Bad Boy I Love You

Bad Boy I Love You
Merasa Di Bodohi



Al berjalan menuju tangga akan segera naik ke lantai atas setelah memarkirkan motornya tadi, namun di bawah tangga ia justru di hadang oleh beberapa mahasiswi yang masih muda.


" Kakak senior ini untukmu." ujar salah satu dari mereka sambil menyodorkan sebuah amplop bermotif bunga.


Al pun langsung menerimanya, " Surat cinta." gumamnya sambil tersenyum memperhatikan benda tersebut.


" Kakak senior, dari pertama kali masuk ke kampus ini temanku sudah menyukaimu." seru salah satunya memberitahu.


" Kalian mahasiswi baru? oh manis sekali." puji Al sambil menatap wanita muda yang memberinya surat tadi.


Membuat wanita itu tersipu malu, " Benar Kakak senior." timpal yang lainnya membenarkan.


" Baiklah nanti aku baca, aku naik duluan ya karena ada kelas pagi ini." pamitnya sambil berjalan meninggalkan para wanita-wanita muda tadi yang tampak senang karena suratnya di terima oleh pria yang ia incar.


...----------------...


Di lantai atas Yura, Prita dan Davin masih saja mengobrol bertiga di bangku tempat Yura duduk, walau sudah banyak teman yang lain yang sudah masuk ke dalam kelas.


Mereka bertiga berbicara begitu pelan, sehingga tidak ada teman yang mendengar pembicaraan mereka.


Davin masih menatap Yura, menanti jawaban darinya. " Katanya dia berjanji padaku tidak akan melakukan hal itu lagi." jawabnya dengan suara pelan.


Namun Davin dan Prita tentu saja bisa mendengarnya karena memang jarak mereka berdekatan di samping kanan kirinya memang masih terlihat kosong.


" Baiklah, jika kau benar bisa menerimanya, kalau begitu tidak ada lagi yang harus kukatakan." ujar Davin merasa sedikit kecewa dengan keputusan yang di ambil oleh Yura.


" Aku juga tidak ingin lagi Al menyusahkanku, kau tahu aku punya dua adik yang paling kecil masih duduk di sekolah dasar. aku selalu berpikir Al mirip dengannya. mereka punya senyum yang sama, aku benar-benar tidak ingin melihat Al menderita lagi." seru Davin sembari berdiri dan berjalan duduk di tempat yang biasa ia duduki.


Saat bersamaan Al baru saja masuk ke dalam kelas, surat yang ia pegang tadi sudah hilang tidak berada di tangannya lagi, entah mungkin sudah di buang.


" Hei, Prita kenapa kau duduk di situ, itu tempatku." seru Al membuat Prita langsung berdiri berpindah tempat duduk.


" Hay." Al melempar senyum ke arah Yura, begitu pun dengan Yura yang langsung membalasnya.


Davin dan Prita yang melihat itu jadi merasa kasihan terhadap keduanya, hubungan Al dan Yura ternyata banyak sekali rintangannya. begitulah yang mereka pikirkan.


Hingga beberapa jam kemudian kuliah pun telah usai, Yura berjalan bersama dengan Prita dan juga Davin, karena tadi Al langsung berpamitan akan pergi bekerja di bengkel temannya namun tidak sampai lembur mungkin sampai waktu makan malam saja.


" Jadi bagaimana, kau sudah siap memberitahu Al? karena jika kau salah sedikit, mengingat bagaimana sikap Al pasti kau sudah memahaminya bukan?" seru Davin memastikan.


Yura akhirnya mengangguk pelan." Nanti malam aku akan menyuruhnya datang ke tempat Prita bekerja." jawabnya dengan mantap.


...----------------...


Di tempat berbeda Al sudah asyik mengotak-atik motor yang sedang ia perbaiki, motor itu milik salah seorang langganan bengkel disini.


Jadi orang tersebut sudah mempercayakan motornya kepada mereka semua yang bekerja disana.


" Bagaimana Al ? apa motorku sudah jadi?" tanya seorang pria seumuran dengan Al dan juga pemilik motor yang tengah di perbaiki olehnya.


Orang itu baru saja datang setelah ia tinggal tadi sebentar untuk pergi ke kedai kopi yang ada di sebelah bengkel ini.


" Sudah Dude sebentar lagi selesai, aku akan mencobanya terlebih dahulu sebelum kau bawa pulang." sahut Al sembari memberikan servise terakhir di body motor tersebut.


