Bad Boy I Love You

Bad Boy I Love You
Menginap



Dan pada akhirnya disinilah Yura berada, duduk meringkuk di depan kontrakan Al sambil gelisah tidak tahu harus berbuat apa.


Hingga beberapa jam kemudian ia mendengar suara deru motor berhenti di depan sana, tidak tahu itu siapa karena posisinya yang meringkuk di bawah lantai.


Saat mendengar langkah seseorang yang semakin dekat ia semakin meringkuk menenggelamkan kepalanya di lipatan antara kedua kakinya itu.


" Yura." panggil orang itu yang tak lain adalah Al.


Yura langsung mendongak dan berdiri saat mendengar bahwa Al sudah tiba.


" Al." serunya sambil terisak.


Al segera melangkah mendekat dan menarik tubuh kecil kekasihnya, Yura semakin terisak di dalam pelukan Al.


" Apa yang terjadi?" tanya Al dengan tidak sabar.


Melihat kondisi Yura saat ini pasti telah terjadi sesuatu karena pakaian yang di pakainya kotor ada bercak darah juga lengan pakaian sebelahnya robek.


Yura masih diam tergugu, akhirnya Al mengajak Yura masuk ke dalam kontrakannya, mendudukkannya di bibir ranjang sementara dirinya duduk berjongkok di bawahnya sambil menggenggam kedua tangan Yura.


" Dia berjanji padaku tidak melakukan itu lagi!, dia bersumpah tidak akan melakukannya!" ucap Yura menahan emosi.


Al berusaha untuk menenangkannya, ia memeluk Yura kembali. " Aku membencinya! aku benci dengannya!" teriak Yura kembali menangis histeris.


" Sudah tenanglah." Al terus mengusap punggung Yura, agar membuatnya tenang.


" Tadi aku di beritahu oleh anak pemilik kontrakan bahwa kau berada di sini, dan aku langsung bergegas untuk pulang." beritahu Al, sebelum Yura bertanya.


Akhirnya beberapa menit kemudian Yura sudah bisa mengendalikan dirinya dan sudah mulai sedikit tenang.


" Aku tadi hanya berpikir supaya dia menghilang, menghilang selamanya dari muka bumi ini, saat aku menyadarinya apa yang telah aku perbuat. dia sudah berlumuran darah dan tergeletak di lantai tidak sadarkan diri." pelan-pelan Yura menjelaskan karena ia masih merasa trauma.


" Kau yakin dia sudah mati?" tanya Al dengan hati-hati, agar Yura tidak kembali histeris.


" Aku terus memanggilnya, tapi dia tidak bergerak sama sekali. aku takut, pasti dia sudah mati." Yura kembali menangis histeris.


Al merogoh ponsel miliknya yang berada di dalam kantong celananya dan ia pun berinisiatif untuk menghubungi ponsel Yura yang mungkin saja tertinggal di rumah.


Hingga beberapa kali memanggil akhirnya panggilannya di jawab oleh seorang wanita yang Al yakini adalah Ibunya Yura.


Al pun menyodorkan ponselnya kepada Yura, walau awalnya Yura bingung akhirnya ia menerima setelah di beritahu bahwa itu adalah Ibunya.


" H-hallo Bu, Ibu aku tidak bermaksud melakukannya, itu karena dia masuk ke dalam kamarku dan mendekatiku, jadi aku spontan memukulnya." seru Yura sambil terisak.


Ibu Yura terdengar menghela napas beratnya sebelum ia mulai berbicara untuk menjelaskan apa yang di ucapkan oleh Yuan tadi saat ia sudah sadar.


Saat baru sampai di rumah tadi Ibunya langsung mengecek kamar putrinya untuk melihat putrinya sedang apa.


Dan saat baru sampai di depan kamar dan sudah berdiri di ambang pintu ia melihat Yuan sudah sudah tergeletak tidak sadarkan diri dan juga berlumuran darah.


Ibu Yura pun segera menghubungi mobil ambulan dan tak lama Yuan sudah di bawa ke rumah sakit untuk segera di tangani.


" Iya Ibu tahu, Yuan juga sudah menjelaskan semuanya pada Ibu tadi. tidak perlu khawatir dia hanya mendapatkan beberapa jahitan di kepala dan di wajah. bukan masalah besar." terang Ibunya.


" Mungkin karena kau tidak tahu dia sudah pulang tadi, jadi dia sedikit menakutimu, aku rasa itulah kenapa kau salah paham dan bereaksi berlebihan padanya." imbuh sang Ibu kembali.


