
" Apa kabar Jhen?" tanya Felix dengan perasaan campur aduk.
Jhenie masih membisu, bukan tanpa sebab ia bergeming seperti itu, karena perasaan bersalahnya sangat mendominasinya saat ini, selain rasa rindu yang selama ini ia rasakan kepada pria itu.
Akhirnya Jhenie mengajak Felix duduk di ruang tamu, sang bibi juga sudah membuatkan munuman untuk keduanya.
Namun Jhenie masih bingung, ia sebenarnya tidak siap sama sekali untuk bertemu kembali dengan Felix.
Pria yang dulu pernah ia cintai, namun ia hanya bisa memendam perasaannya seorang diri, sebab sahabatnya yang sudah lama menjalin hubungan dengan pria ini.
Ini memang salah, tidak seharusnya ia mencintai pria yang sudah mempunyai kekasih, apalagi kekasihnya itu adalah sahabat karibnya sendiri.
Siapa lagi kalau bukan Clara, dialah sahabat karibnya, sahabat sedari kecil, kemana-mana berdua, sekolah juga selalu satu kelas, dan di saat mereka baru masuk sekolah menengah atas Clara juga yang mengenalkan Felix kepadanya.
Hingga lambat laun mereka bertiga begitu akrab, banyak yang bilang dua-duanya adalah kekasih Felix, namun Felix orang yang sangat cuek itu tidak mempermasalahkannya. tapi kecuekannya itu justru membuat seorang Jhenie menaruh harapan padanya, dan juga kebaikan Felix selama ini di salah artikan oleh Jhenie, ia langsung menaruh hati pada Felix, begitu ia mendapatkan perhatian kecil dari kekasih sahabatnya tersebut.
Padahal Felix itu adalah orang yang akan berbuat baik kepada siapa saja, dulu Felix memang pria yang tidak banyak tingkah, tidak pernah main balap liar, tidak pernah nongkrong di pinggir jalan, kelayapan. ia justru pria yang penurut apalagi kepada kakak laki-laki satu-satunya, keluarga yang masih hidup.
Jadi dia akan menuruti apapun yang kakaknya pinta, dan semenjak insiden yang menimpa kakaknyalah ia menjadi pria yang nakal dan berandalan.
" Ba-baik. seperti yang kau lihat sekarang." jawab Fhenie sedikit gugup.
" So?" tanya Felix ambigu.
Membuat Jhenie mengernyit tidak paham, jadi dia hanya diam menunggu lanjutan ucapan dari Felix.
" Jadi? selama ini kau ada di negara ini juga? lalu apa kau juga sudah bertemu dengan sahabatmu?" lanjut Felix kemudian.
Namun saat Jhenie hendak menjawabnya, dering ponsel milik Felix mengintrupsi membuat Felix segera menerima panggilan tersebut.
" Maaf aku harus segera pergi, masih banyak pekerjaan yang harus aku urus, emm,, bolehkah aku meminta nomor ponselmu." ucap Felix setelah mengakhiri panggilannya.
Jhenie awalnya ragu-ragu akan memberikan nomor ponselnya, namun melihat wajah pria tampan itu membuatnya seperti terhipnotis, setelahnya ia menyodorkan ponsel itu kembali kepada sang empu begitu ia selesai menuliskan beberapa digit angka.
" Baiklah, sampai jumpa kembali Jhenie." setelah itu Felix segera masuk ke dalam mobil dan melanjutkan mengirim paket yang masih tersisa di dalam mobil.
Sementara itu wanita yang bernama Jhenie segera masuk kembali ke dalam rumah begitu Felix pergi, ia menatap kotak paketan yang berukuran cukup besar itu dan menyuruh Bibi asistennya itu untuk membantu membukanya.
" Astaga siapa yang mengirim ini?" tanyanya pada sang Bibi.
" Sepertinya Tuan Piter nona, dan ini ada kartu ucapannya juga." Bibi menyodorkan secarik kertas kepada Jhenie, yang langsung di baca olenya.
" Happy Anniversary yang ke satu baby."
Begitulah isi tulisan dalam kartu ucapan tersebut.
Tak lama ponsel milik Jhenie berdering, dan tertampanglah nama seseorang yang tak lain adalah orang yang telah mengirimkan barang yang baru saja ia buka.
" Hallo Baby, apa barangnya sudah datang?" terdengar suara seorang pria di seberang sana.