" Okay, mari kita coba."Al langsung menaiki motornya dan melajukan sedikit kencang ke jalanan yang sedikit ramai.


Hingga beberapa menit kemudian ia sudah kembali dengan senyum lebar karena ia merasa motor yang baru saja ia perbaiki sangatlah ringan dan nyaman di pakai.


Itu berarti servise nya berhasil dengan sangat baik, motor itu pun ia parkir di dekat jalan raya. agar memudahkan sang pemilik tidak perlu memutarnya lagi.


" Terima kasih Al." ucapnya setelah membayar tagihan servise tadi dan langsung naik ke atas motor dan melaju dengan perlahan.


" Okay sama-sama." teriak Al sembari melambaikan sebelah tangannya.


Tak lama ada seseorang yang datang lagi. " Hay Al, ini untukmu." serunya sambil berjalan masuk mendekati Al yang sedang duduk sambil menyesap minumannya.


Orang itu menyodorkan sekotak donat yang brand nya cukup terkenal di negara sana.


" Oh hay Felix lama tidak bertemu. harusnya tidak perlu repot-repot membawa makanan kesini, tapi aku ambil, terima kasih." balasnya langsung membuka kotak tersebut.


" Oh iya aku baru ingat, kenapa Yura pindah rumah ya? " seru Felix memberi tahu.


Deg..


Al langsung menghentikan makannya dan menoleh dengan cepat ke arah Felix dengan raut wajah yang cengo'.


" Pindah rumah?" gumamnya pelan, namun Felix masih bisa mendengarnya.


" Iya kenapa? kau tidak tahu? sudah hampir sepekan ini, karena mereka memakai jasa mobil barang tempatku bekerja, makanya aku tahu." jelas Felix kemudian.


Felix seolah peka, sepertinya Al memang tidak tahu menahu tentang kepindahan kekasihnya itu, walau ia tidak tahu masalah apa yang sedang mereka hadapi, hingga Yura tidak jujur pada Al, namun ia hanya berharap mereka bisa mengatasi masalahnya mereka secara dewasa.


Beberapa menit kemudian ada notifikasi di ponsel Al, sepertinya ada pesan masuk.


Al pun langsung membukanya di hadapan Felix. hingga Felix bisa membaca juga pesan dari seseorang siapa lagi kalau bukan dari Yura.


^^^Yura ; (Al aku ingin bertemu denganmu, ada sesuatu yang ingin aku katakan, kita bertemu di kafe tempat Prita bekerja ya. aku tunggu di sana, bye.)^^^


" Baiklah sepertinya dia ingin memberitahumu mengenai kepindahannya, ingat saranku tadi, bicarakan baik-baik dengan kepala dingin, mungkin ada sesuatu hal yang sulit ia beritahu kepadamu, Yura itu wanita cerdas Al, kau tahu bukan!." ujar Felix sebelum ia pamit.


Al hanya bisa menganggukkan kepalanya saja, tanpa menjawab ucapan dari Felix, terlihat dari raut wajahnya yang merasakan kekecewaan yang amat besar kepada Yura.


Bahkan kemarin mereka menghabiskan waktu bersama untuk berjalan-jalan dan juga malam harinya ia juga yang mengantarkannya pulang.


Namun Yura sama sekali tidak mengatakan apapun padanya, bahkan tadi juga tidak.


Walau semalam sempat curiga dengan lampu teras yang tidak di nyalakan, mungkin Yura berusaha menutupinya. lalu sepeninggalan dirinya mungkin Yura langsung pergi menuju rumah barunya yang tidak di ketahui olehnya.


Ada apa sebenarnya dengan Yura? jerit Al dalam hati sambil menarik sedikit kuat rambutnya.


Kenapa saat pindah rumah ia sama sekali tidak di beritahu, ia merasa menjadi pria yang bodoh, mudah sekali di bodohi oleh satu wanita saja.


Al pun mulai membereskan peralatan teknik yang ia gunakan tadi, tepat sekali karena sekarang juga sudah waktunya ia pulang.


Al melajukan motornya dengan sangat kencang menuju ke kafe dimana Yura sudah menunggunya disana, dengan perasaan campur aduk antara kesal, marah juga bingung bertanya-tanya ingin mendengar sendiri dari mulutnya, kenapa Yura menutupi semua ini darinya.


.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.tbc


Mohon dukungan dari semuanya yaa,, dengan cara beri like vote dan juga hadiah🌷🌷🌷🌷🌷


Terima kasih yang sudah mampir baca. love u all..