Namun Yura sedikit terkejut dengan keterangan sang Ibu. " Berlebihan?" ucapnya membeo.


" Iya Ibu rasa itu hanyalah kesalapahaman saja, kau dimana sekarang biar Ibu kesana menjemputmu.?" ucap sang Ibu.


Suara Yura terasa tercekat saat ini. " Jadi Ibu percaya padanya?" tanyanya tidak percaya.


Ibu Yin pun mengangguk walau ia sadar putrinya itu tidak bisa melihatnya, " Ya Ibu percaya padanya."


Deg.!!


Hati Yura langsung mencelos ia tak menduga Ibunya lebih percaya pada orang lain di bandingkan dengannya yang notabene nya adalah putri kandungnya sendiri.


Yura langsung memutus sambungan telepon itu secara sepihak, ia seperti tak bertenaga lagi untuk meneruakan obrolannya dengan sang Ibu.


Hatinya terasa sakit, dadanya tiba-tiba sesak, ia kembali menangis tersedu. Al pun langsung kembali memeluknya.


Seberang sana sang Ibu terus memanggil Yura, berharap telepon itu masih tersambung, dan saat ia menatap layar ponsel putrinya itu sudah gelap ia pun mendesah kasar.


Hari pun sudah gelap, Yura yang lelah menangis akhirnya ketiduran di atas ranjang, dan baru bangun tadi sore dan tak melihat keberadaan Al tadi.


Yura mendesah pelan merasakan kepalanya masih terasa sedikit pusing, saat ia baru saja selesai membersihkan tubuhnya.


Ceklek..


Yura tersentak saat pintu depan terbuka, ia pun dengan cepat meraih handuk untuk menutupi tubuhnya yang masih polos tanpa sehelai benang pun. namun Al hanya melipir hanya sekilas menatapnya.


" Kau sudah bangun, aku sudah membeli beberapa makanan untuk kita, aku tidak tahu apa kau menyukainya atau tidak." celetuk Al sambil meletakkan beberapa makanan di atas meja.


" Maaf aku tadi ketiduran." sahut Yura sambil melilitkan handuk itu


" Kau lanjutkan saja, aku akan membereskan tempat tidur agar kau nyaman beristirahat nanti malam." ujarnya sembari berjalan mendekat ke ranjang.


Akhirnya Yura pun melanjutkan aktifitasnya, yang sebenarnya membuatnya tidak nyaman karena tidak adanya pintu penutup.


Tapi melihat Al yang membelakanginya, ia pun dengan cepat mamakai pakaian sembari mengawasi pria itu.


Tak menunggu lama, Yura sudah selesai, ia memakai pakaian Al sementara ia tak membawa satu pun pakaian.


Yura berjalan hanya dengan memakai kemeja Al yang berukuran begitu besar, tubuhnya bahkan tenggelam.


" Aku pinjam kemejamu di lemari tadi." ujarnya dengan malu-malu.


" Iya tidak masalah, tapi kau nyaman tidak memakainya?" tanya Al sambil mengamati tampilan Yura.


Yura langsung mengangguk, " Aku sudah meminta Prita untuk membawakan pakaiannya besok, agar bisa kau pakai. sementara pakai ini dulu." imbuh Al kemudian.


" Ya sudah ayo kita makan dulu." ajak Al berjalan ke arah meja makan, di ikuti Yura dari belakang.


Akhirnya mereka berdua makan dalam keheningan, bergelung dalam pikiran mereka masing-masing.


Hingga makanan itu tandas tak tersisa, Yura segera membereskan dan mencuci piring yang ia dan Al gunakan tadi.


Al berjalan dan duduk di bibir ranjang sambil menunggu Yura selesai mencuci piring.


Tak lama Yura berjalan menghampirinya dan duduk di sampingnya. " Jangan khawatir tempat ini cukup nyaman kok, dan malam ini aku akan menginap di tempat Henry." seru Al memberi tahu bahwa ia lebih baik tidur sementara di tempat anak pemilik kontarakan tersebut.


" Jika ada sesuatu yang terjadi, ketuk saja pintu kamar Henry yang ada di paling ujung." lanjut Al kembali, karena Yura hanya diam saja sedari tadi.


Al sudah akan melangkah pergi namun tangannya di cekal oleh Yura.


" Al jangan pergi." pinta Yura dengan lirih.


.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


.


.


.


.


.


.


.


.


.tbc


Mohon dukungan dari semuanya yaa,, dengan cara beri like vote dan juga hadiah🌷🌷🌷🌷🌷


Terima kasih yang sudah mampir baca. love u all..