Bad Boy I Love You

Bad Boy I Love You
Keberaniannya.



Akhirnya sang Ibu pun pasrah dan menerima tawaran dari Yuan. seusai sarapan Yuan dan Ibu Yin langsung keluar dari rumah menuju ke Rumah sakit tempat yang sebelumnya Ibu Yin di rawat disana.


Sementara Yura ia langsung membereskan sisa bekas sarapan mereka dan langsung mencucinya, karena ia tidak ada kuliah hari ini, ia pun berniat akan belajar di kamarnya saja.


Karena ingin pergi ke tempat Al pun, pria itu sedang bekerja nanti sore baru ia pulangnya.


Yura pun masuk ke dalam kamarnya, berhubung tidak ada siapa-siapa Yura tidak mengunci pintunya, karena merasa ia hanya seorang diri saja di dalam rumah.


Hingga beberapa menit kemudian handle pintu kamarnya ada yang mendorong dari luar, ia spontan berdiri dengan cepat.


Ceklek...


...----------------...


Di tempat lain Al sedang berada di bengkel temannya untuk bekerja, tak lama tiba-tiba Davin muncul entah dari mana dan sekarang sudah berdiri di sampingnya sambil menodongkan sebotol minuman dingin kepadanya.


" Ambil ini." ucap Davin setelah ia duduk di bangku kosong yang di sediakan untuk pelanggan agar nyaman sambil menunggu motor mereka di servise.


" Hay, ini belum waktunya istirahat." sahut Al namun tetap saja ia menerima minuman tersebut.


" Duduklah dulu mumpung sepi tidak ada pelanggan, kau sudah makan?" tanya Davin kemudian.


Mau tidak mau Al pun beranjak dan berjalan menghampiri sahabatnya itu." Belum tapi tadi sempat dapat cemilan dari temanku."


Pada akhirnya mereka pun berbincang-bincang, Al juga menceritakan kejadian semalam kepada Davin.


" What? jadi kau dan Yura sudah baikan?" tanya Davin dengan tidak percayanya.


" Heemm, iya." sahut Al sembari tersenyum lebar.


" Astaga baru juga sehari, aku pikir kau mungkin akan depresi lebih dulu. padahal aku kesini untuk menghiburmu, tapi tidak di sangka. huh." protes Davin makin tidak percaya.


" Benarkah, aku jadi malu." sahut Al semakin tersenyum malu-malu.


Membuat Davin langsung tergelak, namun ia pun ikut merasa bahagia jika sahabatnya ini kembali bahagia.


" Sebenarnya kami tadinya sedikit canggung, tapi kami berhasil mengatasinya." jelas Al kemudian.


" Tapi maaf kami sudah membuat kau dan Prita jadi khawatir. " ucap Al sungguh-sungguh.


" Sebenarnya Prita bilang padaku, dia bersyukur Yura bertemu denganmu, sehingga ia bisa berhenti untuk mengejarmu. jika saja bukan karena Yura, tidak mungkin dia bisa menerima situasi seperti ini. Tapi karena kau bersamanya, dia bisa menahannya." Al pun tersenyum mendengarnya.


Al memang merasa dirinya seperti bukan dirinya yang dulu semenjak dekat dan berhubungan dengan Yura.


" Aku juga berpikir seperti itu."


" Kau benar-benar. bahkan jika semua orang di dunia ini tidak tahu, aku tahu seberapa pentingnya kau untuk Yura." ujar Davin.


" Seluruh dunia ini tahu atau tidak, aku benar-benar tidak peduli. aku hanya berharap suatu hari nanti, Ibu Yura akan mengerti, betapa pentingnya Yura untukku." sahut Al dengan sangat serius.


Davin bisa melihat dari sorot mata Al yang sedikit tajam dan juga saat ia berbicara.


...----------------...


Sementara Yura yang tadinya berada di kamar untuk belajar dan melihat ada seseorang yang akan masuk ke dalam kamarnya ia langsung berdiri sambil menatap pintu karena sangat terkejut.


Ceklek...


Jantung Yura berdegub sengan cepat, saat melihat tangan seorang pria yang membuka pintu tersebut.


Dan benar saja Yuan lah yang masuk ke dalam kamar Yura saat ini, kedua mata Yura bahkan langsung terbelalak tidak percaya.


" Kenapa kau terkejut dengan kedatanganku." ujar Yuan sembari berjalan masuk tak lupa ia menutup kembali pintu tersebut.


Yura semakin terkejut melihat apa yang Yuan lakukan itu, " Kenapa kau masuk ke kamark!?" tanyanya dengan tatapan tajam.


