Bad Boy I Love You

Bad Boy I Love You
Permintaan yang terakhir



Al pun menduduki bangkunya di samping Yura, Yura menatapnya senang sambil tersenyum, bagitupun dengan dirinya.


"Davin, pinjam buku pelajarannya aku tidak bawa." serunya memutar tubuhnya kebelakang.


"Kau idiot! kau datang untuk tidur, untuk apa pinjam buku segala?" cecar Davin menatap Al sedikit kesal.


"Tidur? kau kira aku tidur di semua mata kuliah?" membuat semua yang berada di sampingnya terkekeh mendengarnya.


"Kalau tidak?"


" Apa Dosen Tio tidak pernah mengajarimu, harus memotivasi temannya yang salah jalan, dan mendorongnya maju bukan malah membiarkannya semakin jauh di belakang."


Membuat semua teman-temannya satu kelas terkikik mendengar celotehannya sebab Al berbicara dengan sedikit keras, tak terkecuali Pak Tio yang ada di depan sana.


"Alrick, kau kira aku tuli, saat bicara di dalam kelas bisa kecilkan suaramu itu, aneh sekali!! setiap kali kau masuk kelas, aku tidak bisa konsentrasi." celetuk Pak Tio memandang Al.


"Sekarang kenapa? teman dan Dosen sama-sama menggangguku, kalian mau ganggu pemuda berprospek? yang bermaksud ingin bangkit kembali." sahut Al berdiri sambil menatap semua teman-temannya itu.


"Tapi memang kau terlambat, duduklah, duduk." tarik paksa Davin tangan Al supaya duduk kembali.


Membuat semua temannya tersenyum, tak terkecuali Pak Tio yang menatapnya, kehadiran Al selalu membuat suasana di dalam kelas kembali hidup.


"Al ini buku pelajarannya." seru Yura sambil menyerahkan buku miliknya itu padanya.


Tak lama datang juga teman wanita lain, "Al ini pelajaran bahasa mandarin dan juga bahasa inggris." serunya sambil menyerahkan salinan mata pelajaran lainnya.


Membuat Yura pun tersenyum menanggapi, sedangkan Prita dan Davin melihat mereka berdua dari luar kelas, sebab kelas baru saja usai.


Dan kini mereka sudah berjalan bersisian, tidak ada yang tahu bahwa mereka sedang berpacaran, termasuk Al dan Yura.


Mereka masih merahasiakannya, kecuali Felix yang pada malam itu melihat mereka tengah ber***bu mesra.


"Tidak tahu mereka akan seperti apa? maksudku misalnya kalau mereka putus Yura jadi sendirian, dan apa kau masih mau mengejarnya? kau masih menyukainya benar 'kan? " seru Prita tersenyum penuh arti.


"Kenapa masih membahas itu lagi, seharusnya bilang pada dirimu sendiri." sahut Davin datar.


"Lalu apa hubungannya denganku? walaupun tidak ada kerjaan, aku juga tidak akan mengganggunya terus, apalagi Al sama sekali tidak menyukaiku, aku tidak mandiri seperti Yura, juga bukan primadona seperti Yu Jie. pokoknya satu kalimat tidak manis." ucap Prita dengan pesimisnya.


"Siapa yang bilang?" tanya Davin tiba-tiba. Prita langsung menoleh pada Davin.


"Aku merasa kau sangat manis," membuat Prita senyum-senyum sendiri.


"Aku manis? sungguh? manis apanya?" tanyanya dengan wajah masih tidak percaya.


"Kau manis saat sedang memaki orang seperti an****g." Prita langsung memukul bahu Davin sedikit keras hingga ia mengaduh sakit.


"Kau menyindirku, sialan."


"Bukan, aku serius. sikap terus terang sepertimu ini, saat kau marah-marah, saat gembira, ini adalah manis." jelas Davin yang memang sudah mulai suka sejak wanita ini menyerah dan melepaskan Al untuk Yura.


"Kau tidak pandai merayu wanita, pantas saja Yura tidak menyukaimu dulu, dan kau malah suka padaku setelah malam itu?" tebaknya yang tepat sasaran.


Davin hanya tersenyum tidak mengelaknya sama sekali, " Ya dan kau yang telah memikatku begitu dalam, hingga membuatku ketagihan."


"Kalau begitu ayo kita ulangi lagi seperti malam itu, kau tidak ada kerja part time bukan?"


Akhirnya setelah pulang kuliah mereka berdua menuju tempat yang membuat mereka di mabuk asmara.


