
Di lantai bawah masih terdengar suara keributan yang di timbulkan oleh Al dan juga dua petugas keamanan yang bekerja di perusahaan itu.
" Cepat minggir, atau aku akan bertindak kasar pada kalian berdua. aku hanya ingin bertemu dengan Ayahku, kenapa kalian menghalangi jalanku!" desis Al menatap tajam kedua petugas tersebut.
" Lepaskan dia." titah seseorang yang bersuara dengan begitu lantang dan tegas itu.
Membuat Al dan kedua petugas tadi langsung menoleh ke arah sumber suara dan melihat seorang wanita yang sudah tidak muda lagi. namun masih terlihat cantik.
Dua petugas tersebut membungkukkan sedikit badannya kepada seseorang itu yang tidak lain adalah sang sekretaris, setelahnya mereka pun pamit undur diri.
" Melly kau sudah terlambat datang, baiklah lupakan saja, apa Ayahku ada di ruangannya." kini keduanya memasuki lift khusus untuk para petinggi.
" Maaf, ya Ayahmu ada di atas. apa kabar Al? bagaimana kuliahmu? long time no see." tanya Melly yang memang sudah sangat mengenal Al sedari lama.
" Seperti kau lihat, kuliahku juga tinggal satu semeste lagi, aku yakin kau tahu itu. lalu bagaimana kabar putrimu? aku dengar dia akan masuk ke perguruan tinggi, kenapa tidak kau masukkan saja dia di tempat yang sama denganku!?" tanya balik Al.
" Tidak, dia ingin keluar negeri saja katanya, disini banyak pria nakal." jawab Melly sedikit menyindir putra dari bosnya tersebut.
" Ya seperti aku." sahut Al tersenyum.
Pada akhirnya mereka berbasi-basi hingga mereka sampai ke tempat tujuan yaitu di depan sebuah ruangan yang tampak negitu mewah.
Melly mengetuk pintu besar tersebut lalu segera masuk ke dalam ruangan bersama Al setelah mendengar suara sahutan dari dalam.
" Tuan, putra anda sudah datang." beritahu Melly berdiri menghadap kepada atasannya yang sedang duduk di kursi kebesarannya itu.
Ayahnya Aang segera bangkit dari duduknya dan berjalan menuju ke arah sofa dan duduk disana. " Melly tolong ambilkan dua kaleng minuman dingin." titahnya yang langsung di kerjakan oleh sekretarisnya itu.
" Duduklah sudah lama Ayah sangat mengharapkan kedatanganmu. jadi bagaimana dengan keputusanmu?" tanya Aang yang langsung to the poin kepada putranya tersebut.
" Maaf, kedatanganku bukan untuk menyetujui tentang apa yang sudah kau harapkan itu, melainkan karena aku sedang meminta bantuan darimu." ucap Al masih berdiri tegak, walau Ayahnya itu sudah menyuruhnya untuk duduk di sofa sudut.
Aang terlihat mengerutkan keningnya tidak mengerti, ia masih diam menunggu Al untuk menyelesaikan ucapannya.
Akhirnya Al pun memberitahu Ayahnya tentang apa tujuan ia datang dan meminta bantuan darinya, padahal seumur hidup Al sangat jarang sekali meminta bantuan kepada Ayahnya, namun kali ini karena ia sudah terlalu terdesak oleh keadaan dan sedikit kesulitan untuk berbicara pada keluarga Yura terlebih Ibunya.
Al sebenarnya sudah lama mengetahui bahwa Ibu Yura memang tidak menyukai dirinya, di mulai saat pertama kali mereka bertemu dan berkenalan dan tidak tahu malunya lagi ia justru mengagumi tangan lembut yang sedang ia pegang.
Mungkin karena ia adalah pria yang berandalan dan berengs3k, yang membuat Ibunya tidak merestui hubungan mereka. naluri dan insting seorang Ibu itu sangatlah kuat dan tajam jika itu menyangkut tentang putra-putrinya. jiwa melindungi dan memberikan yang terbaik bagi mereka anak-anaknya adalah nomor satu.
Dan kali ini Al harus mengesampingkan egonya demi bisa menikahi wanita yang ia cintai itu, agar bisa mendapatkan restu dari sang calon Ibu mertua.
