Bad Boy I Love You

Bad Boy I Love You
Kau membuat orang menjadi gila



Al berjalan ke arah ranjangnya setelah selesai membersihkan diri," Apa kau akan terus berdiri disitu? carilah tempat duduk, karena tidak ada tempat duduk langsung duduk di atas ranjang saja." tawar Al.


"Hanya Ada bir, kau mau minum apa tidak? " tanya Al sambil membuka lemari es.


"Tidak usah, maaf tidak bilang dulu tadi sebelum datang." balas Yura meringis dan menurut untuk duduk di atas ranjang.


"Tidak apa-apa." sahut Al berjalan dan duduk di atas sepeda motornya. "Tapi aku sangat salut padamu, kau berani datang sendirian ke tempat seperti ini, kau tidak kuliah hari ini? " tanya Al sambil menyesap sekaleng bir dingin.


"Aku hanya mengkhawatitkan lukamu, apa masih belum sembuh? Davin juga meneleponmu tapi nomormu tidak aktif." cicit Yura sambil menunduk.


"Aku sudah sembuh, dan aku tidak akan mati cuma gara-gara kemarin. aku pergi kerja sampai lupa kuliah." balas Al tersenyum.


"Kerja? kau kerja apa?"


"Jadi kuli, ada proyek pembangunan jembatan. walaupun capek tapi gajinya lumayan, kadang aku juga bekerja di bengkel temanku, aku harus cari biaya hidup untukku sendiri, aku ada sedikit cekcok dengan Ayahku." terang Al sambil tersenyum.


"Apa begitu parah?" tanya Yura penasaran.


"Aku hampir mati dihajarnya dulu. " jawab Al sangat serius, tapi sedetik kemudian ia merubah raut wajahnya dan tersenyum.


"Aku berbohong," lanjutnya sambil tertawa senang karena berhasil menggoda wanita di hadapannya ini.


Membuat Yura yang semula raut wajahnya terkejut langsung menunduk ikut tersenyum," Ayahku tidak pernah memukulku, sejak aku kecil dia tidak pernah emosi di depanku." terang Al masih saja tertawa.


"Ternyata Ayahmu adalah orang yang baik_


"Kau salah, karena dia takut padaku, makanya dia tidak berani macam-macam." potong cepat Al.


"Mana mungkin? mana ada orang tua yang takut pada anaknya sendiri." balas Yura sambil tersenyum menatap Al.


Raut wajah Al yang semula tersenyum berubah menjadi serius," Apa kau tidak takut padaku? apa kau tidak merasa aku bukan orang yang normal?" membuat Yura menatapnya intens.


"Apa maksudmu?"


"Aku pernah dikurung oleh Ayahku di rumah sakit jiwa. kau tahu obat penenang? itu adalah benda yang sangat menghina, hanya akan membuat orang yang gila semakin tidak waras." Al berucap dengan wajah yang begitu menakutkan tapi sedetik kemudian ia langsung tertawa terbahak-bahak melihat wajah tegang Yura.


"Haha, aku hanya bercanda, kenapa kau sangat tegang begitu." membuat Yura pun ikut tersenyum juga.


"Aku sudah bilang, mana ada orang tua begitu apalagi membawa anaknya sendiri ke tempat begituan." sahut Yura.


Padahal apa yang di ucapkan Al tadi semua adalah benar adanya, itu semua terjadi padanya waktu masih remaja.


"Kalau benar?" tanya Al merubah raut wajahnya kembali ke wajah serius sambil kedua matanya terpejam.


"Kalau benar apa dia akan mencariku di sini lagi? " tanya ulang Al kini menatap Yura yang juga ternyata menatap dirinya.


"Bisa jadi, bagiku orang yang seperti itu, deperti Dosen Calvin dan juga...?"


Yura menggantung kalimatnya membuat Al bertanya." Dan juga siapa?"


"Juga orang-orang yang kelihatan normal, barulah yang paling kutakuti." lanjut Yura tidak ingin menyebut seseorang itu.


"Al kapan Ibumu meninggal?" tanya Yura mengalihkan pembicaraan.


"Saat usiaku tujuh tahun." jawab Al tidak semangat jika mengingat keluarganya kembali.


"Apa kau merindukannya?"


"Kesanku pada Ibu hanya bau obat saja, sejak aku mengerti dia terus tinggal di rumah sakit, sebenarnya bagiku sama sekali tidak ada kenangan tentang Ibuku." Al menjeda kalimatnya sesaat sambil mencoba mengingat kembali masa lalunya.