" Oh iyaa, barangnya baru saja sampai." jawab Jhenie sedikit bingung.
" Apa kau menyukainya? itu aku pesan langsung dari luar negeri."
" Ya aku menyukainya, terima kasih banyak atas hadiah yang kau berikan."
" Baiklah kalau kau suka, tunggu aku nanti malam. aku sedang dalam perjalanan pulang" ucap pria yang tak lain adalah suami dari Jhenie.
" Baiklah." jawab Jhenie dengan pasrah.
Panggilan pun terputus, Jhenie masih diam mematung sambil menatap barang yang berdiri di hadapannya sekarang ini.
Patung seorang wanita berpakaian balet, Jhenie memang seorang penari balet sedari kecil ia amat suka dan setiap hari selalu mengikuti les balet, namun tidak dengan sahabatnya Clara yang lebih tertarik menjadi seorang DJ terkenal.
Hingga ia beranjak remaja ia sering mengikuti pentas balet di beberapa negara, terutama di negara Italia tempat berasalnya tari tersebut.
" Terima kasih Bi, iya nanti dia pulang. "
Setelahnya Bibi kembali ke belakang melanjutkan cuciannya yang ia tinggal tadi.
Hingga malam pun datang, seorang pria baru saja masuk ke dalam rumah itu, di belakangnya ada seorang pria yang berjalan membawa koper berukuran sedang milik pria yang berjalan di depannya itu.
Setelah menyerahkan koper tersebut kepada sang Bibi, ia pun segera pamit kepada pria yang tidak lain adalah sang bosnya tersebut.
" Jack, besok dan lusa kosongkan jadwalku, aku akan menikmati waktuku bersama Jhenie di pulau kita." titahnya masih berdiri di atas anak tangga.
Sedangkan sang asisten baru akan keluar dari pintu utama di antar oleh sang Bibi, " Baik Tuan." sahutnya sembari membungkukkan tubuhnya sedikit sebelum ia keluar.
Sesampainya di kamar Piter tak melihat keberadaan sang istri, namun ia mendengar suara gemericik air di dalam kamar mandi.
Ia yakin istrinya sedang membersihkan tubuhnya, membuatnya sedikit blingsatan, sebab tahu bahwa sang istri pasti tengah tidak memakai apapun saat ini.
Bagaimana pun sudah sepekan ia pergi ke luar negeri untuk mengurus bisnisnya dan pastinya benihnya pun sudah penuh, waktunya untuk di keluarkan.
Piter membuka handle pintu itu yang ternyata tidak terkunci, membuatnya semakin tidak sabar lagi.
Ia pun segera menanggalkan seluruh pakaian yang menempel di tubuhnya itu, dan berjalan tanpa suara mendekati istrinya yang sedang berdiri di bawah guyuran shower.
" Aaacchhhkk." teriak Jhenie terkejut begitu merasakan ada sepasang tangan seseorang yang tiba-tiba memeluk pinggangnya dari arah belakang.
Membuatnya spontan meraih apapun yang ada di hadapannya itu dan langsung memukulinya yang ia anggap tidak sopan karena tindakan kurang ajarnya itu.
Namun begitu ia melihat siapa orang yang ia pukul, ia langsung meringis ngilu karena yang ia pukuli adalah suaminya sendiri.
" Aduuhh, kau ini main pukul saja, kau pikir siapa yang akan masuk ke dalam kamar ini selain aku!!" ucap Piter kesal menahan rasa sakit yang begitu ngilu.
Bagaimana tidak ngilu, Jhenie memukul kepalanya dengan menggunakan gagang shower yang terbuat dari alumunium itu, untung saja tidak terlalu kuat Jhenie menimpuknya sehingga tidak sampai berdarah.
" Maaf, aku tidak sengaja, sungguh. maafkan aku." sesalnya sembari ikut mengusap kepala sang suami.
" Sudah-sudah kau harus bertanggung jawab sekarang, tapi bukan kepala yang atas. tapi yang dibawah." celetuk Piter menahan rasa ngilu tersebut.
HAH!! KEPALA YANG DI BAWAH??
.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
.
.
.
.
.
.
.
.
.Mohon dukungan dari semuanya yaa,, dengan cara beri like vote dan juga hadiah🌷🌷🌷🌷🌷
Terima kasih yang sudah mampir baca. love u all*..