
Yura terjaga dari tidurnya.. bayang-bayang trauma masa lalunya terus menghantui dirinya hampir setiap malam.
Wajahnya sudah berpeluh seperti sehabis lari maraton, nafasnya pun terengah-engah sesak di dada, tangannya meraih gelas di atas nakas lalu segera meminumnya, ia sangat takut kejadian itu terulang kembali.
Sementara di kamar lain AL terus terjaga, sulit dirinya untuk memejamkan matanya. pikhirannya kembali ke masa lalu.
Kenangan pahit Mamanya yang seolah selalu mengganggu pikhirannya, gara-gara melihat lukisan Yura tadi ia pun harus mengingat lagi kenangan itu, kenangan yang selama ini mati-matian ia berusaha lupakan.
"Aaaggghhh,, sebaiknya aku bersenang-senang saja." sambil menekan nomor seorang gadis yang ia inginkan untuk menemaninya malam ini.
......................
Kelas pun usai, para mahasiswa berhampur untuk keluar kelas, saat Yura tengah membereskan peralatannya di atas meja, AL menghampirinya, di ruang kelas sudah sepi hanya tinggal mereka berdua saja.
"Yura mau makan bersama.!" ajaknya sambil manarik lengan Yura, Yura hanya diam menatap lengannya di genggam.
"Uupppsss!! sorry teman, baiklah kalau tidak mau." pertegas AL sembari melangkah pergi.
"AL tunggu! ini lukisannya sudah aku selesaikan , simpanlah." sambil menyerahkan lukisannya, AL pun menerima lukisan itu.
"Oohh sungguh ini buatku? cepat sekali kau menyelesaikannya. emmm sepertinya aku ini tidak tahu malu yaaa? setelah aku pikir-pikir memang seperti itu." seloroh Al menyengir kuda.
Yura hanya menundukkan kepalanya sambil mendengarkan AL bicara. "Aku tidak punya uang, tidak ada benda berharga yang bisa ku tukarkan." jelas Al merasa tidak enak.
AL mulai diam mereka pun saling pandang sejenak,"Begini saja biar aku saja yang melindungimu, bagaimana? Apapun yang terjadi kelak, aku pasti akan membantumu, kalau begitu janji ya? Lagi pula yang bisa kulakukan hanya itu bye aku duluan." AL pun melangkah pergi, saat mau keluar pintu ia berhenti.
"Aaa..Ada lagi. ada satu hal lagi yang bisa kulakukan untukmu, Yaitu..Saat kau mau bermesraan_AL menjeda ucapannya, sedangkan Yura wajahnya sudah merona saat mendengarkan itu.
"Aku bisa meminjamkan tubuhku untukmu,,GRATISS,," sambil menekan kata gratis sambil meringai nakal pada Yura.
Yura yang mendengar perkataan absurd dari Al hanya menundukkan kepalanya tidak ingin menatap wajah Al yang semakin nakal itu. di rasa tidak ada ucapan balasan dari Yura, AL berjalan menuju pintu keluar hendak meninggalkan kelas.
Tiba-tiba saja Yura memanggilnya kembali, reflek langkahnya terhenti. "Kalau begitu pinjamkan tubuhmu padaku," seketika AL langsung mematung dan berbalik.
"Tadi kau bilang apa?" memastikannya kembali, karena tidak percaya apa yang telah di dengarnya barusan.
"Tadi aku bilang, pinjamkan tubuhmu padaku, untuk menjadi modelku." Yura mengulang ucapannya dengan pelan.
Seketika AL yang sudah berpikhiran terlalu jauh kesana, tidak percaya apa yang barusan ia dengar, ia pun hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu.
Yura akhirnya mengajak AL masuk ke dalam ruang kesenian, netra Yura menyapu seluruh ruangan memastikan keadaan benar-benar sepi, setelah benar-benar kondusif ia meminta AL untuk masuk.
Yura mengambilkan sebuah kursi buat AL untuk duduk, yang langsung AL menjatuhkan b*k*ng ke kursi tersebut.
"Aku tidak menyangka tubuhku akan digunakan untuk melukis. tadinya aku berencana kita bisa melakukan hal yang lebih menyenangkan, Hal yang bisa_bisa membuatmu puas pastinya." ucap Al dengan seringai nakal tapi berubah kecewa.
Yura hanya diam mendengarkan dan menyiapkan peralatan lukisnya. sedang AL terus saja mengoceh tidak jelas.
"Aku dengar kau benci laki laki, benarkah? Kenapa benci, apa kau suka perempuan?" tanya AL tanpa berfilter.
"Bisa jangan bergerak terus tidak? Juga jangan bicara terus, nanti aku susah melukisnya." Yura mulai jengah sebenarnya dengan ucapan-ucapan yang di lontarkan AL, tapi demi apa coba.
"Aku bukan patung nona, aku ini manusia hidup bagaimana bisa aku tidak boleh bergerak ,tidak boleh bicara hmmm.!!" ucap Al yang mulai bosan.
Yura tidak ingin menjawabnya ia hanya ingin fokus pada lukisannya, beberapa menit ia sudah mulai melukisnya, terus fokus sampai di rasa AL tidak besuara lagi, Yura meletakkan alat lukisnya, mulai mendekati AL, dan benar saja ternyata sang Model sudah berada di alam mimpi.
"Begitu saja ketiduran." gerutu Yura pelan dan menatap Al, Yura mulai mengamati wajah AL yang terlelap tanpa di sadarinya tangannya mulai terulur menyentuh wajah tampan AL, ia menyadari sesuatu.
