Bad Boy I Love You

Bad Boy I Love You
Menjadi pembalap yang terkenal



" Al pelan." teriak Yura yang sama sekali tak di dengarkan oleh Al.


Karena suara angin lebih kencang di bandingkan dengan suara Yura, yang sama sekali tidak terdengar.


Tak pernah terbayangkan Yura akan merasakan di posisi sekarang, yang namanya ikut balapan seumur hidupnya, jantungnya berdetak lebih cepat dengan suara hati yang terus berdoa untuk keselamatan mereka berdua.


Motor Al telah memimpin di depan motor lawannya, tak lama berganti lawannya yang memimpin begitu seterusnya.


Beberapa menit kemudian Felix dan para teman-tamannya berwajah sedikit tegang saat melihat dari kejauhan dua motor yang melaju dengan cepat mendekat, semakin dekat.


Dan pada akhirnya motor Alrick-lah yang lebih dulu di garis finish, dan artinya Al pemenangnya malam ini.


Teman-temannya bersorak riang merayakan kemenangan Al, Al mematikan mesin motornya karena merasa ada yang aneh dengan seseorang yang duduk di jok belakang.


Yang sedari tadi diam tak bersuara, dan juga tidak bergerak, apa kekasihnya itu yang pingsan?


" Yura, kita sudah selesai balapannya," bisiknya pelan, karena kedua tangan kekasihnya masih setia melingkar di perutnya.


Masih tak ada jawaban, " Sayang kau pingsan apa tidur?" tanyanya sambil menoleh ke belakang yang ternyata kekasihnya itu memang ketakutan.


Kedua mata terpejam rapat, sambil nerlinang air mata, " Astaga kau benar-benar ketakutan?" sedikit panik Al turun dari motor dan akan melepas helm yang di pakai oleh Yura.


" Jangan, aku malu nanti di lihatin teman-temanmu itu." cicitnya menahan helm berwarna pink itu.


Al malah tertawa, " Al ini uangnya," Felix menyodorkan amplop berwarna coklat itu pada Al." Kau memang hebat." akunya kemudian.


Al pun langsung menerimanya, dan mengambil uang segebok yang di berikan oleh Felix.


Lalu Al mengambil satu tumpuk uang miliknya," Ini buat kalian makan-makan, aku langsung pergi ya, sorry tidak bisa berlama-lama." sambil melirik ke belakang.


" Okay kami mengerti, thanks Dude." jawab teman yang lain.


Al memang selalu solid terhadap teman-temannya, setiap menang balapan ia selalu memberikan sedikit uang hasil kemenangannya itu kepada mereka.


Itulah yang membuat teman-temannya menyukai dan mengagumi sosok Alrick, walaupun Al pria yang sembarangan dan playboy , tapi kalau soal solid sama temannya tidak tanggung-tanggung.


Membuat Yura yang duduk di belakangnya pun tersenyum, Al memang pria yang baik, hanya saja ia selalu menutupi kebaikannya itu dengan kenakalannya.


Al pun melajukan kembali motornya menuju ke rumah Yura, sebab malam sudah semakin larut, ia takut Yura akan di marahi oleh Ibunya nanti bila terlalu lama sampai.


...----------------...


Sepulang dari kuliah Al mengajak Yura untuk belajar sepadah motor yang khusus untuk pemula, ia pinjam pada temannya.


" Al sekalian saja ajari aku menaiki motor sehebat dirimu, dengan begitu kita bisa mengajarkan pada orang lain, kemudian ambil uang mereka." seru Yura yang sedikit lelah berputar-putar lapangan yang luas.


" Kurasa kau terlalu lama bersamaku sudah semakin parah tertular olehku, kenapa tidak sekalian kau mengikuti lomba." sahut Al tersenyum menatap kekasihnya.


" Memang boleh aku mengikuti lomba?" tanya Yura kemudian, membuat Al langsung terbahak.


" Tentu saja boleh, tapi kau harus bisa mengalahkan rasa takutmu lebih dulu, baru kau boleh melawan lawanmu, ada-ada saja.!' sahut Al yang masih juga tertawa.


Tiba-tiba dari arah samping terdengar bunyi klakson mobil box." Hay, kalian berdua sedang apa disini?" teriak Felix dari dalam mobil sambil mengeluarkan kepalanya saja dari jendela yang terbuka.


