Bad Boy I Love You

Bad Boy I Love You
Ketukan dari luar



"Ya Ibu sudah sembuh dan sudah bosan berada di rumah sepanjang hari, dan masalah biaya kuliah_


" Ibu jangan membicarakan tentang itu, aku akan mendapatkan pekerjaan secepatnya." sela Yura dengan cepat.


" Bagaimana kau bisa bekerja secepat itu? bukankah kau gemar melukis?" protes Ibu Yura menatap bingung ke arah putrinya.


" Ibu, walaupun nanti aku sudah bekerja, aku masih bisa melukis. aku akan bekerja keras mendapatkan uang, dan aku yakin kita bisa mewujudkannya." jelas Yura tersenyum manis.


Yura hanya tidak ingin membuat Ibunya semakin kelelahan bekerja.


" Tapi Yura_


" Sudah Ibu tidak perlu khawatir. Ibu sebaiknya segera istirahat ya. aku tidak mau Ibu kecapek an lagi." di tuntunnya sang Ibu masuk ke kamarnya.


"Yura, kau mau 'kan kita tinggal di rumah Yuan lagi? Ibu dengar kau pernah bertemu dengan Yu Jie? sudah lama juga kita tidak bertemu dengna Kakek dan Nenek." bujuk sang Ibu kembali.


Sementara Yura hanya diam saja, perlahan mengangguk pelan karena ia sendiri masih bingung dengan keadaan ini. apalagi ia juga masih belum percaya kepada pria b4ngs4t itu.


Tapi jika melihat keadaan sang Ibu perasaannya jauh lebuh sakit dibandingkan dengan perlakuan kakak tirinya itu dulu.


Bagaimana pun hanya Ibunya lah yang ia punya saat ini, setelah kepergian sang Ayah. ia tidak tahu berapa lama lagi ia bisa selalu bersama Ibunya.


...----------------...


Yura mulai terjaga dari tidur panjangnya dan mendengar ada suara gaduh di luar kamarnya, ia pun beringsut bangun masuk ke dalam kamar mandi terlebih dahulu sebelum ia keluar.


Tak lama ia membuka pintu kamarnya dan akan melangkah ke dapur tapi langkahnya terhenti begitu ia melihat beberapa perabot rumah yang berharga tidak ada di tempatnya, ia pun melanjutkan langkahnya dan akan bertanya kepada sang Ibu dengan perasaan bingung.


Namun di depan sana ia bisa melihat pria yang selama ini ia hindari tengah mengobrol dengan salah seorang pekerja yang bertugas mengangkut perabot rumahnya tersebut.


Ia pun berjalan menuju kamar Ibunya, " Ibu_


" Hay sayang, kita pindah hari ini, Yuan datang pagi-pagi sekali tadi dan membawa beberapa orang pekerja, kau tidak keberatan bukan?" sela Ibu Yura begitu melihat putrinya itu masuk ke dalam kamarnya.


Yura masih bergeming di tempatnya, ia semakin bingung harus menjawab apa, suara hatinya ingin menjerit menolak namun apalah daya kepalanya hanya bisa mengangguk pelan dan mencoba tersenyum, agar sang Ibu senang dan tidak curiga padanya.


Hingga beberapa jam kemudian semua barang perabot rumah sudah lenyap hanya tersisa barang yang sudah tua tak terpakai, yang memang sengaja Ibunya tinggal


dalam rumah itu.


Yura semakin takut apabila ia harus tinggal bersama selamanya dengan pria b******n tersebut.


Yura akhirnya menyusul Ibunya keluar dari rumah yang ia tinggali itu beberapa tahun belakangan, karena saat itu Yura beralasan mengajak pindah tempat tinggal karena sekolah menengah atas yang ia pilih sangat jauh jika dari tempat tinggal Ayahnya dulu.


Dan juga rumah ini jauh lebih dekat ke tempat kerja Ibunya dibandingkan rumah mereka dulu, membuat sang Ibu setuju saja, walau sebenarnya bukan itu alasan Yura mengajak pindah.


Beruntung Ibunya langsung menyetujuinya, dan tidak bertanya lebih jauh, hingga ia tidak perlu terus menerus berbohong pada sang Ibu.


Juga setelah kejadian menyakitkan itu Kakak tirinya pun pergi bekerja di luar kota, membuat Yura sedikit lega beberapa tahun ini walau masih menyimpan luka yang mendalam.


