
Sudah hampir satu bulanan Al ikut bergabung ke perusahaan sang Ayah, begitu pula dengan Felix yang akhirnya meninggalkan negara ini dimana banyak kenangan manis dan juga pahit bercampur menjadi satu disana, yang membuatnya menjadi pribadi yang berandalan, suka balapan liar, yang jelas ia menjadi pria brengs3k hanya saja ia tak sama seperti Al yang sering berkencan dengan begitu banyak wanita.
Felix tidak mengelak jika dirinya pun dulu kerap berkencan dengan beberapa wanita yang dekat dengannya, baginya hanya one night stand saja, dan itu jika dirinya sedang ingin saja, juga tidak sering. tepatnya semenjak ia pergi meninggalkan kekasihnya.
" Al apa kau sungguh baik-baik saja?" tanya Yura saat sedang membantu memakaikan dasi di leher Al, sudah seperti sepasang suami istri saja.
" Memangnya kenapa? apa aku terlihat penyakitan? atau sudah seperti mayat hidup?" jawab Al sengaja menggoda kekasihnya namun dengan wajah yang sedikit serius, membuat Yura menatap sedih.
" Bukan itu maksudku! hmmm apa_
" Ayo kita sudah terlambat, pagi ini aku ada pertemuan penting dengan clien dari luar negeri." sela Al sembari melangkah menjauh.
Yura sadar Al sedang tidak baik-baik saja terlihat dari ia yang mencoba mengalihkan pembicaraan. mau tidak mau akhirnya Yura segera menyusul Al yang sudah lebih dulu keluar dari kamar.
Selama disini Yura hampir setiap hari berkeliling hanya untuk melihat seluruh isi rumah besar calon Ayah mertuanya, namun ia sangat betah jika berlama-lama berada di dalam kamar Erick.
Al juga tidak mempermasalahkannya selama Yura nyaman, ia mengijinkan Yura berpetualang di dalam rumahnya, ia justru merasa sedih jika melihat kekasihnya itu tidak nyaman berada di rumahnya.
...----------------...
Beberapa menit kemudian Yura sudah sampai di kampusnya ia berjalan dengan tidak bersemangat menuju ke kelas paginya, dari kejauhan terlihat Prita sudah berdiri menunggu kedatangan sahabatnya.
" Kenapa kau tidak bersemangat begitu?" celetuk Prita secara tiba-tiba
Yura segera mendongak dan melihat sahabatnya Prita sudah berdiri di depan kelas, mungkin sedang menunggu dirinya.
Yura menggeleng sambil berjalan melewati Prita dan masuk ke dalam kelas, " Hei, kenapa kau tidak mau bercerita?" teriak Prita berjalan mengekori Yura.
Hingga keduanya sudah duduk di bangku bersisian, Yura masih bergeming." Yura ayo ceritakan! apa yang terjadi? kalian baik-baik saja bukan?" cerca Prita pantang menyerah. ia masih terus berusaha agar Yura mau bercerita padanya.
Davin yang sudah duduk di bangku belakang mereka juga ikut bertanya-tanya dalam benaknya, terlebih mengenai keputusan Al yang tiba-tiba saja cuti kuliah, hingga sampai sekarang ia sulit menghubungi sahabatnya itu.
" Yura, bagaimana dengan keadaan Al? kalian baik-baik saja bukan?" tanya Davin khawatir pada akhirnya tidak tahan untuk segera bertanya.
" Al baik-baik saja Dav, terima kasih kalian sudah mekhawatirkan kami, kami sungguh tidak apa-apa." balas Yura dengan tersenyum.
Ada sedikit rasa lega bagi Davin dan juga Prita, namun mereka sadar diri tidak ingin terlalu dalam ikut campur urusan mereka berdua. toch keduanya pun sudah sama-sama dewasa.
Sore pun menjelang, Yura berjalan bersama Prita dan Davin menuju halaman kampus sebuah mobil sudah menunggunya sedari tadi. sebab Al sudah mengirimkan pesan padanya, bahwa ia tidak bisa menjemputnya sore ini. sebab masih ada pertemuan pentung lainnya di luar dengan salah satu clien Ayahnya.
Setelah berpamitan pada keduanya Yura masuk ke dalam mobil yang di kendarai oleh supir pribadi Al. mobil segera melaju, lambaian tangan kedua sahabatnya mengiringi kepergian Yura dari balik pintu mobil yang kacanya ia turunkan.
