Bad Boy I Love You

Bad Boy I Love You
Dia Menemukanku.



Walau terlihat sedang tertawa senang seperti itu, namun yang sebenarnya pikiran Al justru sedang memiikirkan sesuatu yang mungkin menyangkut ucapan Yura padanya tadi.


"Baiklah aku pergi sekarang." seru Al begitu ia sudah selesai sarapan dan akan berjalan keluar pintu.


Namun panggilan Yura, membuatnya Al pun berhenti, " Tunggu." cegah Yura mencekal lengannya.


" Apa? oh.." Al langsung mengecup singkat bibir Yura seolah wanita itu mengingatkan jika ia belum menciumnya , membuat Yura terkekeh, karena bukan itu yang ia inginkan.


" Bukan itu, tunggu sebentar." Yura berjalan menuju ke meja makan untuk mengambil sesuatu. tak lama ia kembali dengan membawa kotak nasi lalu menyodorkannya kepada Al.


" Bawa ini untuk makan siangmu." pesannya kemudian mengecup sebelah pipi Al.


Al terdiam sesaat, "Terima kasih, aku pergi sekarang." setelahnya ia pun bergegas pergi mengambil motornya terlebih dahulu lalu melajukannya ke arah bengkel milik temannya.


Sepeninggal Al, Yura langsung membereskan peralatan dapur dan membersihkan pakaian serta rumah agar terlihat rapi.


Siang harinya Al langsung membuka kotak bekal yang di siapkan oleh Yura tadi pagi, tak lupa ia mengajak serta karyawan yang lain untuk makan siang bersama namun mereka lebih memilih majan siang di luar seperti biasa.


Senyum terus terukir di bibirnya, membuatnya melengkung ke atas dan itu semua tak luput dari pandangan yang lain membuat para temannya itu saling bertanya-tanya.


" Kau lihat sudah sepekan ini suasana hati Al sedang berbunga-bunga." bisik salah satu temannya kepada temannya.


" Ya kau benar, sudah pasti semua itu karena kekasihnya itu." bisik yang lainnya.


Sedangkan Al yang menjadi bahan topik pembicaraan itu tak mendengar ucapan dari teman-temannya ia hanya terfokus mencicipi bekal yang di buat Yura dengan cinta.


Cinta? Al langsung menggelengkan kepala tersenyun geli, tidak pernah sekalipun ia bayangkan dirinya akan merasakan yang namanya jatuh cinta, karena memang selama ini ia hanya menganggap wanita itu sama saja tidak ada yang special, wanita sangat egois sama seperti Ibunya yang hanya demi kesenangannya ia rela menukarkan kebahagiaan anaknya demi kebahagiaannya sendiri.


Lalu Al pun memikirkan bagaimana jika ia dan Yura menikah nanti, apa akan jauh lebih bahagia dari sekarang atau sebaliknya?


Al bahkan tidak memikirkan bagaimana jika Ibu Yura tidak merestui hubungan mereka, yang penting ia sanggup untuk membahagiakan Yura ke depannya.


Dan jika memang ia harus kembali pulang ke rumah adalah adalah keputusan yang terbaik, ia pun akan melakukannya jika memang itu permintaan dari sang kekasih.


Dan otomatis ia juga harus siap untuk belajar bekerja di kantor sang Ayah, karena siapa lagi yang akan meneruskan perusahaan itu jika bukan dirinya, tidak mungkin Erick mau mengurusnya.


Erick sudah memiliki perusahaannya sendiri bersama teman-temannya, sedangkan dia masih berstatus mahasiswa, masih harus hanyak belajar jika memang ia sudah siap memghidupi anak orang.


...----------------...


Tak berbeda jauh dengan Al, Yura kini tengah duduk termenung di atas ranjang sembari memikirkan hal yang hampir sama dengan apa yang tengah Al pikirkan.


Bagaimana masa depannya nanti jika memang ia dan Al akan menikah, ia sama sekali tak memikirkan tentang materi, materi masih bisa di cari bersama-sama.


Ini masalah Ibunya yang sepertinya tidak merestui hubungannya dengan sang kekasih, Yura tahu dari awal pertemuan Al dengan Ibunya, Ibunya itu sama sekali tidak menyukai Al, lalu bagaimana jadinya jika ia nekat menikah dengan Al, sementara Ibunya tidak merestui.


