
Kalau masalah ngilu di kepala Jupiter, ia masih bisa menahannya, namun jika yang sakit kepala yang di bawah ia tidak akan bisa menahan rasa sesak dan ngilunya itu.
Seakan baru paham apa yang di maksud oleh suaminya Jhenie tak langsung melakukan apa yang suaminya minta, ia justru melanjutkan ritual mandinya.
Piter terlihat sedikit kesal, ia langsung mematikan kran air itu karena hasratnya yang sudah berada di ubun-ubun itu sudah tidak bisa di tahan lagi, ia pun ingin langsung melancarkan aksinya untuk segera bisa tersalurkan.
Piter menuangkan sabun cair terlebih dahulu ke telapak tangannya lalu memeluk Jhenie dari belakang sembari menciumi tengkuk istrinya sebelum wanuta itu protes, tangannya pun tidak tinggal diam dan langsung meremas kedua gunung kembar yang menggelantung begitu indah.
"Aaahhh." desah Jhenie akhirnya keluar saat ia merasa tubuhnya panas dan meremang seketika.
Piter membalikkan tubuh Jhenie membuat mereka berhadapan, dan langsung melahap bibir merekah itu memang*tnya dengan begitu antusias.
Ciuman itu semakin memanas saat Jhenie pun membalas ciuman itu kedua tangan mereka saling bergerilya di seluruh tubuh mereka. setelah di rasa sudah cukup Piter menyalakan kran air itu kembali membuat tubuh keduanya yang masih menempel di guyur air.
Hingga busa sabun yang ada di tubuh keduanya ikut terhapus bersih dan kini tangan Piter sudah berada di antara kedua paha Jhenie, memainkan disana, membuat istrinya itu melenguh kenikmatan.
" Kau selalu membuatku bergairah sayang." Piter mendongak pasrah serta sedikit menggeram begitu bumblebee miliknya di usap dengan begitu lembut oleh tangan sang istri, begitu lihat memainkan miliknya, mengusap dari atas ke bawah bahkan mencengkram sayang kedua telurnya itu, membuatnya menggeram dan semakin membuat Piter tidak tahan lagi.
Dengan sekali hentakan Piter sudah menggendong tubuh Jhenie keluar kamar mandi, tak lupa ia menarik sebuah handuk untuk menutupi sebagian tubuh Jhenie, masih dengan kedua bibir yang saling menempel, mereka pun keluar menuju ke kamar mereka.
Piter merebahkan tubuh Jhenie ke atas ranjang dengan begitu hati-hati dan langsung mengukungnya untuk melanjutkan permainan yang tertunda tadi.
Piter mengarahkan Bumblebee nya ke inti tubuh Jhenie dengan sekali hentakan miliknya sudah langsung tertanam habis.
" Pelan-pelan." lirih Jhenie sambil mendongak dengan mata terpejam menikmati setiap hentakan demi hentakan pinggul Piter yang bergoyang maju mundur dengan deru napasnya yang begitu cepat.
Piter seolah tuli, ia tidak mengindahkan permintaan sang istri ia terus mengoyangkan pinggulnya maju mundur, sebuah kenikmatan yang begitu memabukkan, ia merasa miliknya di jepit oleh sesuatu yang hangat dan kenyal.
Tangan Piter meremas kedua gunung kembar itu sementara bibirnya membungkam bibir sang istrielumatnya habis hingga ciumannya turun ke leher dan berakhir di kedua aset kembar tersebut mengul*mnya secara bergantian sambil terus menghentakkan miliknya.
" Ini nikmat sayang, kau menjepitku di dalam sana." racau Piter di sela-sela goyangannya.
" Sepertinya aku mau keluar sayang." goyangan Piter semakin cepat begitu ia merasa akan segera meledak.
" Aku juga, lebih cepat." balas Jhenie sambil mencengkram bahu suaminya itu.
" Aaaaahhkkk." lenguhan panjang keluar dari bibir keduanya seakan terbang di atas awan-awan.
Kepala Piter mendongak setelah mengeluarkan cairan hangat itu, tak lama berguling ke samping sambil memeluk tubuh istrinya dari samping. sementara Jhenie justru terdiam sambil mengerutkan keningnya heran.
Kenapa dia tidak seperti biasanya? lalu kenapa ia membuang benihnya ke dalam rahimku? bukankah dia yang tidak ingin aku hamil?
