Bad Boy I Love You

Bad Boy I Love You
Kau Dengar Itu?



"Paman." cicit Yura menatap pria paruh baya itu, namun Ayah Al segera menempelkan jari telunjuknya ke atas bibirnya sendiri agar Yura diam.


Yura pun mengangguk sebagai jawaban lalu melirik Al yang ternyata sedang menundukkan kepalanya, entah karena ia malu atau karena hal lain. Yura pun tidak tahu.


" Terima kasih kau sudah datang." seru Ayah Aang menatap Yura yang sudah duduk di hadapannya sedangkan putranya itu duduk di sampingnya.


Yura hanya mengangguk sambil tersenyum menatap Ayah Al, " Jadi kau yang bernama Han Yura?" tanya Aang kembali saat mereka berdua masih saling terdiam.


" Benar Paman, senang berjumpa denganmu." jawab Yura masih sambil menunduk.


" Tidak perlu bersikap formal seperti itu denganku, anggap saja aku adalah Ayahmu sendiri. dan kau bisa mengatakan apapun padaku. kau pasti sudah tahu Al luar dalam seperti apa bukan? aku harap kau mau menerimanya dengan ikhlas." ucap Aang begitu serius dan masih menatap ke arah Yura.


" Dan kau Al jika memang kau serius ingin menikah dengan kekasihmu ini, kau juga harus merubah kebiasaan burukmu itu, bersikaplah yang dewasa." nasehat Aang menatap pada putranya.


" Jadi Yura, apa kau benar-benar menerima Al?" tanya Aang menoleh kembali ke arah Yura.


Namun tiba-tiba saja terdengar suara gebrakan kecil di meja, dan siapa lagi jika bukan Al pelakunya, ia sedikit tersulut emosi saat Ayahnya akan mengatakan tentang dirinya.


" Sudah cukup basa-basinya, langsung saja ke intinya." potong Al menahan rasa kesal saat Ayahnya sendiri akan membicarakan hal buruk tentangnya pada Yura, walau sebenarnya Yura pun sudah tahu semua tentang hal itu. namun tetap saja Al tidak ingin Yura mengingat keburukannya yang dulu.


" Apa yang salah denganmu? kau selalu berburuk sangka dengan niat orang lain. bisa tidak kau diam sebentar, dan dengarkan saja. apa yang salah dengan emosimu itu?" sarkas Aang yang sudah tahu sifat putranya seperti apa.


Sementara Al langsung terdiam dengan menahan amarahnya sendiri sedari tadi, " Bukankah aku ini seperti adikmu, yang sudah berselingkuh dengan kakak iparnya sendiri. dan dia juga belum tentu mau mendengarkan nasehat dari orang lain? bukankah aku adalah anak dari si berengs3k itu?" seru Al menatap kesal pada Ayahnya itu.


Sementara Yura, ia masih terdiam terus saja menundukkan kepalanya, dan mendengarkan perdebatan antara anak dan Ayah itu.


" Aku minta maaf, sudah membuatmu terganggu dengan perdebatan kami barusan. jika kau tidak keberatan, kau bisa menjadi bagian dari keluarga ini. aku akan sangat senang sekali, kau juga akan sangat di terima. aku berharap bisa melakukan sesuatu untukmu, jika ada masalah dengan kuliah atau biaya hidup, aku akan membantumu sebisaku." seru Aang begitu serius sambil menatap Yura.


Walau tadi ia sempat merasakan kembali rasa sakit hati yang dulu pernah ia alami, saat Al mengatakan hal seperti tadi. namun ia berusaha menutupinya dengan sebaik mungkin.


" Dan aku harap kau sebagai tunangan Al mau pulang ke rumah kami, dan Ibumu sudah menyetujuinya." lanjut Aang kembali.


Sementara Al langsung terdiam seribu bahasa, dan ia sedikit menyesali ucapannya yang telah menyakiti hati Ayahnya itu, bukan! Pamannya lebih tepatnya.


Namun Al yang baru menyesal itu, sedetik kemudian langsung kembali emosi saat Ayahnya mulai mengurusi kehidupannya lagi.


" Tunggu sebentar! Yura memang sudah bebas, dan begitu pun denganku bisa sebebas ini karenamu. aku sangat berterima kasih untuk itu dari hatiku yang paling dalam. tapi itu tak berarti kau bisa ikut campur dalam kehidupan kami. apa kami perlu mengkhawatirkan kelanjutan hidup kami?" seru Al dengan rasa amarah yang menggebu.


