
" Aku lupa membawa uangku." terangnya sambil tersenyum manis.
Sedangkan Al raut wajahnya masih sama seperti tadi datar dan sedikit kacau, walau ragu Al tetap melangkah mendekati Yura.
" Bagimu, apa semua pria itu sama? aku dan Kakak tirimu kami sama benar 'kan? orang busuk seperti kami yang berusaha memilikimu, benar?" tanya Al dengan tatapan sendu.
" Al, kau tahu 'kan aku memberimu ciuman pertamaku, hatiku tidak pernah berdebar kencang sebelumnya. meskipun hal seperti itu sudah pernah terjadi padaku, namun aku sama sekali belum pernah berciuman," Yura mulai terisak.
" Tapi karena kau aku merasa nyaman, karena kaulah aku menjadi bersemangat dan karena kau bersamaku, aku punya keberanian untuk kembali ke tempat tinggal menyeramkan itu, aku memutuskan berani untukmu." imbuhnya.
Yura semakin kencang menangis hingga membuat Al tidak tega dengan cepat ia menarik tubuh kecil Yura lalu mendekapnya dengan erat.
Sementara Yura semakin tersedu-sedu di dada bidang Al, ia menumpahkan air matanya hingga hoodie Al terpaksa di jadikan sapu tangan olehnya, hingga keduanya mulai tersenyum.
Mereka masih berpelukan di depan loket terminal, hingga beberapa saat kemudian Yura sudah kembali tenang.
" Ayo aku antar pulang ini sudah sangat larut malam." ajak Al sembari menuntun kekasihnya untuk menaiki kuda besinya itu.
Yura hanya mengangguk sambil tersenyum, ia amat bersyukur hubungannya dengan Al kembali membaik mulai malam ini.
Yura tidak ingin lagi merasakan perpisahan kembali dengan pria yang sedang ia peluk itu, karena baginya Al adalah pria yang paling sempurna untuknya.
Hingga setengah jam kemudian mereka sudah tiba di kediaman yang Yura tinggali saat ini.
" Terima kasih Al sudah mengantarkanku." seru Yura setelah turun dari motor.
Malam ini ia tidak memakai helm yang biasa ia pakai, karena Al tidak membawakan untuknya, sudah pasti tidak karena sebelumnya hubungan mereka sedang terkena ombak yang cukup besar, hingga membuat keduaya nyaris berpisah.
" Ini rumah barumu?" tanya Al menatap ke arah rumah yang ada di hadapannya saat ini.
Walau tak sebesar dengan rumah sang Ayah, tapi menurut Al ini sudah cukup besar daripada rumah Yura yang lama dan juga kalah banding dengan kontarakan yang ia tinggali sekarang ini.
" Ini rumah Ayah kami dulu, dia yang selama ini menempati, aku masuk dulu ya." Yura sudah akan berbalik namun pergelangan tangannya di cekal oleh Al.
" Yura, aku minta tolong kau hati-hati dengannya." pinta Al sungguh-sungguh.
" Iya, bukankah aku sudah pernah bilang sebelumnya, selama di rumah aku selalu menjaga jarak dengannya." balas Yura mengerti dengan apa yang ada di pikiran Al.
" Baiklah, cepat masuk." titah Al kemudian.
Namun sedetik kemudian hal yang tak terduga terjadi.
Cup.
Yura mengecup sebelah pipi Al dengan cepat dan ia segera berlari ke dalam rumah dengan tergesa.
Sementara Al tersenyum senang sembari memegangi pipi yang bekas di cium oleh Yura barusan.
Dengan perasaan yang bahagia ia segera memakai helm nya kembali dan motor pun melaju dengan cepat menuju ke arah kontrakannya sendiri.
...----------------...
Pagi ini Yura membantu Ibunya memasak di dapur, setelah beberapa masakan sudah matang ia segera menyiapkannya di atas meja makan.
Raut wajahnya yang berseri-seri membuat sang Ibu sedikit curiga namun tidak ingin mengganggu kesenangan putrinya terlebih dahulu.
Bukan tanpa alasan mengapa wajah Yura demikian, kalau bukan karena kejadian semalam tidak mungkin ia bisa tersenyum seperti itu di dalam rumah yang ia anggap sangat menyeramkan itu. senyumnya pun terus mengembang saat ia menyiapkan piring dan gelas kosong di atas meja.
Sementara sang Ibu yang mengisi air minum ke dalam gelas-gelas tersebut sambil melirik wajah putrinya sedari tadi.
