Bad Boy I Love You

Bad Boy I Love You
Pilihan Yang Sulit



" Kenapa lampu teras tidak di hidupkan?" tanya Al sedikit curiga.


Karena tak biasanya lampu teras di depan rumah Yura tidak hidup, ataukah sedang rusak atau karena hal lainnya.


" Oh, mungkin Ibuku lupa menyalakannya. baiklah aku masuk ya, hati-hati di jalan." seru Yura berpura-pura memegang handle pintu agar Al tidak curiga dan berbalik ke belakang kembali sambil tersenyum menatap Al.


Karena merasa tidak ada yang aneh, Al pun memakai helmnya kembali dan mulai melajukan motornya.


Tak lupa ia menekan klakson motor hanya untuk sekedar berpamitan kepada Yura, kemudian motor pun melaju kencang meninggalkan area tempat tinggal Yura.


Saat di rasa motor Al sudah tidak terlihat lagi, Yura segera berjalan keluar dan mencari taksi untuk segera pulang kerumah Kakaknya.


Sesampainya di rumah Kakaknya, Yura segera masuk dan berjalan menuju kamarnya karena sudah sangat gerah seluruh tubuhnya ingin segera mandi.


Namun ia tidak sadar jika ada seseorang yang sedang mengikutinya dari arah belakang, dan tentu saja bisa masuk ke dalam kamarnya karena Yura lupa mengunci pintunya tadi sebelum ia masuk ke dalam kamar mandi.


Hingga beberapa menit kemudian terdengar suara teriakan yang cukup kencang dari dalam kamar Yura.


" Aaaaagghhhh.."


Membuat sang Ibu terkejut dan langsung berjalan cepat ke arah kamar putrinya.


" Yura ada apa?" panggil Ibunya dari luar kamar, karena pintunya terkunci dari dalam, sehingga tidak bisa langsung masuk ke dalam.


Tak berselang lama pintu oun terbuka, menampakkan Yura dari balik pintu dengan wajah yang sedikit shock.


" Yura ada apa? kenapa kau berteriak tadi? ayo kita makan dulu, tadi Ibu yang masak." ajaknya sambil menggenggam tangan putrinya menuju ruang makan.


Yura segera minum air yang di sodorkan oleh Ibunya, menyesapnya pelan, di saat bersaman muncullah Yuan dari arah depan, berjalan menghampiri mereka.


" Ibu ada apa dengan Yura? kenapa dia terlihat ketakutan seperti itu?" tanyanya sembari duduk di kursi seberang Ibu dan adiknya.


Yura hanya meliriknya sinis tanpa mau menjawab, karena ia benar-benar masih sangat shock dengan apa yang terjadi di dalam kamarnya tadi.


" Ibu juga tidak tahu Yuan, sepertinya Yura masih sangat *s*hock, karena merasa terkejut, entah apa yang terjadi dengannya." sahut sang Ibu sambil mencoba menenangkan putrinya.


Yura masih bergeming, tidak mau menjawab pertanyaan dari semuanya.


Karena Yura menduga yang berada di dalam kamarnya tadi adalah Yuan, si pria b*******n itu, karena dari postur tubuh dan juga sorot matanya sangat persis dengannya.


Tadi sewaktu Yura baru saja selesai mandi dan selesai berganti pakaian juga, ia sangat teekejut saat melihat ada sepasang mata yang sedang bersembunyi di balik gorden jendela.


Karena gorden yang memang tipis sehingga bisa melihat jika ada seseorang yang sedang bersembunyi di sana, karena keadaan penerangan kamarnya yang tidak terlalu terang juga membuatnya tidak bisa melihat siapa orang yang tengah berada di dalam kamarnya.


Yura pun langsung berteriak dengan histeris saking takutnya, beruntung tadi ia memakai pakaian di dalam kamar mandi yang sengaja ia ambil terlebih dahulu sebelum ia masuk ke dalam kamar mandi.


Yura hanya makan malam sedikit saja, karena na*su makannya jadi hilang akibat kejadian yang baru saja ia alami.


Yura langsung masuk ke dalam kamarnya tak lupa mengunci pintu terlebih dahulu, agar aman.


Setelah membersihkan diri terlebuh dahulu Yura langsung naik ke atas ranjang, berharap cepat tertidur, walau sebenarnya ia sama sekali tidak bisa tidur.


