Bad Boy I Love You

Bad Boy I Love You
Jangan samakan aku dengannya



Sementara di dalam kamar, Yu Jie masih saja terisak, dari semalam ia menangis hingga pagi ini, dia hanya teridur saat kelelahan lalu saat ia terbangun ia kembali menangis, begitu seterusnya.


Ingatannya kembali di masa-masa waktu masih duduk di bangku SMA, saat Al dan Erick baru saja pindah ke negara ini.


"Lihat kedua siswa baru itu pindahan dari Amerika, wajah keduanya mirip sekali bukan?" seru Fhanie yang bersembunyi di balik rak buku perpustakaan bersama dengan Yu Jie.


Mereka sedang mengintip Al dan juga Erick yang tengah membaca buku di meja yang tak jauh dari keduanya berdiri.


"Eh Rick lihat, wanita yang berponi itu, mirip sekali dengan anjing kita yang ada di rumah LA," bisik Al pada Erick yang sedang menatap dua wanita itu.


"Maksudmu Lucy, kau jahat sekali, menyamakan mereka." Al dan Erick pun tertawa begitu tampannya.


Membuat dua wanita tadi sampai salah tingkah sendiri di tatap seperti itu oleh dua pria tampan berwajah sama persis.


Ingatan itu membuat Yu Jie kembali menangis tersedu, kenapa hal ini terjadi padanya, kalau saja ia tidak menyakiti Erick dulu, pasti mereka bertiga masih bisa bersama-sama.


Dan mungkin saja, sebentar lagi ia akan menikah dengan Erick, pria yang tulus mencintainya, sekarang menyesal pun tidak ada gunanya.


...----------------...


Dua hari berikutnya.


Yura sedang duduk di bawah pohon yang rindang, setelah ia selesai kelas seninya, hari sudah menjelang sore.


Tak lama Al berjalan menghampirinya," Aku dengar kau minimarket, benarkah?" tanya Al merasa bersalah pada kekasihnya itu.


Yura masih diam saja, sambil menunduk." Jadi kau akan melakukan semua perintahku apa saja?" tanya Al lagi masih dengan nada datar dan terdengar tidak suka dengan sebutan itu.


"Hmmm, asal itu perintahmu, aku akan melakukannya, " lirih Yura dengan suara menahan tangisannya.


Mendengar jawaban dari Yura, membuat Al semakin kesal saja. ia pun duduk berlutut di depan Yura, lalu menggenggam kedua tangan Yura.


"Kalau begitu aku mohon, jangan membenciku ya? walaupun aku tidak perhatian seperti Davin, dan tidak gentle seperti Felix. malah aku ini terlalu ceroboh, juga orang bodoh yang tidak bisa menolak wanita, tapi aku harap bisa berada di sisimu, ya?" pinta Al dengan sungguh-sungguh.


Walaupun sebenarnya Al menahan tawanya saat mengatakan 'tidak bisa menolak wanita' itu.


Tapi sekarang ia sedang berusaha agar Yura mau mendengarkan ucapannya kali ini yang memang tulus dari dalam hatinya.


"Pikhirkan baik-baik lagi, sepertinya tidak ada yang baik dari dirimu," sahut Yura sambil tersenyum menatap Al.


Membuat Al pun yang sedari tadi menahan tawanya pecah seketika," Tapi aku tetap sangat menyukaimu," lanjut Yura.


Membuat Al pun terkekeh." Bod*h, ayo kita pergi nonton, sudah selesai bukan kelasmu?" ajak Al yang sudah beranjak sambil menggenggam tangan Yura mengajaknya berdiri.


Yura pun mengangguk sambil tersenyum senang," Tapi tanganku masih terluka, tidak bisa naik motor. kita jalan kaki saja." usul Al kembali.


Akhirnya mereka berjalan keluar kampus akan menuju Mall terdekat dari area kampus, yang berada di depan taman kota.


Tapi belum sempat Al dan Yura sampai ke depan gerbang, dari jauh terlihat Fhanie yang berlari masuk mendekat ke arah mereka, dengan nafas yang terengah-engah.


"Al ikut aku ke rumah Yu Jie ya?" pinta Fhanie begitu sampai di hadapan Al dan Yura.


"Kenapa lagi?" tanya Al dengan malasnya.


"Yu Jie sudah beberapa hari ini tidak masuk kuliah, aku telepon ke rumahnya, Neneknya bilang, sudah dua hari ini dia mengurung diri di dalam kamarnya, juga tidak mau makan. Al kau tahu tubuhnya sangat lemah, kalau begini terus dia bisa sakit, ikut aku kesana ya? please." Fhanie berusaha membujuk Al terus.


