
Suara bentakan dari Piter mengejutkan Jhenie yang masih terpejam, membuatnya dengan cepat beringsut duduk, ia merasa pria itu sedang marah padanya, namun mengenai masalah apa, ia belum tahu.
" Iya ada apa? kenapa kau berteriak." tanyanya dengan suara serak khas bangun tidur.
" Jawab pertanyaanku, kenapa kau bertemu dengan pria pengecut itu?!" tudingnya menatap tajam ke arah sang istri sambil membanting ponsel yang Jhenie yakini adalah miliknya.
Degh!..
Tahu darimana dia? kalau aku bertemu dengannya? apa bibi yang memberitahunya? tapi mana mungkin bibi saja tidak mengenalnya. apa dia mengecek ponselku? tapi aku belum sempat menyimpan nomor Felix kemarin.
Pikir Jhenie dalam hati, ia tahu siapa yang di maksud pria pengecut oleh suaminya tersebut, bukan tanpa sebab Piter menyebutnya seperti itu, memang Felix pria pengecut yang melarikan diri dari tanggung jawabnya karena meninggalkan kekasihnya.
" A-aku tidak sengaja bertemu dengannya, dia kurir yang mengantarkan paket yang kau kirim kemarin." jelas Jhenie dengan wajahnya yang menunduk karena takut.
Sebab Piter jika sedang marah sangat menakutkan apalagi kini pria itu sedang terbakar cemburu, hingga ia menyesali keputusannya yang dulu menyetujui permintaan pria iblis itu.
Piter sedikit membungkukkan badannya, " Kau tidak sedang menyembunyikan sesuatu dariku bukan?" tatap Piter yang kini tangannya mencengkram dagu Jhenie agar manatapnya.
" A-aku t-tidak sedang menyembunyikan apapun, kau bisa bertanya pada bibi jika memang dia yang mengantarkan paketmu kemarin itu." Jhenie berusaha tenang walau masih begitu gugup karena takut sambil menatap kedalam manik suaminya itu.
Dengan kasar Piter melepaskan cengkraman itu, dan berjalan keluar kamar tak lama ia kembali dan berjalan mendekati Jhenie kembali.
" Baiklah, aku percaya kali ini padamu. ingat aku paling tidak suka jika kau berbohong padaku, dan jangan lagi kau menemui pria itu." tukasnya menatap istrinya yang masih tak bergeming di atas ranjang.
" Nanti kita beli ponsel baru." lanjutnya kemudian berjalan kembali ke kamar mandi, mungkin akan membersihkan tubuhnya.
Tak lama mereka berdua sudah rapi dan sedang menikmati sarapan paginya, " Kau bersiaplah sebentar lagi kita akan berangkat." ucap Piter setelah menenggak minumannya hingga habis.
Jhenie yang masih menikmati sarapannya itu mengekerutkan dahinya bingung, " Kita akan pergi ke suatu tempat." lanjut Piter yang seolah mengerti istrinya itu akan bertanya kemana.
Setengah jam kemudian mereka berdua sudah siap akan pergi dan bergegas masuk ke dalam mobil yang di kendarai oleh Jack sang asisten.
"Sayang kita akan kemana?" tanya Jhenie yang sudah tidak tahan ingin bertanya.
Kini mobil sudah melaju di jalanan kota menuju ke arah bandara yang jaraknya tak jauh dari rumah mereka.
" Yang pasti kau akan menyukainya." jawab Piter sambil memeluk tubuh sang istri sembari menciumi puncak kepala itu.
...----------------...
Beberapa hari kemudian..
Kini Yura sudah tinggal di kontarakan Al sudah hampir sepekan, setiap malam mereka selalu menghabiskan malam panjang dengan cara yang membuat keduanya kini saling memiliki satu sama lain.
" Al bangun cepat, wake up." Yura terus saja menepuk pipi Al yang sedari tadi susah di bangunin, itu sudah menjadi rutinitas yang Yura jalani beberapa hari ini.
Al hanya mengeliatkan tubuhnya sebentar, lalu kembali tidur seperti biasanya. Yura tak kehabisan akal ia langsung menggelitik kedua pinggang al membuat snag empu pun mengaduh geli di tubuhnya.
" Hei, geli jangan lakukan itu, setiap hari kau selalu memggelitikku." keluh Al pura-pura kesal masih memejamkan kedua matanya.