Hingga tak lama kemudian ia justru ketiduran sendiri karena memang sudah tengah malam.


...----------------...


Keesokan harinya, Yura lebih awal bangun ia sudah berpamitan kepada sang Ibu yang sedang memasak di dapur.


Sebenarnya ia sudah akan berangkat namun Ibunya menyuruhnya untuk sarapan roti yang baru selesai di panggang dan juga sudah tersaji susu hangat di atas meja.


Demi menjaga perasaan sang Ibu, Yura segera menghabiskan sarapannya lalu berpamitan untuk pergi ke kampus.


Walau Ibunya sempat curiga karena Yura berangkatnya terlalu pagi, namun Yura beralasan akan mampir ke toko buku terlebih dahulu untuk membeli peralatan lukisnya yang sudah habis, beruntung sang Ibu percaya.


Dan kini Yura sudah bisa bernapas lega karena sudah keluar dari rumah yang membuatnya merasa tertekan amat tertekan jika berada di dalam rumah tersebut.


Yura telah sampai di kampusnya hanya sepuluh menit saja dengan menaiki bus, ia akui rumah Yuan lebih dekat dari kampusnya jika di bandingkan dengan rumah yang ia tinggali dengan sang Ibu kemarin.


Yura pun berjalan ke arah kelasnya yang memang masih terlihat sepi, karena memang masih terlalu pagi ia sampainya.


Hingga satu jam kemudian beberapa mahasiswa sudah banyak yang berdatangan dan langsung masuk ke dalam kelas pagi mereka masing-masing.


Yura menunggu sambil membaca buku sehingga tidak membuatnya jenuh, tak lama Prita datang dan langsung duduk di bangku depannya yang memang masih kosong.


" Yura, apa kau sudah memberitahu Al tentang kepindahanmu?" tanyanya dengan tidak sabar.


Yura terlihat tidak bersemangat hari ini, apalagi mengingat kejadian semalam, dengan pelan ia menjawab pertanyaan dari sahabatnya.


" Aku tidak tahu cara memberitahunya." jawabnya begitu pelan.


" Kalau begitu ayo aku bantu bicara padanya minta tolong pada Davin juga, Davin 'kan orang yang paling dekat dengannya pasti dia tahu cara memberitahu Al." tawar Prita mencoba membantu.


Tak lama Davin pun datang dan berjalan ke arah mereka berdua, tak ingin menundanya mereka berdua akhirnya memberitahu Davin dan langsung ke intinya.


" Tidak mungkin Al setuju, setelah mendengar pernyataan ini." jawab Davin menasehati.


" Tapi bagaimana, kita harus memberitahu Al tentang semua ini."sahut Prita menatap iba kepada Yura yang sedari tadi terus menunduk.


" Sekalipun kita memberitahunya di samping itu, ada hal yang paling penting bukan tentang Al marah melainkan jika Yura ingin kembali atau tidak, menuruti Al atau tidak." sahut Davin ikut tidak tenang juga kasihan melihat Yura jika seperti ini.


Wanita yang sempat membuatnya jatuh hati, hingga ia rela mundur demi sahabatnya dan juga untuk kebahagian wanita yang ia cintai.


Benar apa yang di katakan oleh Davin, bisa saja Al memutuskan hubungan kami jika sampai aku lebih memilih tinggal bersama Ibuku.


"Yura, aku bertanya. apakah kau sungguh bisa hidup dengan orang seperti itu?" tanya Davin dengan nada pelan dan terdengar lembut.


Yura masih diam menunduk karena ia bingung harus bagaimana sekarang, di sisi lain ia ingin pergi dari tekanan batinnya.


Namun di sisi lain ia masih memikirkan keadaan sang Ibu, mana bisa ia meninggalkan Ibunya sendiri bersama pria b********n seperti itu di kala sang Ibu juga bergantung hidupnya kepada pria itu.


" Yura, kau benar bisa?" tanya Davin kembali, karena Yura masih diam saja.


.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


.


.


.


.


.


.


.


.


.tbc


Mohon dukungan dari semuanya yaa,, dengan cara beri like vote dan juga hadiah🌷🌷🌷🌷🌷


Terima kasih yang sudah mampir baca. love u all..