
"Yura, aku_" belum selesai Davin berbicara ada dua wanita menghampiri mereka, tepatnya menghampiri Ariell.
"Pagi semua, Davin pinjamkan Yura sebentar pada kami yaa!!" pinta Luna memohon sudah merangkul pundak Yura yang nampak bergeming di tempatnya.
"Oh, tidak apa-apa, kalian ngobrol saja dulu." lalu beralih menatap Yura," Aku masuk ke dalam kelas dulu ya, nanti baru kita bicara." setelahnya Davin berjalan menuju ke kelas.
Tanpa tahu tatapan kesal, kecewa, marah bercampur jadi satu. yang terpancar dari sorot mata sayu milik Yura. seperti bisa merasakan akan ada bahaya yang sedang menantinya sebentar lagi.
Luna dan Aling menggiring Yura berjalan ke arah gedung tua kosong yang berada di belakang gedung kampus. dengan hati was-was Yura akhirnya menurut mengikuti mereka berdua.
Sesampainya di gedung tua itu ternyata Prita dan Min sudah menunggu kedatangan mereka bertiga sedari tadi.
"Aku sudah memperingatkanmu kan.?" seru Prita berjalan mendekati Yura yang kini sudah di dudukan di kursi tua dan di ikat tangan dan kakinya oleh teman-teman Prita.
Prita langsung memberi tamparan keras di pipi kiri Yura, " Kau benar benar orang yang pelupa ya? pasti waktu kecil pernah di peringati orang tua, anak yang tidak patuh pasti kena hukuman." seru Prita meradang menatap Yura yang nampak tidak takut ancamannya.
......................
Sedangkan di dalam kelas Davin baru saja masuk dan duduk di sebelah Al, yang memang sudah datang lebih dulu.
"Bagaimana,?" tanya Al
"Apanya?" jawab Davin tanpa menatap Al.
"Omong kosong." Davin masih bergeming mulai mengeluarkan buku materi pelajaran pagi itu.
"Aku bertanya bagaimana kencannya kemarin? dilihat dari ekspresi wajahmu, pasti menyenangkan?" tebak Al pada Davin.
Davin masih juga tak merespon, sampai Al bertanya lagi.
"Mana Yura kalian tidak bersama?" tanya Al
"Tadi Luna mengajaknya keluar." jawab Davin tanpa curiga sama sekali.
"Luna, maksudmu Luna yang satu jurusan dengan kita?" tebak Al merasa ada yang aneh, dan tidak tenang.
Davin pun mengangguk, tanpa beban." Pergi kemana mereka?" tanya Al yang semakin gusar.
"Aku tidak tahu, sepertinya pergi mengarah ke gedung_
"Shitt" membuat Al spontan berdiri dan berlari cepat menuju tempat yang di sebut tadi.
Davin yang bingung dan kaget dengan respon Al langsung mengejar Al dari belakang.
Berlari kencang tanpa melihat di sekitarnya membuat para mahasiswa lain mengumpat kesal, terlebih sang dosen langsung meneriakinya.
"Alriiick!! turun tangga saja pakai cara yang tidak beretika!!" teriak Sang Dosen yang hampir saja terjatuh gara-gara Al hampir menabrak tubuhnya.
Al tidak mendengar teriakan-teriakan itu masih terus berlari yang di ikuti Davin dari belakang.
...----------------...
Di gedung tua.
"Sekarang sedang trend tato, tahu kan?" ucap Prita tengah membawa sebatang rok*k yang sudah di nyalakan.
"Kalau kau berani mendekatinya lagi, aku akan menatomu secara gratis." Prita sudah mengarahkan ujung rok*k itu pada telapak tangan Yura." Bagaimana??" tanya Prita menyeringai.
"Bukankah kau bilang kalau Al tidak mungkin serius denganku." seru Yura sedikit takut.
"Rupanya kau pintar sekali bicara, tapi aku tidak mau dengar omong kosongmu itu, katakan cepat kau tidak akan mendekatinya lagi. tidak akan menyuruhnya jadi modelmu lagi. kalau tidak aku akan menyulut tanganmu dengan rok*k ini." seru Prita semakin mendekatkan putung itu.
"Supaya kau sakit selama seminggu sampai kau tidak bisa bicara. cepat katakan rok*kku ini lebih tidak sabaran, sebenarnya kau dengar tida!!?" teriak Prita membuat Yura semakin ketakutan.
