
PoV Alrick
" Dan apa?"
Yura tidak melanjutkan ucapannya, dan aku tahu kemana arah pembicaraannya selanjutnya, namun aku ingin mendengarnya langsung dari mulutnya.
"Apapun itu, aku tidak bisa egois dan meninggalkan Ibuku sendirian Al." jawabnya, membuatku kembali emosi.
" Apa kau tidak berpikir bahwa Ibumu itu yang egois?" desisku kembali.
" Jangan bawa Ibuku, dia tidak tahu apa-apa, jangan melibatkannya. dan aku tidak seperti dulu lagi, aku akan menjaga jarak darinya sejauh mungkin." sahut Yura mencoba menenangkanku.
Namun aku sudah tidak bisa berpikir jernih lagi, aku tak habis pikir keras kelapa sekali Yura ini.
" Coba kau pikirkan, bukankah Ibumu sendiri yang telah mengorbankan putrinya sendiri untuk kehidupannya sekarang?" sarkasku lagi.
" Tolong jangan katakan Ibuku seperti itu, kau tidak tahu apa yang sudah di alami Ibuku demi aku. hanya Ibuku yang aku punya di dunia ini. di samping itu Kakak tiriku tidaklah seburuk itu. dia yang telah melunasi biaya rumah sakit dan sangat peduli dengan Ibuku sekarang, aku hanya ingin memberinya satu kesempatan, agar Ibuku tidak menderita lagi harus kembali bekerja." panjang lebar Yura menjelaskan sambil terisak.
Aku sudah tidak bisa menahan amarahku lagi yang kembali memuncak, aku tidak bisa menerima keputusan yang Yura ambil. Aku berdiri dan langsung melepar gelas kosong yang sedari tadi aku pegang.
Pyaaarrrr..
Gelas itu hancur berantakan di sudut ruangan, Davin dan Prita terkejut dan langsung berjalan menghampiri kami.
" Al aku mohon jangan seperti ini." Yura ikut berdiri berusaha memegang lenganku.
Namun aku langsung menepisnya, " Jangan sentuh aku." bentakku menatap nyalang.
Yura kembali duduk dan semakin menangis tersedu, Prita langsung memeluk dan menenangkannya.
Davin mencoba merangkulku untuk menenangkanku juga, namun aku juga menepis tangannya yang akan menyentuhku, amarahku sudah di ubun-ubun.
" Aku sudah tidak tahan, tidak ada alasan lagi aku bersamamu.!" hardikku menatap Yura dengan berapi-api.
Setelah mengatakan kalimat itu, aku langsung pergi meninggalkan Yura yang terus menangis di dalam pelukan Prita.
Davin mengejarku, aku tidak memperdulikan lagi panggilannya, aku terus melangkah keluar dan sudah menaiki motor sport ku. namun Davin mencegahku.
" Al tenanglah."
" Maafkan aku."
"Tapi_
" Tapi aku benar-benar tidak bisa lagi dengannya." ujarku langsung menyalakan motor dan melaju dengan kecepatan di atas rata-rata dengan pikiran yang sangat kacau.
Mungkin Yura di dalam sana masih menangis sesenggukan, aku sudah tidak mau memperdulikan wanita yang susah di atur dan tidak mau menuruti keinginanku.
Padahal itu semua juga demi dirinya, untuk kebaikannya sendiri, walau aku hanya sesekali bertemu dengan pria itu sewaktu aku masih dekat dengan Yu Jie dulu.
Tapi aku bisa menilai seperti apa pria b*******n itu, aku melajukan motorku menuju klub yang biasa aku datangi, dan aku segera masuk setelah memarkirkan motorku di tempat parkir yang di sediakan.
Ketika baru masuk suara hingar bingar sudah menusuk gendang telingaku, suara orang-orang berteriak juga memenuhi kesemua ruangan, aku tidak memperdulikan di sekitarku lagi.
Dan berjalan ke arah meja bar dan duduk di salah satu bangku tinggi, sang bartender yang sudah mengenalku langsung meracik minuman yang biasa aku pesan.
" Sendirian Dude," sapanya sembari menyodorkan segelas minuman pesananku.
Aku pun langsung menyambar dan segera menyesapnya sedikit, lalu meletakkannya kembali di atas meja.
" Seperti yang kau lihat." balasku datar.
Melihat keadaaanku yang tak seperti biasa, bartender itu tak bertanya lebih jauh lagi, justru menjauh untuk melayani pelangg*n yang lain.
Aku sebenarnya masih sakit hati dengan Yura, wanita yang ingin aku jaga dan lindungi justru memilih tinggal bersama pria yang sudah melecehkannya.