...----------------...


Sementara Yura dan Al masih saja baerada di dalam kelas, Yura tengah menerangkan beberapa pelajaran Al yang tertinggal.


"Tanganmu sudah tidak apa-apa?" Yura melihat tangan Al yang sudah tidak di perban itu.


"Naik motor tidak masalah,"


"Baguslah, karena aku merasa saat naik motor lebih mirip dirimu." celetuk Yura membuat Al tersenyum menatapnya.


Membuat Yura langsung menerbitkan senyum manisnya lalu mengangguk sebagai jawabannya.


"Kita mau ke pantai? ke danau? atau ke bukit?" tanya Al saat mereka sudah berada di area parkir.


"Aku boleh naik motormu?" Yura membeo. " Maksudku apa tidak enak dengan Yu Jie." tanyanya balik.


"Jujur saja, aku tidak bisa membayangkan dia naik motorku, dengan penampilannya yang sangat feminim itu." sahut Al sambil memberikan helm pink yang sudah ia siapkan untuk Yura.


" Astaga kau menyiapkan untukku?" Al hanya mengangguk dan membantu memakaikannya.


"Hari itu kau sudah membicarakannya dengan Yu Jie? aku harap jangan karena mempertimbangkan aku, kau tak menghadapi perasaanmu yang sebenarnya, harus menghadapi diri sendiri, ini yang terpenting." saran Yura menyemangati Al.


"Sudah kupikhirkan, aku benar-benar memikhirkan masalah ini dengan serius, jadi aku sudah menyadari satu hal yaitu hubunganku dengan wanita tidak mungkin hanya sebatas teman saja, terhadap wanita kalau bukan suka berarti benci, hanya begitu saja." raut wajah Yura sedikit suram mendengar ucapan Al barusan.


"Aku tidak bisa memikhirkannya begitu jelas sepertimu, jadi aku hanya bisa bilang begitu," lanjutnya sambil memakai helm miliknya sendiri.


Tapi belum sempat Al menyalakan motornya dari kejauhan Fhanie sudah berlari ke arah mereka.


"Maaf, setiap kali kemari selalu datang mengganggu kalian, tapi aku rasa ini untuk yang terakhir kali aku kemari, Yu jie bilang ingin bertemu denganmu, dia bilang akan terus menunggumu, kalau boleh aku harap kau bisa bicara dengannya." seru Fhanie sambil menetralkan nafasnya yang tersenggal.


"Baiklah, aku akan menemuinya." Fhanie pun mengangguk, dengan sedikit tidak enak hati melirik Yura, yang sama sekali tidak melihatnya.


" Yura senang bertemu denganmu, sampai jumpa lagi." Fhanie tersenyum dan menjabat tangan Yura sesaat dan kembali menatap keduanya.


"Emm, bisa tunggu aku sebentar, aku pergi cari tahu perasaanku, aku segera kembali tidak akan lama." titahnya.


"Hmm, aku akan menunggumu di taman depan sana." sahutnya sambil mengangguk.


"Baiklah, jaga dirimu." Al mengecup sekilas bibir pink Yura di hadapan Fhanie tidak ada rasa malu sama sekali, hanya Yura yang langsung memerah mukanya.


"Al hati-hati." Al hanya tersenyum.


Lalu menaiki motornya di susul Fhanie yang duduk di boncengan belakang, dan tak lama motor itu melaju dengan kencang, meninggalkan Yura yang masih berdiri mematung di sana.


Beberapa menit kemudian mereka sampai di sebuah kafe tempat dimana Yu Jie sudah menunggunya di dalam sana.


" Yura adalah gadis yang sangat baik, gadis sebaik dia, aku masih begitu kejam padanya, aku rasa dia pasti sangat membenciku." seru Fhanie sebelum mereka masuk.


" Dia tidak pendendam." timpal Al lalu berjalan akan masuk ke dalam kafe.


"Al, aku tahu ucapanku ini mungkin keterlaluan, tapi apa kau menyamakan Yura dengan Erick? Yu Jie bilang karena Yura sedikit mirip dengan Erick makanya kau_ Al langsung menghentikan langkahnya.


"Kalau perasaanmu terhadap Yura hanya semacam pergantian, ini bukan cinta." celetuk Fhanie kembali.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


.


.


.


.


.


.


.tbc


Mohon dukungan dari semuanya yaa,, dengan cara beri like vote dan juga hadiah🌷🌷🌷🌷🌷


Terima kasih yang sudah mampir baca. love u all..