
Di sebuah kafe dan bar seorang pria sedang duduk di bangku paling pojok sambil memainkan ponselnya ia tengah menunggu kedatangan seseorang yang mengajaknya untuk bertemu malam ini di tempat yang sudah di janjikan sore tadi.
Ya pertemuan itu memang terbilang mendadak, Felix di hubungi seseorang yang mengatakan bahwa dia mengetahui rahasia besar yang menyangkut kematian kakaknya Liong. dan itu berhasil membuatnya segera bergegas datang tanpa berpikir panjang lagi.
Dan itu adalah kabar yang ia tunggu selama ini, sebenarnya ia masih penasaran apa motif pelaku yang membunuh kakak kandungnya itu? mengingat orang yang membunuh Kakaknya itu juga di nyatakan sudah meninggal dunia.
Sudah semenjak kejadian itu Felix menghindari hampir semua orang yang dulu dekat dengannya, salah satunya adalah adik dari pembunuh Kakaknya itu yang tidak lain adalah kekasihnya sendiri.
Sudah hampir satu jam-an menunggu dan hampir habis minuman yang ia pesan tadi, namun pria yang menghubunginya itu tak kunjung datang, membuatnya ingin segera pergi dan pulang saja karena sudah terlalu lama menunggunya.
Tak lama muncullah seorang pria yang berbalut pakaian formal memakai jas dan juga dasi. membuat Felix menatap curiga kepada orang tersebut. karena ia mengira orang yang datang adalah orang dari kalangan biasa saja seperti dirinya.
" Maaf apa kau yang menghubungiku tadi sore?" tanya Felix sambil duduk kembali saat orang tadi juga sudah duduk di hadapannya.
" Benar sekali. seperti yang sudah aku katakan sebelumnya, bahwa kematian Kakakmu itu adalah murni pembelaan diri sang pelaku. kau pasti tahu sendiri Kakakmu itu adalah ketua preman di kota besar ini. jadi aku hanya ingin meluruskan saja." seru pria berjas itu yang tidak lain adalah Jack asisten dari Jupiter.
Felix terdiam sejenak, ia memang sudah mengetahui bahwa sang Kakak adalah Ketua preman, hanya melihat penampilannya saja semua orang pasti sudah bisa menebak itu. sebab Felix pun kemarin juga berpenampilan yang sama seperti Kakaknya selepas Kakaknya pergi dan meninggalkannya seorang diri.
Mungkin itu adalah salah satu cara yang Felix lakukan untuk melampiaskan rasa sedihnya juga rasa kesalnya yang bercampur menjadi satu. dengan merubah sikapnya yang sedikit nakal, berandalan penampilannya yang seperti preman sedikit membuatnya nyaman, sebab tak banyak wanita yang akan menggodanya. apalagi sudah tidak ada lagi orang yang akan mengusik hidupnya terlepas pergi dari kekasihnya juga.
Namun ia masih berpikir bahwa Kakaknya memang sengaja di bunuh atau ada motif yang lainnya, apalagi kejadiannya saat itu, ia baru saja tiba di kota besar ini, karena sebelumnya ia tinggal di kota kecil kelahirannya sana yang sedikit jauh jaraknya. jadi saat ia mendengar Kakaknya telah meninggal karena di bunuh orang, ia pun ikut beramsumi demikian. karena ia masih sangat muda saat itu dan masih sangat labil, sehingga ia tidak mencari bukti atas kebenarannya terlebih dahulu, justru ikut-ikutan.
Namun lambat laun, ia yang semakin beranjak dewasa itu apalagi sudah masuk di perguruan tinggi ia merasa ada yang janggal dari peristiwa tersebut saat sudah lama tinggal di kota besar ini, apalagi kekasihnya itu hingga detik ini masih saja berusaha mendekatinya, dan ingin menjelaskan yang sebenarnya terjadi. namun Felix seolah menutup telinga dan juga matanya, tidak ingin mendengar atau melihat apapun dari wanita itu lagi yang statusnya masih menjadi kekasihnya.
Mereka memang masih memiliki ikatan namun Felix-lah yang menggantung hubungannya tersebut, sebab ia pergi dan meninggalkan kekasihnya itu tanpa ada kata perpisahan dan juga tanpa berpesan apapun.
" Tunggu!! kenapa kau terlihat sangat membela pelaku yang katanya sudah meninggal? apa kau masih ada hubungan dengannya? jika ia baiklah mari kita akhiri saja pertemuan ini, karena sudah tidak ada lagi yang kita bahas." setelahnya Felix beranjak dari tempat duduknya, akan melangkah pergi, namun Jack kembali bersuara.
" Apa kau mengenal nona Jhenie?" tanya Jack masih terlihat duduk tenang di tempatnya menatap Felix., membuat Felix pun mengurungkan niatnya.
