Bad Boy I Love You

Bad Boy I Love You
Masa lalu yang terkuak.



" Aku datang." ujar Yura sedikit berteriak, sambil membuka pintu depan.


Yura masuk ke dalam begitu pintu itu terbuka lebar, dan meletakkan beberapa makanan ke atas meja yang ia beli tadi saat di perjalanan.


Al yang tadinya duduk di ranjang langsung berjalan mendekati Yura, dan langsung melingkarkan kedua tangan kekarnya itu di pinggang ramping wanitanya.


" Apa kau masuk kuliah hari ini?" tanya Al sambil menciumi tengkuk Yura.


Membuat Yura merasa geli, dan langsung meremang seluruh bulu kuduk di tubuhnya, tetapi ia mencoba tersenyum karena telah di perlakukan begitu manis oleh Al.


" Ya, dan kau, kenapa kau tidak mengikuti kelas hari ini? ku pikir sesuatu telah terjadi padamu." sahutnya sambil menyajikan makanan itu di atas piring bersih.


Al melepas sejenak pelukannya, dan berjalan ke arah depan untuk menutup pintu dan juga langsung menguncinya.


" Aku bawakan makanan enak, kau pasti belum makan?" Yura melirik sekilas ke arah pria itu, walau sedikit curiga dengan tindakan Al barusan.


Kemudian Al kembali memeluk tubuh Yura dari belakang, kali ini ia menciumi seluruh tengkuk hingga ke cerugnya lalu naik ke telinga Yura, membuat wanita itu sedikit risih.


" Al tolong hentikan." protesnya pelan.


Namun adegan masa lalunya kembali bermunculan, saat Al menyesap dan menggigit leher sampingnya itu.


" Al jangan seperti ini?"


Yura berusaha menghentikan aksi yang Al lakukan, dengan mendorong tubuh Al supaya menjauh, walaupun kekuatannya tak sebanding dengan pria itu.


Al menarik tubuh Yura dan membantingnya sedikit kasar ke atas ranjang miliknya, kemudian dengan cepat menindih tubuh Yura yang terus saja meronta-ronta.


" Al tolong hentikan, Al stop aku mohon." pintanya berusaha mendorong tubuh Al.


Al mengunci kedua tangan Yura yang terus mengganggunya itu, " Jangan berpura-pura." desisnya pelan.


" Al jangan, aku mohon." bentaknya lagi sambil menggeleng-gelengkan kepanya kekanan dan ke kiri.


Sedangkan Al seolah tuli, ia terus saja melakukan aksinya dengan brutal, bahkan mencium bibir Yura dengan sangat kasar.


Yura terus berteriak, " Aku tidak menginginkannya." teriaknya.


Raut wajah Yura berubah bagaikan orang yang kesetanan, meraung-raung, kedua matanya bahkan membola sempurna.


Saat di rasa tidak mendengar lagi suara dari Yura, seketika Al mendongak dan menatap panik saat melihat raut wajah Yura yang bagaikan orang kesurupan tersebut.


" Yura, hei kau kenapa?" tanyanya panik, sambil menepuk-nepuk pipinya, dan menarik tubuhnya ke samping.


Di saat itulah Yura bangkit dan berlari menuju ke arah pintu keluar, dan akan membukanya namun karena terkunci, ia semakin berteriak histeris.


Al pun mengejarnya, berusaha menenangkan Yura kembali, namun Yura semakin berteriak.


" Yura, aku mengerti sekarang, maafkan aku.!"


Al langsung menarik paksa tubuh Yura dan memeluknya erat, sementara Yura terus saja menangis histeris, bahkan seluruh tubuhnya bergetar hebat.


" Maafkan aku, okay!" Al merasa iba terhadap Yura ataukah yang lainnya juga, entahlah ia pun bingung harus menghadapi kenyataan ini bagaimana nantinya.


" Aku tidak akan melakukannya lagi, maafkan aku." sesalnya terus-menerus.


Yura masih menangis dan mencoba mendorong tubuh Al, hingga beberapa menit kemudian Yura kembali tenang.


Kini mereka berdua duduk di lantai saling berhadapan, Yura memeluk kedua kakinya yang ia lipat.


" Siapa yang melakukannya?" lirih Al bertanya tanpa menatap Yura.


Yur masih terdiam, masih belum ingin menjawab pertanyaan Al." Katakan padaku, siapa yang melakukannya?" tanyanya kembali dengan suara agak keras.


" Apa kau sudah melaporkannya ke polisi?" tanya Al kembali.


