Bad Boy I Love You

Bad Boy I Love You
Mengajaknya balapan



Sementara itu Yura duduk di taman sendirian sembari melukis di buku gambar yang ia bawa tadi di dalam tasnya.


Lalu seorang anak kecil berjalan menghampirinya, dan duduk di sampingnya.


"Kakak sedang menggambar ya?" tanya anak perempuan berumur sekitar lima tahunan itu.


" Hay, iyaa kamu sama siapa kesini?" tanya balik Yura sambil melirik anak kecil tersebut.


" Sama Ayah dan Ibu," tunjuknya ke arah belakang mereka ada sepasang suami istri sedang duduk beralas tikar sambil menikmati suasana taman kota menjelang sore hari ini.


Yura pun tersenyum sambil melanjutkan gambarnya, " Wah cantik sekali kakak." puji anak kecil tadi.


" Kau suka?"


" Iya, this is beautiful." sambil memandang beberapa kupu-kupu yang beterbangan di atas ribuan bunga yang baru saja di gambar oleh Yura.


" Kau boleh menyimpannya, tapi tunggu sebentar lagi, kakak akan menyelesaikannya." anak kecil itu nampak semang ceria saat akan mendapatkan sebuah lukisan buatan Yura.


Membuat Yura pun tersenyum dan mempercepat memberi warna yang kurang, " Nah ini untukmu."


Anak kecil itu menerimanya dengan tersenyum senang " Terima kasih kakak." ia pun berlari ke belakang ke tempat orang tuanya berada.


Tak lama anak kecil itu kembali lagi dan membawa sebungkus kue panjang untuk Yura." Kakak ini untukmu." sambil menyodorkannya pada Yura.


" Wah ini buatku? terima kasih." anak kecil pun kembali lagi ke belakang setelah sebelumnya mengucapkan salam perpisahan pada Yura.


Yura masih menunggu kedatangan Al sambil meremasi kue tersebut, entah Al datang atau tidak yang penting ia masih ingin menunggunya, setidaknya sebelum hari gelap.


" Bagaimana? kali ini cepat 'kan?" seru Al yang tiba-tiba sudah duduk di sampingnya sambil tersenyum.


Yura hanya tersenyum tipis, " Hei aku kembali," seru Al lagi tertawa geli saat melihat raut wajah Yura berbeda seperti orang yang akan menangis.


" Kenapa matamu memerah?" godanya masih tertawa geli menatap Yura.


" Hmmm, apa kau mengira aku tidak akan kembali padamu?" tebak Al ingin mendengar jawaban dari Yura.


" Tidak, aku tahu kau pasti akan kembali, lihat aku sudah beli kue untuk ku makan disini sambil menunggumu," jawabnya sedikit dusta sambil menunjukkan kue pemberian anak kecil tadi.


" Hanya membeli satu untuk dirimu saja?" sungut Al mengkerucutkan bibirnya.


" Karena aku tidak menyangka kau akan kembali secepat ini." elaknya. " Kalau tidak untukmu saja." sambil menyodorkan kue tersebut.


Al langsung menggelengkan kepalanya, " Tidak usah, kau saja yang makan, kau 'kan yang membelinya." tolak Al halus.


" Sini aku bukakan." Yura menyodorkan kue tersebut pada Al.


" Kita berbagi saja." usul Yura kemudian.


" Baiklah,." Al memang sedikit lapar mungkin dengan memakan kue sedikit bisa mengganjal perutnya.


Apalagi jika Yura yang menyuapinya, akan cepat kenyang saat memakannya sambil memandang senyum manis Yura.


...----------------...


Malam harinya Al mengajak Yura ke tempat biasa ia dan para teman-teman geng motornya itu melakukan atraksi balapan motor.


" Kau yakin tidak apa-apa datang kesini?" tanya Al menoleh sedikit ke belakang jok motornya.


Dimana Yura masih duduk bertengger di atas boncengannya itu. " Iya, aku hanya ingin melihatmu balapan motor seperti apa." jawabnya sambil mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya.


Yang sudah tampak ramai anak-anak geng motor pria dan wanita seumuran mereka berdiri di pinggir jalan yang tampak sepi dari lalu lalang kendaraan bermotor.


" Hei Al, kau datang." sapa Felix yang baru saja datang dan menghentikan mitor sport nya di samping motor Al.


