
Setelah memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya, Al berjalan masuk ke dalam pekarangan rumah Yu Jie.
Ting tong.
Pintu rumah Yu Jie pun terbuka, menampakkan sang Nenek di hadapan Al.
"Bukankah kau Alrick?" tanya Nenek Yu Jie yang ternyata masih teringat dengan wajah Al."Masuklah."
"Halo Nek apa kabarmu? apa Yu Jie masih di dalam kamarnya?" tanya Al saat melangkah masuk ke dalam.
"Baik, entahlah Nenek juga tidak tahu, kenapa dia mengurung diri di dalam kamar begitu, oh iya kapan kau kembali,? Yu Jie tidak bilang kalau kalian sudah bertemu?" tanya sang Nenek menatap Al.
Sebab yang Neneknya tahu Al dan Erick kembali ke negara mereka sebelumnya, begitulah yang Yu Jie katakan padanya setelah Al menghilang, tidak pernah datang lagi ke rumahnya.
"Kami baru bertemu beberapa hari ini Nek, apa Al boleh masuk?" ijin Al karena ingin cepat segera pulang dari rumah Yu Jie.
"Tentu saja siapa tahu dia mau keluar dari kamarnya, tunggu sebentar. Yu Jie cepat buka pintunya, ada Alrick ingin bertemu denganmu." teriak Nenek sambil mengetuk pintu kamar cucunya dari luar.
Membuat Yu Jie yang mendengar ada Al di rumahnya saat ini, membuatnya langsung beringsut bangun dan berlari cepat untuk membuka pintu kamar.
"Astaga Alrick aku sangat merindukanmu?" cicit Yu Jie begitu langsung melihat Al, ia langsung berhambur memeluk Al erat.
"Lihat tubuhmu semakin kurus? kau tahu kakek dan nenekmu sangat mengkhawatirkanmu." celetuk Al membalas pelukan Yu Jie.
"Aku benci mereka, aku sangat membencinya." sahut Yu Jie berteriak di sela-sela tangisannya.
Al tahu jika Yu Jie tidak benar-benar mengatakan membenci Nenek dan Kakeknya, Yu Jie sebenarnya membencinya atau mungkin membenci adik tirinya Yura, itu hanya pelampiasannya saja.
" Maafkan aku, tidak seharusnya kau mengatakan seperti itu, bagaimana pun mereka-lah yang membesarkanmu sampai kau dewasa seperti ini, sudah ayo sekarang makan ya?" bujuk Al.
Yu Jie menggeleng tidak mau, bukan tidak mau makan, tapi ia tidak mau melepaskan Al saat ini, masih ingin memeluknya. jika di lepas takutnya Al akan pergi menjauhinya kembali.
"Kau jangan melakukan hal yang membuatku cemas lagi?" pinta Al ya g terdengar sebuah perintah.
Membuat Yu Jie mengangguk pelan, dan mengurai pelukannya perlahan, Yu Jie akhirnya keluar kamar untuk makan malam di temani Al yang duduk di sampingnya.
"Kau tidak makan?" Al hanya menggeleng lemah, ia memang tidak berselera makan. hanya ingin cepat segera pulang ke rumahnya.
"Nek Al pamit pulang dulu ya? salam untuk Kakek." pamitnya berjalan keluar rumah.
"Iya terima kasih ya Al."
Yu Jie mengantarkan Al sampai ke depan teras, "Al kita masih bisa bertemu 'kan?" tanyanya sambil menatap Al yang terlihat gelisah.
"Hmmm, baiklah aku pergi."
Yu Jie masih menatap punggung Al dari kejauhan sampai Al menghilang di belokan jalan ujung sana.
Saat baru sampai kontrakannya ponsel Al berdering dengan nyaring, membuatnya mengangkat panggilan tersebut.
"Hallo, ada apa?"
"Aku dengar kau bertemu kembali dengan Yu Jie? apa dia mempersulitmu? mau aku bantu?!"
Pertanyaan dari kakaknya membuatnya semakin pening, tidak perlu bertanya bagaimana saudara kembarnya itu bisa mengetahuinya keadaanya saat ini.
Dengan kepintarannya, dan dengan berbagai alat canggih yang di milikinya itu membuatnya tahu semua apa yang terjadi pada dirinya.
"Kau bisa menyusulku kesini, jika kau tak ingin berurusan dengan wanita itu, atau aku akan memberi sedikit pelajaran untuknya."
