
Yura berjalan masuk ke dalam ruang perawatan sang Ibu dan duduk di sampingnya, terlihat Ibunya yang masih terbaring lemah, kemudian ia meraih jemari sang Ibu dan menggenggam erat.
Ibu jarinya mengusap-usap sayang punggung tangan sang Ibu, tak lama snag empu terjaga dari tidurnya.
" Yura kau kemana saja sepulang kuliah? Ibu sudah sangat bosan berada di sini." ujarnya menatap sayu ke arah putrinya.
" Maaf tadi Yura ada sedikit masalah di kampus Bu." dustanya.
" Ibu harus sembuh dulu baru kita pulang. sudah larut malam sebaiknya Ibu kembali istirahat, Yura akan ke toilet sebentar." ujarnya sambil melangkah pergi.
Tak berapa lama Yura pun keluar dan melihat sang Ibu kembali terlelap mungkin karena pengaruh obat yang membuatnya cepat tertidur kembali.
Yura berjalan dan kembali duduk di sampingnya sambil membetulkan selimut yang Ibunya pakai.
Yura mengamati dalam sang Ibu, merasa kasihan melihat kondisinya semakin lemah, umurnya pun juga semakin tua.
Namun sang Ibu justru harus bekerja keras untuk menyambung hidup juga untuk membiayai kuliahnya.
Ada perasaan tak tega melihat Ibunya seperti itu terus menerus, namun ia oun tidak bisa berbuat apa-apa.
Dirinya yang memang takut terhadap orang lain apalagi seorang pria, membuatnya tak pernah keluar rumah selain pergi ke kampus dan menjauhi bersosialisasi terhadap orang lain.
Hingga kejadian tadi siang tiba-tiba melintas di benaknya, apalagi mengingat tubuh Wizzy yang hancur di bawah gedung.
Tubuhnya kembali bergetar dan terasa sesak di dada namun sebisa mungkin ia kontrol tak ingin mengganggu sang Ibu membuatnya berpindah tempat.
Yura membaringkan tubuhnya di sofa dekat dengan jendela sambil memejamkan kedua matanya untuk mencoba tertidur.
Sebenarnya aku iri padamu Wizzy, namun aku juga takut menjadi sepertimu.
Kau selalu mengikuti semua yang kau inginkan, aku sangat berharap bisa seperti itu juga.
Jika saja semua orang yang tidak aku sukai bisa lenyap dari dunia ini, itu pasti akan sangat menyenangkan.
Aku mungkin juga tidak apa membunuh orang untuk kesenangan seperti itu.
Namun aku tidak segila dirimu, aku hanyalah manusia biasa bukanlah orang gila.
Kau pikir bisa hidup dengan melakukan apapun yang kau inginkan, sebenarnya kau telah kehilangan jati dirimu.
Kau lupa siapa dirimu sebenarnya, kau pun melupakan impianmu sendiri.
Kau hanyalah mayat tanpa tujuan.
Saat aku melukis Al, aku merasakan kesedihan karena begitu banyak warna di dalam hidupnya.
Aku merasakan halus namun berliku, itu sesuatu yang sangat susah untuk di jelaskan.
Jadi aku berusaha keras untuk melukisnya, akan tetapi untuk melukismu sangatlah mudah karena hanya memerlukan cat hitam saja di semua kanvas.
Orang seperti dirimu tidak akan pernah bisa merubah isi hati orang lain, kau sama sekali tidak seperti Al.
Wizzy langsung tersulut dan mencekik leher Yura hingga Yura merasa kehabisan oksigen.
Kemudian ia terjaga dari tidurnya sambil terbatuk-batuk, keningnya mengeluarkan banyak keringat.
" Mimpi seperti nyata." gumamnya sangat pelan, napasnya pun masih terengah-engah.
Hingga Yura beringsut bangun untuk meminum air mineral yang berada di atas nakas samping ranjang Ibunya.
Beruntung sang Ibu tidak terjaga dari tidurnya, Yura pun kembali membaringkan tubuhnya dan kembali terlelap.
...----------------...
Hingga keesokan harinya Yura merasakan ada sebuah tangan yang sedang mengelus sebelah pipinya dengan lembut.
Hingga membuatnya mulai terjaga dan menoleh ke samping untuk melihat siapa orang yang sedang berada di depannya saat ini.
Deg..
Matanya membulat sempurna sambil beringsut bangun dengan cepat lalu menjauhi orang tersebut sambil mengedarkan pandangannya.
Yura tak melihat keberadaan sang Ibu, membuat seseorang yang berdiri di depannya itu mengerti lalu berkata padanya.
Yura tak menanggapi ucapan dari kakak tirinya tersebut, ia justru menyusul sang Ibu, " Bu kau sudah selesai?"