" Lalu dengan cara apa?" pertanyaan Yura membuat Al langsung membuka kedua matanya, sambil tersenyum jahil.
Ia pun menarik tubuh Yura membuatnya jatuh ke dalam pelukannya, " Hei lepaskan aku, kau harus bangun bukannya malah mengajakku tidur kembali." rengek Yura mencoba meleskan dekapan Al yang sangat kuat itu.
" Morning kiss, habis itu aku akan melepaskanmu." pinta Al masih twrus memeluk tubuh Yura dengan erat.
" No, kau belum sikat gigi dan membersihkan tubuhmu, cepat bangun.!" tolak Yura merusaha menghindar saat Al memajukan bibirnya itu mendekat ke bibir ranumnya.
" Al kau yakin dengan ucapanmu itu? kita masih berstatus mahasiawa, bagaimana jika_
" Sssstttt...." Al langsung menempelkan jari telunjuknya itu ke atas bibir Yura, agar wanita itu tidak melanjutkan ucapannya.
"Memang kenapa jika kita masih mahasiswa? banyak di luaran sana yang bahkan belum menjadi mahasiswa sudah menikah. apa kau meragukanku, karena aku bukanlah orang kaya? bekerja yang hanya sebagai kuli dan montir?" tanya Al begitu serius menatap Yura.
Besar harapan Al untuk bisa menjadikan Yura sebagai istrinya, apalagi beberapa hari terakhir kebersamaan mereka yang seolah sudah seperti pasangan yang sudah menikah saja.
Namun keputusan tetap berada di tangan Yura, sehingga Al tidak mau memaksakan kehendaknya sendiri, Al yakin Yura pun juga ingin memiliknya seutuhnya tanpa harus berpisah tempat tinggal.
" Bukan, bukan seperti itu Al, bukannya aku meragukan kemamouanmu, smaa sekali tidak hanya saja banyak yang aku pertimbangkan apalagi restu dari Ibuku dan juga Ayahmu. emmm,, Al kenapa kau tidak kembali saja ke rumah Ayahmu?" tanya Yura secara tiba-tiba.
Al diam sejenak, mungkin sedang berpikir atas pertanyaannya yang Yura ajukan padanya, namun jika ia harus kembali ke rumah Ayahnya atau lebih tepatnya adalah Pamannya itu, ia yakin ia akan di paksa untuk segera meneruskan perusahaan miliknya itu.
" Al ada apa? apa kau masih tidak ingin kembali pulang kesana? jika di pikir-pikir lagi memang benar apa yang kau lakukan itu, aku sangat mengerti bagaimana perasaanmu. tapi Ayahmu-lah yang selama ini membesarkan kalian, walau ia harus membaginya dengan bekerja untuk perusahaan yang ia bangun. namun tidak ada salahnya kau kembali kesana, aku yakin Ayahmu pasti akan menerimamu kembali." ucap Yura sedikit memberi nasehat.
" Baiklah aku akan membersihkan tubuhku terlebih dahulu." sambil beringsut dan berjalan ke arah kamar mandi yang tidak ada pintunya tersebut.
Yura tahu Al sedang menghindar dari pembahasan yang mengarah pada Ayahnya, namun ia sadar tidak mudah memang bagi orang yang sudah merasakan kekecewaan akan menerima semua itu dengan mudah.
Yura pun akhirnya diam, tidak ingin membahasnya kembali, ia pun berjalan menuju dapur dengan cara berdiri membelakangi Al, sebab ia tahu kini Al sedang polos tak memakai apapun.
" Yura kenapa kau menghadap kesana? kau tidak ingin melihatnya, dia sudah bangun sejak kau membangunnya tadi, lalu bagaimana ini caraku untuk membuatnya tidur kembali." ucap Al yng sengaja menggoda kekasihnya itu.
Yura langsung merona mendengar ucapan vulgar dari Al, ia memang sengaja membelakangi agar tidak bisa melihat tubuh Al yang begitu menggoda di matanya.
" Al cepat selesaikan mandimu." teriak Yura menahan kesal, namun Al justru tertawa keras di dalam sana sembari mengguyur suluruh tubuhnya.
.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
.
.
.
.
.
.
.
.
.tbc
Mohon dukungan dari semuanya yaa,, dengan cara beri like vote dan juga hadiah🌷🌷🌷🌷🌷
Terima kasih yang sudah mampir baca. love u all..