
" Maafkan aku, maafkan aku Al. aku tidak sengaja." ucapnya di sela napasnya yang terengah-engah.
" Yura." panggilnya, namun Yura terlihat menghindar.
" Al aku sangat menyukaimu, aku benar-benar sangat mencintaimu, tolong jangan membeciku, okay.? pintanya.
" Baiklah, aku tidak akan membencimu, Yura kau tenanglah."
Tangan Al mencoba menggapai Yura, namun Yura terlihat enggan dan terus menangis.
Membuat Al bingung, ada apa dengan wanita itu? sepertinya ada rasa trauma yang membuat ia menjadi seperti itu.? begitu pikirnya.
...----------------...
Keesokan harinya Al menemui Davin yang sedang bekerja, karena hari ini adalah hari libur akhir pekan.
" Hey, kau kenapa?" tanya Davin bingung menatap sahabatnya yang sedari tadi diam membisu.
" Ada apa? sedari tadi kau berdiri saja disitu tanpa berbicara." Al masih terdiam.
" Dav, dulu kau pernah bilang bukan? bahwa Yura sangat membenci laki-laki? " tanya Al dengan serius.
Davin mengangguk, " Memang benar tapi sekarang kelihatannya dia baik-baik saja denganmu," sahutnya.
" Apakah dia selalu membenci pria?" tanya Al lagi.
" Kenapa tiba-tiba kau menanyakan tentang hal itu?"
Al terlihat tak ingin mendengar bantahan apapun dari sahabatnya itu.
" Okay-okay baiklah, ijinkan aku berpikir sejenak."
" Seingatku dia sudah seperti itu saat baru masuk ke sekolah tingkat atas, oh iya aku ingat sekarang, ada seseorang di kelas kita yang dulu satu kelas dengannya saat mereka masih sekolah di tingkat pertama, dia mengatakan Yura dulu sangat periang setelah masuk sekolah tingkat atas yang sama denganku, dia mulai berubah menjadi wanita pendiam dan aneh, bahkan dia tidak pernah bergaul dengan teman sekelas apalagi yang laki-laki, dia tidak pernah bicara di dalam kelas." celetuk Davin sambil mengingat-ingat kembali.
Al semakin yakin pasti telah terjadi sesuatu dengan Yura, yang membuat wanita itu memiliki rasa trauma yang sangat dalam.
" Eh tunggu kenapa tiba-tiba kau menanyakan tentangnya? apa yang terjadi?" Davin menatap Al penuh curiga.
" Al katakan ada apa?"
" Tidak ada apa-apa, " sahut Al sambil berpikir keras.
Membuat Davin semakin curiga, pasti ada sesuatu yang terjadi pada hubungan mereka berdua saat ini.
...----------------...
" Kemarin Davin bilang padaku Al ingin bertemu dengannya, apa yang sebenarnya yang terjadi pada kalian berdua? katakan padaku jika ada sesuatu jangan menyimpannya untuk dirimu sendiri." celetuk Pria yang sedang berjalan bersama Yura di sampingnya.
" Prita sebenarnya aku, aku_
" Ada apa?" sela Prita sedikit penasaran.
" Emm, tidak apa, " Yura mengurungkan niatnya untuk memberitahu Prita tentang apa yang sesungguhnya terjadi di antara dia dan Al.
" Kenapa kau tidak mau mengatakannya padaku?"
Prita menatap Yura dwngan penuh curiga, namun ia enggan jika harus memaksa temannya itu untuk berterus terang padanya.
Mereka pun berjalan menuju ke gerbang Universitas bersisian, dari kejauhan Yura melihat seseorang yang ia kenal, membuatnya berjalan menghampiri orang tersebut.
" Siapa?" tanya Prita yang berjalan mengikuti Yura di sampingnya.
" Petugas Fendy, ada apa dia kemari." jawabnya pelan sambil saling tatap.
" Apa dia mencarimu?"
" Entah, atau dia mencari Al kemari."
" Polisi Fendy, ada apa? apa kau mencari Al?" tanyanya begitu mereka berdua berdiri di hadapan pria polisi tersebut.
" Oh hay Yura, bagaimana kabarmu? aku kemari ingin bertemu denganmu." jawab Fendy tersenyum kepada mereka.
" Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Yura sambil duduk di bangku taman.
Fendy pun duduk di sampingnya sedikit memberi jarak, " Sebenarnya ini bukanlah hal yang penting, aku dengar kau hampir saja di bunuh oleh Wizzy?" tanyanya balik.