Namun sekarang rasanya luka itu kembali terbuka saat melihat wajah pria b********n itu kembali, jikalau semua ini bukan karena memikirkan keadaan Ibunya, Yura juga tidak akan mau kembali tinggal dengan mereka.


...----------------...


Sekitar empat puluh menitan akhirnya mereka tiba di kediaman Yuan, pria itu memang sengaja menyewa mobil box besar untuk bisa mengangkut semua barang-barang milik Ibu dan adik tirinya.


Saat baru masuk ke dalam rumah, Yura mengedarkan pandangannya ke sekeliling, rumah itu masih sama seperti dulu sebelum ia dan Ibunya pindah.


" Ibu istirahatlah di dalam, biar aku yang nanti akan membereskan barang-barang itu, Yura ajak Ibu ke dalam kamar." pintanya kepada mereka berdua.


Yuan berbicara dengan begitu lembut hingga membuat Ibu Yura tersenyum senang. namun tidak dengan Yura, gadis itu hanya mengangguk sambil menuntun sang Ibu tanpa mau membalas tarapan Yuan.


Yuan sangat tahu itu, mungkin adiknya itu masih sakit hati, kecewa atas perbuatannya yang amat sangat b*******n dulu.


Malam pun tiba, Yura masih betah berada di dalam kamarnya sambil membereskan pakaiannya, kamar yang dulu ia tempati, kamar yang bersebelahan dengan kamar Yu Jie.


Kamar mandi dalam sebagai penghubung kamar mereka berdua, walau kenyataannya kamar mereka terhubung, namun mereka berdua memang tidak pernah saling berkomunikasi jika Yu Jie sedang menginap di rumah Ayahnya.


Tak lama Yura keluar kamar karena hari sudah malam, ia berniat mengambilkan makan malam untul sang Ibu.


Namun saat baru saja melangkah ternyata sang Ibu juga baru keluar kamar, mungkin memang sudah lapar, sehingga membuatnya keluar kamar.


" Ayo Ibu, Yura kita makan malam bersama, aku sudah menyiapkannya." seru Yuan mengintrupsi.


Akhirnya Yura dan Ibunya hanya bisa mengangguk sembari berjalan menghampiri dan duduk bersebelahan.


" Makan yang banyak ya Ibu, kamu juga Yira makanlah." titahnya kembali.


" Yuan, apa Yu Jie tidak pernah datang kemari?" tanya sang Ibu di sela makannya.


" Tidak Ibu, yang aku dengar dari Nenek, dia pergi keluar negeri untuk meneruskan kuliahnya di sana. aku pun mengijinkan karena di sana ada bibik dari Ibu kami." jawab Yuan sambil mencuri pandang ke arah Yura.


Dan Yura sangat tahu jelas, walau ia tak menatap ke depan. namun justru menunduk menatap piringnya.


Jawaban Yuan justru membuat Yura memikirkan sesuatu yang masih mengganjal di pikirannya saat ini. mungkinkah Yu Jie pergi karena dirinya? juga karena Al menolaknya?


Tepatnya setelah kejadian Al memintanya untuk tidak mengganggu kehidupannya, Yu Jie sudah tidak pernah menganggu Al lagi, sudah tidak pernah datang ke kampus mereka lagi.


Sehingga Yura sudah sedikit lega dan tak mau memikirkan itu lagi, walau kenyataannya memang seperti itu adanya, sekarang yang ada di pikirannya saat ini, bagaimana caranya memberi tahu Al mengenai ia kembali tinggal bersama pria yang sudah merenggut kesuciannya?


Seusai makan malam Yura langsung membereskan pakaiannya dan menyusunnya ke dalam lemari yang dulu ia gunakan, setelahnya ia merebahkan tubuhnya ke atas ranjang empuk, namun baru saja ia memejamkan mata ia mendengar suara.


Tok..


Tok..


Tok..


Terdengar pintu kamar di ketuk dari luar, Yura sedikit takut apalagi ini sudah sangat larut. ia nampak bergeming tak ingin beranjak sama sekali dari atas ranjang.


.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


.


.


.


.


.


.


.


.


.tbc


Mohon dukungan dari semuanya yaa,, dengan cara beri like vote dan juga hadiah🌷🌷🌷🌷🌷


Terima kasih yang sudah mampir baca. love u all..