
" Kenapa kau tidak memberitahuku?" bentak Yura kembali.
" Kenapa kau rahasiakan semua ini padaku? juga pada waktu polisi datang mencarimu_"
" Polisi?" potong Wizzy dengan cepat.
Yura hanya melirik sejenak ke arah Wizzy tanpa berminat untuk menjawab pekataan Wizzy.
" Kau pasti masih ingat dengan Pak Fendy 'kan? kita sudah banyak merepotkan dia waktu itu." seru Al hanya melirik sekilas ke arah Wizzy.
" Ternyata kalian berdua sudah tahu, bahwa akulah yang membunuh mereka?" tanya Wizzy kembali.
Al dan Yura nampak bergeming mereka berdua sama-sama diam tak menjawab, Wizzy sadar memang semuanya sudah mengetahui peristiwa itu, akhirnya Wizzy menceritakan pada mereka berdua.
" Sebenarnya mereka bukan orang yang jahat, tapi akulah yang telah merubah hidup mereka jadi jahat, aku yang menyebabkan mereka jadi orang yang tidak bisa bertobat, aku telah membunuh mereka berdua." sesal Wizzy sambil terisak.
Al hanya diam mendengarkan saja, tanpa memandang pria itu, entah itu sebuah rasa penyesalan yang terdalam ataukah hanya sebuah kebohongan belaka yang sengaja di tutupi oleh Wizzy.
" Apapun yang aku lakukan, walaupun aku sangat menyesal, mereka tidak akan kembali lagi padaku." Wizzy semakin terisak.
Membuat Yura menatapnya iba, jangan tanya bagaimana raut wajah Al sekarang, ia berdecih sama sekali tidak terpengaruh oleh bualan dari pria jadi-jadian itu.
" Jangan menangis lagi, masalah ini tidak sepenuhnya menyalahkanmu. " ujar Yura mencoba menenangkan pria itu yang sedang menelangkupkan kepalanya ke atas meja.
" Tapi aku yang mencelakakan mereka, karena aku terlalu lemah, aku harus bagaimana agar bisa mendapatkan maaf dari mereka." serunya kembali agar dirinya semakin terlihat menyedihkan di mata mereka berdua.
Al yang mendengarkan sedari tadi hanya bisa tersenyum miring, sepertinya Wizzy sangat cocok jadi pemain drama yang menyedihkan, pasti banyak sutradara yang akan memintanya untuk memainkan peran tersebut, begitulah yang ada di benaknya.
" Semuanya adalah kata-kata munafik, jelas-jelas kau sedang berpikir, manusia sampah sepertimu sebaiknya cepat mati sana menyusul para sahabatmu kau bunuh itu!." celetuk Al yang sudah muak dan geram mendengar celotehan Wizzy.
" Al kau sedang bicara apa?" sela Yura menatap Al sedikit tajam karena tidak suka dengan ucapan kekasihnya barusan.
" Kenyataannya memang begitu, benar 'kan Wizzy.?" Al menoleh ke arah pria itu.
Yang di toleh hanya diam saja masih terdengar suara isak tangisannya saja, dan tanpa mereka sadari kedua tangan Wizzy sudah terkepal sempurna di kolong meja.
Tak lama Wizzy justru tertawa terbahak-bahak, membuat Yura bingung sekaligus sangat terkejut.
" Kau lihat, dia itu memang berpura-pura saja, pintar bersandiwara. ayo kita pergi dari sini." ajak Al yang sudah menarik pergelangan tangan Yura.
Sementara Wizzy masih saja tertawa sendirian duduk di dalam sana dan tidak ada yang berani masuk kebruangan tersebut.
Sebab mereka semua mengira bahwa pria itu sudah gila, walaupun pada kenyataannya pikirannya Wizzy memanglah sedikit bermasalah.
...----------------...
Akhirnya Al mengajak Yura ke taman kota, karena hari juga masih sore, dan juga Yura tadi tidak mengikuti kelas siangnya.
" Sudah kubilang jangan terlalu dekat dengan pria itu bukan? kenapa kau tidak mendengarkannya!"
Al sangat kesal sekali kepada Yura, karena ucapannya tidak di dengarkan oleh kekasihnya itu.
Mereka saat ini sedang duduk di bangku panjang sambil melihat anak-anak kecil bermain-main di area anak-anak yang tak jauh dari tempat mereka duduk.