Yura pun mengangguk, rasa trauma itu masih tertinggal di benaknya hingga sekarang.
" Dan sekarang, dia sudah tidak ada lagi di dunia ini, tak ku sangka cepat sekali ia menyerah begitu saja. tapi sudah tidak ada lagi yang mengganggu kalin berdua." celetuk Fendy kemudian.
" Sungguh kau sudah tidak apa-apa?" tanyanya kembali.
Yura kembali mengangguk, " Tidak, aku rasa semuanya sudah berlalu, aku pun sedikit lega. karena tidak akan ada yang akan mencelakai Al nantinya." sahut Yura sambil menunduk.
" Aku juga berharap ini tidak akan terjadi lagi, dia itu sebenarnya sangat merasa kesepian, apalagi dua sahabatnya yang selama ini menemaninya sedari kecil sudah tidak ada." jelas Fendy lagi.
Sedangkan Yura hanya diam saja terus mendengarkan pria itu bercerita tentang Wizzy.
" Di dalam dunianya Wizzy merasa terkenal dan orang paling pintar, tapi di dunia kita dia orang yang tidak waras, tapi sekarang itu tidak masalah lagi, dua sudah pergi jauh tak akan mungkin kembali." terangnya lagi.
" Dulu di rumah sakit jiwa yang dia tempati sama dengan yang pernah di tempat Al, itu adalah rumah sakit yang bagus di luar kota tersebut."
" Dan mudah-mudahan sekarang semuanya akan baik-baik saja." ucap Fendy dengan sungguh-sungguh.
" Pak Polisi, akhir-akhir ini sepertinya Al kurang sehat, apa kau sudah bertemu dengannya? dia merasa dirinya seperti Wizzy." celetuk Yura yang baru saja ingat.
" Dia itu terlalu banyak pikiran, dia sangat berbeda jauh dengan Wizzy, Wizzy jauh lebih bahaya darinya. kau tidak perlu khawatir padanya," nasehatnya dengan serius.
" Sebenarnya Al hanya tidak bisa melupakan masa lalunya, sehingga dia terlihat begitu menderita. dan ku dengar Erick hidupnya jauh lebih baik dari sebelumnya di luar negeri sana, aku pun ikut merasa bahagia, walau Al jauh lebih terpuruk, aku rasa Erick sekarang pun bisa merasakan juga, bagaimana pun mereka bersama sejak mereka masih berada di dalam kandungan. karena sejatinya mereka ini saling bergantung satu sama lainnya, namun sikap mereka yang kadang sulit untuk bisa menyatu jika berdekatan." terang Fendy panjang lebar.
" Dan tolong katakan padanya, untuk melupakan masa lalunya itu, agar ia bisa hidup lebih bahagia, walaupun dengan perlahan." usul Fendy menatap Yura.
Yura juga membalas tatapan itu sekilas, " Apa mungkin semudah itu untuk melupakannya? kau bisa berpura-pura sudah melupakannya, padahal tidak ada yang benar-benar bisa melupakan masa lalunya itu." jelas Yura membuat Fendy langsung menoleh ke arahnya.
" Sepertinya kau juga mempunyai masa lalu yang buruk." celetuk Fendy kemudian.
Yura akan menjawabnya namun ponselnya tiba-tiba berbunyi, menandakan baru saja ada pesan masuk, ia pun langsung membacanya.
^^^Alrick; Aku ingin bertemu denganmu, aku tunggu di rumah ya!"^^^
Yura membaca pesan dari Al sambil tersenyum, sebelum ia menutup kembali layar ponselnya itu, lalu menatap Fendy.
" Al sedang menunggumu ya? baiklah aku juga akan pergi, ada hal penting lainnya." Fendy pun beranjak dari tempat duduknya di ikuti oleh Yura.
" Terima kasih atas kunjungannya." Yura tersenyum sambil menundukkan kepalanya sedikit, kemudian ia bergegas menuju ke rumah kontrakan Al.
Ia pun tak sabar ingin bertemu dengan bad boy itu, karena sudah beberapa hari mereka tidak bertemu.
" Aku datang." ujar Yura sedikit berteriak, sambil membuka pintu depan.
.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
.
.
.
.
.
.tbc
Mohon dukungan dari semuanya yaa,, dengan cara beri like vote dan juga hadiah🌷🌷🌷🌷🌷
Terima kasih yang sudah mampir baca. love u all..