Sedangkan Yura masih saja terdiam, menatap keduanya secara bergantian, ia sebenarnya bingung harus berkata apa untuk menghadapi ini semua.


Ayah Aang tersenyum miring, seperti mengejek." Si sombong yang menyedihkan." ejeknya. " Kau bebas menentukan apapun yang kau suka. tapi jika usahamu itu sia-sia, dan mempengaruhi kehidupan Yura, aku tidak bisa membiarkannnya. dan kuharap kau tidak lupa dengan janjimu padaku. aku tanya bisakah kau menghadapi kenyataan dan masa depan?" tanya Aang dengan begitu santainya.


Al langsung kembali terdiam, sebab apa yang Ayahnya katakan memang benar adanya, pekerjaannya yang sekarang pun juga masih tidak menentu, ia menjadi bimbang.


" Kau memang selalu seperti itu? sekarang aku sadar, setiap kali kau berbicara seperti itu selalu saja ingin mengontrolku. jujur saja yang kau inginkan adalah agar semua orang melakukan apa yang kau katakan! sama seperti yang kau katakan pada Yura. Kau membuatnya terdengar begitu hebat, tapi sebenarnya kau hanya tidak ingin seseorang tanpa sarjana tinggal di rumahmu!" sarkas Al menatap jengah ke arah Ayahnya, yang seolah-olah merendahkan Yura.


Yura segera mendekat pada Al, dan mencoba meredakan emosi kekasihnya itu," Al sudah."


Namun Al tidak mendengarnya." Dan satu-satunya alasanmu ingin Yura untuk melanjutkan kuliah adalah untuk mendapatkan ijazah, benar bukan? Kau bahkan tidak tahu dia adalah seorang pelukis dan Kau_


" Al bukan seperti itu, Paman benar-benar mengagumi lukisanku." sela Yura dengan cepat. karena ia merasa tidak enak hati pada Ayahnya Al.


Al langsung meneleh ke arah Yura dengan cepat." Dia mengagumi lukisanmu?" tanya Al menatap bingung ke arah Yura dan juga Ayahnya.


" Jadi kau sudah bertemu dengannya?" tanya Al kembali saat keduanya tidak ada yang akan menjawab.


" Kenapa kau tidak bilang, kau sudah bertemu dengannya? Kau ingin menghianatiku begitu?" desis Al sudah terlanjut kesal.


Sial, jadi pria yang sempat membuatku cemburu adalah orang yang telah membesarkanku. astaga! konyol sekali.


Desah Al dalam hati, ia tidak menyangka itu. namun ia masih sedikit kesal kenapa kekasihnya justru sudah bertemu dengan Ayahnya duluan.


" Stop! sudah berhenti! Yura baru hari ini tahu bahwa aku adalah Ayahmu!" sela Aang mengintrupsi mereka berdua.


" Aku keluar dari sini sekarang.!" seru Al yang akan beranjak berdiri. sebab ia sudah sangat kesal berada di dalam ruangan tersebut.


Namun Yura berusaha mencegah Al agar tidak pergi, " Al tunggu.!" cekalnya lengan Al.


" Aku sudah tidak sanggup lebih lama lagi disini." Al langsung bergegas pergi dengan cepat.


" Al tunggu." teriaknya namun Al sama sekali tidak mendengarkan seruannya. lalu Yura menatap ke arah Ayah Al.


" Paman aku minta maaf, " pamit Yura kepada Aang. kemudian ia pun bergegas pergi akan menyusul Al yang sudah entah sampai dimana.


Di luar Restoran ternyata Yura masih bisa melihat Al dari kejauhan, ia pun segera berlari dengan sedikit cepat agar bisa sampai ke tempat Al.


" Al tunggu! maafkan aku, tapi aku benar-benar tidak tahu bahwa dia adalah Ayahmu!" sesal Yura yang sudah sangat dekat dari jangkauan Al berada.


" Jika aku tahu, aku pasti akan_


Tiba-tiba saja Al menghentikan langkahnya, membuat Yura yang tidak siap ia pun langsung menabrak tubuh besar Al, dan menghentikan ucapannya.


" Hei, apa kau dengar itu?"


.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


.


.


.


.


.


.


.


.


.tbc


Mohon dukungan dari semuanya yaa,, dengan cara beri like vote dan juga hadiah🌷🌷🌷🌷🌷


Terima kasih yang sudah mampir baca. love u all..