
Flashback on malam itu.
Malam sudah lewat dini hari, mungkin sebentar lagi akan pagi, Al dan Yura masih terengah-engah dengan napas yang memburu dan dalam keadaan mereka sedang berbaring di atas ranjang setelah percintaan panas yang mereka lakukan untuk pertama kalinya itu.
"Al kau ingin mendengar ceritaku?" Al hanya mengangguk sebagai jawaban.
" Dulu Ayahku mengatakan.. air sangat jernih, banyak kunang-kunang dimana-mana. dulu Zaman sangat indah, dan dia mengatakan generasi kita sekarang sangat menyedihkan. kita tidak punya apa-apa, tapi aku rasa dunia ini tetap sangat indah. waktu pun terus berganti. Ketika kita menua dan melihat kebelakang, aku berharap bisa seperti Ayahku lalu berkata, masa lalu sangatlah indah." ucap Yura dengan begitu bahagia mengatakan semuanya.
" Yura ayo kita menikah saja? apa yang belum kita miliki, ayo kita memilikinya sekarang." ucap Al sambil mengusap punggung Yura yang masih dalam keadaan polos itu, dan masih saling berpelukan.
Yura tersenyum lebar saat mendengar perkataan Al dengan hati yang sangat gembira, ia memang menantikan moment seperti ini, saat Al melamar dirinya.
Yura memang tidak mengharapkan akan di lamar dengan cara yang special, romantis seperti makan malam di restoran atau di beri kejutan di suatu tempat dengan di beri bunga atau cincin berlian seperti kebanyakan para wanita di luar sana.
Cukup dengan perkataan ia sudah sangat senang sekali, sebab ia sadar dirinya bukanlah dari keluarga yang berada, dulu ia juga tidak berharap akan mendapatkan suami yang kaya raya juga.
Kemudian Al meneruskan lagi ucapannya saat melirik wanitanya itu ternyata sedang tersenyum senang." Bagaimana? nanti kita bisa mempunyai rumah sendiri?"
Yura semakin mempererat pelukannya, ia memang berharap mempunyai pria yang kaya hati, ia sudah sangat bersyukur mendapatkan suami seperti itu. apalagi pria itu begitu sangat mencintai dirinya apa adanya dengan begitu ia tidak akan menyia-nyiakan atau menyakitinya hingga suatu saat nanti. ia juga akan menerima apa adanya pria itu yang sedikit kocak menurutnya, namun itu justru bisa membuatnya tersenyum.
Dan buktinya saat ini ia sedang di lamar oleh kekasihnya di atas ranjang dalam posisi berbaring saling berpelukan, dalam keadaan sama-sama polos tanpa sehelai benang pun selepas merasakan pertempuran hebat yang Al lakukan padanya hingga membuat tubuhnya terasa remuk redam, namun ia sangat menikmatinya.
Hampir sepekan berlalu, malam ini Yura mengundang Davin dan juga Prita mengajak mereka berkumpul di kontrakan Al untuk merayakan bahwa Al sudah melamarnya beberapa hari yang lalu.
Jangan di tanya bagaimana reaksi Prita dan Davin saat mendengar Yura di lamar oleh Al di atas ranjang, mereka sudah tidak heran lagi dengan tingkah kocak Al, namun mereka juga sangat senang mendengarnya, bahkan mereka berdua sudah tidak sabar akan menjadi pengiring pengantin untuk keduanya.
" Aku sudah tidak sabar menunggu hari itu tiba, ayo kita cari gaun pengantinnya!." ajak Prita yang langsung bersemangat.
" Tunggu dulu, setidaknya tunggu sampai Al lulus dulu!" seru Yura yang tersenyum geli duduk bersisian dengan sahabatnya itu. sementara dua pria duduk tak jauh dari mereka, entah sedang membicarakan apa.
" Kau benar, kenapa aku yang antusias sekali." ucap Prita sambil geleng-geleng kepala ia baru merasa sangatlah konyol.
Membuat keduanya langsung tertawa, yang akan menikah siapa? yang heboh siapa?. " Davin itu kode untukmu." bisik Al menyesap minuman softdrink nya sambil melirik ke arah dua wanita itu.
Davin hanya tersenyum melirik Al dan juga kekasihnya, Prita memang tidak mengatakan atau meminta apapun padanya, mungkin karena wanita itu tahu bahwa ia sekarang masih membantu membiayai adik-adiknya yang masih kecil.
" Apa Ibuku datang mencariku di kampus?" tanya Yura sambil memakan daging yang baru saja ia bakar.
" Tidak ada, apa kau sama sekali belum menghubunginya?" tanya balik Prita menatap serius pada sahabatnya.
