
" Kau adalah pria pertama yang tidak aku takuti." celetuk Yura dengan suara serak khas orang yang sedang menangis.
Al pun tersenyum mendengarnya, dan semakin mengeratkan pelukannya, beruntung hari masih siang sehingga tidak banyak orang yang tengah bermain-main di pantai.
" Kau mungkin sudah lupa padaku saat aku pertama kali mulai kuliah, kau bicara padaku. namun kau tak menatapku sama sekali waktu itu." lanjut Yura kemudian.
" Aku?" Al membeo sambil sedikit mengurai pelukannya dan menatap bingung ke arah Yura.
" Ya apa kau masih ingat ada seorang wanita yang selalu berjalan menunduk sepanjang jalan, hingga tiba-tiba kau menabrakku entah sengaja atau tidak." tanyanya tersenyum.
" Oh ya? kenapa aku tidak ingat sama sekali, apa aku mengerlingkan sebelah mataku padamu?" Yura tersenyum sambil menggeleng cepat.
" Hanya saja kau berucap, 'Bisa kau pinjamkan aku uang?' hanya itu, dan aku pun mengambilkannya dengan cepat, lalu aku segera menghindar hingga tidak sengaja kunciku terjatuh dan kau memungutnya lalu memanggilku terus menerus, namun aku tidak menghiraukanmu aku terus saja berjalan cepat menghindar hingga tiba-tiba sesorang wanita berlari dan mengembalikan kuncinya padaku." terangnya panjang lebar.
" Tidak mungkin, " Al menggelengkan kepalanya tidak percaya.
" Hmm, dan kau mengambil uang dua puluh lima dollar dariku." Al semakin menggelengkan kepalanya terkejut.
Bukan karena masalah jumlah uangnya berapa namun ia merasa malu, sungguh amat malu dan mulai mendesah pelan.
" Dan aku pasti belum mengembalikannya padamu 'kan?" tebaknya kemudian.
Yura hanya tersenyum geli, membuat Al mengusap kasar wajahnya antara malu dan kesal pada dirinya sendiri.
" Astaga, dan itu sangat memalukan." ucapnya geli.
" Setelah itu kita sering berpapasan di tangga atau pun di kantin, tapi kau sudah melupakan aku. hingga saat itu aku selalu memperhatikanmu dari kejauhan. dan kau selalu berganti-ganti wanita baru, aku jadi sedikit kesal, tapi anehnya seharusnya aku membencimu tapi aku tidak bisa. dan aku tidak tahu kenapa." Terang Yura kembali.
Jangan tanya bagaimana wajah Al, ia benar-benar seperti kepergok selingkuh dari Yura, membuat Yura tersenyum geli menatapnya.
" Mungkin kita berdua tidak normal, benarkan?" tukas Al kemudian.
Tak lama terdengar suara anak kecil menangis di dekat bibir pantai, terlihat beberapa anak usianya lebih besar sedang merusak rumah-rumahan pasir yang di buat oleh dua anak kecil usia di bawah mereka.
" Dunia ini pwnuh dengan orang-orang seperti itu, senang jika melihat orang lain menangis." celetuk Al masih menatap ke arah sana.
Tak lama Yura beranjak bangun dan berlari ke arah dua bocah kecil tadi, " gadis kecil jangan menangis, kakak akan membangun istana besar untukmu ya?" bujuknya.
" Al mereka sedang membangun istana dari pasir, ayo bantu mereka membuatnya." teriak Yura menoleh ke belakang sambil melambaikan tangannya.
Al pun tersenyum sambil beranjak dan berlari menyusul Yura, " Kita buat satu yang besar ya?" ujar Yura kembali.
Katakan kau mencintaiku, aku sudah lama tidak merasakan bahagia seperti ini, cinta begitu sulit di mengerti.
Kami masih belum bisa memahami, semua kepiluan dan kesenangan. seberapa besar semua itu sebenarnya.
Katakanlah kau mencintaiku, hangatkan aku dengan tanganmu.
Bahkan jika kau tidak bisa membuktikan sampai kapan kau mencintaiku, aku tahu kau pasti sudah ada jawabannya.
Seperti biasa Yura bermonolog di dalam hatinya, sambil tersenyum menatap Al yang sedang membuat istana pasir tersebut.
" Lihat disana, cantik sekali bukan? Ayo siap, kakak akan mengambil gambar kalian." Yura segera merogoh isi tasnya.
