanda merah kebiruan di sana-sini.
Sementara Yura sama sekali tidak bisa menikmati rasa apapun, ia malah melihat bayangan kelam di masa lalunya berputar-putar di benaknya.
" Al," panggil Yura tapi sepertinya Al tidak mendengarkan panggilan itu, ia terus saja menciumi hingga sampai ke belahan dua aset kembar Yura.
" Al." Yura sedikit meninggikan suaranya, membuat Al langsung tersadar dan melepas ciuman mautnya itu.
" Al aku lapar." ucap Yura sangat gugup, sementara Al meredakan napasnya masih memburu.
" Apa kau tidak lapar?" tanya Yura mencoba tersenyum menatap Al.
" Tidak, " jawab Al dengan cepat.
Yura langsung berjalan ke arah meja makan dan menyiapkan makanan yang ia bawa tadi.
Al langsung menghela napas panjangnya, begitu ia tak dapat menyalurkan apa yang ia inginkan, sudah selama ini ia mengurung bumblebee miliknya itu.
" Sebenarnya orang yang ingin aku makan adalah kau, " gumamnya pelan.
Al pun berjalan mendekat pada Yura dan duduk di hadapannya, mereka makan sambil diam tanpa bersuara.
Al dengan pikirannya yang sangat kesal sekali hasratnya tidak tersalurkan, sementara Yura pikirannya kembali ke masa lalunya, ia sedikit ketakutan.
...----------------...
Keesokan harinya Al mengunjungi Davin di kedai tempat temannya itu bekerja.
Davin tertawa terbahak begitu mendengar curhatan dari Al, ia tak melihat raut wajah Al yang lemas seperti tak bernyawa itu.
" Yura begitu juga sama sekali tidak salah, sebaliknya kau? aku tidak mengerti denganmu, sejak kapan kau berubah menjadi begitu waspada." celetuk Davin masih dengan tertawa mengejek.
" Entahlah, aku melihat ada seberkas cahaya, seberkas cahaya yang memancar kesini." jawab Al begitu tidak semangatnya.
" Cahaya? dimana?" potong Davin cepat sambil mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya.
" Cahaya yang membuatku tidak kuat, memancar dari matanya, setiap kali berdekatan dengan cahaya itu darah di otakku langsung membeku." lanjut Al, membuat Davin melongo, tak lama ia pun terkekeh.
" Aku sendiri hampir kehilangan rasa percaya diri." desah Al tidak bersemangat.
" Kau pasti terlalu terburu-buru Dude, Yura lain denganmu ini pertama kali baginya, setiap kali kau selalu begini." celetuk Davin kembali.
" Terburu-buru kepalamu! kau masih menganggap aku adalah binatang," sahut Al menatap serius kepada Davin.
" Hei, aku tak pernah menganggapmu sebagai manusia, coba kau hitung sendiri, sebelum kau mengenal Yura, sudah berapa banyak wanita yang kau nodai?" sahut Davin menasehati.
Sementara Alrick hanya meringis sambil menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal itu.
" Susah 'kan? jadi sekarang kau harus membuat dirimu sendiri menderita, siapa suruh dulu kau tidak sopan. Yura melakukannya dengan sangat bagus, pembalasan dendam dari wanita yang dulu kau permainkan." seru Davin bersorak senang.
" Hei, kau jangan cemburu lagi dengan kami, kuberitahu dulu aku binatang atau bukan, tapi terhadap Yura aku punya rasa_ Al menjeda ucapannya.
" Rasa cinta, ya cinta kau mengerti? saat kau mencintai seseorang kau tidak bisa menahan diri untuk memeluknya, mau menciumnya, ini hal yang sangat wajar kau mengerti.?!" lanjut Al meneruskan.
Davin hanya terkekeh ," Iya mengerti, saling mencintai." jawabnya.
Walau sebenarnya ia sudah sangat mengerti di bandingkan dengan Al, Davin masih saja tersenyum begitu senangnya.
Membuat Al curiga, " Kau sedang senang karena apa?" tanya Al tiba-tiba.
" Tidak, bukan apa-apa." elaknya.
" Ya teruskan saja, jika kau tidak mau memberitahuku." ujar Al berpura-pura merajuk.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
.
.
.
.
.
.
tbc
Mohon dukungan dari semuanya yaa,, dengan cara beri like vote dan juga hadiah🌷🌷🌷🌷🌷
Terima kasih yang sudah mampir baca. love u all..