" Hei Yura," Yura hanya tersenyum membalas sapaan dari Felix. " Tumben kau mengajaknya, kau sudah dengar ya kalau malam ini yang melakukan balapan harus berdua, entah itu membonceng kekasihnya atau gadis lain." terang Felix memberi tahu.


" Benarkah? aku baru mendengarnya sekarang., baiklah Yura kau ingin mendampingiku? atau kau ingin menungguku di pinggir jalan?" tanyanya sambil menoleh ke samping.


Yura nampak berpikhir sejenak, kalau ikut ada rasa ketakutan tapi ia juga ingin merasakan bagaimana rasanya ikut balap motor.


Akhirnya Yura pun mengangguk lemah." Bsiklah aku ikut, tapi pelan-pelan ya?" pintanya sungguh-sungguh.


Membuat Al dan Felix pun terkekeh, " Mana ada balapan pelan-pelan baby, kalau takur kau tunggu disini bersama Felix." titahnya tak ingin kekasihnya itu ketakutan.


" Kau siap? nanti pegang jaketku kuat-kuat." titahnya pada Yura yang langsung melingkarkan kedua tangannya ke pinggang Al.


Membuat semua orang tertawa geli melihatnya. " Al kau yakin mengajaknya, nanti dia bisa tidak bisa bernafas di atas." celetuk salah seorang dari mereka sambil tertawa.


" Iya, kau disini saja nona." teriak yang lainnya. membuat Yura malu dan menempelkan wajahnya ke punggung kekar Al.


" Jangan menggodanya, kau belum pernah terkena bogeman dari Al." celetuk Felix yang sudah pernah merasakannya.


Sementara Al hanya tersenyum, " Masih belum, kenapa kau langsung melilitkan kedua tanganmu, cantik." goda Al lagi.


" Ayo cepat mau balapan tidak ini? kalau tidak aku pulang.!" teriak Al pada pada teman-temannya itu.


" Kenapa terburu-buru Dude, kau tidak sabar mau bermesraan dengan kekasihmu?!" sindir pria yang menjadi lawannya malam ini.


" Berapa fee malam ini?" tanyanya tidak sabaran.


Al ingin cepat pergi, bukan memikirkan apa yang lawannya ucapkan barusan melainkan karena memikirkan nasib Yura bagaimana pulangnya nanti, apa Ibunya akan memarahinya.


" Kali ini seribu Al." sahut Felix.


" Oke deal." jawab Al.


Tak lama pertandingan pun di mulai, seorang wanita cantik berjalan ke depan motor Al dan lawannya, ia membawa kain seperti bendera berlogo motor di tangannya.


Al mulai menggas-gas motornya bersamaan dengan lawannya, siap melaju sedangkan Yura sudah menutup matanya rapat-rapat, ia tak mampu melihat ke sekitarnya.


Suara riuh teriakan terdengar menyoraki keduanya, membuat Yura membenamkan wajahnya di punggug Al.


Pegangan Yura semakin kuat di pinggang Al membuat Al merasa sesak." Yura jangan terlalu kuat, aku tidak bisa bernafas." bisik Al di dekat telinga Yura.


" Aku takut,." cicitnya.


" Jangan terlalu kencang memeluknya, nanti aku bisa pingsan di tengah jalan karena kehabisan nafas, gimana? sudah turun saja, aku akan mencari gadis lain." dengan cepat Yura menggeleng.


" Jangan, baiklah." Al langsung tersenyum dan kembali fokus ke depan, saat Yura meregangkan pelukannya itu, tak ingin kekasihnya jatuh pingsan.


Wanita yang memegang bendera hitam di hadapan mereka itu mulai mengangkat benderanya ke udara.


" Satu.."


" Dua.."


" Mulai." teriaknya sambil menghempaskan bendera itu ke bawah pertanda pertandingan di mulai.


Dengan lihainya Al melajukan motornya sangat kencang, bahkan melupakan sejenak seseorang yang duduk di jok belakangnya saat ini.


" Al pelan." teriak Yura yang sama sekali tak di dengarkan oleh Al.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


.


.


.


.


.


.


.


.tbc


Mohon dukungan dari semuanya yaa,, dengan cara beri like vote dan juga hadiah🌷🌷🌷🌷🌷


Terima kasih yang sudah mampir baca. love u all..