Bad Boy I Love You

Bad Boy I Love You
Jebakan Wizzy



*Dua hari kemudian.


Siang harinya Al datang berkunjung ke rumah Yura, ia baru saja akan mengetuk pintu rumah Yura namun seorang wanita paruh baya lewat di depan rumah itu dan memanggil dirinya.


" Anak muda kau cari Yura?" teriaknya membuat Al langsung menoleh ke belakang.


" Sepertinya tadi Yura sedang pergi keluar bersama dengan seorang pria mungkin temannya, mereka pergi ke rumah sakit katanya Ibu Yura masuk rumah sakit tadi pagi." lanjutnya.


" Seorang pria? apa dia tinggi Bibi?" tanya Al berdiri di hadapan wanita itu.


" Iya tubuhnya tinggi, wajahnya sangat tampan hingga seperti perempuan." jawabnya.


Membuat Al langsung geram menahan amarah, karena tebakannya benar, bahwa Wizzy-lah yang menemui Yura tadi." Baiklah Bibi terima kasih."


Al kembali menaiki motornya dan melajukannya dengan sedikit kenjang, menuju ke rumah sakit dimana Ibu Yura sedang di rawat.


...----------------...


Sementara di tempat lain, Yura berjalan menuju ke atap gedung rumah sakit, dan di belakangnya ada Wizzy yang berjalan mengikutinya.


" Kenapa kau membawaku ke sini? kau bilang Al sedang menungguku?" tanya Yura masih terus berjalan.


" Kau sangat bodoh dan juga sangat tidak beruntung, lalu di saat yang bersamaan Ibumu juga sedang sakit. tapi kau tidak perlu khawatir, aku akan menolongmu." serunya tersenyum miring penuh arti.


" Kau akan segera istirahat dan melupakan semua masalahmu, kau juga tidak akan di ganggu oleh kakak tirimu itu." imbuh Wizzy masih dengan tersenyum.


Yura semakin pias, setelah mendengar ucapan Wizzy barusan, bagaimana pria itu bisa tahu tentang kakak tirinya?


" Kau terkejut, bagaimana aku bisa tahu masa lalumu itu, kau belum mengenalku dengan baik Yura. sebenarnya aku juga tidak mau berbuat seperti ini, tapi selama kau masih hidup, Al akan semakin bosan dan marah padaku, walau sebenarnya aku juga tidak ingin membunuhmu. jadi kuharap kau melompat ke bawah." seru Wizzy kembali.


Dan kini ia pun sudah mengeluarkan pisau lipat yang ia sembunyikan di kantong celananya.


Membuat Yura berjalan mundur, tapi Wizzy justru berjalan mendekatinya, hingga Yura terpojok di sudut pembatas besi.


" Cepat lompatlah, sebelum tubuhmu kutusuk, apa kau takut jatuh? mau kubantu mendorongmu? " tawarnya.


" Wizzy, jangan lakukan ini padaku, aku mohon." pinta Yura dengan air matanya yang sudah menggenang di pelupuk matanya.


" Ibumu sekarang di rumah sakit, keluargamu kesulitan uang untuk membayarnya, mimpimu untuk pendidikan di masa depan sudah gagal, apa yang kau harapkan lagi." seru Wizzy kembali.


" Kenapa kau memaksaku melakukan ini semua?" dengan sangat ketakutan Yura bertanya.


" Karena aku mau lihat bagaimana reaksi Al, apa yang akan dia lakukan jika kehilangan dirimu." jawabnya tersenyum licik.


Yura semakin gusar hatinya sungguh tercubit mendapat fakta seperti ini, tak menduga Wizzy yang kelihatannya pria baik-baik justru bisa melakukan hal sekeji ini pada orang lain.


Wizzy nampak tertawa senang, melihat wajah ketakutan Yura." Sebenarnya yang ingin aku lihat adalah saat Al menjadi orang gila dalam kegelapan." lajutnya kemudian.


" Apa kau tahu apa akibatnya jika membunuh seseorang?"


" Sepertinya kau masih belum mengerti apa yang kukatakan barusan, aku sama sekali tidak mau membunuhmu, aku berharap kau melompat dengan sendirinya."


Yura semakin mundur begitu Wizzy menodongkan pisaunya ke depan wajahnya.


"Sebelumnya aku telah membunuh dua orang dan membuat tubuhku penuh dengan darah, itu sama sekali tidak menyenangkan bagiku. walaupun polisi itu melihatku, aku sama sekali tidak mau di tangkap untuk kembali melewatkan hati-hari membosankan untuk menjalani banyak serangkaian tes kejiwaan, semua itu sangat tidak berguna sama sekali, hanya Al yang benar-benar mengerti aku." terangnya kembali.


