
" Kata-katamu tetap sama saja, aku sama tidak tertarik padamu, kenapa kau sama sekali tidak bisa mengerti dengan ucapanku berkali-kali." sarkas Al sudah sangat kesal terhadap Wizzy.
" Tidak apa-apa, yang penting aku tertarik padamu." sahut Wizzy dengan ekspresi datarnya.
" Kau ini lintah darat yang selalu saja menempel di mana-mana, kalau begitu aku tarik kembali ucapanku, aku sangat membencimu." sarkas Al sambil menghentikan langkahnya.
" Benarkah? tapi kelihatannya hubungan kita semakin berkembang, setidaknya membenci seseorang, berarti pernah merasakan keberadaannya." celetuk Wizzy kembali sambil tersenyum menatap Al.
Sedangkan Al malah menatap tajam ke arahnya, merasa muak terhadap pria jadi-jadian ini.
" Aku kira aku sudah tidak cukup normal, tapi kau jauh lebih tidak normal dariku. minggir aku sudah terlalu malas meladeni orang sepertimu." seru Al setelahnya ia berlalu dari hadapan Wizzy.
" Ini akan menjadi sebuah hadiah kenag-kenangan darimu kakak kelas." seru Wizzy membuat langkah Al terhenti lalu ia pun berbalik kembali.
" Sebaiknya kau pergi ke dokter." seloroh Al memberi saran.
" Aku tidak sedang sakit kak, aku baik-baik saja." jawab Wizzy yang memang merasa tubuhnya baik-baik saja.
" Bukan tubuhmu yang di periksa, tapi pikiranmu itu." sahut Al sambil menunjuk pelipisnya sendiri, lalu berbalik lagi akan meninggalkan orang yang ia anggap sudah tidak waras itu.
Begitu Al berbalik ia terkesiap begitu melihat Yura sudah berdiri agak juah dari mereka.
Al langsung mempercepat jalannya ke arah Yura, dan langsung menarik tangan gadis itu,' Yura aku ingin kau berjanji satu hal padaku."
Al masih terus menarik tangan Yura sambil berjalan tergesa-gesa menuju ke kelas mereka.
" Ada apa? apa yang terjadi di antara kalian?" tanya Yura ingin tahu.
" Aku minta kau jangan berhubungan lagi dengan Wizzy, berjanjilah padaku.!" ujarnya dengan nada kesal.
" Memang kenapa?"
" Aku bilang jangan berhubungan lagi dengannya, apa kau dengar." kali ini Al sedikit membentak Yura.
Membuat Yura langsung terkesiap begitu terkejut, hanya bisa mengangguk pelan saja.
" Yura ada Felix mencarimu, dia ada di depan sekarang." seru Prita yang baru saja masuk ke kelas.
" Felix? mencariku? ada apa?" tanyanya bingung.
Yura pun beranjak dari duduknya dan berjalan keluar kelas." Felix ada apa?" tanyanya begitu ia sudah di hadapan pria itu.
" Hay Yura akhirnya aku baru mengingatnya, aku merasa harus segera memberitahumu ini tentang pria yang bernama Wizzy." sahutnya begitu sangat serius.
" Wizzy kenapa dengannya?"
" Aku dengar pria itu sudah membunuh dua orang, dua korbannya itu adalah sahabatnya sendiri, mereka bersahabat sejak mereka masih kecil." seloroh Felix.
Membuat Yura langsung terkesiap sungguh ia sangat terkejut mendengar berita tentang ini," Bunuh orang?" ia membeo.
" Ya aku baru mengingatnya, dulu sekali aku pernah berkelahi dengan salah satu dari mereka yang jadi korbannya, yang bernama Aming, dan kusarankan kau dan Al jangan terlalu dekat dengan Wizzy." ujar Felix.
" Dan yang aku lihat Aming dan temannya itu adalah preman yang sangat nakal, suka minum dan pemakai obat-obatan terlarang, mereka meninggal dengan cara yang mengenaskan, karena mereka sering melukai Wizzy, dan menyiksanya juga." imbuh Felix kemudian.
" Terima kasih Felix kau sudah memberitahuku."
" Baiklah aku pergi kerja dulu, hati-hati kalian." pesan Felix sebelum meinggalkan Yura yang masih berdiri mematung.
