
"Kau mau menceritakan sesuatu padaku? kau kenapa?" tanya Yura saat sudah duduk di samping Al.
"Semalam aku bermimpi buruk tentang Ibuku lagi, ingatan itu kembali lagi saat kami masih sangat kecil, dia tertawa senang melihatku dan juga Erick lalu membisikkan sesuatu pada Erick tapi aku masih bisa mendengarnya sebab aku berdiri tepat di samping Erick." terang Al menatap ke arah halaman kampus.
Yura masih diam mendengarkan ucapan Al, sesekali melirik Al." Katanya wajah Erick semakin lama semakin mirip dengan Ayah kami, bukankah wajah kami sama persis tapi kenapa Ibu hanya memandang Erick saja, aku bahkan tidak di liriknya sama sekali." lanjutnya.
"Dan Ibu mengatakan kalau Ayah adalah orang yang dingin, jahat, dan menakukutkan, kami tidak boleh dekat dan bergantung kepada Ayah." membuat Yura mengernyit bingung.
"Memang Ayahmu kenapa?"
"Aku tidak tahu, Ibu masih belum memberitahukan hal ini pada kami." sahut Al masih dengan raut wajah yang tidak terbaca.
"Al apa Ayahmu melakukan hal yang menakutkan pada kalian?" tanya Yura hati-hati.
"Tidak ada, tidak melakukan apa-apa, bahkan aku bisa melihat kalau Ayah adalah orangtua yang baik untuk kami, dan semenjak Erick pergi aku tidak mau tinggal lagi di rumahnya karena sebab di balik itu semua." jelas Al masih dengan tatapan datarnya.
"Lalu kenapa Ibumu bisa bilang begitu?" tanya Yura penasaran.
"Benar? kenapa Ibu mengatakan semua hal itu pada kami? Kenapa Ibu selalu bilang bahwa Ayah adalah orang jahat. Ibu selalu berkata dengan mimik wajah yang gembira padaku." terangnya kembali dengan merunduk.
"Al kau kenapa?" tanya Yura sedikit panik saat melihat Al memegang kepalanya.
"Entah kepalaku tiba-tiba sakit, aku ingin mengingatnya tapi Ibuku selalu mengatakan hal yang membingungkan, membuatku bertambah bingung, kenapa Ibu bicara seperti itu pada kami." jawabnya sambil mencoba menahan rasa sakit itu.
"Mungkin karena kalian masih terlalu kecil pada saat itu." Yura menyimpulkan.
"Tapi kenapa aku selalu mengingat wajahnya yang menyeramkan itu, dan kenapa aku selalu mempercayainya? aku jadi sedikit membenci Ayahku sampai sekarang ini." lanjutnya.
"Kenapa kau tidak bertanya pada kakakmu? pasti dia mengingatnya." usul Yura.
"Sudah berulang kali, tapi Erick tidak mengatakan apapun padaku, dan setiap kali aku ingin mencoba mengingatnya, badanku akan jatuh sakit, jadi dokter menyuruhku jangan mengingatnya lagi." terangnya kembali.
"Dokter?" cicit Yura tidak paham.
"Dokter kejiwaan, Dokter yang menanganiku di tempat rehabilitasi. setelah kepergian Erick aku menjadi pria yang nakal, ikut geng motor, suka tawuran dan pernah mengalami kecelakaan, tidak begitu parah, tapi membuatku sedikit menggila. di tempat itu aku sering membenturkan kepalaku di tembok, setahun lebih aku berada di tempat itu, hingga aku pindah ke kota ini, begitulah aku juga ingin melupakan Yu Jie." terang Al panjang lebar.
Yang sedikit mengingat masalalunya yang baru-baru ini saja. tapi tidak dengan masa kecilnya yang selalu berputar-putar di kepalanya saja tanpa mengingat jelas.
Yura yang mendengarnya sedikit shock ternyata masalalu Al jauh lebih buruk dari dirinya.
"Itulah sebabnya aku tidak ingin berurusan kembali dengan Yu Jie, karena aku tidak ingin mengingat masa itu kembali, aku tidak mau kembali seperti dulu lagi, ini bukan masalahnya tapi masalahku, seharusnya aku ingat sesuatu." ujar Al kembali sedikit terisak.
