
"Jadi aku boleh menyukainya? aku bisa bertemu dengannya? kau tidak akan ikut campur? " tanya Yu Jie sedikit tersenyum lega.
"Dia punya kebebasan untuk memilih." jawab Yura datar.
"Aku merasa kau mirip seseorang, ah iya aku mengingatnya, kau sedikit mirip Erick. Erick pernah mengatakan hal yang sama padaku dulu, saat aku bilang padanya bahwa aku menyukai Al, dia bilang akan memaafkanku, tapi dia malah pergi meninggalkan kami." terang Yu Jie terisak kembali, kala ia mengingat kejadian di masa lalu, saat ia, Al dan juga Erick.
Seseorang di balik tembok masih setia berdiri di sana, hingga susuter berjalan menghampirinya.
"Tuan Alexander ini hasil pemeriksaanmu, lukamu ada bekas jahitan, jangan makan yang beracun, dan pastikan kau menebus obatnya." seru suster sambil menyerahkan berkas berisi laporan pemeriksaan, lalu berlalu pergi.
Yura pun mendengar itu walaupun pelan, lalu beralih menatap Yu Jie yang masih saja menangis tengah duduk di bangku tunggu.
...----------------...
"Aku tidak bisa percaya, karena tidak ada orang yang menghiraukannya, lalu dia menabrakkan dirinya ke arah mobil orang lain, aku rasa wanita itu pasti gila!" seru Prita tidak habis pikhir, sambil menggelengkan kepalanya.
Yura masih diam setelah menceritakan semuanya pada Prita, mereka saat ini tengah duduk di bangku taman kampus. sambil menikmati minuman dingin yang di bawakan Yura sebelum kembali ke kampus tadi.
"Wanita yang begitu berbahaya, Al tidak mungkin menyukainya. aku rasa otak Al tidak waras." gerutu Prita kembali.
"Tapi,,kak Yu Jie memang sangat manis." bela Yura tanpa menatap Prita.
"Walaupun sikapnya disebut kelainan?"
"Tapi itu juga semacam keberanian ya 'kan?" kini Yura beralih menatap Prita yang ternyata juga menatapnya.
"Dia itu idiot, kau masih salut padanya, apa kau tahu Al mungkin bisa saja di rebut kembali olehnya." Prita makin sebal.
"Tapi bagi kak Yu Jie malah sebaliknya, yang merebut Al adalah aku. yang menghalanginya juga aku_
"Tunggu, jadi maksudmu yang menjadi pihak ketiga dari kalian itu adalah kau?" tanya Prita terhetan dengan pemikuran dari sahabatnya ini.
Ya Prita dan Yura memang sudah menjadi sahabat bukan? Prita sendiri juga sudah nyaman dengan seseorang.
"Tiga tahun yang lalu hati kak Yu Jie sudah tenang_
"Tunggu,,aku tidak mengerti dengan maksudmu! jadi kau_
Ucapan keduanya terpotong saat mereka mendengar ada tiga mahasiswi yang duduk tak jauh dari mereka tengah membicarakan Al dan juga Yura.
"Yang aku dengar begitu, orang yang waktu itu membeli kakak kelas Alrick."
"Benar, tapi bukankah Al sudah berpacaran dengan Han Yura?"
"Mungkin bagi kakak kelas Alrick, Yura seperti minimarket, pokoknya patuh, penyabar bisa mendapatkan apa saja, selalu menunggu di sana, makanya kak Alrick mencai yang baru."
Prita langsung memanas seketika, setelah mendengar obrolan dari mereka, ia pun langsung berdiri dari duduknya dan berjalan menghampiri ketiganya.
"Kalian sedang membicarakan apa?" teriak Prita menatap garang pada ketiga gadis itu, membuat mereka langsung memucat ingin segera melarikan diri.
Yura pun langsung beranjak bangun menyusul Prita," Prita jangan." teriak Yura berjalan semakin cepat.
"Lihat apa kalian bertiga? kesini, masih mau pergi, tadi kalian bilang apa? kalian itu begitu tidak sopan, tahu tidak?" seru Prita dengan amarahnya yang menggebu.
"Prita sudah, jangan!" Yura berusaha menarik Prita untuk pergi dari sana.
