Bad Boy I Love You

Bad Boy I Love You
Keputusan Yang Terbaik.



Sebuah mobil BMW berwarna hitam baru saja memasuki sebuah pelataran rumah yang terlihat begitu megah dan sangat besar itu, di depan pintu utama pun sudah ada beberapa pengawal yang bergerak cepat dan langsung membuka kedua pintu belakang begitu mobil itu sudah berhenti.


Dimana dua orang yang tidak lain adalah Alrick langsung turun dari dalam mobil begitu pintu sampingnya di buka dari luar, kemudian para pengawal menundukkan kepalanya kepadanya.


" Dimana Ayahku?" tanya Al sambil berdiri menunggu Yura yang baru akan turun dari mobil.


"Beliau sedang pergi keluar Tuan, mungkin nanti malam baru akan kembali." jawab salah satu pengawal masih sambil menunduk.


" Baiklaj, ayo Yura." Al langsung menggandeng tangan kekasihnya itu dan mengajaknya masuk ke dalam rumah megah milik Ayahnya.


Yura langsung mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru rumah yang memang sangat begitu besar layaknya istana. ini adalah kali pertamanya ia menginjakkan kaki di rumah sebesar itu.


" Ada apa Yura?" tanya Al saat Yura masih saja fokus menatap seluruh penjuru rumah.


" Heum? tidak, hanya saja aku merasa sedikit tidak nyaman. sekarang aku mengerti kenapa kau tak suka disini, dan lebih memilih untuk pergi dari rumah sebesar ini." celetuk Yura masih terus meneliti seisi rumah itu.


" Ayo." Al tak menjawab seruan Yura, ia justru memanggil Yura akan mengajaknya untuk naik ke lantai atas dimana ada ruang keluarga dan di lantai atasnya lagi letak kamarnya berada.


" Tuan, kopernya akan di letakkan dimana?" tanya seorang maid dan satu orang pengawal yang berjalan mengikuti dari belakang sambil membawa kedua koper besar milik mereka berdua.


Al langsung menoleh ke arah mereka, " Tolong kalian letakkan di kamarku saja, sebantar lagi kami akan ke atas." sahut Al hanya menatap sekilas lalu kembali menatap kekasihnya yang masih betah menatap takjub rumah Ayahnya.


" Sayang ayo kita ke atas, kau ingin beristirahat sekarang bukan?" tanyanya sambil merangkul pinggang ramping Yura.


" Baiklah ayo." mereka berdua akhirnya masuk ke dalam lift yang tersedia di dalam rumah itu, untuk naik ke lantai atas. meskipun ada tangga, namun tangganya itu sangatlah tinggi dan juga sangatlah panjang.


Perjalanan mereka dari rumah Yura hingga sampai ke rumah Ayahnya Al, memanglah cukup lumayan jauh. apalagi hari sudah sore, mereka ingin beristirahat sejenak saja.


Setibanya di kamar yang dulu di tempati oleh Al, Yura kembali menatap sekeliling kamar yang cukup luas di bandingkan dengan kamar yang biasa ia tempat.


" Ini tidak seperti kamar.!" celetuk Yura sambil berjalan ke arah meja persegi panjang yang Yura yakini meja tempat Al belajar dulu.


" Lalu dimana kamar Erich?" tanya Yura yang kini menoleh ke arah Al yang ternyata sedang menatap ke arah luar jendela kamarnya itu ia, entah sedang menatap apa. Yura pun berjalan menghampiri.


" Kau sedang lihat apa?" tanya Yura kembali sembari memeluk tubuh Al dari belakang.


" Oh, tidak ada. ayo kau ingin lihat kamar Erich bukan?" Al mengurai kedua tangan Yura yang sedang memeluk perutnya lalu menggenggam salah satunya dan berjalan keluar kamar menuju letak kamar saudaranya yang terletak di hadapan kamarnya.


Walaupun tadi Al terlihat sedang melamun, namun sebenarnya ia mendengarkan semua apa yang Yura katakan padanya.


Ceklek.!!..


Keduanya berjalan semakin masuk hingga sampai di dekat ranjang yang sama seperti ranjang di kamar Al. hanya saja di kamar Erick banyak sekali perabotan, seperti alat melukis, terlebih lukisan-lukisan yang begitu banyaknya ada yang di atas meja juga menggantung di dinding.


Jika dibandingkan dengan kamar Al disana hanya ada beberapa poster pembalap GP yang terkenal, mungkin itu para idola Al.Yura sangat memahami itu. sebab dirinya sendiri juga mempunyai idola yang juga sangat terkenal di seluruh dunia.


