Bad Boy I Love You

Bad Boy I Love You
Lupa Tak Membawa Uang.



" Ya aku memang tidur dengan mereka, dan pada akhirnya aku tidak melakukan apa-apa." sahut Al dengan wajah yang tertekuk itu.


Davin terlihat bingung dengan penjelasan dari sahabatnya itu, ingin bertanya namun Al sudah lebih dulu berucap kembali.


" Jangan pernah membayangkan. aku si binat4ng, tidak bisa berbuat apa-apa pada saat itu." imbuh Al dengan datar.


Davin langsung tertawa dengan lebar karena sudah mulai paham, bahwa permainan Al tidak mencapai tujuannya. ia justru senang itu berarti usaha Al untuk mencari pelampiasan telah gagal.


" Apa para wanita itu marah karena tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan?" tanyanya masih dengan tertawa.


" Mungkin saja, karena aku berbohong dan mengatakan jika Ibuku meninggal karena serangan jantung mendadak, jadi aku tidak bisa melanjutkan itu dengan mereka. dan sepertinya kau sangat senang melihatku kacau seperti ini." terangnya justru membuat Davin tak bisa berhenti tertawa.


Seolah itulah yang Davin dan Prita harapkan agar Al tidak bisa melupakan Yura dan hanya Yura yang bisa menjadi pawangnya.


Al pun ikut tertawa lepas bersama Davin, " Sama halnya saat aku remaja dulu, benar-benar sebuah bencana. apa yang harus aku lakukan?" desah Al sambil menghela napas berat.


" Mungkin karena sudah ada wanita yang special di hatimu, jadi kau tidak bisa melampiaskannya pada wanita lain." celetuk Davin kemudian.


" Ya kau benar, aku sangat merindukannya, kepalaku sudah dipenuhi oleh Yura,." lirih Al mengakui apa yang ia rasakan.


" Itulah yang tidak kumengerti, jika kau sangat peduli sekali padanya, kenapa kau menyerah begitu saja? pasti ada cara untuk menyelesaikannya." ujarnya


Davin mencoba menasehati agar sahabatnya itu terus memperjuangkan hubungannya dengan Yura.


" Bukan aku yang menyerah, tapi Yura." balas Al dengan tidak beremangat lagi.


" Masalah di antara kami tidaklah sesederhana kelihatannya, masalah pada Yura adalah kurangnya kepercayaan. kenapa dia memilih hidup di bawah bayangan masa lalu?" Al mulai memceritakan unek-uneknya.


" Sudah lama aku memikirkannya, jawabannya sangat sederhana, tapi sangat menyakitkan. dia tidak percaya aku bisa memberinya masa depan." imbuhnya kemudian.


" Apa kau tahu tentang kakak tirinya itu?" tanya Davin yang memang tidak mengenal pria tersebut.


" Aku hanya khawatir padanya, jadi aku memintanya pindah. yang membuatku tak menyangka, Reputasinya yang dilihat baik karena aku dengar dia pemilik dari sebuah perusahaan kecil yang baru di bangun."


" Aku sudah bertanya pada beberapa karyawan yang bekerja padanya, mereka mengatakan jika dia adalah seorang pria yang hati-hati, lembut dan ramah. para tetangganya pun mengatakan ia pria yang berperilaku baik dan jujur, semenjak Ayah mereka meninggal ia menjadi sosok pria yang bertanggung jawab pada keluarganya, dan memperlakukan adik-adiknya dengan baik. dia bahkan tiap bulan selalu memberikan sumbangan amal, masyarakat melihatnya sebagai orang yang baik." terang Al kembali.


" Tapi di belakangnya segala sesuatu yang ia perbuat..tidak ada satu pun yang tahu." timpal Davin.


" Itulah masalah pokoknya. jika kau berjalan di tempat terang, berpakaian layaknya orang baik, bertindak seperti orang baik. sehingga orang lain akan berpikir kau adalah orang baik. sehingga saatnya tiba tanpa sengaja kau membuka kedokmu, semuanya akan berpikir manusia pasti akan melakukan kesalahan. dan mereka akan memberimu kesempatan lain."


Davin masih diam mendengarkan Al berbicara dengan begitu serius.