"Membicarakan orang lain tidak sopan, apa kalian sudah cari tahu?" Prita masih saja berteriak pada mereka, ingin menjambak rambut mereka satu persatu.
Tapi beruntung pada saat itu Davin berjalan melintas di taman dan melihat kejadian itu semua.
Davin pun berlari cepat untuk segera melerai pertengkaran antar wanita itu agar tidak terjadi " Prita kau sedang apa?" serunya menatap Prita yang sedang di landa kemarahan.
"Kau tahu mereka semua bilang apa tadi? mereka bilang Yura adalah minimarket. " sahut Prita yang masih saja menahan kesal.
"Siapa yang tidak emosi, sahabatnya di bilang seperti itu tadi, mereka bilang apa padaku, bawel, bawel sekali." gerutunya lagi, lalu menatap sahabatnya yang hanya diam saja.
"Yura_
Ucapan Prita terhenti saat Yura malah berbalik pergi meninggalkannya dan juga Davin.
Prita ingin mengejarnya tapi tangannya sudah lebih dulu di cekal oleh Davin," Biarkan dia sendiri dulu, dia butuh ketenangan." ujar Davin dengan begitu tenangnya membuat Prita pun langsung menuruti perkataan Davin.
...----------------...
Sementara Al, dia tengah mengantarkan Yu Jie pulang ke rumahnya, dengan menggunakan taksi, entah dia tidak ingin membonceng wanita lain menaiki motor kesayangannya itu.
Baginya cukup kekasihnya saja yang ia bonceng, walaupun Al dulu sempat menyukai Yu Jie, tapi sekarang rasa itu sudah sirna seiring berjalannya waktu.
Entah itu rasa suka atau rasa iba terhadap Yu Jie, dia sendiri tidak tahu yang jelas, saat Yu Jie mengeluh padanya memgenai saudara kembarnya itu yang tidak romantis sama sekali bahkan tidak pernah menciumnya.
Al merasa geram sendiri pada saudara kembarnya itu lalu ia pun memberikan apa yang wanita itu inginkan, yang pasti merasa puas diri satu sama lain. hingga ia melupakan rasa sakit yang Erick rasakan waktu itu.
Walupun yang Al lakukan pada Yu Jie hanya sebatas ciuman di bibir dan bergandengan tangan saja, selebihnya ia belum berani melakukan hal yang lebih gil* lagi, mengingat mereka masih duduk di bangku SMA.
Mungkin setelah ia di tinggal pergi oleh Erick lalu ia mengalami depresi hebat, apalagi Ayahnya yang sibuk bekerja dan bekerja sedangkan Ibunya yang memang sudah lama meninggal dunia.
Membuatnya tidak ada orang yang menegurnya, dan menjadikan ia seorang player terhadap setiap wanita, yang juga sama menginginkan kesenangan semata, ia tidak akan melakukan pada wanita yang tidak menginginkan kesenangan itu, baginya pantang untuknya memaksakan kehendaknya sendiri.
...----------------...
Keesokan harinya di rumah Yu Jie, dia mengurung dirinya di dalam kamarnya, bahkan tidak mau keluar kamar, tidak mau makan sejak kemarin pulang siang di antar Al sampai di depan teras rumahnya.
Membuat Kakek dan neneknya begitu khawatir memikirkan cucunya itu, " Yu Jie tidak pergi kuliah tidak apa-apa, tapi kau tetap barus makan." ujar sang nenek di balik pintu kamar cucunya.
Yang sedari tadi berusaha untuk merayu cucunya itu, agar mau keluar kamar lalu menyantap makanan.
"Yu Jie, cepat buka pintunya, apa kau mendengarkan Nenek?" panggilnya lagi.
"Aku tidak mau makan Nenek, pergilah." sahut Yu Jie dari dalam kamar, membuat sang Nenek semakin gusar.
"Dia tetap tidak mau keluar dan makan?" tanya sang Kekek pada istrinya itu yang masih saja berdiri di depan kamar cucu mereka.
"Iya, sepertinya ada masalah dengan anak itu."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
.
.
.
.
.
.
.tbc
Mohon dukungan dari semuanya yaa,, dengan cara beri like vote dan juga hadiah🌷🌷🌷🌷🌷
Terima kasih yang sudah mampir baca. love u all..