Bad Boy I Love You

Bad Boy I Love You
Kau yang membuatnya berubah



"Jadi kau menunjukkan surat Ibumu padanya? apa kau begitu membencinya? sungguh?" potong Yura menyela ucapan Al.


"Siapa suruh dia melihatku seperti sikap Ayah, aku berusaha melindunginya, tapi kenapa dia selalu melihatku dengan pandangan menyalahkan, untung aku sangat memahaminya, aku satu-satunya keluarganya, aku sudah melindunginya sesuai pesan Ibu." Al mulai terisak membuat Yura semakin menggenggam erat jemari besarnya.


" Tapi perlindungan yang dia mau sebenarnya hanya pelukan Ibu juga kehangatan saja, dan aku tidak bisa melakukan cara perlindungan yang ia mau, aku sama sekali tak mampu, karena aku sendiri belum pernah merasakannya bagaimana aku bisa tahu, bagaimana seorang Ibu melindungi anaknya sendiri, aku bukan Ibu juga bukan Ayah aku tidak tahu bagaimana caranya melindungi seseorang." Yura pun sudah mulai terisak di bawah sana.


"Kau pasti ingin ada yang melindungimu benar 'kan? kau pasti mengharapkannya di bandingkan Erick, ada yang mendukungmu dari samping, tapi kau tidak punya waktu lebih untuk memikhirkannya, karena untuk melindungi Erick saja sudah membuatmu sibuk, membuatku juga sesak nafas." suara isakan membuat Al langsung menatap Yura.


"Namun sekarang tidak lagi, dia menjadi pria yang dingin tak tersentuh, dan aku berpikhir bagaimana ia bisa bertunangan dengan seorang wanita, apa wanita itu akan baik-baik saja? aku tidak bisa membayangkan bagaimana jika mereka bersama." desah Al melanjutkannya.


Al tersenyum membayangkan hidup saudara kembarnya sekarang, membuat Yura pun ikut tersenyum.


"Lihat wajah kita sembab, orang akan mengira kita sepasang kekasih yang baru selesai bertengkar." celetuk Al kemudian.


"Benar, kita juga tidak mirip kakak beradik." jawabnya mereka pun tersenyum saling pandang, dan tak lama terdengar ponsel Al berdering.


Erick Calling...


"Lihat saudaramu pasti tengah merasakan apa yang kau rasakan saat ini?" tunjuk Yura yang melihat nama pemanggil di layar itu.


"Ya Hallo." seru Al saat panggilan itu sudah tersambung.


"Al kau baik-baik saja bukan? tunggu_ kenapa suaramu seperti habis menangis begitu? kau sedang bertengkar dengan kekasihmu?"


Tebak Erick sama persis seperti yang Al bilang barusan.


"Tidak apa-apa kami sedang membicarakanmu? bagaimana hubunganmu dengan wanitamu itu?"


Al tidak ingin membahasnya sekarang mungkin nanti setelah Yura sudah pulang ke rumahnya.


" Hei aku tahu kau sedang mengalihkan pembicaraan ini, tidak mau bilang? ya sudah tak apa, oh iya bulan depan nanti aku akan mengunjungimu." ingatnya.


Membuat Al terkekeh sambil menatap kekasihnya, lalu di seberang sana Erick sedang berbicara dengan seseorang.


"Baiklah nanti ku hubungi lagi Al, aku masih ada urusan penting." Erick pun mengakhiri panggilannya.


"Dia pasti bisa merasakan kalau kau tengah bersedih, kenapa tidak mengatakan yang ingin kau katakan tadi." seru Yura sambil beranjak menjauhi Al.


"Nanti saja masih ada waktu, ayo aku antar pulang." Al pun berjalan ke arah kamar mandi untuk membasuh mukanya.


"Jangan, kau masih sakit, aku bisa naik bus untuk pulang, tak perlu mengantarkanku. aku baik-baik saja." tolak Yura tak ingin Al bertambah sakit.


"Aku sudah jauh lebih baik sekarang, kalau begitu aku antar ke depan saja, oh iya maaf dari kemarin sudah banyak merepotkanmu, terima kasih." ujar Al mendekat pada Yura.


"Jangan bilang begitu, bukankah aku kekasihmu." Yura tersenyum sangat manis membuat Al tidak tahan melihat bibir pink itu.