" Semoga mereka segera bersatu dalam ikatan janji suci ya." ujar Prita masih menatap mobil yang di tumpangi Yura hingga mobil itu menghilang dari pandangan mereka.
" Kita doakan saja yang terbaik untuk mereka, kau tidak memintaku untuk segera melamarmu bukan?" goda Davin menaik turunkan kedua alisnya.
" Tidak perlu terburu-buru kita nikmati saja kencan kita berdua. jika sampai benih yang kau tanam ini bersemi barulah kau nikahi aku secepatnya." jelas Prita begitu serius.
Davin hanya terkekeh menanggapinya, ia sendiri tidak menyangka akan mencintai wanita ini begitu besar bahkan jauh lebih besar do bandungkan rasa sukanya pada Yura dulu.
Tak begitu lama Yura sudah sampai di rumah Al, rumah yang ia sebut dengan istana karena begitu besar. ia berjalan masuk seorang diri walau sudah tinggal disini lebih dari sebulan namun ia masih bingung dengan semua letak ruangan demi ruangan di rumah besar ini.
Sesampainya di kamar Yura segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, tak begitu lama ia segera menyudahi ritualnya dan memakai piyama panjang.
Malam pun menjelang, Al baru saja sampai ia baru turun dari mobil, lalu berjalan masuk ke rumah dan lamgsung menuju kamarnya dimana calon istrinya itu berada.
Al melihat Yura sudah terlelap di atas ranjang, mungkin wanita itu ketiduran karena lelah menunggunya pulang, sebab Yura tidur tanpa selimut untuk menutupi tubuhnya.
Al berjalan mendekat ke ranjang, sembari membenarkan posisi tidur Yura, agar nyaman lalu menarik selimut hingga sampai ke leher Yura.
" Kau begitu menggemaskan sekali tidur seperti ini." Al mengecup beberapa kali puncak kepala kekasihnya.
" Kau baru pulang? malam sekali." suara serak khas bangun tidur mengejutkan Al yang akan beranjak pergi.
" Hei, kenapa kau bangun? aku akan membersihkan diri terlebih dahulu." pamitnya sambil mengecup dahi Yura kembali.
Beberapa menit kemudian Al sudah kembali mendekat ke ranjang dengan tubuh yang lebih segar, dan juga aroma harum dari tubuh Al, membuat Yura tersenyum bahkan langsung memeluknya erat.
" Hei, apa kau sangat merindukanku?" goda Al sambil mengusap punggung kekasihnya.
" Sepertinya benar kata Paman, kau akan mulai sibuk dengan pekerjaanmu, itulah kenapa aku di suruh untuk terus melukis agar aku tidak kesepian." seru Yura masih dengan memeluk Al erat.
Al terdiam sesaat, ia bingung harus menjawab apa. " Aneh. Tak peduli dengan siapa yang kau temui, kau selalu berpikir mereka semua baik." seru Al gemas.
" Memang Paman benar-benar orang yang baik Al." jawab Yura dengan cepat dengan beringsut menjauh dari Al hanya untuk mengambil gelas air minum yang ia sesap isinya yang sudah ada di atas nakas.
" Ya baiklah kau benar, ngomong-ngomong tidak ada gunanya juga bicara pada seseorang yang termakan figur seorang Ayah." gumam Al begitu pelan.
" Kau mengatakan apa barusan?" tanya Yura setelah kembali mendekati Al.
" Apa aku mengatakan sesuatu? Aku tidak bilang apa-apa." sahut Al dengan tampang nakalnya tanpa merasa bersalah.
Al langsung berdiri dan berjalan menuju lemari kecil dan membuka pintunya, " Apa yang sedang kau cari?" tanya Yura yang masih duduk di bibir ranjang.
Al mengambil sesuatu dari dalam lemari, lalu berjalan kembali dan duduk di samping Yura, sambil memegang sebuah kotak berukuran persegi panjang. " Ini sebuah album foto, mau lihat?" tanyanya antusias.
Yura langsung mengangguk senang, sembari membuka album foto tersebut, " Manisnya!" ujar Yura begitu girang menatap satu persatu foto Al dan Erick waktu mereka masih kecil dulu.
.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
.
.
.
.
.
.
.tbc
Mohon dukungan dari semuanya yaa,, dengan cara beri like vote dan juga hadiah🌷🌷🌷🌷🌷
Terima kasih yang sudah mampir baca. love u all..