
"Al berusahalah, bawa PS2-nya pulang ke rumah." teriak Felix menyemangati Al.
"Iya berusahalah, jangan bawa permen pulang, sangat memalukan." timpal Davin.
Ia sengaja menyindir Felix yang langsung mendapatkan sebuah tonyoran di kepalanya.
Al sudah mengambil salah satu bola, lalu meng-dribbling terlebih dahulu sabelum memasukkannya ke dalam ring.
Satu bola masuk sempurna, lalu menyusul bola kedua, ketiga dan selanjutnya.
"Sudah lima bola, satu bola lagi dapat PS2, Al berusahalah." teriak Felix lagi.
"Aku tambah tiga ribu lagi."
"Kau itu tahunya hanya berjudi saja." ujar Davin krpada Felix.
"Karena aku suka berjudi." balasnya sambil tersenyum.
"Yey, dapat PS2-nya." seru Davin sambil berpelukan dengan Felix bersorak senang saat melihat Al berhasil memasukkan enam bola.
Saat Davin akan mengambil PS2-nya ternyata sang panitia berucap padanya.
"Lihat dia masih ingin bermain." membuat Davin berlajan kembali menghampiri Felix.
"Al jangan buat onar lagi, apa kau ingin mendapatkan cincin dan kalung permata hati itu?" seru Felix yang kini baru mengerti.
"Al berusahalah, kalung dan cincin itu milikmu!" seru Davin.
Tanpa menggubris ucapan dari kawan-kawannya itu, Al terus meng-dribbling bola dan akan memasukkannya kembali ke dalam ring.
...----------------...
"Baik, produk yang akan di lelangkan berikutnya sangat besar sampai tidak bisa ditaruh di atas panggung kita." seru sang ketua panitia pelelangan pada seluruh mahasiswa-mahasiswi yang sudah berkumpul di bawah unit area.
"Tapi aku yakin sekali kalian pasti semua sudah tahu apa yang akan kami lelangkan bukan? dan ya dia adalah pangeran tertampan di kampus kita, dia adalah Alrick Alexander." tambah sang Panitia.
Seketika membuat suasana riuh tepuk tangan dari para wanita-wanita berteriak histeris, begitu antusiasnya.
"Baiklah sekarang kita mulai buka harga ya, barapa?" teriak panitia lagi.
"Lima ribu."
"Sepuluh ribu."
"Dua puluh ribu."
"Lihat, kenapa orangnya tiba-tiba bertambah banyak?" kini Yura dan Prita sedang mengintip segerombolan wanita-wanita yang sedang berteriak tawar menawar harga untuk melelang Al.
"Benar, dan sebagian besar adalah wanita. lihat pandangan mereka sudah berubah, menakutkan sekali." sahut Prita sama terkejutnya.
"Tiga puluh ribu."
"Lima puluh ribu."
"Baik, sudah lima puluh ribu dollar, ayo siapa lagi yang mau menaikkan harganya?"
"Apa ini sungguhan? dimana Alrick?" tanya salah satu wanita.
"Benar dimana dia, Al tidak ada, tapi suruh kami buka harga." sahut yang lainnya.
Membuat sang panitia pun kebingungan, kemudian salah satu dari panitia naik ke podium lalu membisikkan sesuatu pada ketuanya.
Tak terkecuali Yura dan Prita yang bisa mengintip saja dari ujung belakang sana.
"Dan mungkin saja sekarang Al sudah mendapatkan keduanya, huuu." tambah panitia lagi membuat suasana sudah tak terkendali.
"Enam puluh lima ribu."
"Tujuh puluh ribu."
"Delapan puluh ribu."
"Astaga, ada yang menaikkan sampai Delapan puluh ribu," gumam Yura.
"Delapan puluh ribu pertama, kedua, oke kita_
"Seratus ribu." celetuk seseorang yang berdiri paling belakang membuat semua orang terkesiap dan terkejut, mereka semua langsung menatap orang itu.
Tak terkecuali Yura dan Prita yang juga tak menduga akan ada yang membelinya dengan harga tinggi.
Nampak dua orang wanita berjalan ke depan mendekat kepada ketua panitia. tapi Yura dan Prita tidak bisa melihat wajah mereka.
Karena mereka berdua sedang membelakangi Yura dan Prita saat ini, "Wah siapa wanita ini? baiklah seratus pertama, seratus kedua, selamat sudah terjual seratus ribu dollar." seru sang panitia.
"Siapa wanita itu?" gumam Prita, membuat Yura sendiri juga penasaran tapi tidak bisa melihatnya.
"Maaf sebenarnya aku tidak membawa uang tunai sebanyak itu, tapi ini aku punya jam tangan mungkin harganya lebih dari seratus ribu." ucap salah satu wanita itu pada sang ketua panitia sambil menyerahkan sebuah jam tangan yang terlihat sangar mahal.
Membuat sang ketua pun menerimanya, "Sekarang bisamembawaku pergi menemui Alrick?" lanjutnya.
...----------------...
"Howww,, kau mendapatkannya." seru Felix ikut senang, mereka bertiga bersorak gembira.
Tanpa sadar bahwa ada dua wanita yang tadi sedang berjalan mendekat pada mereka, tiba-tiba saja salah satu wanita itu menampar Al dengan sedikit emosi.
PLAAAAKKK...
Tamparan itu sungguh sangat keras hingga membuat semua orang menoleh pada mereka.
Terlebih Al langsung memegang pipi sebelahnya yang terkena tamparan tersebut, sambil menoleh siapa yang berani menampar wajah tampannya itu, dan seketika tubuhnya mematung terkejut," Yu Jie Fang". lirihnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
.
.
.
.
.
.
.tbc
Mohon dukungan dari semuanya yaa,, dengan cara beri like vote dan juga hadiah🌷🌷🌷🌷🌷
Terima kasih yang sudah mampir baca. love u all..