
Yura nampak tersenyum menanggapi, dan Al yakin pasti dugaannya sangat tepat. " Kau mempermainkan aku Yura, kau licik sekali!" tudingnya kembali.
" Jangan bilang begitu." senggah Yura.
" Ya, kau licik sekali."
" Apa kau tahu, Ayahmu susah payah mengambil keputusan yang ia ambil itu." jelas Yura sambil tersenyum.
Mereka bukannya saling marahan, tetapi justru merasa senang. " Kenapa kau kesini tidak membawakam motorku?" tanya Al sambil menggandeng erat tangan kekasihnya.
" Kau ingin melihatku terbaring di rumah sakit, begitu?." Al justru justru terkekeh mendengar pertanyaan Yura.
" Bukan begitu."
" Lalu, kenapa kau ingin aku membawa motor yang besarmu itu, jika memang tak ingin melihatku sekammmpp_
Ucapan Yura terhenti lantaran Al langsung membungkam mulut Yura denga bibirnya, melum4tnya pelan, begitu lembut. hingga hampir saja membuat Yura terlena, namun seketika ia sadar dan mendorong d**a Al sedikit kuat.
" Alrick." pekik Yura sedikit pelan, seba ia sadar mereka tengah berada di tepi jalan yang begitu ramai.
" Apa?"
" Kenapa kau menciumku di tempat umum seperti ini." keluhnya sambil mengusap sisa saliva Al di bibirnya.
" Sini lihat." Al menarik tubuh Yura dan memperlihatkan hampir di setiap sudut jalan ada beberapa pasangan yang juga sedang berciuman, membuat Yura meringis seketika, lalu menoleh ke belakang.
" Tapi aku malu berciuman d depan umum Al, kau tahu itu." lirihnya menahan rasa malu, ia bahkan ikut merasa malu saat melihat beberapa pasangan tadi.
" Habisnya aku merasa sekarang kau semakin banyak bicara, dan yag menciummu itu adalah aku calon suamimu sendiri, kenapa harus malu. mereka semua saja tidak malu pada kita." jelas Al kembali menggandeng Yura dan menariknya jalan.
Yura hanya tersenyum menunduk, entah ia sendiri juga bingung kenapa dia jadi banyak bicara sekarang, melebihi Prita saja, ia pun berjalan sambil menggelengkan kepalanya.
" Ada apa? kenapa kau gelengkan kepalamu? oh, aku tahu kau pasti sedang membayangkan yang tadi apa yang selanjutnya akan aku lakukan, jika saja kau tak mendorongku, benar 'kan?" tuding Al kembali, yang begitu percaya diri.
" Kau percaya diri sekali, siapa juga yang sedang membayangkan yang tadi, kau itu. ayo cepat aku sudah lapar." sekarang gantian Yura yang menarik tangan Al untuk mempercepat langkah mereka.
Setelah selesai menyantap makan malam yang sederhana bagi orang kalangan atas, kini mereka menaiki taksi untuk segera sampai ke rumah. sebab Yura merasa lelah jika harus kembali berjalan, apalagi mereka baru saja selesai makan.
Tak berapa lama taksi yang mereka tumpangi sudah sampai di depan rumah yang megah itu, " Ayo." ajak Al sambil menggandeng tangan Yura saat akan berjalan masuk ke dalam rumahnya.
Namun baru akan memasuki pintu depan Al menghentikan langkahnya, lalu berbelok ke arah garasi mobil yang ada di samping teras dan masih dengan menggandeng Yura mengajaknya serta. " Al apa yang kau lalukan?!" tanya Yura menatap kekasihnya dengan heran.
Sementara Al bergeming ia menyuruh salah satu penjaga untuk membukakan pintu garasi yang lebih kecil, seketika tertampanglah motor sport milik Al, yang selalu ia kendarai.
Al berjalan cepat menghampiri motor kesayangannya dengan sangat antusias, bahkan langsung melepaskan genggaman tangannya pada Yura yang sejak tadi ia genggam. " Al kau tidak bermaksud ingin berkeliling malam-malam begini 'kan?" tanya Yura hati-hati, sebab ia tidak ingin membuat Al kecewa padanya, ia tahu bahwa Al saat ini sedang berbahagia, sehingga ia pun akan menuruti keinginan dari sang kekasih.