Yura menjadi sangat pening memikirkan itu semua, apalagi semenjak kejadian lalu, ia mencelakai kakak tirinya itu hingga sekarang ia belum mau kembali pulang ke rumah itu.


Entah bagaimana keadaan pria itu sekarang sudah lebih baik atau lebih buruk, namun itu semua sama sekali tidak Yura pikirkan, justru ia ingin pria itu lenyap dari muka bumi ini.


Saat Yura tengah melamun karena begitu banyaknya pikiran, suara ketukan dari arah pintu depan mengejutkannya, hingga membuatnya sedikit terlonjak dari atas ranjang.


Yura tak langsung beranjak, beberapa menit ia diam menunggu, namun pada akhirnya Yura memberanikan diri untuk berjalan ke depan dan membuka pintu tersebut.


Ceklek...


Begitu pintu terbuka, Yura tak mendapatkan adanya seseorang yang ada di depan pintu, ia pun melangkah keluar untuk melihat siapa orang yang tengah menjahilinya.


" Disini kau rupanya." ucap seseorang yang suaranya begitu familiar di telinga Yura, begitu ia menoleh Yuan sudah berdiri di belakangnya tak jauh darinya.


Begitu menyadari celakan itu terlepas, dengan langkah seribu Yura segera masuk ke dalam rumah dan menutup pintu itu kembali dengan sangat cepat karena panik, namun kaki Yuan berhasil mencekal pintu tersebut membuat Yura kewalahan dan terus menendang, menginjak dengan kekuatan yang ia milik akhirnya pintu bisa tertutup rapat Yura pun segera menguncinya.


Yura sangat ketakutan di dalam sana, hingga suara dering ponsel miliknya membuatnya terkejut, Yura segera mengangkat panggilan tersebut, tidak melihat dulu siapa peneleponnya.


" Hallo tolong aku, aku mohon dia ada disini sekarang. aku sedang bersembunyi di dalam rumah.." ucap Yura dengan napas yang memburu.


" Hallo Yura kau kenapa? siapa yang datang?" sahut suara disana dengan nada yang ikut panik, yang ternyata adalah suara sahabatnya Prita.


" Prita, syukurlah tolong aku, dia ada disini sekarang_


BRUUAAKKKKK..


Belum selesai Yura berbicara pintu itu sudah di tendang oleh Yuan dari luar, " Arrgghhhh." teriak Yura sembari melempar polselnya ke atas ranjang tanpa memutus panggilan tersebut.


" Kenapa kau harus menghindariku? kenapa kau bersembunyi disini, kita pulang yaa, ini bukan rumahmu." rayu Yuan mencoba mengajak Yura pulang, ia melangkah mendekati Yura.


Sedangkan Yura berjalan semakin mundur untuk menghindari pria itu, begitu ia tepat di depan pintu Yura segera berlari keluar terus berlari menuju ke atap rumah.


Yuan segera menyusul Yura, yang sedang berlari kesetanan itu, begitu menyadari di atas buntu, ia tertawa senang.


" Sial." umpat Yura, yang menyadari di atas tidak ada jalan keluar, karena saking paniknya.


" Kau mau kemana adikku sayang, kau itu hanya milikku, tidak ada yang boleh memilikimu selain aku." ujar Yuan mengklaim Yura sebagai wanitanya.


Yura melotot mendengar celotehan yang keluar dari mulut pria berengs3k itu, melempar benda apapun yang ada di sekitarnya saat menyadari pria itu semakin dekat dengannya.


"Jangan mendekat, atau aku akan melompat dari atas sini." ancamnya yang sudah berdiri di pembatas pagar tembok.


" Jangan kau lakukan itu sayang, aku tidak akan menyakitimu, percayalah." rayu Yuan kembali, dan itu terdengar begitu menjijikkan di telinga Yura.


" YURAA." teriak seseorang dari arah samping.


.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


.


.


.


.


.


.


.


.


.tbc


Mohon dukungan dari semuanya yaa,, dengan cara beri like vote dan juga hadiah🌷🌷🌷🌷🌷


Terima kasih yang sudah mampir baca. love u all..