Setelahnya mereka bermain-main sebentar hingga senja pun datang, matahari juga mulai tenggelam di ufuk barat sana.
Dua bocah kecil itu berpamitan pada keduanya karena tempat tinggal mereka memang tak jauh dari pantai.
Sepeninggalan dua bocah tadi, keduanya masih saling berpelukan, saling tersenyum senang menikmati angin laut di waktu sore itu.
" Aku yakin mereka tidak akan pernah melupakan hari ini." ujar Yura menatap ke arah air laut yang berwarna biru kegelapan.
" Siapa yang tahu, sebaiknya kita segera kembali, " ajak Al menggandengan mesra jemari lentik Yura dengan sayang.
Tak lama motor Al melaju meninggalkan area pantai dengan kecepatan sedang karena sebelah tangan Al masih memegang erat jemari Yura.
...----------------...
" Al apa yang harus aku tulis?" cicit Yura pelan dan bingung menatap nanar ke arah kertas kosong.
Dan karena mereka juga tengah duduk berhadapan langsung dengan sang Dosen yang terus mengawasi keduanya.
Karena selama ini ia tidak pernah menulis hal semacam itu seumur hidupnya, dan gara-gara ulah Al kemarin membuat keduanya harus mendapatkan hukuman seperti ini.
" Katakan kau menyesal, dan tidak akan mengulanginya lagi, dan ingat dengan sepenuh hati menulisnya. dan tambahkan sebelum UTS, kau akan belajar dengan giat lagi." bisik Al juga dengan pelan.
Walaupun pelan namun sang Dosen tetap bisa mendengarnya dan menahan tawanya sedari tadi.
" Alrick, kenapa kau tidak menulis sendiri di kertasmu?" sarkas Dosen Wang menatap ke arah Al.
Membuat keduanya dengan cepat mencoreti kertas tersebut hingga satu halaman penuh, tak lama menyodorkan dua kertas tetsebut ke arah sang Dosen.
Dosen Wang hanya memeriksanya sekilas, lalu kembali menatap keduanya dengan begitu serius.
" Kalian berdua harus belajar dari ini, jangan biarkan ini terjadi kembali. terutama kau Alrick, berbuat seperti ini lagi maka kau akan dua kali lipat membuat surat pernyataan, mengerti.?!" desisnya menatap Al dengan begitu serius.
" Mengerti Pak, "
" Dan kau Yura, aku tahu Ibumu sedang sakit, dan kau sudah menghadapi banyak situasi yang sulit, tapi jangan hancurkan hidupmu, okay?! ujarnya sengaja menyindir Al.
Namun Al hanya terkekeh, " Baiklah kalian berdua bisa kembali ke kelas." lanjutnya.
" Terima kasih Pak, dan kami permisi." ucap Yura sambil beranjak setelahnya mereka keluar dan berjalan menuju kelas mereka.
" Bodoh, kau bahkan tidak bisa membuat surat pernyataan maaf?" gerutu Al tersenyu geli menatap Yura.
" Yura." panggil Dosen Wang setengah berteriak karena mereka hampir menjauh.
" Aku lupa memberitahumu, kebahagiaan seorang wanita tergantung pada siapa lelaki yang di pilihnya. jadi berhati-hatilah dalam memilih." ujarnya kembali menyindir Al dengan sengaja.
Membuat Al menatap cengo', Dosen Wang pun hanya tersenyum simpul le arahnya," Alrick kau tahu apa yang aku maksud 'kan?" ujarnya sebelum masuk kembali ke dalam ruangannya.
Yura melirik ke arah Al sambil tersenyum geli," Hati-hati dalam memilih.!" ujarnya masih terus tersenyum.
...----------------...
Sepulang dari kampus Yura langsung bergegas pulang, karena sang Ibu masih terus membutuhkan dirinya, walaupun Ibunya bilang keadaannya sudah jauh lebih baik, namun ia tetap ingin terus berada di dekat sang Ibu.
" Ibu akan kembali bekerja?" tanya Yura saat mereka sedang menyantap makan malamnya.
.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
.
.
.
.
.
.
.tbc
Mohon dukungan dari semuanya yaa,, dengan cara beri like vote dan juga hadiah🌷🌷🌷🌷🌷
Terima kasih yang sudah mampir baca. love u all..