
Al hanya bisa tersenyum geli sedari tadi, tidak ingin menimpali ucapan mereka semua yang menurutnya hanya bualan saja.
" Aku ingin bicara sebentar." bisik Al pelan kepada Melly yang sedari tadi menanggapi ucapan para kolega Ayahnya.
" Permisi sebentar." pamitnya berjalan menjauh yang di ikuti Al di belakangnya.
" Maksudmu menyuruhku untuk datang kesini itu apa? untuk melihat kalian bersenda gurau begitu." bisik Al tanpa menoleh ke arah asisten Ayahnya.
" Bekerja tidak harus di dalam kantor Al, disini juga bisa kita bekerja, mereka adalah salah satu kolega Ayahmu yang sudah lama bekerja sama dengan perusahaan kita." jelas Melly, Al hanya mengangguk paham.
" Terserahmulah, tetapi aku bingung disini ingin melakukan apa?" sahut Al yang kini mulai sedikit mengerti tentang dunia bisnis.
" Ayo kita bergabung dengan mereka, nanti kau akan tahu jawabannya." ajak Melly yang sudah berjalan kembali menghampiri para kolega mereka yang masih menunggu.
Saat Al akan berjalan mengikuti Melly, ponselnya tiba-tiba berdering, ia pun mengangkat panggilan itu sambil berjalan menjauh.
" Ya ada apa Yura?" tanya begitu panggilan sudah tersambung.
" Al, Prita dan Davin mengajak dinner nanti malam, apa kau bisa?" tanya Yura di seberang sana.
" Baiklah, kirimkan saja lokasinya, aku akan menyusul kalian disana." sahutnya yang kemudian mengakhiri panggilan tersebut.
Setelahnya Al kembali bergabung bersama mereka semua dan melanjutkan bicangan mereka seputar bisnis juga sedikit membahas kehidupan sehari-hari.
Al banyak diam, ia hanya menjawab sekedarnya saja tanpa ingin menimpali ucapan mereka semua, ia terlalu malas untuk menanggapi masalah bisnis. cukup di dalam kantor saja ia di pusingkan dengan beberapa lembar kertas yang menurutnya membuat kepalanya hampir terbelah, di tambah acara seperti ini. ia hanya akan berpura-pura mendengarkan saja tanpa memasukkannya ke dalam pikirannya. memang dasar bajing4n kecil.
Malam pun tiba, setelah pertemuannya dengan beberapa orang tadi, akhirnya Al bernapas lega bisa bebas, ia segera masuk ke dalam mobil pribadinya dan menyuruh sang supir untuk mengantarkan ke tempat dimana kekasih dan juga para sahabatnya sudah berkumpul disana.
Al sudah sangat tidak sabaran ingin kembali bersenang-senang dengan mereka, tak berapa lama mobil yang ia tumpangi berhenti di sebuah restoran yang menyajikan makanan barat, sebelum turun tak lupa ia meminta sang supir untuk pulang lebih dulu.
" Hai semua maaf aku terlambat." serunya sambil duduk di samping Yura. Yura hanya tersenyum menatap Al sambil menyesap minumannya.
" Kemana Jas dan dasimu?" tanya Yura melihat penampilan Al yang hanya memakai kemeja putihnya saja.
" Aku titipkan supir tadi."
" Hai bos, akhirnya kau datang juga. kau mau pesan apa bos?" goda Davin mengejek.
" Cih, tidak perlu memanggilku seperti itu, menjij*kkan saja!" gerutu Al sambil menyesap minuman dingin milik kekasihnya.
" Okay baiklah-baiklah, tidak perlu marah-marah, pesanlah sendiri!"
" Tidak perlu, aku nanti bisa makan Yura." elaknya yang justru terkena pukulan maut dari Yura di dada bidangnya. mungkin saat ini pria itu sedang lelah hingga berbicara ngawur.
" Al bisakah kau sedikit serius!" desis Yura pelan, Al hanya tersenyum nakal. dan memesan makanan untuk dirinya sendiri sebab saat dirinya baru saja datang mereka bertiga tengah menyantap makanan mereka.
Tak lama pelayan mengantarkan pesanan Al, yang langsung di santap olehnya, sebab tadi ia hanya makan sedikit untuk menghargai para kolega Ayahnya.