Setelah kepergian Felix, Yura terus berpikir, bagaimana jika pria itu menyakiti Al, sebab Al terlalu bersikap kasar dengan Wizzy selama ini.
" Davin apa kau melihat Al," tanyanya begitu ia sampai ke dalam kelas tapi tak menemukan keberadaan Al, hanya melihat Davin saja.
" Alrick? dia sudah pergi sedari tadi, dia bilang mau kerja." sahut Davin menatap Yura dengan bingung.
" Kerja? kau tahu tempatnya bekerja dimana Davin?" tanyanya yang sudah tidak sabaran.
" Aku tidak tahu, soalnya Al selalu berpindah-pindah tempat, tidak selalu di bengkel. apa ada masalah? apa yang terjadi?" tanya Davin saat melihat Yura terdiam.
" Tidak ada apa-apa, tapi aku harus bertemu dengannya Davin, bye" Yura mengambil tasnya kemudian segera berlari keluar kelas untuk segera mencari keberadaan Al saat ini.
Entah ia harus mencari Al kemana yang penting ia harus menemukannya, entah kenapa perasaan Yura menjadi tidak tenang sekarang.
Yura menghubungi ponsel Al tapi panggilannya tidak di angkat juga oleh Al, perasaan menjadi was-was kali ini.
" Al kau dimana?" gumamnya sambil berjakan cepat menuju ke halte bis. tempat pemberhentian angkutan umum tersebut.
Saat tengah berada d dalam bus ponsel Yura berbunyi menandakan ada pesan masuk, yang segera di buka olehnya.
Pesan yang memberitahu keberadaan Al saat ini, tapi tidak tahu dari mana, sebab itu adakah nomor baru.
" Clubhouse SG" gumamnya." Ngapain Al disana?"
Tak berapa lama Yura sudah sampai ke tempat yang di kirim oleh Davin tadi, ia pun langsung masuk begitu di persilahkan oleh salah satu penjaga di depan gedung.
" Maaf mau cari siapa?" tanya seorang gadis cantik yang memakai pakaian yang sangat sexy itu.
" Apa Alrick ada di dalam?" gadis itu menatap Yura terlihat meneliti dari atas hingga bawah.
" Kau siapanya Alrick?" tanya gadis itu, terlihat mengejek.
" Kau tidak perlu tahu, katakan dimana Al?" sahutnya yang tak ingin berlama-lama meladeni gadis yang terlihat sombong ini.
Belum sempat gadis itu menjawab, Yura sudah langsung melipir masuk, tak menghiraukan gadis itu yang berteriak menegurnya.
" Hey kau tak boleh masuk, jika tak ingin bermain." teriaknya.
Yura terus saja berjalan dengan cepat, membuka satu persatu pintu ruangan yang ia yakini tempat untuk berlatih.
" Al" teriaknya begitu melihat Al sedang memegang stick golf sambil sedikit memeluk gadis yang terlihat masih muda itu.
" Yura." lirih Al sambil melepas pegangannya itu.
" Ternyata ini pekerjaan yang kau bilang santai dan menguntungkan itu." cibir Yura menatap Al dengan raut kecewanya.
" Yura ini tidak seperti yang kau lihat." lalu pandangan Al tertuju kepada pria yang berdiri di belakang Yura.
" Anak nakal, sebenarnya apa yang kau inginkan.!" geram Al langsung berjalan cepat dan memukul pria itu.
Yang tak lain adalah Wizzy, pria itu hanya terkekeh saja tanpa membalas pukulan yang di berikan oleh Al padanya.
Al sudah menduga bahwa Wizzy-lah yang memberitahu Yura, sebab tidak ada yang tahu selain pria jadi-jadian itu bahkan Davin sahabatnya sendiri pun tidak ia beritahu.
Al sudah bekerja disini hampir dua bulanan dan ia sering melihat Wizzy saat mereka berpapasan di pintu masuk depan sana.
" Al sudah, kenapa kau merahasiakannya padaku? kenapa tidak memberi tahuku?" cecar Yura menatap kesal kepada Al.
" Kenapa kau tidak membertahuku Al?" bentak Yura kembali.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
.
.
.
.
.
.
.
.
Mohon dukungan dari semuanya yaa,, dengan cara beri like vote dan juga hadiah🌷🌷🌷🌷🌷
Terima kasih yang sudah mampir baca. love u all..