Lalu sesaat raut wajahnya berubah menatap Yura dengan tatapan tajam, " Tapi kau berani-beraninya mengajarkan rasa kemanusiaan pada Al, kau benar-benar tidak bisa di maafkan. hanya jika kau lenyap dari muka bumi ini, maka Al akan kembali seperti dulu lagi.


* Di rumah sakit Al juga baru saja sampai dan langsung berlari ke arah resepsionis.


" Permisi dimana ruangannya nyonya Han?" tanyanya dengan panik.


Membuat para petugas pun ikut menatapnya bingung." Nyonya Han yang mana?"


" Han, Han_


Al nampak bingung sendiri sebab ia lupa nama Ibu Yura.


" Dia di ruangan sakura nomor dua puluh empat."


Al langsung bergegas berlari mencari ruangan tersebut, dan di saat baru saja sampai, ia melihat dari kaca kecil yang menempel di pintu untuk melihat ke dalam.


Namun ia tak melihat ada Yura maupun Wizzy di dalam ruangan perawatan tersebut, hanya Ibu Yura yang sedang tertidur di atas ranjang pasien.


Kemudian Al segera berlari mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya, mencari kebetadaan dua orang itu.


Saat ia berdiri di dekat jendela, ia melihat di atas sana, ada seseorang yang terlihat mencurigakan, dengan tergesa-gesa ia pun berlari keluar dan munuju atap gedung yang berada di sebelah gedung rumah sakit itu.


Pikirannya sekarang tertuju kepada Yura, keselamatan Yura, bagaimana keadaannya sekarang?


Al terus berlari hingga beberapa kali menabrak tubuh seseorang yang berjalan berlainan arah dengannya.


...----------------...


Sementara Yura masih berusaha menyadarkan kegilaan Wizzy, Walaupun aku mati, Al tidak akan pernah berubah, apapun yang terjadi Al tidak akan menjadi seperti yang kau inginkan." seru Yura sambil kedua tangannya menumpu di pembatas pagar besi.


" Benarkah? kedengarannya ini sangat menyenangkan, mari kita lihat bersama Al mu atau Al ku yang nyata sebentar lagi."


Wizzy mencoba mendorong tubuh Yura, tapi Yura memberontak sehingga pisau itu sedikit melukai wajah cantiknya hingga mengeluarkan darah segar, tapi ia berhasil menghindar dari Wizzy.


Namun itu hanya sesaat saja, saat Wizzy berhasil menangkapnya kembali, membuat tubuh Yura terdorong ke belakang terpantuk pembatas besi itu, membuat punggungnya nyeri seketika.


" Kau masih tidak mau melompat sendiri? sepertinya aku harus menggunakan cara lain padamu, atau kau ingin kubantu."


Wizzy langsung mencekik leher Yura, membuat Yura hampir kehilangan napasnya.


Kemudian saat jari-jari panjang Wizzy berada tepat di depan mulutnya. seketika Yura langsung menggigit kuat jari itu, membuat Wizzy mengaduh dan langsung melepaskan jeratan tangan di lehernya.


Yura langsung berlari menghindar dengan napas tersengal-sengal, dan terbatuk-batuk.


Namun dengan cepat pula Wizzy berhasil menangkapnya, dan menodongkan kembali pisau lipatnya itu di leher Yura.


" Aku tidak mengira kau akan takut mati, apakah masih belum cukup setelah begitu banyak kemalangan yang terjadi padamu."


Yura langsung menatap tajam ke arah Wizzy, pikirannya memikirkan keadaan Ibunya yang kini sedang terbaring, apa kira-kira sakit Ibunya ada hubungannya dengan Wizzy, begitulah yang ada di benaknya kini.


" Kenapa? aku memang sudah mengetahui segalanya yang terjadi padamu dan keluargamu, apa Al sudah mengetahuinya." Wizzy tersenyum puas begitu melihat wajah Yura yang sangat terkejut itu.


" Sebenarnya aku pikir jika kau bunuh diri, tidak akan ada yang curiga. tapi sangat di sayangkan, sekarang aku berubah pikiran, karena aku sendiri yang akan membunuhmu."


Wizzy bersiap, tangannya yang memegang pisau itu sudah ia angkat tinggi-tinggi namun tiba-tiba saja ada yang menendang pisau itu dan jatuh ke lantai.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


.


.


.


.


.


.


.tbc


Mohon dukungan dari semuanya yaa,, dengan cara beri like vote dan juga hadiah🌷🌷🌷🌷🌷


Terima kasih yang sudah mampir baca. love u all..