Felix kembali duduk, dan terus menatap pria itu, " Ada apa dengan Jhenie?" Felix terlihat sedikit bingung bagaimana pria ini mengenal wanita itu.
" Apa kau suaminya?" tebaknya menduga-duga. melihat penampilan Jack, Felix yakin jika pria itu adalah dari kalangan menengah ke atas dan sudah ia duga pasti bisa membeli rumah di perumahan elit yang di tinggali oleh Jhenie waktu itu pernah ia datangi.
" Bukan, tepatnya aku adalah asisten dari suaminya nona Jhenie." Jack memperkenalkan dirinya pada Felix. dan menjelaskan kedatangannya selain masalah tentang kematian Aliong.
" Kenapa aku tidak boleh bertemu dan menghubungi Jhenie, dia adalah temanku. ada apa dengan bosmu itu?" tanya Felix, saat Jack menyampaikan pesan bosnya itu padanya.
" Maaf sebaiknya kau jauhi saja nona Jhenie, sebab mereka sudah sangat bahagia sekarang ini, menikmati moment kebersamaan mereka bedua," sahut Jack masih dengan santainya.
" Tunggu, dia tidak sedang cemburu padaku bukan? jika benar begitu, bilang padanya. ia tak perlu merasa cemburu padaku, sebab aku tidak ada hubungan apapun dengan Jhenie istrinya itu." lanjut Al yang sudah beranjak akan pergi.
Jack masih terdiam, kemudian ikut berdiri, berdehem pelan ia memang tidak di beritahu alasan apa saat bosnya itu tidak memberi pesan tersebut. di tambah ke pulangan mereka berdua dari liburannya kemarin, bosnya itu semakin menjadi-jadi, ia semakin posesif terhadap istrinya. ia bahkan tidak memperbolehkan istrinya itu untuk keluar rumah jika bukan dengan dirinya.
" Baiklah jika tidak ada yang di sampaikan lagi aku akan pergi, terima kasih atas infonya, walau aku sudah ikhlas menerima kematian Kakakku. hanya saja aku ingin mengetahui yang sebenarnya." pamit Felix berjalan pelan meninggalkan meja mereka tempati tadi.
Felix tidak tahu saja bahwa sebenarnya Kakak dari kekasihnya itu masih hidup dan sekarang justru tengah menjaga wanitanya dari pria seperti dirinya itu.
Sementara itu di tempat lain tepatnya di perumahan elit, pagi ini Piter menggurutu uring-uringan, sebab mendadak ia ada pertemuan penting yang harus ia temui di kantor dan tak bisa di wakilkan sebab tamunya ini adalah orang luar negeri yang sudah sangat lama ingin ia jumpai.
Pengusaha muda yang hampir sama dengan dirinya itu di tambah ada proyek pula yang ada di luar kota juga yang sudah hampir finishing, maka dari itu ia pun di suruh kesana untuk melihat hasil dari jerih payah sang Arsiteknya.
" Sayang, mungkin aku akan pulang terlambat malam ini, bagaimana ini?" keluh Piter yang sedari tadi menmpel di punggung sang istri.
Jhen hanya bisa menghela napas lelahnya, " Baiklah pergi saja, aku nanti akan pergi sendiri, kau tak perlu khawatir. aku akan mengajak Bibi untuk menemaniku." yakinkan Jhenie agar suaminya itu bergegas pergi, padahal pakaian sudah lengkap bersih tinggal hanya pergi saja, namun Jhenie merasa suaminya itu berlebihan hingga bersikap seperti itu.
Dan Jhen yakin sepertinya semenjak pertemuannya dengan Felix tempo hari yang membuat seorang Jupiter sedikit banyak berubah, semakin posesis terhadap dirinya.
" Baiklah, satu bodyguard akan menemani kalian nanti, tetap jaga diri baik-baik. di sana pasti nanti akan bertemu banyak orang, jadi jaga pandanganmu dari laki-laki lain, paham.!!" pesan Piter begitu tegas kepada sang istri, karena ia tidak ingin kecolongan lagi.
Sebegitunya cemburu Piter pada Felix hingga ia meminta satu orang yang ia percayai untuk menjaga istrinya kemana pun istrinya itu pergi, jangan sampai ia meninggalkannya sendirian atau bertemu dengan orang lain di luar sana, bisa-bisa kepala sang bodyguard yang menjadi taruhannya.
Dih ini orang kalau sedang cemburu kenapa lucu sekali ya? namun aku sedikit senang ia tak lagi bersikap kasar seperti sebelumnya padaku.
.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.tbc
Mohon dukungan dari semuanya yaa,, dengan cara beri like vote dan juga hadiah🌷🌷🌷🌷🌷
Terima kasih yang sudah mampir baca. love u all..