" Memang kenapa kalau berkeliling malam-malam? bukankah itu jauh lebih indah, Ayo." ajaknya yang sudah nangkring di atas motornya dan juga sudah menghidupkannya.
Awalnya Yura tidak ingin, tetapi apa salahnya menuruti keinginan sang kekasih yang memang sudah lama tidak mengendarai motornya, ia pun sedikit rindu naik motor kembali dan berkeliling kota.
" Al kita mau kemana?" cicit Yira, entah Al mendengarnya atau tidak.
" Sudah nanti saja, kau akan tahu. kau akan bertambah cerewet jika aku terus pegangan yang kuat." pinta Al sambil memanasi motornya.
Tak berapa lama motor yang di kendarai Al berhenti di tempat di tempat yang tak asing bagi keduanya, juga disana sudah banyak sekali para remaja berkumpul seusia mereka.
" Al." panggil Yura yang baru saja menatap ke sekelilingnya, sebab sedari tadi ia menutup rapat kedua netranya, karena ketakutan.
" Ya, seperti yang ada di pikiranmu." sahut Al seolah tahu apa yang akan Yura katakan padanya.
" Hei Al, akhirnya kau kembali! kami sangat kehilanganmu. kau tahu tidak ada yang bisa menandingimu disini, kaulah yang terbaik dari yang terbaik." celetuk salah satu temannya memeberikan pelukan ala mereka yang di sambut hangat oleh Al.
" Jangan membuatku malu Lux! aku juga sangat merindukan ini semua, so siapa lawan kita malam ini?" tanya Al yang masih menunggangi kuda besinya itu, sementara Yura juga masih duduk di jok belakang hanya diam saja.
Sebelum ia pergi tadi, Al menyempatkan diri untuk mengirim pesan pada Lux teman balapannya itu, lebih tepatnya dia seperti seorang menager Al disana, sebab ia yang memberi arahan juga yang mempersiapkan segala apa yang Al pinta.
Sementara Al hanya menjalankan pertandingannya saja, setelah ia menang nanti, bayaran yang cukup besar yang akan menantinya demi apa yang akan ia pertaruhkan tak kalah besar dan sangat berbahaya untuk dirinya sendiri.
" Lihat, dia lawanmu yang baru saja bergabung. aku yakin kau akan berhasil malam ini." tunjuk Lux orang yang juga sedang menunggangi kuda besinya tak jauh dari tempat mereka bertiga.
" Baiklah, titip kekasihku jaga dia baik-baik." titahnya pada Lux, yang langsung di angguki oleh pria jangkuk itu.
" Yura, kau tunggu disini, aku tidak akan lama." pesan Al sambil memakai helmnya kembali.
Sementara Yura langsung turun dari motor Al, dan menatap Al dengan serius, walau ia masih takut jika tiba-tiba saja sesuatu terjadi pada kekasihnya. namun melihat binar kebahagian di mata Al seolah rasa takutnya ia tepis jauh-jauh dan ia pun ikut merasakan kebahagiaan yang Al rasakan.
" Al, kumohon berhati-hatilah." pesan Yura begitu tulus Al dapat melihat itu semua, dari kedua netra kekasihnya yang tidak ada kedustaan disana saat mengatakannya penuh dengan cinta dan perhatian yang besar untuknya.
Al tersenyum lebar, lalu ia mendekatkan wajahnya ke arah Yura, " Beri aku energi, agar aku semakin bersemangat." bisik Al tepat di dekat telinga Yura, membuat wanita itu merona.
Yura tahu apa yang di maksud oleh Al, dengan ragu ia mendekat dan cup,,Yura mengecup bibir tipis Al kilat dengan rasa malu yang luar biasa, sebab banyak sekali pasang mata yang menatap mereka.
.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
.
.
.
.
.
.
.
.tbc
Mohon dukungan dari semuanya yaa,, dengan cara beri like vote dan juga hadiah🌷🌷🌷🌷🌷
Terima kasih yang sudah mampir baca. love u all..