"Fhanie aku mohon, lepaskan aku okay, aku tidak mau menjalani hidup seperti dulu lagi, tidak boleh di kendalikan orang lain lagi, aku hanya ingin kehidupan yang sekarang, aku mohon jangan datang mencariku lagi." pinta Al.


Al merasa sudah sangat lelah, ia tidak ingin kembali di perbudak oleh wanita itu, "Ayo." ajaknya sambil menarik tangan Yura.


"Tapi Al."


"Al tunggu dulu, pergilah jenguk Yu Jie ya?" pinta Yura merasa kasihan pada kakak tirinya itu, takut terjadi apa-apa padanya.


"Tidak mau."


"Kenapa tidak mau?" tanya Yura menahan tangan Al.


"Karena memang aku tidak mau, aku tidak mau melihatnya buat onar, aku juga tidak mau melakukan sesuatu demi dia, aku tidak mau punya hubungan lagi dengannya, aku sungguh tidak mau terikat, karena semua ini sudah berakhir." jawab Al dengan sedikit menaikan suaranya menatap Yura dan Fhanie bergantian.


"Kenapa harus membohongi diri sendiri? semua ini belum berakhir, karena kau tidak pernah menghadapinya." lanjur Yura.


"Kau hanya merasa takut, kau takut bertemu lagi dengan Yu Jie, kau takut teringat masa lalu kalian! kenapa harus menghindar? kalau begitu selamanya tidak akan bisa melihat hal yang sebenarnya, selamanya tidak akan bebas." Yura masih saja berbicara.


Membuat Al pening seketika, ucapan Yura mengingatkannya pada ucapan saudara kembarnya pada saat itu.


"Aku tahu kau sangat mengkhawatirkan Yu Jie, kau hanya berpikhir yang bukan-bukan, makanya kau berbohong."


Jangan membohongiku.


Ucapan Yura dan ucapan Erick yang dulu saling bersahutan di dalam pikhiran Al saat ini.


Aku tidak mau mengikatmu.


"Tidak apa-apa Al, kau pergilah ke rumah Yu Jie."


Aku sama sekali tidak ingin mengikatmu Al.


"Karena aku sama sekali tidak ingin mengikatmu." ucap Yura menatap Al sedikit bersedih.


"Kau jangan bicara seperti Erick padaku! " sahut Al dengan menaikkan satu oktaf nada bicaranya pada Yura.


"Aku bukan Erick, jangan samakan aku dengan kakakmu." jawab Yura masih menatap Al, tanpa sadar air matanya sudah mengalir di pipi cantiknya itu.


Membuat Al langsung tersadar, ingin memeluk tubuh kekasihnya itu sambil mengucapkan kata maaf, tapi terlambat.


Setelah mengucapkan kata protesnya tadi, Yura langsung melangkah pergi dari hadapan Al dan Fhanie.


Membuat Al pun menunduk menyesal, dan mau tidak mau, Al pun akhirnya bersedia pergi ke rumah Yu Jie bersama dengan Fhanie.


Saat sudah akan sampai ke rumah Yu Jie, hari pun sudah hampir gelap, Al memutuskan untuk menghubungi Yura sebentar, sebelum masuk ke dalam rumah Yu Jie.


Sementara Fhanie sudah lebih dulu berpamitan pulang, sebab Ibunya sudah menelponnya sedari tadi.


"Halo" jawab Yura saat sambungan telepon itu sudah tersambung.


"Yura maafkan aku, aku tidak bermaksud menyamakanmu dengan Erick tadi, tapi kalau aku membuatmu merasa begitu, aku sungguh minta maaf." sesal Al begitu dalam.


"Jujur saja, aku juga tidak tahu. kenapa aku malah menyamakanmu dengan Erick. padahal sifat kalian tidak sama, hanya ucapannya padaku waktu itu saja yang membuat kalian sama, aku hanya tahu kalau bersamamu, hatiku jadi sangat tenang, sangat nyaman sama seperti saat aku bersama Erick, aku bicara seperti ini, apa kau marah?" tanya Al yang terus saja berbicara.


Sedangkan Yura masih diam saja mendengarkan Al bicara di seberang sana.


"Yura, Hallo," Al takut sedari tadi ia bicara ternyata Yura tidak mendengarkan semua ucapannya barusan.


"Aku harap kau jangan menghindar lagi, Al lihat kenyataan ini dengan jelas, kalau masih mau kembali, aku pasti masih disini." setelah mendengar jawaban dari Yura, sambungan itu pun terputus.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


.


.


.


.


.


.


.


.tbc


Mohon dukungan dari semuanya yaa,, dengan cara beri like vote dan juga hadiah🌷🌷🌷🌷🌷


Terima kasih yang sudah mampir baca. love u all..