Bad Boy I Love You

Bad Boy I Love You
Membuat Anda Bahagia



Sudah satu pekan ini Al bergabung di perusahaan sang Ayah, dan itu sungguh sangat menarik perhatian Erick saudara kembarnya, yang mulai terusik. pria yang biasanya terlihat begitu dingin hingga tidak ingin mencampuri urusan orang lain yang menurutnya tidak ada gunanya itu.


Namun ini berbeda sebab ini bukan mengenai orang lain, melainkan saudara kembarnya yang hanya berbeda beberapa menit saja. jika melihat suadaranya Al menjadi pria yang jauh lebih baik dari sebelumnya, lebih bertanggung jawab, serta bisa mengambil keputusan yang terbaik bagi masa depannya. bukankah seharusnya ia senang dan bangga sebagai saudara kembarnya.


Namun Erick tidak, dengan kata lain. bukan tidak suka Al sudah berubah lebih baik, namun ini lebih ke kata kasihan atau prihatin. sebab ia sangat paham betul bagaimana sikap, serta sifat adiknya Al yang seperti apa? sebab ini bukanlah Al yang sebenarnya, tetapi orang lain.


Sebab Erick tahu Al tidak suka jika berada di ruangan yang serba tertutup, banyak aturan sana-sini, terlenih jika ia harus terkurung di dalam rumah istana itu. Al merasa seperti di penjara di dalam sangkar emas. ibarat burung ia ingin bebas, bebas bisa merasakan terbang kemana saja sesuka hatinya.


Sudah berulang kali juga Erick memibta Al untuk mengundurkan diri saja jika tidak mampu, namun Al menolak dengan kata alasan jika ia ingin memenuhi janjinya, sebab tanpa Ayahnya ia tidak bisa meluluhkan hati Ibunya Yura.


Apalagi rencana pernikahan mereka tidak lama lagi, dan itu membuat Al sadar, jika tanpa Ayahnya ia tidak akan mungkin bisa menikah dengan kekasihnya, sebab tidak ada orang yang bisa membuat Ibu Yura yakin jika bukan bantuan dari sang Ayah.


Walau ini bukan keinginannya, ia akan berusaha menerima konsekuensinya, bagaimana pun caranya ia akan berusaha. " Hati-hati, tunggu di tempat biasa nanti aku jemput." Al mengecup bibir Yura singkat dan juga mengecup keningnya sesaat sebelum Yura turun dari mobil.


Yura hanya mengangguk sambil melambaikan tangan pada Al, perlahan mobil pun melaju hingga menghilang dari pandangan Yura. kemudian ia berbalik dan berjalan masuk ke halaman kampus.


Yura berharap Al mau kembali kuliah seperti biasa, atau setidaknya ambil kuliah karyawan seperti Ayahnya katakan pekan kemarin, sebab tidak ada Al di kampus membuatnya tidak bersemangat. Yura pun rela jika ia harus ikut kuliah karyawan, asalkan bersama kekasihnya.


Memang sudah sepekan ini Al selalu mengantar jemput kekasihnya di kampus, Yura sebenarnya terus menolak namun apalah daya Al memanglah keras kepala. Al hanya tidak ingin Yura naik taksi atau bis umum, sementara motor sportnya di sita oleh sang Ayah.


Ayahnya memberikan fasilitas mobil pribadi beserta seorang supir khusus hanya untuk dirinya dan juga Yura, walau Al bersikeras merasa tidak memerlukannya, namun ia sadar jika tidak menggunakan mobil tersebut, lalu ia akan pergi ke kantor dengan menggunakan apa?


Beberapa menit kemudian mobil yang di tumpangi Al sudah sampai di gedung tinggi milik sang Ayah. mobil berhenti tepat di depan lobby, salah seorang satpam membukakan pintu bagian belakang sambil sedikit membungkuk, Al segera turun dan berjalan masuk dan beberapa karyawan yang masih berada di lantai bawah segera membungkuk memberi hormat pada putra pemilik perusahaan.


Padahal Al sama sekali tidak merespon mereka semua, di lirik saja tidak. namun itu sudah ia jalani selama beberapa hari mulai bekerja disini. semenjak dirinya di lantik sebagai penerus perusahaan Ayahnya tiga hari yang lalu, ada banyak karyawan yang membicarakan putra bosnya itu di belakang sana.


Banyak yang mendukungnya, namun tak sedikit juga dari mereka yang mencibir bahkan terang-terangan menolak Al sebagai penerus perusahaan. yang mana Al yang di anggap mereka masih anak ingusan dan jauh di bawah kata standart, tak layak di sebut sebagai pemimpin perusahaan besar ini.


Aang yang mendengar itu semua memanas, ia begitu geram dan menyuruh Melly untuk memberi peringatan keras kepada para bawahannya jika bersikap kurang ajar pada putranya kembali, maka bersiap-siap juga angkat kaki dari perusahaan ini. membuat semuanya bungkam, hingga tidak ada seorang pun yang berani mengganggu ataupun membicarakan hal yang buruk lagi pada Al.


