Bad Boy I Love You

Bad Boy I Love You
Pelecehan



Setelah kelas usai Yura berjalan menuruni tangga, ingin cepat pergi ke gedung kesenian.


Dari atas AL juga menuruni tangga dan melihat Yura, ia pun memanggil-manggil Yura sambil melangkah cepat.


"Yura tunggu dulu, Hei kau sudah mau pulang sekarang?" tanya Al mencoba menghentikan Yura.


"Aku akan pergi ke ruang kesenian," dengan berat Yura menjawabnya.


"Oh kau anggota Klub kesenian, berarti kita searah, aku ingin bermain basket di sebelah gedung itu, ayo kita barengan saja," seru Al mencoba untuk menggandeng tangan Yura.


Yura langsung menjauhkan dirinya, "Tidak aku bisa pergi sendiri." tolak Yura cepat ingin segera pergi.


"AL cepatlah semua sudah berkumpul." sahut salah seorang teman AL yang mengajaknya bermain basket.


"Baiklah tunggu sebentar, Yura apa kau punya uang, bisa kau pinjami uang padaku sedikit ,aku pasti akan kembalikan, akan aku ganti dua kali lipat malahan." pinta Al.


Dan Yura pun segera merogoh dompet di dalam tasnya, segera menyodorkan beberapa lembar uang padanya.


"Eeh, tunggu pinjamkan ini juga padaku, terima kasih ya," ucap Al sembari menarik tali rambut milik Yura sebelum meninggalkan gadis itu.


......................


*Di ruang klub kesenian


Yura dan beberapa mahasiswa lainnya tengah melukis dengan imajinasi mereka masing-masing.


beberapa mahasiswi sepertinya tengah asyik mengobrol di samping, memandangi beberapa mahasiswa pria yang tengah bermain basket di sebelah gedung itu.


"Hei kau sedang lihat apa?" seru salah satu siswi wanita.


"Lihat itu di lapangan basket, banyak pria tampan di sana." jawab teman wanita itu.


"Itu AL sama Davin, pasti mereka lagi taruhan." seru wanita tadi yang menghampiri.


"Siapa pria yang tinggi itu, yang tampan itu, manis sekali pakek iket rambut pink begitu," seru kawan wanita lainnya.


"Yang itu namanya Alrick." celutuk salah satu wanita dan mereka pun tertawa bersama memandangi Al yang tengah tersenyum senang.


Yura tidak ingin melihat, hanya mendengarkan mereka saja, dan meneruskan lukisannya tanpa terasa satu persatu mahasiswa pun meninggalkan ruangan itu.


...----------------...


Ada seseorang tanpa mengetuk pintu, masuk ke dalam ruangan itu, tampak mencurigakan ia juga mengunci pintu tersebut. berjalan mendekati Yura yang hanya seorang diri di dalam sana.


"Oh, Pak Kelvin, ada hal apa Bapak datang kesini,?" tanya Yura yang tengah merasakan tubuhnya gemetar karena takut.


"Tidak ada, aku hanya kebetulan lewat saja, ingin lihat-lihat disini, apa yang sedang kau lukis itu?" sambil berjalan terus berdiri ke belakang kursi yang di duduki Yura.


Tangan dosen itu pun mulai menyentuh bahu Yura, dengan sangat lembut, Yura merasa terancam merinding seluruh tubuhnya.


"Hmmmm...rambutmu wangi sekali Yura," ucapnya memejamkan mata seraya tangannya mulai merambah ke telinga Yura.


Yura hanya diam membisu tanpa bisa melawan, netranya memejam malah membuat ia mengingatkan kembali kejadian masa lalunya yang amat sangat buruk.


Saat tangan dosen itu akan mulai menjelajah turun ke dada Yura, Yura hanya bisa memejamkan matanya menahan rasa takut dan gemetar.


Kllaakkk..


Tiba-tiba dari arah belakang ada suara kayu terjatuh di lantai. pandangan keduanya pun langsung tertuju ke arah tersebut.


"Sejak kapan bapak Kelvin berubah berkonsultasi ke klub kesenian.?" tanya AL sinis.


"Kenapa kau sembunyi-sembunyi?" tanya guru Calvin tanpa menjawab peryanyaan dari AL, sedangkan Yura hanya diam membisu mendengarkan.


"Aku tidak sembunyi -sembunyi Pak, aku sangat terang-terangan, bapak mungkin lupa ada pintu barang di belakang sana, sangat dekat dengan lapangan basket." jelas Al.


"Kau bukan anggota klub kesenian, untuk apa kau datang kesini?" Dosen itu pun mulai gusar dan salah tingkah.