Pikiran-pikiran itu terus berkecambuk di dalam otaknya. hingga tidak terasa ia pun mulai terlelap mungkin karena kelelahan akibat pertempurannya barusan dengan suaminya.
...----------------...
Di tempat lain tepatnya di kontrakan yang berukuran tidak terlalu kecil Felix masih saja terjaga, pikirannya entah sedang berkelana kemana.
" Bukankah itu perumahan elit? yang hanya bisa di tempati oleh orang kaya? tapi bagaimana bisa Jhenie tinggal di tempat seperti itu?" gumamnya bertanya-tanya, yang ternyata memikirkan wanita yang ia temui tadi pagi.
Felix tahu bagaimana kehidupan Jhenie di masa lalu, wanita yang sedari kecil tinggal di panti asuhan tidak tahu siapa orang tua kandungnya. begitulah yang Clara sering ceritakan kepadanya dulu.
Sangat berbanding terbalik dengan kehidupan Clara sahabatnya yang memang serba berkecukupan, mereka bertemu pun karena kedua orang tua Clara yang sering berkunjung ke panti asuhan di mana Jhenie di besarkan.
Setiap satu pekan sekali Ibu Clara mengadakan pengumpulan dana dengan teman-teman juga para kolega bisnis suaminya lalu dananya di sumbangkan ke yayasan-yayasan panti asuhan.
Namun Clara memang adalah wanita yang sangat baik seperti kedua orang tuanya, ia juga tidak memandang status orang lain yang menjadi sahabatnya, sebab ia memang tidak begitu dekat atau terlalu percaya kepada orang lain, sehingga persahabatan mereka pun terlihat seperti layaknya saudara, karena kebersamaan mereka yang sudah di mulai sejak mereka masih kecil itupun tidak pernah membuat keduanya lupa walau sempat berpisah begitu lama.
Sebab Clara di ajak serta oleh kedua orang tuanya untuk pindah keluar kota hingga beberapa tahun kemudian takdir pun mempertemukan mereka kembali di saat Jhenie pun di adopsi oleh orang yang cukup berada tak lama sejak kepergian Clara dulu, hingga kemudian mereka pindah juga ke kota yang sama dengan Clara membuat keduanya bertemu dan bersahabat kembali.
" Apa sebaiknya, aku tanyakan saja kepadanya? daripada aku terus saja kepikiran." setelahnya Felix pun menghubungi Jhenie hingga dua kali panggilan tidak ada jawaban dari wanita itu.
...----------------...
Hingga pagi pun menjelang, Felix sudah siap dengan pakaian dinasnya, ia berjalan menuju dapur kecil ingin membuat sesuatu untuk mengganjal perutnya.
Setelah selesai membuat omelete isi wortel dan sedikit sayuran, ia pun duduk di meja kecil akan menyantap sarapan paginya.
Namun bunyi ponsel miliknya berbunyi tada ada sebuah pesan masuk, ia pun segera membukanya dan ternyata pesan dari Jhenie.
^^^Jhenie: Ini dengan siapa??^^^
Dahi Felix mengkerut begitu membaca pesan yang di tulis oleh wanita itu.
Anda: Ini aku Felix, apa kau tidak menyimpannya? begini saja, apa kita bisa bertemu siang ini? banyak hal yang ingin aku bahas denganmu.
Send...
^^^Jhenie: Maaf aku tidak bisa,^^^
^^^hari ini aku akan berlibur dengan suamiku.^^^
" Suami??? gumam Felix sambil mengetik balasan kembali.
Anda: Kau sudah menikah? sejak kapan? apa sahabatmu mengetahuinya?
Send...
Namun hingga beberapa menit berlalu tidak ada balasan dari Jhenie, membuat Felix langsung menghubunginya namun sayang nomornya sudah tidak aktif.
" Aku masih belum percaya, jika Jhenie sudah menikah, apa mungkin rumah yang kemarin itu adalah rumah suaminya, yang itu berarti dia menikah dengan orang yang cukup kaya." gumam Felix tak lama ia pun memutuskan segera pergi bekerja.
Ditempat lain tepatnya di Perumahan elit, di dalam kamar Piter nampak geram, menahan kemarahan yang luar biasa setelah membalas pesan dengan seseorang di ponsel sang istri.
" Jhenie bangun, cepat jelaskan padaku, KENAPA KAU BERTEMU DENGANNYA?!!" sarkas Piter dengan kilat mata yang berapi-api.
.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.tbc