
PoV Alrick.
Aku langsung melajukan motorku dengan kencang, sambil menahan rasa kecewa dan kesalku pada Yura.
Aku akan bertahan menahan emosiku demi untuk mendengarkan alasannya yang tidak langsung memberitahuku sudah lebih dari sepekan ini.
Hingga tiga puluh menit kemudian aku tiba di depan kafe tempat Prita bekerja.
Aku langsung memarkirkan motorku tak jauh dari pintu masuk, dan berjalan sedikit cepat masuk ke dalam kafe.
Dari kejauhan aku sudah bisa melihat Yura, Prita dan Davin yang sedang duduk bersama membelakangiku.
Aku pun akan bersikap seperti tadi pagi, saat sebelum aku mengetahui semuanya.
Aku berjalan sangat pelan dan begitu sudah dekat, aku langsung menepuk sebelah bahu Davin, membuat ucapan mereka bertiga berhenti, mungkin terkejut setelah melihatku.
Aku melirik Yura yang langsung menundukkan kepalanya setelah menatapku sekilas, entah ia tidak mau menatapku lagi ataukah merasa salah tingkah denganku.
Aku berusaha sekuat tenaga untuk tidak meledakkan emosiku saat baru meliriknya saja.
" Kenapa kalian bertiga mojok disini?" tanyaku hanya menatap Davin dan Prita saja.
Karena Yura masih tidak mau mengangkat kepalanya untuk sekedar menatap wajahku.
Dan sepertinya Davin dan Prita sudah mengetahuinya juga karena mereka berdua sama-sama terdiam sama seperti Yura.
" Kalian sedang menggosipkan aku ya?" tebakku agar membuat suasananya tidak canggung.
" Tidak kok, ayo duduk." balas Prita canggung sembari menggeser tempat duduknya dan kini duduk di samping Davin.
" Kenapa kalian kelihatan kikuk begitu? aneh sekali." gerutuku seolah tidak mengetahui apa-apa.
Davin dan Prita mencoba tersenyum ke arahku, walau aku tahu mereka memaksakan senyumnya.
" Sepertinya kalian sedang menyembunyikan sesuatu dariku, benarkan?" kali ini aku sengaja memancing mereka berdua.
" Tidak."
" Iya."
Jawab Davin dan Prita bersamaan, berbeda pula jawaban mereka berdua.
" Apa yang salah dengan kalian berdua." seruku, mereka kembali diam.
" Lihat dari sini saja sudah terlihat kalau kalian memang sedang menyembunyikan sesuatu dariku." desakku terus menerus.
Dan aku kembali melirik Yura, yang terus saja menunduk, apa lehernya tidak sakit sedari tadi menunduk.
Seperti inilah sifatnya kalau sedang menyembunyikan sesuatu dariku atau kepada orang lain? aku memang tidak heran mengingat sudah lama kami bersama.
" Aku minum ya, ini punyamu Davin." ujarku sembari mengambil segelas minuman milik Davin.
Aku memang belum sempat minum tadi seusai makan setengah donat, sisanya aku berikan kepada para temanku yang masih bekerja, karena rasa laparku menghilang begitu saja saat mendengar ucapan Felix tadi.
Lalu aku menatap Yura kembali, kali ini aku yang akan bertanya lebih dulu, karena melihat sifat Yura yang seperti itu, tidak mungkin Yura yang akan memulainya.
" Hay Yura," panggilku, dan Yura langsung mendongakkan kepalanya menatapku.
" Hem." jawabnya sembari tersenyum tipis.
" Apa benar kau pindah rumah?" tanyaku pelan, tanpa ada nada emosi.
Aku bisa melihat Yura begitu terkejut setelah mendengar pertanyaanku dan kembali menunduk.
Davin dan juga Prita juga sama terkejutnya. " Bagaimana kau bisa tahu?" tanya Davin menatapku.
" Felix yang mengatakannya padaku, bahwa kau pindah rumah. bukan kemarin-kemarin tetapi hari ini aku baru mengetahuinya, benar Yura?" tanyaku masih sedikit tenang.
" I-iya kami pindah." jawabnya tergugu.
" Kenapa kau tidak langsung memberitahuku."
Yura semakin menunduk terlihat raut wajahnya yang sedikit ketakutan.
" A-ku sekarang tinggal bersama Kakak tiriku." balasnya lirih.
Deg...
Kakak tiri? belum mendengar semuanya aku sudah tersulut emosi karena ternyata Yura kembali tinggal bersama pria b********n yang sudah pernah melecehkannya dulu. dimana otaknya berpikir!!!