" Hay Felix," jawab mereka bersamaan.


" Kami sedang belajar motor, Yura bilang mau belajar motor jadi aku membawanya kemari, kau dari mana? kerja?" tanya Al balik.


" Iya aku bekerja di kantor delivery milik temanku, enam tahun kuliah baru saja lulus, sekarang susah untuk mencari pekerjaan." sahut Felix.


Sementara Al dan Yura menganggukkan kepala sambil tertawa, " Tujuh tahun? kau tidak pernah cerita padaku, ternyata kau ambil jurusan kedokteran?" goda Al semakin cekikikan.


" Sialan kau menyindirku, aku kira kau akan memecahkan rekorku tidak di sangka tahun ini kalian lulus semua." sahut Felix lagi.


" Kelihatannya aku lebih pintar darimu Dude." goda Al kembali.


" Baiklah, nanti aku hubungi segera, sampai ketemu lagi." jawab mereka berdua serentak.


Felix pun akhirnya meninggalkan mereka berdua." Tidak di sangka dia sudah lebih dulu bekerja." gumam Al sambil menatap mobil yang di kendarai Felix sampai menghilang dari pandangannya.


" Ya dan bagaimana jika dia menjadi bos delivery nantinya.?" timpal Yura kemudian.


" Oh, aku tidak berani membayangkan tampangnya menjadi seorang bos, dengan penampilannya yang seperti itu." Al tertawa geli membayangkannya.


" Lalu bagaimana dengan kita? kita akan berubah menjadi seperti apa? kalau kau pasti akan menjadi pembalap yang terkenal, secara kau sangat hebat di dunia balap motor, kalau aku tidak tahu akan berubah menjadi seperti apa?" sahut Yura berandai-andai.


" Entahlah aku tidak tahu, yang jelas kau pasti menjadi seorang pelukis yang sangat terkenal." timpal Al sambil tersenyum.


" Tidak segampang itu."


" Tentu saja gampang, kau berbakat, dan kau baru saja mendapatkan penghargaan."


" Mendapatkan satu penghargaan juga tidak ada gunanya, di dunia ini pelukis yang bisa makan dengan mengandalkan melukis hanya beberapa orang saja, mana bisa seperti itu." jawab Yura.


" Begitukah? kelihatannya susah sekali mau berhasil menjadi seorang pelukis yang terkenal pun, tapi kalau aku bisa beli lukisanmu, pasti aku beli, tapi bukan karena modelnya adalah diriku sendiri." seru Al terkekeh sambil berjalan ke arah motornya.


" Al maafkan aku, aku sudah berjanji jika pameran lukisan itu sudah selesai, lukisan itu milikmu. tapi aku ingat sudah di gantung di lobby gedung pameran saat ini." seru Yura sedikit merasa tidak enak hati pada Al.


" Tidak apa-apa itu memang lukisanmu," sahut Al sambil menyalakan motornya.


Yura pun segera naik ke jok belakang, karena sore sudah semakin gelap, Al pun mengantarkan Yura pulang ke rumahnya.


" Terima kasih untuk hari ini." Yura turun dari motor dan berdiri di samping Al.


" Tidak ada bayaran ini?" goda Al sambil melepas helmnya.


Sementara Yura menatapnya intens tidak mengerti dengan ucapan Al, saat melihat seringai nakal dari Al barulah dia mengerti.


" Dasar.!" Yura mengecup sekilas di sisi wajah Al sebelum ia berlari masuk ke dalam rumah.


Sementara Al tersenyum geli sambil memegangi bekas kecupan Yura di sisi wajahnya, tak lama ia pun pergi meninggalkan kediaman Yura dengan senyuman menghiasi wajah tampannya.


...----------------...


Tiga hari kemudian.


" Jangan lupa suruh pengunjungnya untuk tanda tangan terlebih dahulu sebelum mereka berkeliling ke dalam." ujar panitia penyelenggara pameran tersebut kepada Yura dan salah seorang teman Yura.


" Baik, kami mengerti." jawab mereka serentak.


.Kakak-kakak boleh juga mampir ke Novelku yang lainnya ya.. terima kasih.



...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


.


.


.


.


.tbc


Mohon dukungan dari semuanya yaa,, dengan cara beri like vote dan juga hadiah🌷🌷🌷🌷🌷


Terima kasih yang sudah mampir baca. love u all..