Awalnya saat aku mengetahui rahasia yang ia sembunyikan aku sangat terkejut dan bingung harus bagaimana, dan aku mencoba menerima karena aku pun sadar aku juga pria yang tidak normal.
Dia justru memilih pria b*********n itu, kenapa dia mau saja kembali masuk ke dalam jebakan pria itu, rasanya tanganku sangat gatal ingin sekali memberi beberapa hadiah di wajah pria bans4t itu.
Namun sepertinya itu tidak bisa aku lakukan, karena aku sudah melepas Yura saat ini, aku sedikit menyesalkan ucapanku yang langsung mengakiri hubungan kami, tapi mau bagaimana lagi, aku sudah kepalang emosi, aku juga masih sangat kesal dengan keputusan yang di ambil Yura tanpa merundingkan terlebih dahulu denganku.
Tak lama datanglah seorang wanita malam yang mendekatiku, aku hanya melirik saja sekilas sambil kembali menyesap minumanku.
"Sepertinya kau tidak sedang baik-baik saja ?" ujarnya sengaja merayuku.
Aku masih tak bergeming,
Aku bisa merasakan tangannya yang terus membelai kemana-mana di seluruh tubuhku dan sengaja menyentuh bagian tubuh bawahku yang sensitif itu.
Mungkin mencoba memancingku, untuk membangkitkan gairahku yang sedikit mulai bereaksi mungkin juga karena pengaruh minuman yang baru saja aku minum juga.
Sehingga membuatku tidak sadar sudah meraih pinggangnya dan tubuh kami sedikit menempel karena aku masih duduk di bangku yang tinggi.
" Bagaimana jika kita pindah ke atas." bisiknya padaku dengan suara sengaja di buat mendes*h.
Meskipun aku sedikit tidak berselera malam ini, namun aku juga tidak menolak keinginannya, aku pun turun dari atas bangku.
Karena minuman yang aku pesan tadi juga sudah habis, wanita itu menarik tanganku agar aku mengikutinya dari belakang.
Baiklah sepertinya malam ini aku akan mengenyahkan sejenak beban yang membuatku merasa sesak sedari tadi.
Aku ingin melihat bagaimana wanita ini bisa menghiburku malam ini, aku akui wanita yang ada di hadapanku cukup menantang dengan lekuk tubuhnya yang seperti gitar spanyol.
...----------------...
Keesokan harinya.
Walau aku masih sangat kesal dengan Yura, namun aku juga harus masuk kuliah. aku akan mencoba melupakan kejadian kemarin.
Kelas pagi pun usai, aku berjalan keluar kelas, namun aku melihat dari kejauhan wanita-wanita yang kemarin hari menghadang jalanku, mereka berjalan menghampiriku kembali.
" Kakak senior, ini untukmu." ujar wanita yang memberiku surat cinta kemarin.
Aku bahkan sudah membuang suratnya tanpa membacanya lebih dulu, namun ia kembali memberiku sesuatu.
" Ini untukku?" tanyaku tersenyum dan sengaja menggodanya dengan mengerlingkan sebelah mataku.
Wanita muda itu tersipu malu, aku akui aku cukup populer di kampus ini dari pertama kali aku masuk ke Universitas ini, aku memang playboy, berandalan penjahat kelam*n, tapi aku tidak pernah melecehkan seorang wanita. kecuali wanita itu sendiri yang menyerahkan dirinya padaku. kami pun sama-sama saling menikmati.
" Iya, aku mendapat dua tiket film bagus nanti malam, mau kah kakak menemaniku." pintanya dengan percaya diri.
" Baiklah tunggu saja di depan bioskop." sahutku asal-asalan.
" Hei lihat Al di beri sesuatu kembali oleh mahasiswi baru itu?" celetuk seorang wanita yang tak jauh dari kami.
" Jadi benar dia putus dengan Yura?" sahut seorang wanita lainnya, mungkin temannya.
" Mungkin saja."
Aku mendengarnya namun berpura-pura tak peduli, aku pun pergi meninggalkan mereka dan berjalan menuruni tangga.
Saat baru turun beberapa undakan aku berpapasan dengan Yura, kami terlihat canggung.
" Kelas seni sudah usai?" tanyaku datar mencoba biasa saja layaknya teman.
" Hemm." anggukanya
" Bagaimana kabar di rumah?" tanyaku kembali.
" Baik."
" Baguslah."
Aku pun berjalan akan melewatinya, namun Yura justru memanggilku kembali, aku pun berhenti tanpa menoleh.
" Aku dengar kau berkencan dengan mahasiswi baru?" tanyanya penasaran.
.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.tbc
Mohon dukungan dari semuanya yaa,, dengan cara beri like vote dan juga hadiah🌷🌷🌷🌷🌷
Terima kasih yang sudah mampir baca. love u all..