Bad Boy I Love You

Bad Boy I Love You
Kau punya aku



Sepekan kemudian.


" Apa Al tidak datang lagi hari ini?" tanya Yura kepada Davin yang baru saja masuk ke dalam kelas.


Yura juga baru beberapa hari mengikuti kelas semenjak Ibunya sakit, ia masih harus menemani sang Ibu karena kondisinya yang masih lemah.


" Dia bertingkah aneh belakangan ini, " sahut Davin menatap Yura bergantian dengan Prita.


" Apa maksudmu?"


Yura mengernyit tidak paham, ada apa dengan Al?


" Aku tidak tahu harus menjelaskan bagaimana, tapi semenjak kejadian bunuh dirinya Wizzy, dia tampak aneh."


Prita mengangguk membenarkan ucapan Davin.


" Ya sepertinya dia sangat terpukul sejak kejadian itu, lihatlah dia sebelum kejadian itu terlepas dari seberapa buruk penampilannya hanya butuh dua sampai tiga hari saja agar dia bisa melupakan masalahnya, namun ini sudah lebih dari sepekan berlalu ia tak menampakkan batang hidungnya juga, bukankah ini aneh?" terang Prita.


Yura pun jadi ikut kepikiran, " Ya Al tidak seperti biasanya, apa kau merasakan juga?" tanya Davin terus menatap Yura.


...----------------...


Akhirnya sepulang kuliah Yura mengunjungi tempat tinggal Al, sudah sedari tadi dia mengetuk pintu dan memanggil Al berulang kali.


Namun tidak ada tanda-tanda ada seseorang di dalam sana, membuat Yura sedikit menunggu di teras luar.


Hampir setengah jam berlalu namun Al tak kunjung muncul, Yura pun mencoba membuka pintu depan.


Dan ternyata tidak dalam keadaan terkunci, ia pun segera masuk dan melihat Al yang sudah terlelap di atas ranjang.


" Ternyata memang kau berada di rumah, Apa suaraku begitu pelan tadi, sehingga ia tak mendengarnya? ataukah ia yang terlalu lelap karena kelelahan."


Gumamnya pelan sambil berjalan mendekat ke bibir ranjang, lalu mengamati wajah tampan Al.


Tangannya terulur mengusap rambut kecoklatan Al, membuat sang empu sedikit terusik, namun kembali tertidur.


" Aku meneleponmu, tapi kau tidak pernah mengangkatnya, aku sangat mengkhawatirmu, " ujar Yura begitu pelan sambil menatap Al yang begitu lelapnya.


Tiba-tiba tangan Al menyentuh tangan Yura yang sedang mengusap rambutnya tersebut.


" Kau disini? memangnya sekarang hari apa?" tanyanya masih dengan mata terpejam.


Tangannya membawa tangan Yura ke depan mulutnya, kemudian mengecup telapak tangan Yura dengan lembut.


" Sekarang hari selasa."


" Apakah ada jadwal kelas hari ini?" tanya Al kembali dan mulai membuka kelopak matanya.


" Kenapa kau semakin kurus?" Yura balik bertanya.


" Mungkin karena aku kurang makan." jawab Al asal.


" Mau kubuatkan sesuatu untukmu?" tawar Yura akan beranjak bangundan menarik tangannya.


Namun Al menahannya, " Tidak perlu, aku sedang tidak ingin makan. "


" Kau kenapa? apa yang terjadi?" tanya Yura menatap ke dalam bola mata Al.


" Wizzy, dia sering datang ke dalam mimpiku,"


" Al dengarkan aku, kau jangan terus-menerus memikirkannya, bisa jadi itu semua karena kau belum sepenuhnya melupakannya, kalian itu tidak sama, kau berbeda dengannya."


Yura berusaha menenangkan Al, mungkin saja pria itu masih tidak percaya dengan kenyataan ini.


" Kau adalah dirimu sendiri, kau bukanlah Wizzy," lanjutnya.


" Benarkah? perbedaan antara aku dan Wizzy hanya karena kami bertemu orang yang berbeda, faktanya aku ragu kalau aku dan dia berbeda." lirih Al menjelaskan.


" Tidak! itu tidak seperti yang kau pikirkan." sela Yura dengan cepat.


" Itu karena kau tidak tahu seperti apa diriku dulu, saat itu aku tinggal di NY, aku baru berumur sekitar sebelas tahun dan aku hampir saja membunuh seseorang. "


Hati Yura mencelos benar apa yang dulu Prita katakan padanya tentang masa kecil Al yang dulu di luar negeri.


