Bad Boy I Love You

Bad Boy I Love You
Kedatangan tamu di masa lalu



Al, stopit." teriak Yura saat melihat Al akan memukul Wizzy.


" Apa kau minta di hajar? aku sudah nerbaik hati padamu." desis Al menatap tajam kepada Wizzy.


Sementara Wizzy hanya diam saja tak ingin menghindar.


" Al jangan begitu," Yura mencoba melerai keduanya.


" Kau benar-benar minta dihajar ya." Al semakin geram.


" Al sudah." bentak Yura akhirnya. " Ayo sebaiknya kita pergi dari sini." Yura sudah menarik lengan Al mengajaknya keluar dari kelas itu.


" Anak sialan, wajahmu sangat manis, tapi kau sama sekali tidak manis." Al masih menggerutu sepanjang jalan.


" Mungkin bukan itu maksudnya, dia hanya merasa aku sangat baik padanya." sahut Yura memperkirakan.


" Makanya aku sudah bilang tadi, mulai hari ini jangan terlalu dekat dengannya, lalu kenapa kau baik padanya?" tanya Al.


" Karena tadi pagi dia menangis di toilet setelah kau membentaknya, membuatnya sangat sedih." jawab Yura yang memang begitu yang terjadi.


" Sedih? kau tenang saja, dia tidak akan sedih, dia hanya pura-pura saja." sahut Al mulai malas membahas pria itu.


" Apa maksudmu?"


" Kalau dia benar-benar sedih? mungkin selama sepekan tidak akan berani melihatku, tapi apa kau lihat dia masih bisa menatapku walaupun hanya sebentar saja, apalagi dia bicara dengan menatap mataku, percayalah padaku dia lain dengan orang biasa." terang Al panjang lebar.


...----------------...


Dua hari berikutnya Yura berjalan pulang sendirian, lalu tiba-tiba Wizzy sudah berada di sampingnya?


" Hay kau mengejutkanku." seru Yura sambil menoleh ke samping.


" Maaf."


" Kau sudah tidak ada kelas lain?" tanya Yura sambil terus melangkah di ikuti Wizzy di sampingnya.


" Tidak ada, emm aku ingin bicara denganmu, kau tidak apa-apa?" tanya Wizzy melirik sedikit ke samping.


" Bicaralah."


" Sebenarnya saat aku masih kecil, aku kenal dengan orang yang kemudian dia menjadi emosional, saat itu aku seperti pembantunya. kalau aku melawannya dia langsung emosi." seru Wizzy.


" Kenapa kau tidak melawannya?" tanya Yura sedikit tertarik.


" Sudah, tapi dia malah menghajarku hingga babak belur, suatu hari aku juha di hajar olehnya, namun tiba-tiba Kakak kelas Al datang menghajarnya bersama dengan temannya yang lain, jadi penurutku, Kak Al itu adalah penyelamatku." jelas Wizzy.


Yura mengangguk mulai mengerti, kenapa Wizzy bisa menyukai Al, tak lama terdengar bunyi klakson mobil dari arah samping mereka, yang ternyata adalah orang yang Yura kenal.


" Yura, dimana Al?" teriak Felix masih berada di dalam mobilnya.


" Hay Fel, tidak akhir-akhir ini aku terlalu sibuk di kelas seni, jadi kami tidak bersama.


" Oh baiklah, ayo naiklah aku antar pulang." seru Felix kembali sambil membukakan pintu samping penumpang.


" Baiklah aku pergi dulu." seru Wizzy sambil berlalu.


Tak ingin menunda waktu Yura pun langsung masuk dan duduk di samping Felix.


" Hayo tertangkap olehku, kau pulang dengan pria lain, " celetuk Felix sambil melajukan pelan mobilnya.


" Bukan begitu, dia anggota baru di klub kesenian kami, " balas Yura sambil geleng-geleng kepala.


" Jangan bercanda?" Felix terlihat masih belum percaya.


" Sungguh, namanya Wizzy, Al juga mengenalnya, kalau kau tidak percaya tanyakan saja pada Al." sahut Yura kemudian.


" Tunggu dulu, maksudmu Wizzy Lim?" tanya Felix karena sedikit familiar dengan namanya itu.


" Kau juga mengenalnya?" tanya Yura balik.


" Tidak juga, hanya saja aku merasa pernah mendengar nama itu." Felix tidak mau ambil pusing dengan nsna tersebut.