Yang langsung saja di menyerbunya, Al mencium, mencecap rasa bibir Yura yang selalu manis, dan menggiringnya ke belakang.


Hingga Yura tidak sadar mereka sudah berbaring di atas ranjang, saat tangan Al meremas salah satu gunung kembarnya, saat itu juga Yura tersadar dan melepas ciuaman Al yang selalu memabukkannya.


Keduanya terengah-engah, Al menatap Yura dengan pandangan protesnya, sedangkan Yura tidak menanggapi saat potongan puzzle-puzzle masa lalu membayanginya.


"Aku harus cepat pulang, Ibu sudah menungguku." cicitnya yang langsung membuat kening Al berkerut.


*Wanita ini sama sekali tidak bisa di ajak bermesraan sebentar saja*.


keluhnya dalam hati sambil bangkit dari tubuh Yura yang di tindihnya tadi.


Al hanya menatapnya saja dan kedua matanya kembali berkaca-kaca, terus memperhatikan Yura dari jauh.


Yura sudah menaiki bus dan menengok ke belakang untuk melihat Al yang ternyata masih berdiri melihat dirinya dari kejauhan walaupun bus sudah berjalan menjauhinya.


Kalau selamanya bisa begini, tertawa dan menangis bersama alangkah bagusnya. bisa jadi sepasang suami istri atau tidak nantinya, bukan masalah. batinnya Yura pun tersenyum penuh arti.


...----------------...


Keesokan harinya.


"Apa? menginap di kontarakan Al hanya memasak dan merawatnya saja? kau benar-benar jadi minimarket. kalau begini terus Al bisa di rebut oleh wanita itu."


Sahut Prita saat menanggapi ucapan Yura yang baru saja menceritakan kejadian kemarin di tempat Al.


"Apa boleh buat? kalau Al tidak bisa melupakan kak Yu Jie." ujar Yura kemuadian.


"Kalau memang dia itu kakakmu? seharusnya dia tidak merebut kekasih adiknya sendiri, kau berubah jadi patung gips, apa hatimu tidak sedih?" tanya Prita lagi.


" Kalau dengan cara ini bisa membuat Al bahagia, aku rela. karena aku suka melihat wajah Al saat sedang tertawa. jadi asalkan aku bisa melihatnya gembira setiap hari, aku sudah merasa puas." sahut Yura kembali.


"Tapi aku lebih suka melihat Al bersamamu, kau tidak tahu Al sangat bahagia saat bersamamu? Alrick yang dulu sangat sembarangan juga emosional, memang keren tapi ada kalanya sangat menakutkan. dan sebenarnya sangat sulit bergaul dengannya, tapi saat dia bersamamu , bagaimana menjelaskannya ya, tiba-tiba dia berubah menjadi sangat manis, dan kau yang sudah merubahnya." celetuk Prita lagi.


Yura pun tersenyum mendengarkan itu semua, walaupun dia tidak begitu percaya dengan apa yang sahabatnya barusan katakan, tapi bukankah Prita jauh lebih dulu mengenal Al sebelum dirinya.


"Baiklah ayo naik ke kelas sebentar lagi pelajaran di mulai." ajak Yura sudah beranjak dari duduknya.


Mereka tadi tengah duduk di taman kampus saat baru saja datang dan mengobrol sebentar, sebenarnya Prita yang menariknya untuk mengintrogasinya soal kemarin.


Saat pelajaran sedang berlangsung dan sang Dosen menerangkannya, tiba-tiba Al mengendap-endap masuk ke dalam kelas lewat pintu belakang yang di bukanya sangat pelan sekali.


"Alrick, kenapa baru sekarang masuk kelas?" celetuk Pak Tio yang memang melihatnya masuk.


"Tadi aku pergi membenahi kabel rem motorku terlebih dahulu Pak." sahut Al menujukkan sebuah kanel kecil yang di pegangnya, sambil meringis menunjukkan deretan giginya pada sang Dosen.


" Alasannya masuk akal, tapi membantah, mana telat sekali." cecar Pak Tio sambil menggelengkan kepalanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


.


.


.


.


.


.


.tbc


Mohon dukungan dari semuanya yaa,, dengan cara beri like vote dan juga hadiah🌷🌷🌷🌷🌷


Terima kasih yang sudah mampir baca. love u all..