
Yu Jie menyuruh Al untuk memasangkan kalung pemberiannya, hadiah dari memenangkan lomba tadi.
"Pelan-pelan saja, semakin kau terburu-buru, itu akan semakin sulit untuk masuk." Al masih diam saja.
"Aku sudah menunggu terlalu lama untuk bertemu lagi denganmu, sekarang aku tidak akan melepaskan orang yang aku sukai, sampai mati pun aku tidak akan melepaskannya." Al masih saja diam tak menjawabnya sama sekali masih fokus memasangkan kaitan kalung itu.
"Terima kasih Al, aku sungguh senang sekali hari ini, karena sudah bertemu kembali denganmu dan juga menghabiskan waktu bersamamu." ucap Yu Jie tersenyum lebar.
Al hanya tersenyum terpaksakan walau itu sangat terlihat sekali di mata Yu Jie," Kau pasti buru-buru pulang karena Yura menunggumu." Al masih tetap saja sama dengan menatap datar Yu Jie tanpa ekspresi.
"Baiklah aku pulang dulu, selamat malam." tanpa menunggu jawaban dari Yu Jie, Al sudah lebih dulu berjalan cepat dan masuk kembali ke dalam taksi yang sedari tadi menunggunya.
Yu Jie hanya menatap kepergian Al dengan banyak pertanyaan, tapi juga sudah menduganya saat melihat semuanya di kafe siang tadi.
Sesampainya di kampus, hari sudah semakin larut, Al berjalan cepat hingga ia mematung sejenak saat melihat Yura sedang berbicara pada Davin hingga gadis itu menangis dan berada di dalam pelukan Davin.
"Al"
...----------------...
Davin berlari cepat kembali ke kampus saat baru menyadari motor Al masih terparkir sempurna di sana, ia pun mencari keberadaan Yura yang memang berniat menunggu Al kembali.
Saat penglihatannya menagkap Yura yang duduk sendirian di pojok tangga ia pun berjalan mendekat."Yura." panggilnya.
Membuat Yura menengadahkan kepalanya, "Davin kenapa kau disini?" Yura masih tak bergerak hingga Davin duduk di sampingnya.
"Kau masih menunggunya sampai selarut ini?" bukannya menjawab Davin malah balik bertanya.
"Hemmm, karena ia menyuruhku menunggunya di sini jadi aku masih di sini." jawabnya sambil menundukkan kepalanya.
Davin menghela nafas kasarnya setelah mendengar jawaban Yura dengan nadanya yang menahan tangis.
"Karena sudah malam aku jadi khawatir, jadi aku kesini kembali untuk melihatmu apa kau masih ada, tidak di sangka kau masih di sini." membuat Yura langsung menoleh menatap Davin dengan perasaan bimbang.
"Aku bodoh sekali, tidak bisa memikirkan cara lain, hanya bisa menunggunya saja, setiap kali mau pergi aku selalu berpikhir apa sedetik lagi dia akan muncul."lirih Yura membuat Davin pun merasa kesal pada Al.
"Dia pasti kembali ke sisi kekasihnya dulu, seharusnya aku harus pulang dari tadi, benarkan?" isaknya mulai terdengar sambil menatap Davin membuat Davin merengkuh tubuh Yura ke dalam pelukannya, Yura hanya diam tak membalas pelukan itu.
Tak lama Yura melihat bayangan agak jauh, ternyata Al sudah berdiri di sana menatap keduanya dengan tatapan yang tidak terbaca.
"Al". panggil Yura membuat Davin mengurai pelukannya dan ikut menatap ke arah yang sama, mereka pun beranjak berdiri.
"Jangan salah paham, aku dan Davin hanya_
"Kau sedang apa? mantan kekasihmu kembal, lalu hatimu langsung goyah." Davin menyela ucapan Yura yang tengah mengusap air matanya itu.
Sedangkan Al hanya diam saja tatapan matanya seolah sedang merasa amat bersalah pada kekasihnya itu, yang ternyata masih setia menunggunya.
"Kuberitahu kau, aku tidak melupakan Yura sepenuhnya," membuat Yura langsung menatap Davin dengan cepat.
"Walaupun kau adalah rivalku, aku juga tidak akan menyerah, kalau kau masih tidak bisa menghargainya, aku pasti akan merebut Yura kembali." lanjutnya sambil berjalan mendekat pada Al yang masih saja diam mematung.
"Kami sedang merayakannya, kalau kau mau datang, kalian datang saja." bisik Davin kemudian berjalan meninggalkan mereka berdua.
"Al kau tahu, bukan itu maksud Davin tadi, dia hanya khawatir aku sendirian tadi di sini, makanya dia datang kemari." Yura berjalan mendekat pada Al yang berdiri masih saja tidak bergerak.
"Yu Jie bukan mantan kekasihku, yang berpacaran dengannya adalah Erick, bukanlah aku, tapi walaupun berpacaran mereka belum pernah berciuman, mungkin ini yang di sebut pacaran kejiwaan." Jelasnya, Yura masih diam mendengarkan segala ucapan Al.
Walaupun tadi Fhanie sudah memberitahukan segalanya namun ia ingin mendengarnya langsung dari mulut Al sendiri.
"Dari kecil Erick memang begitu, tapi sekarang semenjak kejadian itu dia sedikit berbeda apalagi dia sudah bertunangan sekarang dengan orang lain, tapi sifat diam dan dinginnya masih tetap saja sama bagiku, dia juga penuh tata krama dan tanggung jawab." lanjutnya yang mulai tersenyum tipis.
"Itulah yang membuatnya pergi dari kami, melepas Yu Jie untukku, tapi tanpanya aku bagaikan burung yang kehilangan satu sayapnya, hidup tapi tak ada semangat sama sekali." Yura menggenggam tangan kekar itu.
"Yu Jie selalu mengeluh padaku tentang Erick yang tidak pernah menciumnya, makanya aku merebutnya, Yu Jie pasti merasa beruntung suara yang sama, wajah pun sama baginya kami tidak ada bedanya. haya saja aku jauh lebih tidak sopan dalam hal itu aku seperti binatang." Al semakin merendahkan dirinya.
"Kau bukan orang yang seperti itu, walaupun Erick adalah rivalmu, kau tetap tidak bisa menahan perasaanmu sendiri, kau berusaha keras untuk membantu Davin, apalagi terhadap Erick, yang jelas-jelas kau ingin mundur tapi tidak bisa, karena kau nuga tidak bisa mengendalikan diri sendiri untuk tidak menyukai Yu Jie, benarkan?"
Sahut Yura panjang lebar setelah memahami apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka bertiga.
"Ayo kita pulang!" ajak Al tanpa menjawab pernyataan dari Yura, ia sudah lebih dulu berbalik dan akan melangkah menuju tempat motornya berada, membuat Yura mau tidak mau mengikutinya dan berjalan di belakangnya.
Setelah memastikan Yura sudah masuk ke dalam rumahnya, Al melajukan motornya kembali menuju ke suatu tempat.
"Alrick sudah lama aku menunggumu."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
.
.
.
.
.
.tbc
Maaf slow up sambil menunggu di Review ya para Readers..
Mohon dukungan dari semuanya yaa,, dengan cara beri like vote dan juga hadiah🌷🌷🌷🌷🌷
Terima kasih yang sudah mampir baca. love u all..
.
.
.
.
.
.