Karena memang ia belum mengingatnya, ia oun mengantar Yura hingga ke deoan teras rumahnya.


" Terima kasih Felix." Yura melambaikan tangannya sebelum Felix melajukan kembali mobil boxnya itu.


...----------------...


Sore harinya Al mengajak Yura pergi jalan-jalan sebentar, kemudian mengajaknya mampir ke kontrakannya terlebih dahulu sebelum mengantarnya kembali pulang.


" Jadi kalian sudah saling mengenal sebelumnya?" tanya Yura sambil menyesap minuman yang ia ambil dari lemari pendingin.


" Dan aku memukul anak seumuran dengannya hingga babak belur, akhirnya kau tahu? Wizzy sama sekali tidak mengucapkan terima kasih padaku, malah melihatku dengan pandangan kebencian, aku baru mengingatnya kemarin ternyata anak itu adalah Wizzy." Yura masih diam mendengatkan cerita Al.


" Kalau waktu itu Wizzy tidak memandangku dengan mata seperti itu, mungkin aku sudah membunuh anak itu. aku sangat menakutkan bukan? ada kalanya aku sendiri juga merasa ada yang tidak beres dengan diriku." lanjut Al kembali.


" Hanya kau sendiri saja yang tidak tahu, sebenarnya kau sangat manis." seru Yura sambil mengecup bibir Al sekilas.


Tak lama ada seseorang yang mengetuk pintu depan." Siapa? kau kedatangan tamu?" tanya Yura beranjak akan membukakan pintunya.


" Stop, kau duduk saja biar aku yang membukanya." Al berjalan ke depan dan membukakan pintu untuk melihat siapa tamu yang berkunjung.


" Hay Al, bagaimana kabarmu?" sapa seorang pria yang sudah cukup dewasa.


Pria itu langsung melangkah masuk sebelum di persilahkan oleh sang empu rumah terlebih dahulu.


" Fendy, ada apa?" tanya Al sambil menutup kembali pintu depannya, setelahnya mengikuti langkah pria tersebut.


" Hay, kau pasti yang bernama Han Yura 'kan?" tebaknya tepat sasaran.


Bukannya menjawab pertanyaan Al, pria itu malah menyapa Yura terlebih dahulu, tahu saja ada gadis cantik disini.


Sementara Yura bingung, sambil melirik Al. bagaimana orang itu bisa tahu namanya, dirinya saja tidak mengenal pria tersebut.


" Bagaimana kau bisa tahu?" tanya Yura menatap pria itu.


" Aku sudah lama mengenal Alrick, kalau sampai aku masih tidak tahu kau siapa, bukankah sangat memalukan." balas Pria yang bernama Fendy tersebut.


" Apa seorang polisi harus menjalankan tugas seperti itu?" tanya Al sedikit kesal.


" Seharusnya memang bukan begini, maka aku tidak bisa menjalankan tugas, kau punya bir di dalam?" tanya Fendy sambil menujuk ke arah lemari pendingin.


" Tidak ada bir di rumahku sudah habis, kita minum di luar saja." usul Al tapi sepertinya Fendy menolak.


" Tapi_


" Sudah ayo," ajaknya memaksa.


Kemudian Al menoleh ke arah Yura." Tunggu sebentar disini, aku pergi dulu mengurus sedikit masalah, aku segera kembali." Al mengecup sekilas kening Yura sebelum berlalu.


" Aaisss, romantis sekali kalian, kenapa tidak menikah saja." celetuk Fendy sambil tersenyum ke arah Yura.


" Sudah ayo, jangan di dengarkan ucapan pria ini, kunci pintunya." pesannya sebelum benar-benar keluar.


" Lain kali datang lagi." ujar Yura.


Yura menunduk sedikit malu, tapi ia langsung menutup pintu itu kemudian tak lupa menguncinya dari dalam.


...----------------...


" Bagaimana kabarmu? sudah lama kita tidak bertemu." tanya Al saat mereka baru saja duduk di sebuah kafe yang terletak tidak jauh dari rumah Al.


" Kau mau pesan apa?" Fendy malah bertanya kepada Al.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.tbc


Mohon dukungan dari semuanya yaa,, dengan cara beri like vote dan juga hadiah🌷🌷🌷🌷🌷


Terima kasih yang sudah mampir baca. love u all..