" Kenapa tidak melaporkannya? apa kau mengenalnya?" tanyanya kembali di saat Yura masih terdiam.


" Kakakku yang melakukannya." jawab Yura pelan.


" Kakak? kau mempunyai kakak laki-laki.?" tanya Al penasaran.


" Bukankah kau bilang, kau satu-satunya anak perempuan Ibumu?" tanya Al lagi.


" Dia bukan kakakku ." jawab Yura pelan sambil menggeleng lemah.


" Kakak tiri kau bilang?" gumam Al sambil berpikir.


" ****, Yuan? Yuan yang melakukannya padamu?" geram Al mengepalkan salah satu tangannya.


" Saat itu aku baru saja merayakan hari kelulusanku dengan teman-temanku, dan pulang lebih cepat. aku tidak bisa melawannya, ia begitu kuat, dan aku tidak berani cerita kepada Ibuku. ia mengancamku akan mencelakai Ibuku jika aku menceritakan semua perbuatan bejatnya itu." terang Yura.


Air matanya kembali jatuh di kedua pipi putihnya itu, " Aku selalu takut, dan terus menangis, aku selalu bermimpi buruk setiap malam, hingga merasa dia mendatangiku kembali, aku berusaha bersembunyi namun ia masih saja menemukanku, jadi aku membunuhnya di dalam mimpiku. aku menggunakan cara kejam untuk membunuhnya, aku sangat membencinya, aku benci laki-laki, aku benci sekali pada mereka." teriaknya kembali menangis histerus.


Al pun kembali memeluk Yura dengan sangat erat, " Siapa yang akan menolongku?" rintihnya sungguh mengiris hati Al yang mendengarnya.


Tak sadar dirinya pun ikut menangis dalam diam masih dengan memeluk tubuh wanita itu, dengan cepat Al mengusapnya.


" Aku pulang dulu." pamitnya namun Al nampak bergeming juga tak menjawab perkataan dari Yura.


Membuat Yura kembali menangis di sepanjang perjalanan sehingga membuat orang yang melihatnya menatapnya heran.


...----------------...


Sementara Al sejak kepulangan Yura tadi, ia terus saja berdiam diri di atas ranjangnya.


Ia kembali menangis dalam diam, bahkan semakin terisak, entah bagaimana hubungan mereka nantinya.


Al masih bingung dan terpukul dengan kenyataan ini, padahal dirinya begitu sangat mencintai wanita itu, namun kenyataan yang baru saja ia dengar sedikit mengganggu pikirannya.


Sementara Yura mendatangi rumah Prita, karena ia bingung harus kemana karena tidak mungkin ia pulang ke rumah dengan wajah yang sembab begitu, pasti Ibunya akan curiga, dan banyak bertanya padanya.


Prita langsung membuka pintunya begitu terdengar pintunya di ketuk dari luar, beruntung ia masih belum tidur.


Karena sehabis teleponan dengan Davin sang kekasih." Yura ada apa malam-malam begini kemari? ayo masuk."


Prita menatap curiga kepada sahabatnya ini, " Apa yang terjadi.?" Prita menuntun Yura untuk duduk di sofa.


Sementara dirinya pergi ke dapur untuk mengambilkan air putih untuk Yura, dan langsung di sesap hingga tandas.


" Prita, aku dan Al. kami sudah berpisah." ujarnya kembali menangis.


Prita segera memeluk tubuh sahabatnya itu, sambil mengelus punggungnya sayang.


" Memangnya apa yang terjadi? jangan bersedih, tenanglah, ceritakan pelan-pelan padaku okay?" pintanya.


Yura mengurai pelukan itu, sambil sesenggukan ia mulai menceritakan apa yang terjadi di rumah Al tadi dengan derai air mata.


Prita terus mendengarnya dengan baik, setelah Yura sudah tenang, Prita mengajak Yura ke kamar.


Tak berselang lama Yura sudah ketiduran, mungkin karena kebanyakan menangis dan juga merasakan pening di kepalanya, membuatnya cepat tertidur.


*Manusia memang terlihat kuat, tetapi sebenarnya mereka lemah.


Sekarang mereka lemah, mereka bisa kuat di luar dugaan.


Tidak peduli seberapa kali kau menangis kau pasti tidur jika kau merasa mengantuk dan lelah.


.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


.


.


.


.


.


.tbc


Mohon dukungan dari semuanya yaa,, dengan cara beri like vote dan juga hadiah🌷🌷🌷🌷🌷


Terima kasih yang sudah mampir baca. love u all*..