Bad Boy I Love You

Bad Boy I Love You
Permohonan Yura



Sepulang dari acara makan malam dan berkumpul bersama sahabatnya tadi, mereka kini sudah berbaring di atas ranjang setelah sebelumnya membersihkan tubuh mereka.


Yura duduk bersandar di sandaran ranjang, sementara Al berbaring terlentang dan kepalanya ia letakkan di atas kedua paha kekasihnya, yang langsung di usap-usap rambut panjang sebahunya iru oleh Yura sambil memejamkan mata menikmati.


" Al sebenarnya kenapa kau berhenti balapan? pasti karena aku bukan? kau berjanji pada Paman akan berhenti balapan dan semua itu demi aku bukan? " tanya Yura pada akhirnya, daripada ia semakin penasaran, sebaiknya bertanya langsung saja begitu pikirnya.


" Bukan." jawab Al dengan cepat, namun tak di pungkiri sebenarnya ia sedikit terkejut sebab tidak menyangka Yura akan mengetahui perjanjian itu. nanun Al tidak memperhatikan keterkejutannya pada sang kekasih..


" Aku membuat keputusan itu setelah mempertimbangkan beberapa hal, aku juga tidak bisa menjalani kehidupan hanya mengandalkan balapan saja, setelah aku bersungguh-sungguh memikirkan pernikahan kita. tiba-tiba keinginan balapanku perlahan memudar, tidaklah buruk melanjutkan bisnis Ayahku." jelas Al dengan sangat serius.


" Tunggu! aku benar-benar tidak percaya kau akan mengatakan demikian!" sela Yura sembari menangkupkan kedua tangannya ke wahah Al. hingga sang empu membuka matanya, mereka saling pandang.


" Apa maksudmu?" Al menaikkan sebelah alisnya, masih memandang wajah cantik Yura." Aku bisa menjadi pembalap, tetapi aku tidak bisa menjadi pegawai kantoran?" tuduhnya seolah Yura meragukan kemampuannya.


" Bukan begitu?" elak Yura. " Maksudku, bukankah balapan adalah impianmu? Bukankah kita berjanji akan mengejar impian kita. Aku berpikir kau belum terlalu matang memikirkan hal itu. Jangan menyerah pada impianmu, hanya karena aku. Aku tidak menginginkan hal itu. " terang Yura panjang lebar untuk memperjelas, agar kekasihnya tidak salah paham padanya.


Al justru terkekeh mendengar apa yang Yura katakan dengan begitu seriusnya." Bodoh! aku tidak sehebat yang kau pikirkan. kau tahulah aku seperti apa, aku orang yang selalu berubah-ubah pikiran, aku belum pernah serius. Jangan terlalu serius menanggapinya. masalah hari ini saja sudah sangat melelahkan bagiku, ayo kita tidur, aku sungguh sangat lelah." ajaknya sembari bangun dari rebahannya tadi.


Yura sedikit ternganga dengan apa yang barusan Al katakan padanya yang menurutnya justru terlihat hanya ingin bermain-main saja dalam hidupnya. " Al seriuslah sedikit, jangan terus bercanda bisa tidak!" keluh Yura sambil berbaring memunggungi Al.


" Baiklah, kau tahu bahkan jika saja aku menolak meneruskan bisnis Ayah, Erick justru menyuruhku untuk menyusulnya, maksudku kita." balas Al. sambil memeluk Yura dengan erat dari belakang.


Mendengar kata kita membuat Yura pun membalikkan tubuhnya yang kini menjadi berhadapan dengan Al." Kita? maksudnya?" tanyanya tidak paham.


" Baiklah, nanti kita pikirkan lagi. dan sekarang istirahat cepat pejamkan kedua matamu." titahnya mencoba mengalihkan, agar mereka tidak lagi melanjutkan pembicaraan mereka tadi.


Yura nampak kembali kesal sebab Al tidak mau melanjutkan ceritanya yang membuatnya sedikit penasaran. ia pun kembali membalikkan tubuhnya membelakangi Al.


" Eh, jangan marah begitu sayang, nanti pasti aku ajan ceritakan namun tidak sekarang. ijinkan aku untuk beristirahat, aku sungguh sangat lelah." Al kembali memeluk Yura dari belakang, kepalanya bahkan ia letakkan di ceruk Yura, membuat sang empu menggerutu tidak jelas.


Keesokan harinya,


Setelah menyelesaikan sarapan paginya Yura mengantar Al hingga ke depan teras, " Aku berangkat dulu, jaga dirimu." pamitnya sambil mengecup dahi dan juga bibir Yura sekilas, setelahnya melangkah pergi dan masuk ke dalam mobil.