" Yura kenapa kau pulang sangat terlambat semalam?" tanya Ibunya yang sangat penasaran.
" Kau keluar bersama Prita dan yang lainnya Ibu." dustanya.
Yura memang sengaja tak ingin berkata jujur karena ia tidak mungkin jika harus memberitahu Ibunya tentang ia yang menunggu Al hampir seharian.
" Lalu siapa yang mengantarmu pulang?"
Deg...
Yura terkejut ia tak menyangka Ibunya akan bertanya lebih, padahal tadi ia sudah sedikit lega. namun ia bingung sekarang harus menjawab apa?
Baiklah mungkin ia akan berkata jujur kali ini, Yura sedikit menghela napas pelan sebelum ia berkata.
" Seorang teman pria Bu." jawabnya sebiasa mungkin.
" Dia bukan pembalap ugal-ugalan Bu." sahut Yura tidak suka, Ibunya menjudge kekasihnya seperti itu.
" Tapi Ibu hanya_
" Bu, kenapa Ibu sangat membencinya?" tanya Yura dengan kesal.
Namun sebelum Ibu Yin menjawab pertanyaan dari putrinya tiba-tiba Yuan datang dengan pakaian yang sudah rapi untuk berangkat ke kantornya.
" Ada apa ini?" tanya pria itu sembari menarik bangku di kolong meja dan langsung mendudukinya.
Yura dan Ibunya langsung menoleh ke arah Yuan, kemudian diam saling pandang sejenak.
" Kenapa pagi-pagi sudah bertengkar?" tanyanya kembali di saat Yura dan Ibunya sama-sama terdiam tak ada yang menjawab.
Tak lama Yura segera melipir ke arah dapur untuk melepaskan avron yang masih menempel di tubuh depannya itu.
" Tidak ada apa-apa Yuan, Ibu hanya mengingatkan Yura supaya tidak lagi pulang terlambat." jawab Ibu Yin pada akhirnya sembari menarik bangku yang tak jauh dari putra tirinya itu, kemudian langsung duduk.
" Yura 'kan sudah besar Bu, biarkan saja, dia pasti tahu batasannya, seusia mereka memang punya pandangan sendiri, ayo kita sarapan Yura ayo." ajak Yuan dengan nada lembut.
Yura pun akhirnya duduk di samping Ibunya, ia memang sengaja duduk di situ agar terhalang dengan tubuh sang Ibu.
" Kenapa kau malah duduk disini, kenapa tidak disana saja dekat kakakmu." pinta sang Ibu sambil menujuk ke arah bangku depannya itu.
Yang otomatis berada di samping Yuan, Yura mana berani mengambil resiko, ia hanya menggeleng lemah sambil menikmati sarapan paginya.
Yuan terlihat tersenyum miring melirik ke arah Yura, namun ia juga tidak ingin memaksa adiknya itu.
" Biarkan saja Bu, senyaman dia mau duduk di mana saja." tegur Yuan masih dengan nada lembutnya.
Yura sama sekali tak menoleh ke arah Ibu dan kakaknya itu, justru ingin cepat menghabiskan sarapannya.
" Oh iya Bu, bukankah hari ini kau ada jadwal check up? " tanya Yuan kemudian.
" Oh iya kau benar, tapi Ibu bisa naik bus saja biar cepat." jawab Ibu Yin.
" Kenapa harus naik bus? aku bisa mengantarkanmu Bu, aku masih nanti siang ada pertemuan penting dengan clien." tawarnya.
" Tidak apa-apa, Ibu masih bisa berangkat sendiri." tolak Ibu Yin sedikit tak enak hati.
Sebab ia tidak ingin merepotkan putra tirinya itu terus-terusan. sudah di ajak tinggal bersama disini saja ia sudah senang, apalagi ia sudah tidak bisa bekerja lagi seperti sebelumnya, ia amat berterima kasih pada putranya itu. walaupun Yuan bukanlah putra kandungnya, tapi ia sudah menganggapnya putra kandungnya sendiri.
" Baiklah setelah ini kita langsung berangkat saja agar tidak macet di jalan, maklum weekend pasti banyak orang yang ingin berlibur." sahut Yuan menatap Ibunya berharap sang Ibu mau menerima ajakannya itu.
" Baiklah." jawab Ibu Yin pada akhirnya.
.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.tbc
Mohon dukungan dari semuanya yaa,, dengan cara beri like vote dan juga hadiah🌷🌷🌷🌷🌷
Terima kasih yang sudah mampir baca. love u all..