" *Hey, apa yang kau lakukan apa kau sudah gila? " tanya anak nakal sambil tubuhnya bergetar hebat, karena ketakutan.


Sebab Al menodongkan senapa yang berukuran kecil itu tepat di kepalanya.


" Pamanku tidak melepas isi peluru di dalamnya, " seru Al pada waktu itu.


Lalu tangannya mulai mengunci pengamannya, hingga menimbulkan suara.


Al bersiap menembak kepala anak nakal tersebut, pertama, kedua, ketiga hingga berkal-kali ia mencoba menekannya tapi senapan tersebut tak kunjung mengeluarkan bunyi suara yang memekakkan telinga*.


" Dan ternyata Pamanku sudah melepaskan isi pelurunya, hampir saja bukan, jika Paman tak mengeluarkannya, aku pasti sudah membunuhnya." terang Al kembali.


Walaupun nampak terkejut setelah mendengar sendiri pengakuan dari Al, Yura masih terus diam mendengarnya.


" Jadi kenapa kau yakin aku berbeda dengannya?"


" Itu karena kau dulu masih kecil dan belum mengerti arti kehidupan," sahut Yura.


" Lalu apakah kau juga hampir membunuh seseorang di usia segitu? apakah normal seorang anak berusia sebelas tahun mau membunuh agar seseorang tidak menanggungnya?"


Yura terkejut kembali, namun tetap diam, " Di dunia Wizzy tidak ada kau, Davin ataupun orang lain, dia hanya memiliki Aming dan sahabat satunya, tapi akhirnya dia menyusul mereka berdua. bukankah ini kejadian yang tragis?"


Al menatap Yura yang ternyata sedang menatapnya juga, " Al kau tahu kenapa Wizzy hanya dekat dengan dua sahabatnya itu, sedangkan kau dekat denganku, Davin, Prita karena kami semua menyukaimu yang selalu semangat dan penuh warna." terangnya.


Al nampak terkejut juga terharu, " Hanya Wizzy saja yang memilih jalan untuk tetap sendiri dalam kegelapan, karena dia memilih takdirnya sendiri." lirih Yura menatap sayu ke arah Al.


Al justru malingkan wajahnya, " Jangan melihatku dengan tatapan seperti itu, aku sangat takut dengan tatapan seperti itu." keluhnya membuat Yura semakin bersalah.


" Erick dan orang tuaku mereka semua berpikir mereka bisa menyelamatkanku, mereka semua melihatku dengan tatapan yang penuh desakan dan juga ketakutan, mereka memperlakukanku seperti orang yang sedang sakit, sepertinya mereka semua menyalahkanku atas semua yang terjadi_


" Tidak Al, itu tidak seperti yang kau kira," potong Yura dengan cepat sambil menggelengkan kepalanya.


" Tolong jangan melihatku seperti itu, jangan salahkan aku seperti mereka, itu hanya akan membuatku semakin tidak tahu apa yang aku lakukan dan siapa diriku sebenarnya.?" pintanya


" Aku tahu, aku tahu siapa dirimu Al, aku tahu tangisanmu dan juga tawamu, bahkan jika seluruh dunia menyalahkanmu, kau masih punya aku."


Yura menangkup wajah Al, membuat Al menatapnya dalam, " Di duniaku kau bukanlah orang yang tidak waras, tapi kau adalah orang yang membuatku berani dan senang. " lanjutnya.


Yura mengecup kening Al lalu turun ke bibir Al sekilas, kemudian menciumnya kembali dengan sedikit lama.


Membuat Al langsung terpancing dan mulai mendominasi, ia langsung menindih tubuh Yura, karena sedari tadi mereka duduk di karpet bawah.


Al terus menciumi Yura dengan sedikit ganas, mungkin karena sudah sangat lama hasratnya tidak tersalurkan, membuatnya seperti binatang buas yang baru mendapatkan mangsanya.


Lid*h mereka saling membeluat, lalu ciuman Al turun ke leher jenjang Yura, sambil tangannya bergeriliya mencoba masuk ke dalam pakaian yang di pakai Yura.


Namun Yura justru mengingat potongan-potongan di masa lalunya, membuatnya mendorong dada Al dengan sedikit kuat dan beringsut duduk.


Raut wajah Al nampak cengo' menatap Yura, " Maafkan aku, maafkan aku Al. aku tidak sengaja." ucapnya di sela napasnya yang terengah-engah.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


.


.


.


.


.


.


.tbc


Mohon dukungan dari semuanya yaa,, dengan cara beri like vote dan juga hadiah🌷🌷🌷🌷🌷


Terima kasih yang sudah mampir baca. love u all..