" Hanya itu? jadi kau ingin aku juga melamarkan putrinya untukmu?" tanya Aang menatap serius kepada putra bungsunya.
" Aku minta tolong kali ini padamu dengan sangat, karena mereka melihatku hanya dengan sebelah mata saja saat ini." pinta Al dengan sungguh-sungguh menatap Ayahnya.
" Baiklah itu tidak terlalu sulit untukku, tapi tentu saja ini ada syaratnya jika kau menyetujui permintaanku, kau akan mendapatkan wanitamu. bagaimana?" usul Aang mencoba memberi penawaran kepada Al.
Al terdiam beberapa menit, tak lama kemudian ia bergegas pergi untuk masuk kuliah pagi ini. namun sebelum pergi tadi ia sudah memberikan tanggapan kepada Ayahnya, namun itu bukan sebuah jawaban.
Al begitu sangat mencintai dunia balapan, ia juga begitu menyukai dunia otomotif, dua-duanya itu sangat berpengaruh besar baginya, membuat hidupnya pun bergairah selama ini selain tubuh wanita.
Namun jika ia harus mengubur dalam impiannya yang ingin menjadi pembalap internasional dan juga dunia otomotifnya. ia rasa hidupnya akan kurang dan hampa, tanpa warna.
Sungguh Al tengah di lema hebat saat ini, bahkan pelajaran yang tengah di ajarkan oleh sang Dosen sama sekali tidak masuk ke dalam otaknya, di tambah ia tak melihat keberadaan Yura hari ini. benar-benar bukan Al yang seperti biasanya.
" Lihat dia kenapa? sedari tadi tidak ada suara apapun yang keluar dari mulutnya, apa mereka bertengkar kembali?" bisik Prita tepat di telinga kekasihnya Davin.
Davin hanya menghendikkan kedua bahunya tidak tahu, ia pun menduga pasti terjadi sesuatu kepada sabahatnya itu. namun mengenai hal apa ia pun tidak tahu pasti.
" Al kau baik-baik saja?" Davin yang sedari tadi tidak tahan ingin bertanya akhirnya ia pun memberanikan dirinya.
" Oh ya, tentu aku baik-baik saja. maaf sepertinya aku harus pergi, yang lain sudah menunggu di bengkel." pamit Al kepada Prita dan Davin sambil melambaikan sebelah tangannya.
" Kau yakin mereka baik-baik saja? apalagi kemarin Yura sempat di datangi kakak tirinya yang gil4 itu." ujar Prita masih menatap punggung Al yang berjalan semakin menjauh.
" Ya kurasa memang ada sesuatu yang terjadi diantara mereka. kita tunggu saja kabarnya. mereka sudah cukup dewasa, mudah-mudahan kabar yang membahagiakan untuk kita." sahut Davin kemudian menggandeng tangan kekasihnya itu mengajaknya untuk segera pulang.
Al sebenarnya tidak benar-benar datang ke bengkel, itu hanya alasan saja agar ia terhindar dari begitu banyak pertanyaan yang akan mereka lontarkan padanya, dan agar ia bisa pergi dari hadaoan mereka berdua tadi.
Dan sekarang ia justru sudah sampai di kontarkannya, setelah memasukkan motornya ke daalm Al segera mengunci pintu depan, lalu berjalan mengambil beberapa botol minuman alkoholnya di dalam lemari pendingin dan diletakkannya di atas meja kecil, sedangkan dia duduk di karpet bawah, ia terus menenggak minuman itu, berharap bisa mengurangi rasa pening di kepalanya.
...----------------...
Sementara Al sedang menikmati malam panjangnya dengan banyak minum, Yura justru tengah bersiap akan beristirahat.
Yura merebahkan tubuhnya di atas ranjang sambil memeluk guling yang sebagai teman tidurnya setiap malam.
" Al kau sedang apa? bahkan baru sehari, aku sudah merindukanmu." lirih Yura sembari memejamkan kedua matanya.
.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
.
.
.
.
.
.
.
.tbc
Mohon dukungan dari semuanya yaa,, dengan cara beri like vote dan juga hadiah🌷🌷🌷🌷🌷
Terima kasih yang sudah mampir baca. love u all..