Yura sudah tidak peduli lagi saat ini, ia sudah berjanji pada Al akan menjaga jarak sejauh mungkin dengan pria b********n ini dan akan berani jika suatu waktu ada hal yang tidak ia inginkan terjadi kembali.


Yura semakin waspada menatap ke arah Yuan, ternyata apa yang dikatakan oleh Al benar adanya. orang yang sudah pernah melakukan hal keji seperti itu pasti akan melakukannya kembali jika ada kesempatan.


Yura melangkah mundur mencoba menghindar, walau ia tahu pintu kamarnya hanya ada satu saja, dan tidak ada jalan keluar lainnya, jendela? ia melirik sekilas, namun tidak mungkin karena di lapisi terali besi di dalamnya.


Astaga apa yang harus aku lakukan sekarang. Al tolong aku!


Pintanya dalam hati. masih menatap waspada ke arah depan dimana Yuan sudah semakin dekat dengannya.


" Kenapa semalam kau bisa pulang di antar oleh pria brengsek itu?" tanya Yuan yang sudah berdiri di depan Yura.


" Bagaimana kau bisa naik motor pria brengsek itu?" tanya Yuan kembali.


Yura menatap jijik, bagaimana bisa orang yang brengsek teriak brengsek kepada orang lain. ia pun akan melangkah menuju pintu kamar.


" Bukan urusanmu!" ujarnya sambil berjalan menjauh namun dengan cepat Yuan mencekal sebelah lengannya, membuat Yura meradangdan ketakutan.


" Jangan menyentuhku!" desis Yura berusaha menepis tangan Yuan, namun tenaganya yang kecil tidak bisa untuk melawan Yuan yang tenaganya jauh lebih besar darinya.


" Yura ini demi kebaikanmu!" ucap Yuan mencoba mengajak Yura untuk berbicara tenang.


" Jangan menyentuhku!" pekik Yura semakin memberontak.


" Yura dengarkan aku dulu."


" LEPASKAN, AKU BILANG JANGAN MENYENTUHKU!" sarkas Yura dengan napas tak beraturan.


" Dengarkan aku dulu, ini semua demi kebaikanmu juga.!"


Yura tidak mau mendengar apapun yang keluar dari mulut Yuan. karena yang tengah ia pikirkan adalah berusaha untuk segera keluar dari kamarnya sekalian dari rumah yang menyeramkan ini.


Yuan menjadi emosi, niatnya ingin memberi nasehat kepada adiknya untuk tidak bergaul dengan Al, karena ia sudah mengenal baik Al itu seperti apa dulunya.


Namun respon Yura seperti ini, ia pun ikut terbawa suasana dan langsung mendorong Yura hingga tubuhnya terjatuh di atas ranjang.


Membuat Yura langsung berteriak histeris, bayangan masa lalunya kembali bermunculan.


" Ini semua demi kebaikanmu, kenapa kau tidak mengerti!" seru Yuan sambil mencekal kedua tangan Yura, dengan posisi yang sedikit mengukungnya.


" PERGIII!!" teriak Yura semakin menjadi-jadi.


" Yura, kau itu adalah miliku paling berharga, tidak ada seorang pun yang bisa mengambilmu." seru Yuan kembali.


Di saat ia kebingungan matanya menatap lampu tidur yang berada di atas nakas ia pun langsung meraupnya dan mengayunkan tepat di atas kepala Yuan dengan sangat kencang.


BRAAKKK...!!!


Yuan langsung terhuyung ke belakang sambil memegangi kepalanya dan darah segar pun mulai membanjiri sebagian kepalanya.


Yura masih diam mematung di atas tempat tidur sambil mengamati Yuan, saat terlihat Yuan akan kembali mendekatinya dengan cepat Yura mengayunkan lampu itu untuk kedua kalinya.


BRAAAKKKK..!!


Kali ini tepat mengenai hidungnya hingga berdarah-darah sebab lampu itu terbuat dari besi. Yuan pun terjatuh ke lantai hingga beberapa detik kemudian ia tidak sadarkan diri.


Dan itu menjadi peluang untuk Yura segera meninggalkan rumah tersebut, ia berlari dengan tergesa bahkan melupakan ponselnya yang masih tergeletak di atas meja belajarnya.


Hingga akhirnya ia sudah sampai di depan jalan raya dan segera memberhentikan sebuah taksi yang melintas.


.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


.


.


.


.


.


.


.


.tbc


Mohon dukungan dari semuanya yaa,, dengan cara beri like vote dan juga hadiah🌷🌷🌷🌷🌷


Terima kasih yang sudah mampir baca. love u all..


"