Tingkah lakunya memang aneh, membuat orang sulit untuk melihatnya, tapi dia punya wajah yang bersih dan polos, aku sama sekali tidak bisa merasakan sisi jahatnya. Dan dunia ini memang terdapat banyak kejahatan...yang membuat orang tidak bisa berbuat apa-apa, tidak tahu harus berusaha seperti apa, dia mengungkapkannya satu persatu, menebarkan bau yang tidak dibenci orang. batin Yura.
......................
*Kelas Bahasa Inggris
Calvin sang Dosen sedang mengajarkan materi di depan, tiba-tiba ia ingin salah satu murid nya maju untuk membuat kalimat selanjutnya. Calvin menunjuk AL yang tengah tertidur di jam kelasnya.
"Alrick, Alric!," panggil ulang sang Dosen.
AL yang tengah tidur terpaksa di bangunkan oleh Davin gelagapan mulai bangun perlahan.
"AL kau di suruh maju kedepan, maju buat kalimat, cepat" seru Davin setengah berbisik.
AL yang kebingungan pun clingak-clinguk seperti orang bodoh, mulai menyadarkan diri.
"Kenapa Al? kau 'kan sudah dua tahun belajar, pasti bisa kan, ayoo maju,,"ucap Calvin dengan seringai liciknya.
"Kau yang membuatku bangun Pak, jadi jangan menyalahkan aku nanti." tekan AL membalas seringai liciknya.
Dosen itu pun tambah merasa senang menjahili AL, padahal dia tidak tahu saja bahwa di dalam otak AL pun merangkai kelicikan yang lebih parah darinya. AL mulai menulis kalimat demi kalimat di papan tulis.
Di belakang mereka pun para mahasiswa mulai bersuara, memperhatikan dan membaca apa yang tengah di tulis oleh AL.
Dosen yang mendengar kebisingan para mahasiswa nya itu pun, langsung berbalik melihat juga apa yang tengah di tulis AL sehingga membuat kelas semakin bising. AL mengucapkan apa yang ia tulis barusan.
"Dosen yang kelihatan baik ini..sebenarnya bajingan yang melecehkan seorang siswi." Al menerjemahkan arti tulisannya yang menggunakan bahasa inggris di papan itu.
Dan bertambah riuh suara para mahasiswa berbicara, saling berbisik pada yang lain.
"Tenang-tenang jangan ribut," ucap Dosen itu semakin gusar.
"Pak Dosen tidak tahu saja , usiaku masih lima tahun, aku sudah tinggal di NY selama sepuluh tahun." ucap Al yang semakin membuat gusar saja sang dosen itu.
Sedang AL tertawa senang sambil kembali ke tempatnya, sebelum sampai kursinya ia behenti di samping Yura.
"Give me five (toast) cepat," ucap AL sembari melayangkan telapak tangannya ke depan Yura, tapi Yura masih diam saja.
"Cepat balas balik sangat menyenangkan bukan." imbuhnya lagi, setelah mendapat balasan higt five dari Yura ia pun duduk kembali dengan sama-sama tersenyum lebar.
...----------------...
Di tengah perjalanan pulang AL tidak menyadari kalau rem motornya di potong oleh seseorang, beruntung reaksinya sangat cepat sehingga saat ada truk besar di depannya ia bisa menghindarinya dengan cepat.
Ia pun langsung membawa motornya ke bengkel milik temannya, dan temannya bilang bahwa selang rem sengaja ada yang memotongnya.
Tidak salah lagi pasti sang Dosen cabul itu yang melakukannya siapa lagi, aku akan membuat perhitungan padanya besok. gerutu Alrick
Keesokan harinya AL benar-benar membuat Dosen itu kapok, sehingga membuat Dosen Calvin itu mengundurkan diri.
*Di dalam kelas
Prita dan Al berjalan bersama memasuki ruang Kelas. "Al bagaimana kalau kelas selesai nanti, aku naik motormu kita jalan keliling. " pinta Prita dengan bergelayut manja di lengan Al.
"Tidak bisa, kalau ada perempuan yang naik motorku bisa cemburu dia, dan bisa menjatuhkan aku." jawab Al yang langsung duduk di sebelah Yura.
Yura yang tengah meraut pencilnya berhenti sejenak, mereka saling pandang saling lempar senyum, kemudian Yura melanjutkan meraut lagi.
Prita yang melihat mereka pun berjalan dengan sengaja menyenggol bahu Yura, sehingga membuat Cutter itu menggores jari telunjuk Yura.
Al yang melihat jari Yura langsung menegur Prita dengan menatapnya tajam.
"Apa yang kau lakukan?" tanya AL pada Prita kesal dan langsung memandang Yura lagi.
"Maaf, aku tidak sengaja," ucap Prita setengah mengejek sembari duduk di belakang mereka.
"Hei, jarimu berdarah, kau bodoh sekali." tanpa aba-aba AL langsung menarik jari Yura yang berdarah itu langsung memasukkan kedalam mulutnya.
Yura yang kaget dengan aksi AL yang sedikit kurang ajar, langsung menarik paksa jarinya kembali.
Davin yang duduk di samping Al juga melihatnya, Prita pun juga langsung menatap sinis semakin murka pada Yura, dan tersenyum dengan seringai nakal telah merencanakan sesuatu pada Yura nanti.
Lihat saja apa yang akan ku lakukan. batinnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
.
.
.
.
.
.tbc
Mohon dukungan dari semuanya yaa,, dengan cara beri like vote dan juga hadiah🌷🌷🌷🌷🌷
Terima kasih yang sudah mampir baca. love u all..