...----------------...


Dua minggu berlalu..


Di sebuah rumah sakit yang cukup besar di negara sana, dimana Felix berada dan di rawat sudah lebih dari duapekan terakhir ia menjalani perawatan yang intensif.


Berkat bantuan dari seseorang yang baginya adalah seseorang penyelamat hidupnya, yang menolongnya, yang membiayai semua biaya rumah sakit, bahkan meminta seorang pengacara terpandang di negaranya hanya untuk membantu kasus yang menjerat dirinya.


Felix memang sudah tidak mempunyai siapa-siapa lagi di dunia ini. namun ia tetap tidak terima jika pada akhirnya ia di hukum atas apa yang bukan menjadi kesalahannya. yang memang disini ia adalah korbannya dan bukan tersangka.


Tadinya Felix amat takut apabila ia nantinya akan di vonis sebagai tersangka kemudian di masukkan ke dalam jeruji besi, namun sekarang ia bisa bernapas lega, dan semua ini adalah berkat bantuan dari seseorang penyelamat hidupnya.


Kemarin adalah sidang keputusan dimana Majelis Hakim tetap menyatakan Felix sebagai terdakwa sebab terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana pembunuhan. Kemudian Hakim juga menyatakan terdakwa tersebut terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana penganiayaan yang menyebabkan satu orang meninggal dunia, dan tiga lainnya mengalami luka yang hampir sama seperti yang Felix alami. Akan tetapi perbuatan Felix bukan merupakan suatu tindak pidana. Oleh karenanya Majelis Hakim melepaskan terdakwa dari segala tuntutan hukum.


Dan kini Felix pada akhirnya berjanji akan membalasnya dengan melayani orang tersebut dengan baik, sebab ia sadar dirinya hanya sendirian di negara asing ini, penolongnya yang ia kenal bernama Bryan yang sebelumnya juga tidak mengenal dirinya saja mau menolongnya, kenapa sekarang ia ragu untuk mengapdikan hidupnya yang hanya sebatang kara ini.


" Sir, will you accept me as your subordinate or whatever I will do as long as it makes you happy." ( Tuan, maukah Anda menerima saya sebagai bawahan Anda atau apa pun yang akan saya lakukan selama itu membuat Anda bahagia ). tukas Felix begitu mantap, tanpa memikirkan bahaya apa yang nantinya akan ia hadapi diluar sana.


Bryan dan Andrew saling pandang sejenak, kemudian sama-sama tersenyum miria, saat menyadari pria yang ada di hadapannya ini begitu menyedihkan. Felix sudah menceritakan semua kehidupannya selama ini, juga mantap akan belajar bahasa yang sama dengan bahasa bosnya ini.


" Are you sure about your decision? because I am not a random person. in fact I'm not even asking you to repay whatever I did to you, just think of it as a sense of humanity nothing more. but if you really want to be a part of my life. then come along, but I don't promise you anything, if later you hope for something. because I'm really looking for someone I can rely on." ( Apa kau yakin dengan keputusanmu ini? sebab aku bukanlah orang yang sembarangan. bahkan sebenarnya aku tidak meminta kau untuk membalas apapun yang aku lakukan padamu, anggap saja itu sebagai rasa kemanusiaan saja tidak lebih. akan tetapi jika memang kau serius ingin menjadi bagian dari hidupku. maka ikutlah, tetapi aku tidak menjanjikan apapun padamu, jika nanti kau berharap sesuatu. sebab aku memang sedang mencari seseorang yang bisa aku andalkan ).jelas Bryan menatap Felix dengan serius. entah karena apa Bryan sedikit menyukai sisi dari pria yang ia tolong ini, tapi entah apa Bryan sendiri tidak tahu.


" Fine sir, I'll try to be someone you can rely on. thank you very much sir." ( Baik Tuan, saya akan mencoba menjadi seseorang yang dapat Anda andalkan. Terima kasih banyak Tuan). balas Felix dengan mantap.


" Alright, tomorrow we will fly to my country." ( Baiklah, besok kita akan terbang ke negaraku ).


" Andrew tolong sekarang kau persiapkan semuanya, dan ajak dia pulang terlebih dahulu, aku akan mengurus semuanya disini lalu kembali ke Apartement terlebih dahulu." Bryan menepuk bahu sepupunya sebelum ia berlalu pergi.


Andrew hanya mengangguk mengerti, " Come on you're ready?" ( Ayo kamu siap? ). ajak Andrew sambil mendorong kursi roda dimana Felix sudah duduk di sana.


Kalian adalah orang-orang yang sangat baik Tuan, aku banyak berhutang budi pada kalian bedua.


. Felix pergi kemana?


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


.


.


.


.


.


.


.tbc


Mohon dukungan dari semuanya yaa,, dengan cara beri like vote dan juga hadiah🌷🌷🌷🌷🌷


Terima kasih yang sudah mampir baca. love u all..