Bad Boy I Love You

Bad Boy I Love You
Gelang pelindung



"Clara," gumam Felix pelan, terus menatap wanita yang sedang terpejam sambil menikmati sisa kenikmatannya.


Tak lama kedua mata indah itu terbuka, dan mereka saling tatap," Kau? bagaimana bisa kau yang berada di sini?" desis Felix geram sambil beringsut menjauhi tubuh wanita yang bernama Clara itu.


Felix dengan cepat memakai celana boxernya kembali dan berjalan untuk menyalakan lampu ruangan.


"Felix, maaf caraku memang salah, tapi bukan maksudku untuk mempermainkanmu, tapi aku sungguh tidak suka kau mendekati wanita lain." cicit Clara mencoba menutupi tubuhnya dengan selimut.


"Jangan kau memasakku? sudah kukatakan padamu, kita tidak bisa bersama." ucap Felix berang dengan menatap dingin pada Clara yang mulai terisak.


Felix berjalan masuk ke dalam toilet kembali, tak lama ia keluar sudah dengan pakaian lengkapnya yang ia pakai tadi.


Tanpa berucap apapun Felix keluar kamar meninggalkan wanita itu sendirian yang bertambah menangis kencang.


"Kau jahat padaku Felix, kenapa kau lakukan ini padaku." isaknya sesenggukan mencoba menerima semua ini tapi tidak sanggup.


Apa kesalahannya pada Felix? hingga membuat pria itu tidak bisa mencintainya seolah malah membenci dirinya.


Sementara itu di luar sana, Felix berjalan kembali ke meja dimana sahabatnya tadi menunggu duduk di sana sendirian.


Sesampainya di meja tak ada seorang pun di sana, ia mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya berharap melihat sahabatnya itu, nihil? mungkin saja Al sudah pergi begitulah pikirnya.


Ia pun melangkah keluar dari klub tersebut, tidak memperdulikan Davin dan Prita yang masih berada di dalam sana.


Toch buat apa juga menunggu mereka yang mungkin saja sedang melakukan hal yang tadi akan Felix lakukan juga, tapi malah gagal total gara-gara wanita yang bernama Clara itu.


"****, kau tidak jadi masuk ke dalam sangkarmu," desah Felix sambil menatap Babblebee-nya yang masih saja menegang sempurna.


Felix pun melajukan motor sportnya membelah jalanan yang lebih lenggang sebab malam sudah semakin larut.


...----------------...


Keesokan harinya di kampus.


"Apa kau sudah tanya pada Al, mereka sudah putus atau belum?" tanya Prita pada Yura yang saat ini berjalan di halaman kampus.


"Dia bilang mereka tidak pernah berpacaran." jawab Yura nampak biasa saja.


"Dia bilang begitu? Kau harus tanya dengan jelas, jangan membiarkan mereka punya kesempatan. itu adalah tugasmu sebagai kekasihnya, mengerti!?" seru Prita memberi nasehat agar Yura tidak memberi peluang pada mereka.


"Kalau kau benar-benar menyukai Al, maka tidak boleh melepaskannya, kau tahu tidak?" cecar Prita kembali.


"Apa harus begitu?"


"Apa yang kau katakan?" Prita tak habis pikhir dengan jalan pikhiran Yura saat ini.


"Aku pikhir, kalau Al benar-benar mau pergi, walaupun menangis, dan berusaha mempertahankannya, baginya sama sekali tidak ada gunanya dan kenapa juga harus khawatir?!" jelas Yura dengan sangat tenang tanpa beban.


Sementara di depan sana ada seorang wanita yang sedang berjalan dengan sangat anggun dengan dua pria yang berusaha sedang menggodanya.


"Hay kau bukan mahasiswi sini 'kan?" tanya seorang pria berjalan bersisian dengan wanita itu.


"Heh tunggu, apa kau wanita yang telah memenangkan pelelangan Alrick kemarin?" tanya seorang lagi yang hanya di balas senyuman oleh wanita tersebut.


"Benar, kau dari kampus mana?" sahut pria yang satunya lagi.


"Aku dari Universitas JDMIS." jawab wanita itu dengan tersenyum manis yang tidak lain adalah Yu Jie.


"Prita." panggil Yura sambil berlari mengikuti Prita yang berjalan dengan cepat.


"Apa maksudmu berbuat begitu?" sarkas Prita menatap Yu Jie berang yang akan berjalan mendekat pada mereka berdua.


Yu Jie hanya tersenyum menatap adik tirinya bersama teman wanitanya itu yang berjalan tergesa-gesa ke arahnya.


"Siapa yang menyuruhmu kesini?" desis Prita kembali dengan sedikit geram.


"Prita sudah, ayo kita kembali." Yura berusaha meredam kemarahan Prita yang cepat sekali marah, dengan berusaha mengajaknya masuk ke dalam kelas.


"Kuperingatkan, aku tidak peduli dulu kau punya hubungan apa dengan Al, tapi kekasih Al saat ini adalah Yura, jangan berpikhir untuk memisahkan mereka, berbuat begitu sangat memalukan!!" geram Prita menatap Yu Jie sambil merangkul pundak Yura.


Prita tidak sadar bahwa dulu dia pun pernah melakukan hal yang tidak kalah memalukan pada Yura.


"Aku hanya ingin menjenguk teman SMA saja, kenapa kalian begitu tegang?" jawab Yu Jie dengan senyum mengejek pada mereka berdua.


"Kau?" Prita masih bersikekeuh-kekeuh untuk mengusir Yu Jie dari kampus ini.


"Aku melihatmu begitu berusaha, aku rasa hubungan mereka tidak sedekat itu." seloroh Yu Jie masih dengan tenangnya.


"Kepar*t, tutup mulutmu itu." Prita sudah akan menjambak rambut Yu Jie tapi di halangi oleh Yura.


"Jangan begitu Prita."


"Lepas, jangan membelanya."


"Sudah Prita."Yura terus saja berusaha mengajak Prita pergi,.


Yu Jie tak sengaja melihat gelang yang di pakai oleh Yura, itu adalah gelang yang sama.


Waktu masih SMA dulu ia sempat meminta gelang itu pada Al, tapi Al tidak memberikan gelang itu padanya, lalu apa ini? pikhirannya menerawang kembali pada masa lalu.


"Gelang yang bagus, untukku ya?" pintanya dulu pada Al sedikit merengek.


"Tidak boleh, gelang ini adalah pelindungku, sangat penting!" jawab Al menepis pelan tangan Yu Jie.


"Kenapa?"


"Pokoknya sangat penting, aku tidak mungkin memberikannya padamu." Al terus mengelak.


"Bagus sekali pinjam sebentar saja." Yu Jie masih berusaha agar Al mau memberikan gelang itu padanya.


"Tidak, aku tidak akan membiarkan gelang ini jauh dari diriku, tidak boleh." Al masih mempertahankan gelangnya, membuat Yu Jie pun mengalah pada waktu itu.


"Prita jangan, Prita sudah ayo kita pergi saja dari sini."


Ini Visualnya Clara Ivani Aome.




...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


.


.


.


.


.


.


.


.tbc


Mohon dukungan dari semuanya yaa,, dengan cara beri like vote dan juga hadiah🌷🌷🌷🌷🌷


Terima kasih yang sudah mampir baca. love u all..