"Aku hanya ingat, dia sangat cantik." sambil membayangkan wajah cantik Ibunya yang memang keturunan orang Yunani." tapi juga sangat menakutkan. hari itu aku di rumahmu, saat aku memegang tangan Ibumu. tiba-tiba aku menyadari ternyata tangan Ibu seperti itu." ucap Al mengingat kembali kejadian beberapa minggu yang lalu.


"Apa kau tidak pernah memegang tangan Ibumu?"


"Aku merasa tangan itu sangat menjijikkan kecil dan begitu putih seperti hantu saja. mungkin karena waktu itu aku masih kecil. takut dengan orang yang sakit, sekarang kalau di pikhir-pikhir, aku sangat menyesal, aku pasti sudah menyakiti hatinya." Al bangun dari duduknya membuang kaleng bekas ke dalam tong sampah.


"Emmm..begini kau pernah bilang padaku, bahwa kau akan selalu melindungiku, apa itu masih berlaku?" cicit Yura malu-malu, membuat Al berjalan mendekat dan duduk di samping Yura.


Mereka sejenak saling pandang, lalu Al mencondongkan wajahnya semakin mendekat ke arah wajah Yura, memotong jarak di antara keduanya.


Membuat Yura deg-deg-kan juga takut, seketika ia berucap cepat," Sebaiknya kita jalan-jalan keluar." sambil ia beranjak berdiri.


Membuat Al langsung tersadar dan menarik cepat dirinya yang tidak tahu malu itu, mereka pun memutuskan untuk berjalan-jalan di taman kota.


"Apa yang membuatmu menarik, sedari tadi aku perhatikan kau selalu tersenyum?" tanya Yura penasaran.


"Kau mau tahu? sini" pinta Al menyuruh Yura berdiri mendekat padanya.


"Yang menarik adalah ciptaan Tuhan, lihat sebelah sana." Pinta Al menyuruh Yura menatap ke arah samping kanan." Sebelah sana di sebut 'kebahagiaan senja'." keduanya melihat ada orang yang tengah ketiduran di bawah pohon bahkan tidak menghiraukan lalu lalang yang berjalan di depannya, membuat keduanya lalu tersenyum.


"Lihat lagi sebelah sana." Kini menyuruh Yura menatap sebelah kirinya. terlihat segerombol nenek-nenek tengah bergosip ria sambil tertawa bahagia." Kalau itu di sebut sebagai 'Tragedi menopause'." mereka berdua semakin cekikikan.


"Dan lihat di belakang sana" Yura pun menurut mengikuti arah pandang Al." Itu di sebut sebagai 'Menyinari Seluruh Dunia'." membuat keduanya semakin tertawa terpingkal karena apa yang di tunjuk Al tadi adalah seorang bapak-bapak yang kepalanya botak hanya tersisa sedikit rambut belakang dan sampingnya.


Mereka pun melanjutkan acara jalan-jalannya, terus berjalan sambil bercerita yang lucu-lucu, Al yang sebenarnya yang bercerita pada Yura, membuat keduanya seperti orang tidak waras sepanjang jalan terus saja tertawa.


"Sudah-sudah jangan tertawa lagi. kalau tertawa lagi bisa mati ini, perutku sampai kram." keluh Yura sambil memegangi perutnya.


"Tapi hari ini sangat istimewa, orang yang tidak pernah tersenyum, hari ini tertawa terus." ucap Al memandang wajah cantik Yura yang menahan sesuatu tapi sambil tersenyum


"Karena kau adalah orang yang bisa membuat orang jadi gi*a." balas Yura.


"Masih mau gi*a terus?"


"Bagaimana caranya?"


"Kita pergi ke hotel." membuat Yura mendadak merubah raut wajah muramnya kembali.


" Hey aku hanya bercanda, tapi biasanya gadis yang kencan denganku, berakhir dengan melakukan itu. kalau begitu aku pergi kerja ya?" pamit Al yang memang hari sudah mau sore.


Sebenarnya Yura kecewa tidak ingin mereka berpisah secepat itu tapi mau bagaimana lagi." Baiklah aku juga akan mampir ke toko buku dulu untuk membeli alat lukis yang sudah habis."


Mereka pun akhirnya akan berpisah Al berjalan lebih dulu meninggalkan Yura yang masih mematung," Al besok kau masuk kuliah 'kan?" teriak Yura membuat langkah Al langsung berhenti.


Al pun membalikkan tubuhnya, "Tiba-tiba saja aku menginginkan buku majalah otomotif edisi bulan ini." seru Al membuat Yura pun tersenyum senang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


.


.


.


.


.


.tbc


Mohon dukungan dari semuanya yaa,, dengan cara beri like vote dan juga hadiah🌷🌷🌷🌷🌷


Terima kasih yang sudah mampir baca. love u all..