" Oh iya, apa Felix menghubungimu?" tanya Al sambil menatap Davin yang baru saja memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
" Tidak, sudah lama aku tidak pernah lagi bertemu dengannya. apalagi berkomunikasi. memang dia tidak menghubungimu juga?" Davin memang tidak pernah bertemu lagi dengan pria itu.
Al menggeleng, terakhir mereka bertemu saat mereka sedang balap motor malam itu sebelum Juan menemukan kontrakannya, dan sampai sekarang belum bertemu lagi, entah kemana dia? seperti di telan bumi saja pikirnya.
Sementara Yura dan Prita hanya diam mendengarkan saja, sambil menikmati hidangan yang tersaji di atas meja.
" DJ? oh yang waktu itu, aku baru ingat dua hari kemarin aku melihatnya di depan swalayan bersama seorang wanita muda mungkin seumuran dengannya. saat aku baru saja akan masuk ke dalam kafe, sepertinya mereka sedang bertengkar terlihat dari wajah keduanya yang tegang." terang Prita begitu seriusnya bahkan ia melupakan sejenak makanannya sendiri.
" Bertengkar?" seru Al dan Davin bersamaan. Prita mengangguk cepat.
Lalu keduanya saling pandang sejenak, mungkin tengah memikirkan sesuatu yang menyangkut hilangnya kabar sahabat mereka.
" Jangan bilang mereka merebutkan Felix? lalu Felix kabur dan pergi entah kemana meninggalkan kedua wanita itu." duga Davin dengan segala pemikirannya sendiri.
" Husst, jangan asal menduga sembarangan, belum tentu mereka bertengkar merebutkan seorang Felix, seperti tidak ada pria lain saja." sela Prita yang tidak sependapat dengan pemikiran kekasihnya.
" Tetapi aku setuju dengan Davin, sebab aku bisa menilai saat melihat wanita yang di klub malam itu mencoba membodohi Felix dengan berpura-pura menjadi wanita yang akan Felix ajak bercinta malam itu, dan pada akhirnya Felix pergi meninggalkannya tanpa lebih dulu bersenang-senang." timpal Al dengan dugaan yang semakin kuat.
" Lalu pergi kemana Felix?" Davin kembali berpikir sejenak, tetapi tidak mengingat apapun.
Yura tidak memikirkan tentang hilangnya kabar Felix, ia justru menatap Al sembari memicingkan kedua netranya curiga. Al yang seolah mengerti jika sang kekasih menatapnya dengan tatapan seolah mengintimidasipun berusaha menjelaskan yang sebenarnya.
" Tidak seperti apa yang kau bayangkan sayang, aku tidak melakukan apapun malam itu sungguh!, aku hanya menemani mereka bertiga, tetapi mereka justru bersenang-senang sendiri, tanpa memikirkanku yang hanya datang sendirian, kau tanyakan saja pada mereka berdua?" tunjuk Al Davin dan juga Prita yang justru tengah saling pandang.
Yura menghela napas sedikit lega, walau ia masih sedikit belum percaya pada kekasihnya, mengingat bagaimana track record nya dulu yang sering bergonta-ganti wanita untuk berkencan.
" Aku ke toilet sebentar." pamit Yura berjalan ke belakang area dan meninggalkan mereka bertiga.
Sementara kedua sahabatnya Prita dan Davin sudah menahan tawa sedari tadi, akhirnya tidak tahan mereka tertawa lepas, sebab seorang Al yang terkenal playboy, berandalan dan tidak takut dengan siapapun, justru sekarang terlihat seperti seekor kucing yang takut pada majikannya, menggelikan sekali bukan!
" Puas kalian! terus saja tertawa!!" desis Al penuh penekanan.
Malam semakin larut, tak lama mereka akhirnya pamit pulang setelah merasakan kepuasan makanan yang mereka makan juga kepuasan bercengkrama yang sudah lama sekali tidak berkumpul bersama.
.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
.
.
.
.
.
.
.
.tbc
Mohon dukungan dari semuanya yaa,, dengan cara beri like vote dan juga hadiah🌷🌷🌷🌷🌷
Terima kasih yang sudah mampir baca. love u all..