" Jadi dia sering melukismu?" tanya Yura sambil mengusap salah satu lukisan yang terpajang di dinding dekat jendela besar itu.


" Ya begitulah, kadang yang membuatku heran dia sedang melukisku? ataukah melukis dirinya sendiri! karena wajah kami yang begitu mirip hingga banyak orang yang bingung membedakan kami." seru Al yang sedang menatap lukisan yang lainnya yang berada di hadapannya.


" Aku jadi penasaran ingin bertemu langsung dengan Erick?" lirih Zoey tanpa mengalihkan pandangannya dari lukisan tersebut.


" Mungkin dia akan pulang jika kita menikah nanti, aku justru mengusulkan agar kita berempat menikah secara bersamaan di satu tempat yang sama, dan Erick langsung menyetujuinya tanpa berpikir panjang." seru Al, seketika Yura menoleh sedikit terkejut.


"Sungguh? mungkin sangat menyenangkan! aku tidak bisa membayangkan ada dua pria dengan wajah yang sama berdiri di dekatku." sahut Yura yang kini memeluk Al dari samping.


" Kenapa kau harus membayangkan seperti itu? kau berharap dekat dengan pria lain, begitu?" tanya Al kesal.


Entah mengapa tiba-tiba Al merasa dirinya menjadi pria yang pecemburu, padahal dulunya tidak ada dalam kamusnya akan melakukan hal yang ia anggap geli, namun semenjak berhubungan dengan Yura, ia merasa cukup jauh berbeda.


" A-aku_


" Permisi tuan, Tuan besar sudah kembali." salah satu maid mengintrupsi situasi yang hampir saja memanas.


" Baiklah, kami akan menemuinya." keduanya akhirnya turun bersama menemui sang Ayah.


" Selamat datang di rumah Yura, tidak perlu sungkan ini juga rumahmu." sapa Aang begitu mereka berdua berjalan ke arah ruang keluarga, dimana dirinya sudah lebih dulu duduk di sofa sana.


" Terima kasih Paman."


Al mengajak Yura duduk bersebelahan, berhadapan dengan Ayahnya, " Jadi bagaimana? Ayah sudah mempersiapkan semuanya, Ibumu juga sudah menyerahkan semuanya padaku. tinggal kalian berdua saja, dan aku mendengar kau cuti kuliah?" Aang menatap putranya dengan serius.


Degh!


Yura nampak begitu terkejut setelah mendengar pernyataan ini, " Al." cicitnya begitu pelan.


Alrick sangat menyadari jika kekasihnya ini pasti begitu terkejut, mengetahui jika dirinya memutuskan untuk kuliah secara tiba-tiba dan tanpa memberitahunya terlebih dahulu, namun ini adalah cara yang terbaik untuk masa depan mereka berdua.


" Ayah tahu alasanmu, tetapi Ayah tidak memintamu untuk cuti kuliah. dan kau masih bisa sambil kuliah, ambil kuliah karyawan saja." nasehat Aang kepada putranya.


Aang tidak ingin hanya karena permintaannya agar ia mau belajar tentang dunia bisnis dan terjun langsung di perusahaannya, putranya itu justru mengambil keputusan yang berakibat pada sekolahnya.


" Bukankah seharusnya kau senang? itu juga keinginanmu bukan? agar aku bisa cepat bergabung untuk meneruskan perusahaan yang kau bangun. aku hanya menepati janjiku dan yakin dengan keputusanku, mungkin itu yang terbaik." sahut Al tenang, namun penuh penekanan.


Dari sini Yura baru paham, jika keputusan Al untuk cuti kuliah hanya semata-mata permintaan Ayahnya, yang menginginkan putranya itu mau bergabung ke dalam perusahaan yang mungkin itu nantinya akan menjadi tanggung jawab Al suatu hari nanti.


Aang menarik napas beratnya, ia tahu bagaimana sifat putranya ini, jadi ia pun menyetujuinya jika memang ini sudah menjadi keputusan yang terbaik bagi putranya. " Baiklah, terserah padamu."


Yura menoleh menatap kekasihnya. Apa ini adalah keputusan yang terbaik bagimu? aku tahu bagaimana kau ingin bebas di luar sana.


.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.tbc


Mohon dukungan dari semuanya yaa,, dengan cara beri like vote dan juga hadiah🌷🌷🌷🌷🌷


Terima kasih yang sudah mampir baca. love u all..