" Yura memilih untuk menerima kembali karena ia hanya memikirkan Ibunya yang sedang sakit. dan bagaimanapun di mata semua orang aku hanyalah seorang pria yang berotak dangkal, berandalan, pemuda bodoh, ceroboh yang hanya bisa bermimpi menjadi seorang pembalap. siapa yang akan mempercayakan masa depan putrinya untuk bersama denganku? siapa yang akan percaya aku akan mengukir namaku di sejarah. dan siapa yang akan tahu aku sudah mengukir rumah di hati Yura? aku pikir Yura akan tahu, tapi akhirnya..!"


Al merasa sesak di dadanya, seolah harapannya sudah hancur, ibarat bunga yang sudah hampir mati karena tidak mendapatkan air dan matahari.


" Kenapa kau tidak terus berusaha? terserah dengan yang orang pikirkan tentang si cabul itu, yang paling penting adalah kau dan Yura. tidak ada yang tidak berarti di dunia ini, yang paling penting adalah dihati kita masing-masing. jika bukan kau yang mendukungnya. lalu apa yang bisa dilakukannya?" nasehat Davin dengan bijak.


" Sudahlah sebaiknya kau pulang tenangkan pikiranmu supaya kembali jernih, ini sudah sangat larut, ayo antar aku pulang terlebih dahulu." ajak Davin.


Ia sudah mulai lelah karena sehabis ia mengantar kekasihnya pulang tadi, ia langsung kembali lagi hanya untuk menunggu sahabatnya itu.


Davin kembali lagi hanya untuk memastikan Al baik-baik saja, ia memang sudah mengenal Al dengan baik. namun tidak semuanya Al mau berbagi bercerita dengannya. dia pun tidak ingin memaksa.


Akhirnya Al pun mengangguk dan mengantarkan Davin lebih dulu ke rumahnya, ia memang sudah sangat letih ingin segera beristirahat di rumahnya.


Selang beberapa menit Al sudah sampai ke kontarkannya, sepulang kuliah tadi ia hanya pulang sebentar untuk membersihkan diri dan berganti pakaian lalu keluar kembali menuju Mall ia pikir akan segera kembali dengan cepat maka dari itu rumahnya pun tidak ia kunci.


Namun saat ia hendak membuka pintu, ada seseorang yang memanggilnya, Al pun menoleh dan terlihat anak dari sang pemilik kontrakan yang memang masih muda usianya darinya berdiri tak jauh darinya.


" Al, akhirnya kau pulang juga."


" Memangnya ada apa?" tanya Al bingung.


" Yura lama menunggumu disini dan ia baru saja pergi, dia bilang akan naik bus terakhir." terangnya kemudian.


Al bukannya membalas terlebih dahulu atau mengucapkan terima kasih, ia justru bergegas dengan cepat dan mengendarai motornya keluar gang.


Dengan kecepatan tinggi ia melajukan motornya menuju ke terminal bus berharap masih ada waktu untuk bertemu dengan Yura.


Beberapa menit kemudian ia telah sampai dan berlari menuju loket, ternyata sudah tutup, tubuhnya pun melemas karena pasti wanitanya sudah pergi dari sana.


" Yura maaf." lirihnya.


Dengan langkah gontai ia kembali ke arah motornya berada yang ia parkir di sembarangan tempat, namun langkahnya terhenti saat ia sekilas melihat ada seseorang yag berdiri tak jauh darinya.


Al pun menoleh untuk melihat siapa seseorang tersebut, ternyata wanita yang sedang ia cari.


" Apa yang kau lakukan disini?" tanya Al dengan curiga.


Bukankah seharusnya Yura sudah naik ke dalam bus yang ia naiki dan seharusnya sudah berada di perjalanan menuju ke rumahnya.


Yura pun tak bisa menahan senyumnya karena melihat pria yang ia cintai ada di hadapannya dan ternyata sedang mencarinya saat ini, ia sungguh tidak menyangka.


" Aku lupa membawa uangku." terangnya sambil tersenyum manis.


.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


.


.


.


.


.


.


.


.tbc


Mohon dukungan dari semuanya yaa,, dengan cara beri like vote dan juga hadiah🌷🌷🌷🌷🌷


Terima kasih yang sudah mampir baca. love u all..