"Al sudah jangan di paksakan." Yura menarik tubuh Al ke dalam pelukannya, beruntung para mahasiswa sudah masuk ke dalam kelas mereka masing-masing, membuat mereka hanya sendiri berdua saja di tempat itu.
Al semakin terisak, baru kali ini ia menangis di hadapan seorang wanita, biasanya hanya berdua saja dengan saudara kembarnya.
"Sungguh aku sudah tidak tahan dengan kehidupan dan makan obat di tempat rehab itu, aku tidak mau kembali lagi kesana " ucapnya di sela isaknya, membuat Yura mengeratkan pelukannya.
Tak lama ponsel Al bergetar di saku celananya, tangan Al merogoh dan mengambilnya, dan tertampanglah nama siapa yang memanggilnya itu.
Alderick calling...
"Angkatlah." titah Yura.
"Hallo ada apa denganmu?" tanya Erick saat Al sudah menggeser icon warna hijau itu.
"Aku tidak apa-apa." dustanya.
"Kau jangan membohongiku, aku bisa melihat dengan jelas, kau baru saja menangis 'kan?!" tebaknya dengan benar.
Al tidak menjawab ia melirik Yura yang ternyata juga menatapnya, Yura sendiri juga mendengar semua ucapan Erick sebab ia tepat di samping Al.
"Semalam kau pasti mimpi buruk lagi? " tanya Erick kembali.
"Lalu bagaimana dengan kekasihku ini?." tanya Al tersenyum menggoda pada Yura.
"Ajaklah bersamamu."
"Tidak bisa pasti Ibunya melarangnya pergi denganku, baiklah aku tutup dulu, aku benar-benar tidak apa-apa." serunya agar saudaranya itu tidak khawatir padanya.
"Kau itu, apa kau ingin aku memberinya pelajaran.!"
sikap Erick sekarang sudah bukan seperti dulu lagi, semenjak ia pergi sikapnya hampir berubah seratus delapan puluh derajat, walau sikap dinginnya yang semakin dingin itu.
"Jangan tidak perlu." tolak Al.
"Baiklah-baiklah jaga kesehatanmu.!"
Erick memutus panggilan tersebut.
"Kalian itu benar-benar mempunyai hubungan yang sangat istimewa, saling melengkapi, tidak saling menyakiti walaupun salah satunya pernah membuat kesalahan yang membuat satunya down, tapi kalian bisa menutupi kelemahan kalian dengan kelebihan yang kalian punya." puji Yura tersenyum manis hingga Al tidak bisa menahannya lagi.
Al langsung menyambar bibir mungil Yura mema***tnya lembut dan mencecap rasa yang membuatnya menggila.
"Mmmmpp.." Yura mendorong paksa tubuh Al yang tiba-tiba saja menciumnya di kampus sekarang ini.
"Kau tidak lihat kita sedang di kampus." gerutu Yura mengkerucutkan bibirnya, begitu lucu di mata Al.
Membuat Al semakin gemas sendiri dan akan menciumnya kemlagi, kalau Yura tidak menghindarinya."Sudah ayo kita pergi dari sini." Yura sudah beranjak bangun dan berjalan menjauhi Al.
Membuat Al tersenyum mengikuti langkah Yura, wanita itu selalu membuatnya tersenyum gemas ingin memakannya, tapi ia tahan sebisa mungkin.
Sebab Al tahu jika Yura bukan tipe wanita yang seperti mantan wanita-wanita kencannya dulu, mereka pun berjalan ke area parkir dimana motor Al berada.
Tapi saat bersamaan mereka melihat Ada Yu Jie bersama Fhanie dmberjakan ke arah mereka berdua.
"Kalian mau kemana?" tanya Yu Jie menatap keduanya.
"Sudah ku bilang jangan datang kesini lagi?!" ujar Al menatap malas pada Yu Jie.
"Kenapa tidak boleh? aku hanya ingin bertemu denganmu Al, juga tidak boleh? Yura kau sudah mengijinkan aku untuk mendekati Al lagi bukan?" seru Yu Jie menatap Al dan Yura bergantian.
Membuat Al langsung menoleh pada Yura dengan cepat." Benar yang di katakannya?"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
.
.
.
.
.
.
.
.tbc
Mohon dukungan dari semuanya yaa,, dengan cara beri like vote dan juga hadiah🌷🌷🌷🌷🌷
Terima kasih yang sudah mampir baca. love u all..