" Maksudmu kau tinggal dengan pria brengk3k itu lagi, kenapa kau justru menyembunyikan masalah ini dariku?" desisku sudah tidak terkontrol lagi.
" Al tenanglah, sabarlah dulu, kita bicarakan ini baik-baik. kita dengarkan dulu alasan Yura kenapa tidak langsung memberitahumu Okay." seru Davin mencoba menenangkanku.
Aku langsung mengangkat sebelah tanganku meminta Davin untuk diam, karena aku ingin mendengar langsung dari mulut Yura.
" Al sebenarnya_
" Al_
" PERGII!!!" desisku menatap lurus ke arah Yura yang menunduk.
Akhirnya Davin dan Prita mendengarkan permintaanku dan pergi ke belakang agak jauh dari kami berdua.
" Al aku mohon jangan marah." pinta Yura dengan tatapan memohon.
" Kesehatan Ibuku sudah tidak seperti dulu lagi, dan dia juga tidak bisa bekerja lagi. selain dia kami tidak mempunyai siapa-siapa lagi untuk bergantung." seru Yura menjelaskan alasannya.
Dan kini aku baru tahu jika Yura tidak bercerita mana aku tahu Ibunya sudah tidak bekerja lagi.
Mungkin Yura tidak ingin merepotkan orang lain, aku tahu dia orang yang seperti itu. tapi aku ini siapanya? aku sangat kecewa mendengar bahwa ia tidak mempunyai tempat bergantung selain pria b********n itu.
Aku pun menunjuk diriku menggunakan jari telunjukku sendiri.
" Kalau begitu apa artinya aku untukmu? bagaimana kau bisa pindah begitu saja tanpa memberitahuku? apa kau sudah tidak menganggapku lagi? dan kau berhasil membodohiku Yura." senggakku emosi, benar-benar emosi.
" Karena aku tidak tahu bagaimana caranya memberitahumu Al, aku tahu kau pasti akan menentangnya_
" Itu sudah pasti." pekikku dengan cepat menatap nyalang ke arahnya.
Emosiku sudah memuncak saat ini, jika yang berada di hadapanku adalah seorang pria, mungkin wajahnya sudah tidak berbentuk lagi, terkena pelampiasan amarahku.
" Apa kau sudah lupa bagaimana dia dulu menyakitimu? apa kau juga lupa apa yang di perbuatnya padamu?" sargahku dengan amarah yang meletup-letup.
Wajarkan jika aku marah? karena wanita yang aku sayangi dan cintai justru memilih tinggal bersama dengan pria yang sudah merusak masa depannya.
Sudah pasti pria itu akan kembali melakukannya di saat ada kesempatan, apalagi mangsanya selalu berada dekat dengannya.
" Tapi dia mengatakan, tidak akan melakukannya lagi." jawab Yura semakin menunduk.
Mungkin ia ketakutan melihatku berbicara dengan penuh amarah, aku sudah tidak memperdulikan lagi, apalagi di sekitar kami banyak orang, walau mereka tidak berani mendekat.
"Dan kau percaya dengan ucapannya?"
Aku benar-benar tidak habis pikir, bagaimana Yura bisa mengambil keputusan seberat ini tanpa mengajakku bermusyawarah terlebih dahulu.
" Orang yang pernah melakukan hal menjijikan seperti itu pasti akan mengulanginya lagi." hardikku begitu geram, dengan tingkah lugu yang Yura tunjukkan padaku.
Aku tak sengaja menatap ke arah Davin dan Prita yang ternyata memperhatikan kami dari kejauhan. mereka memintaku untuk bersikap tenang.
Dan aku juga mendengar Yura menahan isak tangisnya, aku pun mulai menghembuskan napas berat dan menurunkan emosiku.
" Yura dengarkan aku, tinggalkan tempat itu, tinggalkan pria itu sekarang juga!" pintaku bersungguh-sungguh.
Mudah-mudahan Yura mau mendengarkan permintaanku kali ini, dan ini semua demi keselamatannya juga.
" Tapi aku tidak bisa Al, kemana aku harus pergi?." lirihnya sambil sesenggukan.
" Kau bisa tinggal bersamaku Yura, kau tidak perlu bingung, aku akan giat bekerja untuk mencukupi semua kebutuhan kita." ujarku menawarkan.
" Aku tidak bisa." Yura terus menggelengkan kepalanya.
" Kenapa tidak bisa?"
" Kita masih kuliah, dan kita_
" Dan apa?"
.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
.
.
.
.
.
.
.
.tbc
Mohon dukungan dari semuanya yaa,, dengan cara beri like vote dan juga hadiah🌷🌷🌷🌷🌷
Terima kasih yang sudah mampir baca. love u all..
" Hay,