"Jadi karena bukan anggota, tidak boleh masuk kesini begitu Pak? padahal aku mau bergabung dalam klub kesenian." Al masih dengan datar berbicara.


"Lupakan saja, selain olah raga kau tidak bisa melukis." semakin gelisah sang dosen.


"Jangan sembarang bicara kamu, aku akan menuntutmu karena telah menghina seorang guru." elak Calvin.


"Pak jangan buru-buru mengancam orang, aku hanya mengumpamakan saja." jelas Al lagi.


AL meraih sebuah cutter di meja dan berjalan pelan, sambil memainkan cutter itu maju mundur sehingga mengeluarkan bunyi.


"Ke-napa kau bawa itu? kau mau apa?" Calvin mulai terbata bicaranya.


"Aku tidak mau melakukan apa-apa," jawab AL sambil terus berjalan pelan.


" Aku hanya ingin,," Al mengambil pencil di dekatnya." Meraut pencil saja. aku tidak mungkinkan menggunakan alat ini untuk mencoret wajah bapak yang alim dan jujur itu." semakin sinis pandangan AL tertuju pada Dosen Calvin.


AL berjalan terus mendekati mereka, suana menjadi sangat menegangkan, membuat dosen itu pun berangsur mundur ke belakang, Yura yang melihat AL membawa benda tajam pun langsung beranjak dari tempat duduknya menghadang AL, membuat kursi itu pun mengeluarkan bunyi.


"Kau sudah gila, benar-benar sudah gila, aku malas meladeni mahasiswa yang seharusnya sudah berhenti." dengan ancang-ancang Dosen Calvin itu pun berlari keluar dari ruangan seni.


"Tidak seru aahh, baru saja akan memulai permainan sudah mengalah duluan."seru Al sambil melemparkan cutter tersebut ke sembarang arah.


"Dan kau bodoh sekali membiarkan orang seenaknya memegangmu, tapi kau malah tidak menodong uang sepersen pun padanya." Yura hanya diam membisu menahan tangisnya.


"Kau tidak suka? kalau tidak suka jangan lemah seperti ini, lemah tidak ada gunanya teman, dan lihat ekspresi wajahmu ini hanya akan membuat orang lain melakukan hal yang lebih jauh lagi padamu." lirih Al berjalan lebih dekat pada Yura.


AL sebenarnya masih sangat kesal melihat ulah dosen itu tadi, dia mulai melihat-melihat sekeliling ruangan ,lalu pandangannya melihat gambar di depannya.


"Waaahhh, apa kau yang menggambar ini, sangat mirip sekali, seperti nyata ya!?" seru Al melihat lukisan Yura.


AL mulai tertegun menatap lukisan bayi yang sedang di peluk oleh seorang Ibu dengan kasih sayang.


"Apa kau menyukainya,?" tanya Yura karna melihat raut wajah AL yang berubah entah tengah memikirkan apa.


"Yaaa aku suka, aku jadi teringat pada Ibuku." jawab Al mengingat kenangan masa lalunya.


"Kau boleh simpan untukmu, kalau kau suka." Yura berbicara sambil menunduk.


"Boleh untukku?" tanya Al tak percaya.


"Yaa kenapa tidak, tapi ini belum selesai, aku akan segera menyelesaikan terlebih dulu. "jelas Yura.


"Baiklah kalau itu tidak membuatmu keberatan, oo iya ini aku kembalikan uangmu, yang aku pinjam tadi, sudah ku ganti menjadi dua kali lipat sungguh." sambil menyerahkan gulungan uang yang di iket tali rambut milik Yura ke dalam telapak tangan Yura.


"Tidak, aku tidak keberatan sama sekali, malah aku suka, mungkin juga kalau sudah habis menggambar akan aku buang setelahnya." terang Yura serius.


"Sayang kalau di buang, Baiklah, aku pulang dulu yaa..terimakasih atas pinjamannya tadi." seru Al.


"Cepatlah pulang jangan sendirian di tempat yang sepi, bye teman." ucap AL lagi setelahnya meninggalkan Yura yang hanya diam saja.


Yura hanya memandangi punggung AL sampai benar-benar menghilang dari balik pintu belakang.


Yura pun mulai mengemasi barang-barang miliknya dan bergegas untuk segera pulang, mengingat lagi pesan dari AL barusan untuknya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


.


.


.


.


.


.


.tbc


Mohon dukungan dari semuanya yaa,, dengan cara beri like vote dan juga hadiah🌷🌷🌷🌷🌷


Terima kasih yang sudah mampir baca. love u all..💓💓