"Hanya satu minggu saja? aku akan menangis selama seminggu saja 'kan? dan kau akan mengijinkan aku untuk menyukai Alrick?" tanya Yura mencoba melawan rasa takut didalam dirinya.
Membuat Prita semakin meradang emosi jiwanya akan segera meledak, ia pun membuang putung rok*k itu lalu mencari sesuatu yang bisa menggantikannya lalu ia mengambil batu berukuran sedang. berjalan menghampiri Yura kembali.
" Prita kau mau apa.?" seru Min merasa khawatir melihat itu.
"Menghantam tangannya dengan batu ini, pasti sangat pas. kenapa harus menahannya? Kalau tangannya hancur bisa sakit. demi seorang pria kau mau ini. katakan kau tak mengganggunya lagi?" sambil mengarahkan batu itu tepat di atas telapak tangan Yura.
"Aku tidak mau." jawab cepat Yura.
"Kau juga tidak keberatan tidak bisa melukis lagi ?" sinis Prita
Membuat Prita meradang sampai ke ubun-ubun dan..
Braaaakkk..
Dan tak lama Alrick datang dan melihat Yura duduk terikat sambil menunduk. Al berjalan pelan mendekat dengan deru napas yang tersengal-sengal lalu membuka cepat ikatan itu, tatapan mereka saling mengunci.
"Aku tidak apa-apa!" seru Yura tersenyum tapi tak lama dirinya kembali menangis tersedu membuat Al langsung menariknya ke dalam pelukannya.
Tanpa mereka sadari Davin melihat itu, mereka berpelukan di depannya.
...----------------...
"Kenapa dia bisa pingsan?" tanya guru yang bekerja di ruang kesehatan di dalam kampus ini.
"Mana aku tahu. bukankah setiap bulan wanita selalu kedatangan masa periode." jawab Al asal
"Bukan kau yang melakukan sesuatu padanya bukan.?" tebak sang guru yang memang sudah tahu Al pria yang seperti apa, semua mahasiswa di universitas sini juga sudah mengetahuinya.
"Bu guru, bisa bicara dengan hati nurani, aku baik hati membawanya ke ruang kesehatan. " jelas Al kembali.
"Dia tidak sedang berbohong." bela Davin membenarkan.
"Baiklah," seru sang guru sambil berjalan meninggalkan mereka berdua di depan ruang rawat.
"Wuaahh, kalian percaya dengan ucapannya, tapi tidak percaya dengan ucapanku. apa kalian tidak terlalu.._" ucapan Al menggantung saat ia tak sengaja melihat Yura tengah menatapnya lekat di balik tirai penutup itu yang terbuka sedikit." Pilih kasih." lanjutnya.
Kemudian melihat Davin yang akan
pergi, Al pun memanggilnya." Davin tunggu." Al bingung harus bicara apa.
"Kalau Yura terluka gara-gara kau, aku tidak akan melepaskanmu. ingat itu." seru Davin kemudian pergi meninggalkan ruang kesehatan.
Al yang masih bingung hanya diam saja, menatap punggung sahabatnya itu pergi, pikirannya bercampur aduk.
...----------------...
Malam harinya Al pergi ke club yang biasa ia datangi, tidak sengaja netranya menangkap wanita yang sangat ia kenali, sedang duduk di bar sambil menyesap minumannya. ia pun duduk di sebelah wanita itu.
"Kau mau minum apa?" tanya sang bartender pada Al yang baru saja duduk di bar-nya.
"Berikan aku segelas Whisky." seru Al sambil menatap tajam wanita di sebelahnya yang langsung terkesiap melihatnya.
"Tidak ku sangka kau tidak tega juga." ucap Al datar.
"Itu untuk kali ini, lain kali belum tentu lolos." seru Prita sinis pada Al.
"Bagus sekali, terserah kau saja. tapi.." Al menjeda ucapannya sambil menatap Prita lebih tajam. " Aku akan membunuhmu." lanjut Al menekan ucapan terakhirnya.
"Ck, demi dia, kau akan membunuhku, jangan menggertakku." seru Prita semakin kesal.
Al mendekatkan wajah mereka lalu berbisik." Aku pastikan akan benar-benar membunuhmu." gertaknya tak main main.
Setelah menyesap minumannya Al beranjak pergi meninggalkan Prita yang mulai takut dengan ucapan terakhir darinya.
"Br****ekkk!!!....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
.
.
.
.
.
.tbc
Mohon dukungan dari semuanya yaa,, dengan cara beri like vote dan juga hadiah🌷🌷🌷🌷🌷
Terima kasih yang sudah mampir baca. love u all..