" Tadi itu Felix datang mencariku dan memberitahuku semua hal tentang masa lalu Wizzy, begitu aku mengetahuinya aku langsung pergi mencarimu Al, tapi kau tidak ada di kelas, dimana pun karena aku sangat mengkhawatirkan keadaanmu." Al masih diam hanya mendengarkan saja.
" Kemudian aku bergegas pergi akan mencarimu ke bengkel, tapi saat di tengah jalan ada seseorang yang mengirimiku pesan, yang mamberitahukan keberadaanmu disini dan aku sungguh tidak tahu kalau itu nomor Wizzy." terang Yura melanjutkan.
" Ini yang terakhir kalinya, dan seterusnya jangan pernah terlibat dengan pria itu, apa kau mengeri." Yura langsung mengangguk pelan.
Tak di pungkiri ia pun juga sedikit takut terhadap Wizzy, apalagi ia masuk ke dakam klub seni yang hampir setiap harinya mereka selalu bersama di satu ruangan.
" Ayo aku antar pulang." ajak Al menggandengan tangan Yura dengan mesra.
...----------------...
Sesampainya di rumah Yura langsung masuk ke dalam, tapi suara gelak tawa dari arah ruang makan dan dapur itu terdengar dari pintu utama.
Yura pun berjalan mendekat, " Ibu siapa yang_
" Aaaagghhkkk.."jerit Yura secara spontan, membuat sang Ibu terkejut.
Suara Yura setelahnya tercekat di tenggorokan saat ia melihat siapa yang sedang berbicara kepada Ibunya.
Seorang pria dewasa yang usianya terpaut sepuluh tahun lebih tua darinya, "Ada apa Yura? kenapa baru pulang?" tanya sang Ibu sambil beranjak dari duduknya.
Lalu menghampiri putrinya yang masih saja diam mematung, Yura merasa seakan dunianya runtuh kembali saat ini.
" Hay, adikku yang cantik. kau tidak memberikan pelukan pada kakakmu ini." celetuk pria tersebut.
Yang tak lain adalah kakak kandung Yu Jie Fang, yang itu berarti kakak tirinya, Yura hanya memasang wajah datar tanpa ekpresi, lalu beralih menatap Ibunya meminta jawaban atas pertanyaan yang tanpa ia ucapkan.
" Yuan baru saja pulang dari luar negeri, dan katanya merindukanmu dan juga Ibu, makanya dia ada disini." jawabnya.
Yura masih diam enggan menatap kakak tirinya tersebut." Bu Yura masuk ke kamar dulu." pamitnya langsung melipir pergi begitu saja.
Tanpa menyapa atau sekedar berbasa-basi kepada kakaknya itu, yang terlihat menahan kesal di dadanya saat ini.
" Maaf ya Yuan, sepertinya adikmu Yura sangat lelah sepulang dari kuliahnya, ayo kita makan saja duluan." ajaknya.
Ibu Yin langsung kembali duduk di hadapan Yuan, sembari mengambilkan makanan untuk putra tirinya tersebut.
Tanpa menyadari ada kejanggalan di antara kedua putra dan putrinya itu, yang mempunyai rahasia besar di balik sikap mereka yang banyak diam, mereka telah menyembunyikan rahasia tersebut secara rapat selama ini.
Sementara Yura, dia jatuh terduduk lemas di bawah guyuran air shower yang terus mengalir, membasahi seluruh tubuhnya yang masih berbalut pakaian lengkap itu.
Pikirannya kembali ke masa lalunya yang kelam saat ia masih remaja dan baru saja duduk di bangku menengah atas.
Masa remaja yang seharusnya ia habiskan untuk bersenang-senang dengan para teman-temannya yang lain, justru direnggut paksa oleh seseorang yang melakukan hal yang sangat memalukan itu.
Lalu menjadikan Yura menjadi sosok gadis yang pendiam dan menjauhi semua orang yang berusaha mendekatinya terutama pada seorang pria.
" Aaakkkhh." teriaknya terendam oleh suara gemericik air hingga suara teriakan tersebut tidak sampai terdengar dari luar.
Bahkan air matanya tak terlihat karena langsung di sapu oleh air yang terus mengalir dengan derasnya.
.~ Visual Yuan Zhao.
.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
.
.
.
.
.
.
.
.tbc
Mohon dukungan dari semuanya yaa,, dengan cara beri like vote dan juga hadiah🌷🌷🌷🌷🌷
Terima kasih yang sudah mampir baca. love u all..