Yura menggeleng, " Setelah Ibuku tidak memihak padaku, aku tidak pernah berkomunikasi lagi dengannya." sahutnya.
" Dan pada akhirnya kau memilih Al." celetuk Prita, membuat Yura tersenyum malu.
Mereka pun menghabiskan malam dengan bersenda gurau, hingga malam semakin larut, tak lama Davin mengajak Prita untuk segera pulang, sebab besok mereka masih ada kelas tambahan walau mereka sudah tidak seaktif dulu lagi.
" Hati-hati di jalan." teriak Al dan Yura bersamaan saat mereka mengantar dua sahabatnya itu ke depan rumah.
Setelah motor yang di kendarai oleh Davin pergi Al segera mengajak Yura masuk kembali, sambil merangkul pundak Yura dengan mesra.
" Kita sudah seperti suami istri." bisik Al menggoda sambil mengerlingkan sebelah matanya kepada Yura. membuat wanita itu tersenyum malu.
...----------------...
Malam ini Al akan mengajak Yura untuk makan malam, sekalian ia ingin mengenalkannya kepada Ayahnya, di sebuah Restoran jepang yang sudah di pesan oleh Ayahnya tadi siang atas nama dirinya.
Tentu saja setelah Al memberikan sebuah jawaban kepada sang Ayah yang belum ia jawab tempo hari, dan tentunya Ayahnya-lah yang meminta Al untuk mengajak serta mengenalkan Yura kepadanya.
Akhirnya Al menyetujui keputusan yang di buat oleh Ayahnya itu, sebab ia tidak ingin kehilangan kekasihnya kembali. saudara kembarnya pun sempat menghubunginya dua hari yang lalu kemudian menawarkan bantuan setelah Al menceritakan semua hal yang terjadi padanya akhir-akhir ini.
Namun Al menolaknya secara baik-baik, ia tidak ingin menyusahkan Erick sementara ia tidak tahu apa yang di alami saudaranya itu yang jauh disana. sedang baik-baik saja atau tidak, mengingat keduanya yang mempunyai sifat yang sama-sama tidak suka menceritakan sesuatu hal jika mereka dalam masalah atau peristiwa yang tidak mengenakan. sebab itulah Al menolaknya, sebab ia tahu luar dalamnya bagaimana, memang wajah sama namun sifat dan juga karakter mereka banyak sekali perbedaan.
Akhirnya Al pun mengambil keputusan seperti saat ini, menyetujui permintaan sang Ayah dan itu sama saja ia bersedia untuk meneruskan perusahaan yang sudah di bangun susah payah oleh keluarganya hingga besar seperti sekarang ini.
Al terus berpikir jika bukan dia, lalu siapa lagi? Paman yang selama ini di anggap Ayah oleh dua keponakannya ini tidak punya siapa-siapa lagi kecuali mereka berdua. sementara mengharapkan Erick tidak mungkin. jadi hanya tinggal dia-lah yang menjadi penerusnya.
Semenjak berhubungan dengan Yura memang Al akui dirinya banyak sekali perubahan ke arah yang baik, sehingga egonya pun secara perlahan sedikit berkurang, dan Al sangat bersyukur sekali, ia yakin Yura di kirimkan oleh Tuhan untuk merubah dirinya ke jalan yang lebih baik lagi, dan tentunya Al berharap semoga mereka berjodoh hingga maut memisahkan mereka berdua.
Tak berapa lama motor yang di kendarai Al sudah sampai di sebuah Restoran yang cukup besar , Al segera mengajak Yura masuk sambil menggandengnya dengan mesra.
Setelah Al bertanya kepada salah satu pegawai Resto, dimana ruangan yang sudah di pesan atas nama dirinya, mereka pun berjalan mengikuti pegawai tadi.
Ceklek.!
" Silahkan." ucap pegawai itu sebelum menutup pintu kembali dan pergi meninggalkan mereka berdua di dalam sana.
" Terima kasih." sahut Yura kemudian sambil melangkah masuk karena masih di tarik oleh Al. begitu mereka sudah masuk ke dalam sana, Yura sedikit terkejut tidak menyangka akan bertemu dengan Ayahnya Al, yang itu berarti adalah calon mertuanya. sebab Al tadi tidak mengatakan apapun kepadanya saat menjemputnya.
Degh.!!
.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
.
.
.
.
.
.
.tbc
Mohon dukungan dari semuanya yaa,, dengan cara beri like vote dan juga hadiah🌷🌷🌷🌷🌷
Terima kasih yang sudah mampir baca. love u all..