Tawaran Erick memang bagus, tapi ia tidak mau meninggalkan kekasihnya sendiri disini, dia harus menyelesaikan kuliahnya dulu baru ia memutuskan akan pergi atau tinggal disini yang otomatis dia harus menerima keputusan dari Ayahnya yang memintanya untuk mengurus perusahaan milik Ayahnya itu.
"Tidak perlu aku bisa mengurusnya sendiri dan kau tidak perlu mentrasfer uangmu padaku, atm ku pasti sudah semakin gemuk sekarang dengan uangmu itu. dan aku masih bisa mencari uang sendiri untuk makan dan membayar kontarakan yang aku tempati, ya kecuali biaya kuliah." terang Al panjang lebar menasehati kembarannya itu.
"Bukankah sudah di biayai oleh Ayah, baiklah jika itu maumu, tapi jika kau memerlukan bantuan dari kakakmu ini, cepat hubungi aku.!"
"Hmmm, baiklah aku tutup dulu mau membersihkan badanku yang sudah terasa lengket ini." Al pun memutuskan panggilan telepon itu saat mendengar jawaban dari saudara kembarnya.
"Kenapa Al duduk di sana?" tanya Prita saat menghampiri Davin yang ternyata juga menatap Al yang duduk sendirian di pintu masuk.
"Tidak tahu, sudah sedari tadi aku memperhatikan dia duduk di sana, tidak tahu apa yang terjadi." mereka melihat Al dari lantai atas yang dekat dengan kelas mereka pagi ini.
"Akhir-akhir ini wanita itu sering menemui Al, tapi sudahlah Yura juga tidak keberatan kenapa kita yang cerewet?" seru Prita sedikit kasihan dengan Yura.
Ini memang sudah hampir satu pekan setelah kejadian itu, dan Yura pun juga menyibukan dirinya untuk melukis setelah kelasnya usai.
Bukannya menghindari Al, tapi ia ingin menunggu Al menyelesaikan masalahnya terlebih dahulu dengan kakak tirinya itu.
Sedangkan Al tahu jika Yura menghindarinya, saat ia mencoba ingin mendekati Yura, dengan cepat Yura mengalihkan dengan kesibukannya.
"Baguslah kalau begitu, walaupun mereka tidak bisa bersama, apa boleh buat." sahut Davin dengan ambigu membuat Prita menoleh ke samping dengan cepat.
"Jadi kau masih menyukainya? setelah apa yang kita lakukan malam-malam sebelumnya itu? ini yang kau tunggu, kau bisa merebut Yura kembali?" Prita memicingkan kedua matanya menatap curiga pada Davin.
Membuat Davin tergelak, " Kau bicara apa? sudah kubilang aku menyukaimu masih tidak percaya?" Prita semakin mengkerucutkan bibirnya.
Membuat Davin gemas dan mengecup bibir itu sekilas, membuat Prita membelalakkan matanya.
"Davin!!, ini di kampus ya!!," protesnya sambil memukul bahu Davin yang sedang tersenyum itu, membuatnya semakin kesal dan juga malu.
Sebab banyak mahasiswa di sekitar mereka, untung saja tidak ada yang melihat adegan itu, bisa heboh satu kelas.
Tak lama dari kejauhan terlihat Yura berjalan sendirian menuju halaman kampus, "Eh lihat Yura datang." seru Prita tersenyum senang.
"Hay."
"Hay."
"Pelajaran sudah akan di mulai, kenapa tak naik kekelas?" tanya Yura masih dengan berdiri di depan Al.
Al menggeleng," Aku tidak mau."
"Kalau begitu aku naik ke kelas dulu." pamitnya akan melangkah menaiki tangga menuju kelasnya.
"Bisa duduk sebentar." pinta Al menoleh sedikit pada Yura, membuat Yura akhirnya duduk di samping Al.
"Tidak tahan dengan mereka, aku masuk kelas," Prita melangkah menuju ke kelas tapi langkahnya terhenti saat melihat Davin masih bergeming di tempatnya .
"Ayo masih tidak pergi." ajaknya membuat Davin pun mengikutinya dari belakang.
"Kau mau menceritakan sesuatu padaku? kau kenapa?" tanya Yura sambil duduk di samping Al.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
.
.
.
.
.
.
.tbc
Mohon dukungan dari semuanya yaa,, dengan cara beri like vote dan juga hadiah🌷🌷🌷🌷🌷
Terima kasih yang sudah mampir baca. love u all..