Yura melambaikan tangannya hingga mobil itu sudah tidak terlihat lagi dari pandangannya, kemudian ia masuk kembali ke dalam rumah besar itu dan hendak masuk ke dalam kamar, begitu ia mengingat sesuatu.


Berhubung hari ini Yura tidak ada kelas, setelah berpikir matang-matang akhirnya ia memberanikan diri untuk berbicara pada Ayah Al, calon mertuanya.


" Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Aang beranjak dari tempat duduknya. mereka saat ini tengah berada di ruang kerja Aang yang berada tak jauh dari kamar pribadinya.


Itupun karena Yura meminta bantuan dari salah satu maid untuk mengantarkannya kesana, sebab ia masih sering salah masuk ke dalam ruangan demi ruangan.


" Sebelumnya maafkan aku Ayah jika perkataanku kali ini akan membuatmu kecewa ataupun marah padaku, tetapi aku mohon ijinkan Al untuk meraih mimpinya." pinta Yura dengan sangat pelan dan hati-hati.


Aang nampak tidak suka dengan permintaan yang Yura ajukan padanya, " Apa kau tahu apa yang kau mohon? apa kau tahu kembali ke dunia balap itu, teramat sangat berbahaya?" tanya Aang sambil menatap sedikit tajam ke arah Yura.


Sementara Yura hanya menunduk takut, ia masih bergeming berdiri di tempatnya. " Bukankah aku sudah memberitahumu bagaimana Ayah Al meninggal?" tanya Aang kembali.


Aang memang sudah sedikit banyak bercerita pada Yura di kala Al sedang tidak berada di rumah. terlebih pasti Yura juga sudah mengetahui perihal masa lalu Al seperti apa. apalagi tentang status, bahwa dia bukanlah Ayah kandung Al.


" Aku juga sudah lama memikirkan hal itu, aku tahu Al akan berada di tempat yang berbahaya. sejujurnya aku juga sering di buat takut olehnya, setiap Al tidak bersamaku, aku sangat takut jika itu akan menjadi terakhir kali aku melihatnya, tapi itulah hidup yang sudah di pilih oleh Al. demi aku, demi cinta kami, dia melepaskan mimpinya.


...----------------...


Sepekan berlalu.


Sore hari di sebuah ruangan khusus yang masih berada di dalam perusahaan A4, terlihat begitu ramai disana para pegawai juga para kolega sudah berkumpul semua disana untuk menggelar acara pisah sambut dalam rangka pergantian Presdir perusahaan.


" Tuan muda terlihat berkilau sekali, cucuku bilang, dulu saat latihan ujian persiapan masuk kuliah, kau tak pernah mendapatkan nilai di bawah 90, dia sangat iri padamu." celetuk seorang pria yang usianya hampir senja, juga orang yang memiliki jabatan penting di perusahaan ini.


" Tuan, sepertinya anda salah paham, mungkin yang cucumu katakan itu adalah Kakakku." sahut Al mengelak.


" Kakakmu? oh iya aku baru ingat Ayahmu mempunyai dua putra kembar, maafkan pria tua ini yang selalu saja lupa, maklum sudah pikun." selorohnya terkekeh.


" Ya benar, dia adalah Kakak yang sangat jenius Alderick, tidak sepertiku yang kebalikannya." seru Al menanggapi sambil tersenyun tanpa malu.


" Anda kebalikannya? bagaimana bisa?" tanya pria tua itu lagi, namun Al tidak menanggapi kembali ia hanya terus saja tertawa.


Hingga pria tua itu pamit pergi ingin bercengkrama dengan yang lain, kini Al hanya sendirian sembari menikmati minuman anggur yang berada di tangannya namun ia hanya diam saja tidak ingin bergabung dengan yang lain. bahkan wajahnya menjadi sendu setelah kepergian pria tua tadi.


Hingga Al memutuskan untuk pergi ke rooftop gedung ini untuk mencari udara segar, ia memilih menyendiri itu lebih baik daripada ikut bergabung dengan mereka semua yang membuatnya tidak mengerti.


Al tidak sadar bahwa sedari tadi ada seseorang yang sedang mengawasinya juga mendengar semua pembicaraannya dengan pria tua tadi.


.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


.


.


.


.


.


.


.


.


.tbc


Mohon dukungan dari semuanya yaa,, dengan cara beri like vote dan juga hadiah🌷🌷🌷🌷🌷


Terima kasih yang sudah mampir baca. love u all..