Tak lama Yura dan Ibunya keluar dari toilet bersama, dan berjalan ke arah ranjang pasien.
" Hari ini Ibu sudah boleh pulang." seru Yuan menatap Ibu Yin sambil melirik ke arah Yura.
" Oh iya Yura, kemarin Yuan datang dan mengajak kita untuk tinggal di rumahnya kembali, Ibu sudah mengambil keputusan bahwa kita akan tinggal bersamanya kau setuju bukan? kau tahu sendiri tubuh Ibu sudah semakin rentan dan Ibu juga semakin tua, apalagi Ibu harus beristirahat untuk beberapa ke depan, bagaimana pun Yuan yang telah membantu kita beberapa hari ini dia juga yang telah membiayai semua tagihan rumah sakit Yura." terang Ibu Yin dengan tatapan memohon.
Yura hanya diam saja, walaupun sangat terkejut mendengar keputusan dari sang Ibu, ia ingin menolaknya, namun ia juga tak mampu, seakan bibirnya seperti di lem sulit untuk berbicara, sementara Yuan sudah tersenyum sendiri sedari tadi.
...----------------...
Di kampus semua mahasiswa heboh atas meninggalnya Wizzy yang sangat tidak wajar itu, bahkan banyak wartawan yang menunggu di depan gerbang Kampus.
" Mereka bilang manusia terlahir untuk saling menyerang, walaupun itu benar aku rasa manusia normal tidak akan seperti itu." ujar Davin yang duduk bersama Al di bangku taman kampus.
" Beruntung kau datang tepat waktu, kalau tidak entah bagaimana keadaan Yura saat ini." lanjurnya kemudian.
Sedangkan Al masih terdiam mendengarkan, karena ia baru saja memberitahu Davin mengenai perihal kejadian kemarin.
" Dia bertindak dengan begitu mengerikan, aku benar-benar tidak bisa menerima hal itu." imbuh Davin.
" Benarkah? bagaimana jika suatu hari Prita di lukai oleh seseorang, apa yang akan kau lakukan?" tanya Al datar.
Membuat Davin menoleh cepat." Prita terluka? aku mungkin juga akan marah, tapi bagaimanapun aku tidak bisa melakukan hal yang mengerikan seperti itu." jawabnya sambil membayangkan.
" Bagaimana jika Prita mati?" tanya Al kembali masih tanpa ekspresi.
" Mana bisa begitu? kau tidak bisa mencampur adukkan dengan asumsi ekstrim semacam itu." jawab Davin sambil tersenyum.
" Lalu bagaimana jika itu yang terjadi, apa yang akan kau lakukan?" sanggah Al kembali.
" Apa aku harus menjawab itu semua?" tanya Davin sambil mengkerutkan dahinya.
Al justru menatapnya horor dan itu sudah menjadi sebuah jawaban bahwa ia harus menjawabnya.
Davin terlihat berpikir terlebih dahulu sebelum ia menjawabnya.
" Balas dendam, dan mungkin aku tidak bisa mewujudkannya, tetapi dalam pikiranku. aku akan membunuhnya seratus kali bahkan ribuan kali untuk membalaskan dendam Prita." terangnya bersungguh-sungguh.
" Kau benar, gagasan untuk membalaskan dendam bukanlah hal yang tidak normal, tapi jika hari ini orang terus berpikir seperti itu, konflik semacam ini tanpa alasan atau tujuan apapun, pikiran macam apa itu? apa ada orang yang membenci dirinya sendiri?" seru Al dengan seriusnya.
" Alasan sebenarnya Wizzy menyakiti orang lain bukanlah untuk balas dendam namun dikarenakan rasa kesepian di hatinya, sebenarnya yang ia inginkan adalah aku, itulah sebabnya ia menyerang Yura, ia hanya penasaran bagaimana semenderitanya aku atas kehilangan Yura." lanjutnya kemudian.
Davin jadi mengerti, bahwa seseorang yang kelihatan normal itu tidak benar-benar normal, justru orang yang terlihat tidak normal barulah di katakan orang yang memang sangat normal.
" Sebenarnya orang seperti Wizzy tidak hidup di dunia nyata, baginya dunia ini hanyalah seperti video game saja, kau tahu kenapa?" Davin menggeleng pelan.
" Aku mengerti kau pasti bingung, tapi aku tahu pasti jalan pikirannya, aku juga tahu itu bukanlah perbuatan yang baik, baru sekarang ini aku menyadarinya." lanjut Al kemudian sambil beranjak bangun.
" Ayo naik, kelas akan di mulai." ajaknya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
.
.
.
.
.
.
.tbc
Mohon dukungan dari semuanya yaa,, dengan cara beri like vote dan juga hadiah🌷🌷🌷🌷🌷
Terima kasih yang sudah mampir baca. love u all..